Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kepedulian Leon


__ADS_3

Bertepatan dengan matahari yang hampir terbenam, Ghani memutuskan untuk pulang ke rumah. Semua pekerjaan telah diselesaikan dengan baik, pun begitu dengan dokumen penting rumah sakit yang menumpuk di atas meja kerja telah ia periksan dan ditandatangani. Semuanya telah beres dan kini saatnya dia pulang ke rumah, beristirahat dan bercengkrama bersama keluarga kecilnya.


Mengendarai kendaraan roda empat miliknya, Ghani melajukan mobil hasil dari kerja kerasnya selama bekerja menjadi dokter menuju salah satu gedung apartemen termewah dan terlengkap di ibukota.


"Duh, gue enggak sabar kepengen buru-buru ketemu Queensha dan Rora. Mereka pasti udah nungguin gue di rumah," gumam Ghani. Membayangkan wajah orang tercinta serta janin dalam kandungan sang istri semakin menambah semangat padanya agar lekas tiba di apartemen dengan segera.


"Aku pulang!" seru Ghani seraya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.


Alih-alih mendapati Queensha berdiri di depan pembatas ruangan dengan seulas senyuman manis mengembang di bibir, Ghani justru mendapati unit apartemen tersebut dalam keadaan kosong melompong. Tidak ada bik Anah, Aurora apalagi Queensha.


"Ke mana mereka pergi?" Ghani berkata lirih lalu meletakkan tas kerjanya di atas rak sepatu. Ia melepas sepatu hitam terbuat dari kulit asli dengan sandal santai yang biasa digunakan saat berada di rumah.


"Sayang, kamu di mana?" Ghani memanggil nama istrinya sambil berjalan menuju kamar utama. Namun, hanya keheningan saja yang ia temui di sana. Bahkan tak ada cahaya lampu menyala di kamar utama.


Ghani tak menyerah begitu saja. Ia mencoba mencari Queensha di kamar Aurora. Biasanya kalau sore menjelang maghrib, sang istri berada di kamar menemani putri mereka mengerjakan tugas sekolah TPA.


"Rora, kamu di dalam, Nak?"


Lagi dan lagi Ghani tak menemukan keberadaan mereka berdua. Tiba-tiba saja ia mulai mencemaskan keselamatan istri dan anak tercinta. Khawatir mereka diculik seseorang yang menyimpan dendam kepadanya.


“Enggak biasanya seperti ini. Apa mungkin terjadi sesuatu pada istri dan anak gue? Kalau iya, seharusnya anak buah Yogi kasih kabar, tapi ini enggak. Berarti Queensha dan Rora baik-baik aja, dong."


Mengacak rambutnya dengan frustasi. Pikiran Ghani kalut. Dia jadi overthinking, takut terjadi apa-apa pada Queensha dan Aurora.


"Mending gue telepon Queensha aja, deh, siapa tau dia masih pergi sama Lulu."


Akhirnya, Ghani menelepon Queensha. Sayangnya, teleponnya sama sekali tak tersambung meski dia sudah menelepon sampai sepuluh kali.


“Sial. Ke mana perginya dia? Dan kenapa teleponnya enggak diangkat?” Ghani semakin dibuat kelimpungan karena memikirkan istri dan anak tersayang.


Sementara itu, Queensha sama sekali tak sadar Ghani tengah meneleponnya. Kebetulan ponselnya dalam mode silent, sehingga dia tak sadar kalau ada telepon masuk dari sang suami.


Queensha menatap Lulu. Lulu masih terbaring di tempat tidur indekosnya. Wajahnya masih pucat, tanda kesehatannya belum membaik.


“Sha, apa kamu sudah bilang suamimu kalau kamu ada di sini? Nanti kalau Ghani mencarimu gimana? Dia bisa berubah jadi monster menyeramkan kalau sedang marah. Aku takut jadi samsaknya dia," kata Leon yang baru saja masuk ke dalam kamar. Tangan kanan membawa dua kantong plastik berisi makanan.


Tadi Leon memang izin sebentar untuk membeli makanan di sekitar indekos agar bisa segera disantap Lulu saat gadis itu sudah bangun dari tidurnya.


Menepuk kening pelan. “Oh iya, aku lupa. Sebentar, aku telepon Mas Ghani dulu.” Queensha mencari ponselnya. Mata membeliak begitu melihat layar ponsel dan mendapati ada banyak misscalled dari Ghani. Ada juga beberapa pesan yang masuk menanyakan di mana dirinya dan Aurora sekarang.

__ADS_1


“Ya ampun, tadi Mas Ghani meneleponku. Tapi aku nggak sadar karena hape-nya ku-silent.” Queensha jadi gelisah. Jantung berdebar tak beraturan, membayangkan apa yang akan terjadi setelah dia kembali ke apartemen. Mungkinkah dirinya akan menjadi janda untuk kedua kali?


'Bodoh! Bagaimana aku bisa seceroboh ini!' maki Queensha pada dirinya sendiri.


Belum ada sedetik Queensha mengatakannya, layar ponsel wanita itu menyala, tanda ada telepon masuk. Queensha segera mengangkatnya begitu tahu yang menelepon adalah Ghani.


“Sayang, kamu di mana? Kenapa belum pulang? Bukannya aku udah bilang kamu harus ada di apartemen sebelum azan maghrib berkumandang?" kata Ghani dengan nada khawatir. Saat kehadiran Triplet belum dideteksi, Ghani sudah sangat protective terhadap istrinya apalagi sekarang setelah dokter menyatakan bahwa istrinya tengah mengandung maka pria itu semakin protective terhadap istri tercinta.


“Maaf, Mas. Aku ada di tempatnya Lulu. Lulu sedang tidak enak badan, makanya aku sedang menjaganya sekarang.” Queensha enggan menceritakan permasalahan Lulu yang sebenarnya. Apalagi di telepon seperti ini.


Rasa cemas yang bersemayam dalam diri Ghani perlahan memudar saat mendengar nama Lulu disebut. “Oh, begitu. Kenapa kamu tidak mengirimiku pesan kalau pulang terlambat? Aku cuma takut hal buruk menimpamu dan juga Rora."


“Iya, maaf, Mas. Tadi aku pergi mendadak, makanya lupa bilang. Maaf ya, Mas."


"Sebetulnya aku tidak masalah kalau kamu menemani Lulu, tapi ingatlah, kamu sekarang sedang hamil. Jangan sampai terlalu capek. Ada tiga janin dalam perutmu sekarang. Kamu harus banyak-banyak istirahat," kata Ghani lembut. Istrinya sedang mengandung maka dia tak bisa marah-marah apalagi meninggikan nada suara di depan Queensha jika tidak mau disuruh tidur di kamar tamu tanpa belaian ataupun kecupan dari wanita yang sangat dia cintai.


Seketika Queensha mengelus perutnya yang membuncit. Ya, tentu saja dia ingat untuk menjaga tubuhnya agar tak terlalu kelelahan. Itu pula sebabnya dari tadi dia hanya duduk saja sambil menunggui Lulu sementara Leon yang mondar-mandir membeli ini dan itu.


“Iya, Mas. Aku akan jaga diriku dengan baik."


“Aurora bersamamu, 'kan?” tanya Ghani.


Queensha melirik Aurora yang saat ini sedang sibuk membaca buku bergambar. Dia asyik membolak-balik halaman sambil mengagumi ilustrasi dalam buku itu yang menarik hatinya.


“Kalau urusanmu sudah selesai, kamu lekas pulang. Jangan lama-lama di luar. Kamu butuh istirahat. Sudah terlalu lama kamu berada di luar rumah, tidak baik bagi kesehatanmu dan calon anak-anak kita."


Queensha mengangguk kecil. “Baik, Mas. Aku nanti pulang. Kebetulan ada Mas Leon juga di sini. Biar dia saja yang menjaga Lulu.”


“Nah, bagus itu. Leon sih sehat walafiat. Dia tidak sedang hamil, jadi biarkan dia yang mengurus orang sakit.”


“Iya, Mas. Ya udah, aku tutup dulu telepon ya. Aku pamitan dulu sama sahabatmu. Tidak enak kalau nyelongong pulang begitu saja tanpa berpamitan."


“Hmm. Hati-hati di jalan. Minta sopirnya untuk tidak ngebut. Kalau sudah sampai apartemen, kabarin nanti aku jemput di lobby."


Akhirnya, Queensha menutup teleponnya. Dia pun mendatangi Leon yang sedang menatap Lulu. Seketika Queensha menghentikan langkah. Dia bisa melihat dari tatapan Leon kalau laki-laki itu amat peduli pada Lulu. Ya, mata memang tak bisa berbohong. Tampak jelas sekali di mata Leon kalau dia menyukai Lulu.


“Ehem!” Queensha berdehem, mengagetkan Leon yang sedari tadi fokus menatap Lulu.


“Oh ya, kenapa, Sha?” tanya Leon sedikit gelagapan.

__ADS_1


“Dari tadi sibuk terus ngerawat orang sakit sampai-sampai tidak sadar akan kehadiranku," goda Queensha.


Wajah Leon langsung memerah. “Apaan sih? Tidak juga. Omong-omong, tadi Ghani yang telepon?” Leon langsung mengalihkan pembicaraan.


“Iya. Dia minta aku dan Aurora pulang sekarang. Apa tidak masalah kalau Mas Leon sendirian yang jaga Lulu? Kosnya sepi begini, semua orang sedang keluar. Bisa gawat kalau Lulu butuh apa-apa tapi tidak ada yang menjaganya.”


“Ehm, tidak masalah kok. Aku yang jaga Lulu. Kamu sama Aurora pulang aja. Aurora kayaknya udah ngantuk juga.” Leon melirik Aurora.


Aurora berulang kali menguap sambil membuka halaman bukunya. Queensha menatap putrinya itu. Benar juga. Aurora masih kecil dan sekarang waktunya si kecil beristirahat.


“Kamu juga harus istirahat, Sha. Ingat kandunganmu.” Leon melirik pada perut Queensha yang mulai membuncit.


“Tadi Mas Ghani bilang seperti itu juga. Ya udah, aku sama Aurora pulang dulu ya. Tolong jaga Lulu dengan baik. Kalau dia sudah baikan, segera telepon aku. Oke?”


Leon mengacungkan jempolnya. “Beres.”


***


Setelah Queensha dan Aurora pergi, hanya tinggal Leon yang ada di kamar Lulu. Karena mereka hanya berduaan saja, Leon sengaja membuka kamar indekos Lulu agar tak ada salah paham dengan pemilik kos yang sedari tadi mondar-mandir di depan kamar Lulu. Mungkin dia takut Leon melakukan sesuatu yang tidak-tidak, makanya mondar-mandir mirip setrikaan.


“Lulu masih belum baikan?” tanya pemilik kos dengan mata memicing.


“Belum, Bu. Saya dapat amanat dari sahabatnya Lulu untuk jagain dia sampai temannya datang. Tenang, Bu, saya tidak akan melakukan apa pun kepada Lulu."


“Baiklah, saya percaya pada kamu kamu. Namun ingat, kalau sampai kamu macam-macam saya laporin ke polisi dan kamu bisa dipenjara atas tuduhan pelecehan terhadap kaum lemah." Ultimatum pemilik kos, yang membuat Leon menelan ludah gara-gara takut dengan ancamannya. Mata pemilik indekos melotot dengan air muka menakutkan.


Setelah pemilik kos pergi, Leon pun duduk di dekat tempat tidur Lulu. Dia sengaja menyeret kursi agar leluasa menjaga Lulu.


Dalam diam, Leon terus memperhatikan wajah Lulu. Jauh di lubuk hatinya, Leon sadar kalau dia begitu peduli pada Lulu. Melihat Lulu terbaring tak sadarkan diri begini, membuat hati Leon seperti teriris. Dia ingin Lulu lekas baikan, jadi dia bisa melihat matanya yang berbinar dan senyumnya yang manis-menawan.


“Cepatlah sadar, Lu,” bisik Leon, memandang lamat. Tangannya tanpa sadar terulur ke dahi Lulu untuk mengecek suhu tubuhnya.


Leon kaget saat sadar tubuh suhu Lulu naik. Sepertinya karena merasa terguncang, berimbas pada kesehatan Lulu sehingga dia jadi demam.


“Gawat. Aku harus menurunkan panas di tubuh Lulu.” Leon segera beranjak untuk mencari baskom yang bisa diisi air. Dia juga mencari handuk kecil yang bisa dia gunakan untuk mengompres dahi Lulu.


Setelah semua tersedia, Leon segera merendam handuk kecil itu ke dalam air, lalu memerasnya, sehingga terasa lembab (tapi tak terlalu basah sampai airnya menetes). Dia pun menaruhnya di dahi Lulu guna menurunkan demam Lulu.


“Nggg .…” Lulu sedikit mengerang karena merasa ada benda asing hinggap di dahinya. Meskipun demikian, dia sama sekali tak mau membuka mata, pertanda dia belum siap untuk siuman.

__ADS_1


“Lulu, cepatlah sadar supaya kamu bisa segera minum obat.” Leon menatap Lulu dengan pandangan khawatir. Tanpa sadar dia menggenggam tangan Lulu untuk menunjukkan betapa dia amat peduli pada gadis itu.


...***...


__ADS_2