
Queensha masih berada dalam dekapan sang mantan suami, dia curahkan segala kesedihan yang dipendam selama lima tahun ini. Di hadapan Ghani, untuk pertama kalinya Queensha perlihatkan sisi terlemahnya yang belum diketahui orang lain termasuk Lulu, sang sahabat.
Pelukan Ghani semakin erat ketika pandangan matanya menerawang jauh, membayangkan betapa sulitnya kehidupan Queensha hingga wanita itu harus bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kehidupannya. Rasa penyesalan semakin dia rasakan karena pernah menyakiti wanita itu.
"Maaf gara-gara aku pakaianmu menjadi basah," ucap Queensha setelah pelukan terurai. Jemari lentik itu menghapus sisa air mata yang membasahi pipi.
Dengan lembut Ghani menjawab, "Tidak masalah nanti juga pakaianku kering kok. Terpenting suasana hatimu saat ini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya."
Lelaki itu menyentuh ujung dagu Queensha kemudian menatap sepasang mata sipit dengan lekat. Ketika pandangan mata saling beradu hadir debaran aneh di dada mereka lalu kilasan kejadian lima tahun lalu kembali hadir di memori ingatan keduanya.
Tak kuasa menahan debaran halus di dada, Queensha menundukan pandangan. Bola mata itu terlalu tajam hingga membuat tubuh sang wanita menjadi lemah seketika.
"Queensha?" panggil Ghani lirih.
"Hmm. Ada apa, Pak?" Kali ini Queensha memanggil mantan suaminya dengan sebutan 'bapak', sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Nada suaranya pun terdengar lembut di telinga.
"Semua tabir yang disembunyikan selama lima tahun ini akhirnya terungkap dan kebenaran yang mengatakan bahwa putri kita telah meninggal tidaklah benar. Setelah saya berhasil menjebloskan Mia, Lita dan Sarman, apakah kamu bersedia rujuk denganku? Saya ingin menikahimu untuk kedua kali bukan karena atas paksaan orang lain melainkan dari diriku sendiri."
__ADS_1
"Izinkan saya memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu. Saya berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Bagaimana, bersediakah kamu menjadi istri dan ibu bagi putri kita, Aurora?" tanya Ghani penuh pengharapan.
Queensha terdiam beberapa saat. Pikiran wanita itu kosong seketika, tak tahu harus berkata apa. Rujuk dengan Ghani setelah apa yang diperbuat di masa lalu membuat dia berpikir haruskan menerima tawaran mantan suaminya itu? Akankah rumah tangga mereka berakhir bahagia sementara rasa sakit itu masih ada.
"Queensha, apa kamu bersedia menerimaku lagi menjadi suamimu? Mari kita bersama-sama membesarkan Aurora, mendidiknya dengan baik agar kelak tumbuh menjadi anak pintar dan berbakti kepada orang tua."
Queensha menurunkan tangan Ghani yang menyentuh ujung dagunya lalu berjalan dua langkah ke depan. "Entahlah, Pak, aku tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini terlalu tiba-tiba membuatku tak tahu harus berkata apa."
Menghela napas panjang seraya memejamkan mata sejenak, mencoba menghilangkan segala beban pikiran yang ada. "Kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih sakit hati akan perbuatanmu beberapa hari lalu. Dengan teganya menghina, membentak dan memintaku menjauhi Aurora selamanya padahal Pak Ghani tahu betapa berartinya Aurora bagi hidupku."
Ghani melangkah maju ke depan dan berdiri di sebelah Queensha. "Kenapa tidak kamu lanjutkan? Apa masih ada hal mengganjal hatimu? Katakan saja jangan kamu pendam sendiri, saya tidak mau kamu jatuh sakit karena memendamnya seorang diri." Tampak raut wajah penuh kecemasan terpancar di paras rupawan itu.
"Kalau aku menerima ajakanmu lalu bagaimana dengan Cassandra? Aku tidak mau melukai perasaannya jika kita memutuskan rujuk dan berumah tangga seperti sedia kala. Dia pasti sakit hati karena merasa aku telah merebutmu dari sisinya."
Dalam satu kali gerakan Ghani memutar tubuh Queensha hingga posisi mereka saling berhadapan. Selama beberapa saat keduanya larut dalam keheningan. Kenangan lima tahun lalu saat kedua tubuh mereka menyatu tanpa penghalang sama sekali terlintas dalam pikiran masing-masing.
"Kenapa kamu malah memikirkan perasaan orang lain, Sha? Memangnya kamu pikir Cassandra juga memikirkan perasaanmu? Jawabannya tentu saja tidak, 'kan. Jadi, jangan jadikan wanita itu penghalang dalam hubungan kita."
__ADS_1
Ghani menggenggam tangan Queensha. "Lagi pula kenapa kamu masih berpikir jika Cassandra adalah kekasihku. Bukankah sudah saya kujelaskan bahwa di antara kami tidak ada hubungan apa pun. Saya menganggapnya hanya sebatas teman biasa, tidak lebih."
"Namun, bagaimana dengan dia? Bagaimana jika Cassandra mengharapkan hubungan kalian lebih dari teman?" kata Queensha sambil memperhatikan jari tangan Ghani mengusap lembut punggung tangannya.
"Peduli apa dengannya toh saya sama sekali tidak tertarik pada wanita itu."
Ghani menyelipkan anak rambut Queensha yang tertiup angin ke belakang telinga. Kemudian mengelus pipi mulus sang mantan istri. "Di dunia ini hanya ada satu wanita yang menarik perhatianku. Sejak dulu hingga sekarang cuma dia yang kumau. Kamu mau tahu siapa orang itu?" Queensha menggeleng kepala. "Dia adalah kamu, Queensha. Kamu ...."
"Tapi ... aku masih ragu dengan keputusanku sendiri. Aku takut jika keputusanku nanti justru melukai banyak orang," cicit Queensha.
Terdengar helaan napas berat bersumber dari Ghani. "Saya mengerti perasaanmu, memang sulit melupakan semua kenangan buruk yang penah saya torehkan di hatimu. Tidak masalah jika kamu masih ragu, tapi ada satu hal yang harus kamu ingat bahwa saya akan terus menunggu sampai kamu menjawab 'iya'."
Ghani mengapit jemari lentik Queensha dan merengkuhnya. "Kamu pasti merindukan Aurora, bukan? Bagaimana kalau saya mengajakmu menemuinya, dia pasti sangat senang karena dapat bertemu denganmu."
Tanpa menunggu jawaban, Ghani menarik tangan Queensha dan mereka melangkah bersama menuju parkiran mobil. Hari ini Ghani ingin mengajak Queensha pergi ke rumah kedua orang tuanya karena ingin mempertemukan sepasang ibu dan anak yang sempat terpisah selama lima tahun lamanya.
...***...
__ADS_1