
Queensha dan Ghani berdiri di depan pintu gerbang bangunan dua lantai. Setelah dua hari satu malam menginap di rumah Bayu, mereka memutuskan kembali ke ibukota karena semua urusan di kota Sumedang sudah selesai.
Sambil menggendong Aurora, Ghani berkata, "Terima kasih karena kamu sudah bersedia mengantarkan saya mengunjungi makam anak kita, Sha. Lain kali jika saya ingin berziarah lagi, maukah kamu ikut denganku?"
"Kupikir daripada kamu harus naik bus umum kenapa tidak ikut bersamaku saja toh tujuan kita sama. Selain menghemat waktu juga dapat menghemat biaya karena saya yang akan menanggung semuanya. Bensin, makan dan penginapan saya yang bayar. Jadi kamu bisa menyimpan uangmu untuk kebutuhan lain."
Queensha menjawab dengan ketus. "Aku hargai niat baikmu. Namun, kurasa sebaiknya datang sendiri-sendiri saja jika memang ingin berziarah ke makam anak kita itu jauh lebih baik daripada harus pergi berduaan karena aku tak mau Cassandra salah paham dan menuduhku menjadi orang ketiga dalam hubungan asmara kalian berdua."
"Sudah kukatakan antara saya dan Cassandra hanya sebatas teman, tidak lebih. Jadi berhentilah mengatakan hal konyol di depanku," tandas Ghani. Untuk kesekian kali dia dibuat kesal karena Queensha terus menuduhnya mempunyai hubungan spesial dengan Cassandra.
Dengan wajah cemberut Queensha berkata, "Terserah! Pokoknya aku tidak mau lagi pergi berduaan denganmu."
Wanita itu melirik arloji di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukan pukul sembilan kurang sepuluh menit dan sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup oleh ibu indekos.
"Sebaiknya kamu pulang, kasihan Rora sedari tadi menguap terus. Dia pasti kecapekan karena tidak bisa tidur nyenyak akibat terguncang kerikil selama di perjalanan."
Queensha tersenyum lebar lalu mengulurkan tangan dan mengelus pipi yang mulai chubby lagi. "Sayang, kamu langsung bobok ya setelah sampai di rumah Nenek. Ingat, jangan lupa cuci tangan, kaki dan sikat gigi sebelum tidur agar gigimu enggak berlubang. Tadi siang 'kan Rora makan es krim, kalau enggak sikat gigi nanti bakterinya makan sisa makanan yang tersisa di mulut. Lama kelamaan bisa berlubang dan ompong. Hii ... Rora mau kalau nanti pas senyum giginya yang ompong kelihatan di kamera?"
__ADS_1
Menggeleng kepala lemah dengan sisa tenaga yang ada. "Enggak mau, Ma. Rora pasti terlihat jelek sekali kalau difoto nanti."
"Nah, makanya itu Rora harus rajin sikat gigi ya, Nak." Dengan patuh Aurora menganggukan kepala. "Ya sudah, Rora pulang sama Papa. Next time kita bertemu lagi. Good night, Sayang."
Queensha belai wajah cantik jelita yang semakin hari terlihat semakin mirip dengannya saat masih kecil dulu. Terkadang sempat berpikir jika seandainya Aurora itu adalah putrinya yang telah meninggal dunia. Akan tetapi, sebuah kesadaran menghantam kepala dan sadar jika bayi yang dikandung selama sembilan bulan telah meninggal dunia.
"Mama sayang kamu, Nak. Sleep tight." Mengakhiri ucapan dengan mendaratkan kecupan hangat di pipi kanan Aurora.
Keesokan harinya, Ghani sudah berangkat ke rumah sakit pagi-pagi sekali bahkan dia melewatkan sarapan bersama kedua orang tuanya dan Aurora. Ghani ada janji temu dengan petugas laboratorium sehingga terpaksa absen dari rutinitas yang sering dilakukan bersama keluarga tercinta.
Melangkah dengan langkah panjang memasuki gedung rumah sakit yang kini telah diwariskan Rayyan kepadanya. Tatapan mata fokus ke depan memperhatikan jalanan yang cukup sepi karena tak banyak orang lalu lalang mengingat waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi.
"Permisi, Pak Abdullah. Maaf, saya datang terlambat," ucap Ghani setelah dipersilakan masuk oleh salah satu petugas laboratorium di rumah sakit tempatnya bekerja.
Pria yang usianya enam tahun lebih muda dari Rayyan tersenyum samar di depan Ghani. "Tidak masalah, Dokter Ghani. Lagi pula baru telat dua menit saja tidak membuat saya kesal karena harus menunggu Anda terlalu lama," ucapnya ramah. "Mari, silakan duduk." Tanpa membuang waktu lama Ghani bergegas duduk di seberang Abdullah.
"Kalau boleh tahu, apa yang membuat Dokter Ghani datang menemuiku. Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan?" Abdullah memulai percakapan mereka.
__ADS_1
Semalam Abdullah cukup dibuat heran karena putera sulung dari mantan direktur rumah sakit mengirimkan pesan dan memintanya ketemuan secara empat mata. Ini merupakan kali pertama mereka bertemu secara personal hingga membuat pria paruh baya itu penasaran sebenarnya apa tujuan Ghani bertemu dengannya. Apakah ada kaitannya dengan urusan pekerjaan?
Ghani tak langsung menjawab pertanyaan Abdullah, dia justru mengeluarkan plastik bening berisi beberapa helai rambut Aurora lalu menyodorkannya ke depan pria paruh baya itu. "Pak Abdullah, saya ingin Bapak melakukan tes DNA dari helaian rambut ini kemudian mencocokannya apakah ada kesamaan di antara keduanya."
Kedua alis Abdullah tertaut petanda bingung. "Tes DNA? Untuk apa, Dok?"
"Benar, tes DNA. Kenapa, ada masalah?" tanya Ghani ketus, merasa kesal karena sikap Abdullah terkesan mempersulitnya.
Wajah dingin, tatapan mata tajam bagaikan seekor burung elang dan nada suara terdengar sinis membuat bulu kudu meremang seketika. Ruangan tempatnya berada saat ini terasa lebih dingin bagai di pegunungan Siberia padahal suhu ruangan berada di batas normal, tapi entah kenapa tubuhnya menggigil dalam waktu hitungan detik saja.
Menggeleng kepala cepat. "Tidak ada masalah." Dalam satu gerakan cepat Abdullah meraih plastik bening tersebut. "Baiklah, saya akan melakukan sesuai perintah Dokter Ghani. Jika hasilnya sudah keluar akan saya kabari."
"Ya. Namun, saya minta Pak Abdullah merahasian ini semua dari siapa pun termasuk Ayah dan Bundaku. Kalau sampai bocor dan diketahui banyak orang maka jangan salahkan saya melakukan hal buruk kepada keluargamu."
Tenggorokan terasa kering saat mendengar ancaman Ghani. Sorot mata pria berpakaian formal di depannya terlihat begitu mengintimidasi.
"B-baik ... s-saya berjanji menyimpan rahasia ini sampai raga ini tercabut dari jasadku."
__ADS_1
Ghani manggut-manggut. "Saya tunggu kabarnya segera." Bangkit dari kursi lalu kembali berkata, "Terima kasih karena sudah bersedia membantuku. Selamat pagi."
...***...