
Pagi itu salah satu asisten rumah tangga di kediaman orang tua Cassandra sedang sibuk membersihkan tanaman milik sang majikan. Dia dihebohkan dengan kedatangan mobil polisi di perkarangan rumah.
Tak berselang lama, dua orang pria berseragam polisi turun dari mobil dan bergegas menghampirinya. Rosidah, asisten rumah tangga Erika mengerutkan kening petanda bingung. "Mau apa kedua polisi itu ke sini?" gumamnya lirih seraya mengikuti ke mana langkah mereka melangkah.
"Selamat pagi, Bu.” Salah satu polisi menyapa Rosidah. “Apa benar ini rumah orang tua Nona Cassandra?"
“Benar, Pak. Ada perlu apa ya?” Rodisah masih kebingungan sebab kedatangan kedua polisi itu secara tiba-tiba.
“Bisa tolong panggilkan saudari Cassandra? Kami ada perlu dengannya."
Dengan segera Rosidah menjawab, "B-bisa, Pak. M-mari, saya antarkan." Lantas ia menunjukan jalan menuju pintu masuk kediaman orang tua Cassandra.
Saat tiba di ambang pintu, Rosidah mempersilakan dua polisi itu mengetuk daun pintu, sementara dia bersembunyi di balik tubuh jangkung mereka.
Bik Fatimah yang bertugas memasak makanan untuk majikannya membuka pintu usai mendapat perintah dari Erika. "Cari siapa, Pak?"
"Apa saudari Cassandra ada di rumah?" tanya salah satu pria berseragam polisi dengan suara tegas, tanpa senyuman sama sekali menghiasai wajahnya.
Dengan tergagap bik Fatimah menjawab, "A-ada, Pak. Tapi ada k-keperluan apa Bapak mencari putri majikan saya?"
"Kami dari pihak kepolisian diminta menangkap saudari Cassandra atas tuduhan penculikan terhadap korban bernama Bu Queensha Azura Gunawan. Bisa kami segera menemuinya?"
"Bapak tunggu sebentar, saya beritahu majikan saya dulu." Lantas bik Fatimah berlari masuk ke dalam ruangan hendak menemui Erika dan Antonio serta Cassandra yang tengah sibuk sarapan di ruang makan.
“Siapa yang datang, Bi?” tanya Erika kebingungan sebab tidak biasanya ada tamu datang berkunjung pagi-pagi begini.
“Itu, Bu ... a-anu ...."
Antonio yang kesal menggebrak meja hingga terdengar bunyi sendok dan garpu beradu dengan piring. "Kalau bicara yang jelas! Jangan membuatku penasaran!" bentaknya.
"M-maaf, Pak. Di depan a-ada p-polisi. M-mereka mencari Nona Cassandra."
Sontak semua orang tampak terkejut mendengar ucapan bik Fatimah. Tiga pasang mata terbelalak sempurna dengan rahang terbuka. Jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajah Cassandra. Saat ini wanita itu terlihat sangat pucat dan keringat dingin mulai bermunculan ke permukaan kulit.
“Ada perlu apa mereka datang kemari?” tanya Erika setelah dapat menguasai diri.
Bik Fatimah hanya menggelengkan kepalanya pelan, bukan tugasnya memberitahu Erika maupun Antonio jika kedatangan kedua polisi ke rumah untuk menangkap Cassandra. Biarlah itu menjadi tugas polisi menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke sini.
Tamara jelas tak puas dengan jawaban itu. “Biar aku menemui mereka. Kalian lanjutkan saja sarapannya." Ibu kandung Cassandra bangkit berdiri, kemudian melangkah maju ke depan menemui kedua polisi yang tengah menunggu di ambang pintu.
__ADS_1
Karena penasaran, Antonio menyusul istrinya. Pria paruh baya itu menyeimbangkan langkah kaki sang istri.
Cassandra berbisik di telinga bik Fatimah. "Kenapa tidak kamu usir saja mereka? Kamu tahu kalau sebentar lagi aku akan pergi bekerja. Kalau harus menemui mereka lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Dasar bodoh, semakin tua malah semakin bego!"
“Tapi Nona, saya-"
"Sudah diam, jangan banyak bicara! Semakin lama mendengar suaramu semakin membuat kepalaku pusing. Sana, kembali ke dapur! Aku malas melihat wajahmu yang menyebalkan itu!"
Sepeninggal bik Fatimah, Cassandra mengetuk-ngetuk meja menggunakan jemari tangan, tampak sedang berpikir keras. "Duh, bagaimana kalau kedatangan mereka ke sini untuk menangkap gue? Gue enggak mau masuk penjara."
Sementara itu, Antonio dibuat semakin kebingungan saat melihat dua orang pria asing tengah duduk manis di sofa ruang tamu rumahnya. Mengernyitkan kening, tak mengetahui apa maksud dan tujuan mereka datang ke rumah.
“Selamat pagi. Saya Antonio, ayah dari Cassandra," ucap Antonio memulai percakapan. Di sebelahnya sudah ada Erika yang sama bingungnya.
Melihat tuan dan nyonya rumah kebingungan dengan kedatangan mereka, dua polisi itu pun bangkit dari duduknya. Satu di antara mereka berkata, “Kami datang ke sini, diberi tugas untuk membawa saudari Cassandra ke kantor polisi atas kasus penculikan yang anak bapak dan ibu lakukan terhadap saudari Queensha Azura Gunawan.”
“Apa? Menculik Queensha?” Erika yang mendengarnya jelas tak percaya. "Bagaimana bisa anak saya ditangkap atas tuduhan penculikan, Pak. Anak saya perempuan baik-baik dan tak pernah neko-neko jadi tidak mungkin melakukan tindak kriminal. Saya yakin ada kesalahpahaman di antara mereka."
“Jika Ibu dan Bapak tidak percaya, ini surat penangkapannya. Ibu dan bapak bisa memeriksanya sendiri untuk memastikan apakah terjadi kekeliruan di dalamnya." Pria bertubuh tambun menyodorkan selembar surat ke hadapan Erika.
Dengan sedikit kasar, Erika langsung mengambil surat penangkapan yang disodorkan oleh salah satu polisi yang ada di sana. Bersama dengan suaminya, kedua pasangan paruh baya itu membaca seluruh isi surat dengan hati-hati.
“Ini—“ Erika menelan ludah gugup. Tak sanggup mengatakan apa pun saat mengetahui jika tuduhan yang tadi dilontarkan oleh dua orang polisi di hadapannya bukan sekadar omong kosong semata.
“Mas?" panggil Erika seraya menoleh pada suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Tolong lakukan sesuatu. Anak kita tidak mungkin sampai melakukan tindakan kriminal seperti ini."
Namun, di luar ekspektasi Erika, Antonio yang baru saja selesai membaca surat penangkapan Cassandra justru mempersilakan pihak kepolisian masuk ke dalam rumah untuk menemui Cassandra yang terbukti bersalah.
“Antarkan mereka ke ruang makan, Bik!" titah Antonio dengan air muka frustasi. Tak menduga jika putrinya melalukan perbuatan yang telah mencoreng nama baik keluarga.
“Terima kasih atas kerja samanya, Pak," ujar dua orang polisi sebelum mengikuti si bibi ke ruang makan. Kini menyisakan Antonio serta Erika di ruang tamu.
Erika menghunus tatapan tajam dan berkata, “Kamu apa-apaan sih, Mas? Kenapa malah membiarkan mereka menemui putri kita!" Meledak sudah emosi dalam diri wanita itu. Sebagai seorang ibu yang mengandung dan melahirkan serta merawat Cassandra sejak kecil, tentu ia tidak terima jika putrinya dituduh terlibat dalam kasus penculikan Queensha. Sekalipun Cassandra terbukti bersalah, ia tak mau menerima kenyataan itu.
“Mereka hanya menjalankan tugasnya, Ma. Sudah sewajarnya kita sebagai warga negara yang baik mengikuti segala prosedur yang berlaku,”
“Tapi mereka akan membawa putri kita ke kantor polisi, Mas! Kamu tidak dengar apa yang tadi mereka tuduhkan pada Cassandra?"
Tak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Antonio, Erika berniat menyusul para polisi itu ke dalam rumah. Sayangnya, Antonio yang menyadari niat istrinya dengan sigap menahan sang istri untuk tetap di sana bersamanya.
__ADS_1
“Mas!” Erika berseru saat mendapati lengannya dicekal Antonio.
“Biarkan saja, Ma. Kalau putri kita memang tidak bersalah, dia pasti akan dibebaskan.”
“Tapi aku tetap tidak setuju, Mas!” seru Tamara dengan meninggikan nada suaranya.
Sejujurnya, Antonio pun masih belum percaya jika Cassandra adalah dalang atas penculikan Queensha. Terbukti saat membaca surat penangkapan Cassandra yang polisi serahkan, ia cukup terkejut. Antonio pun tak kalah hancurnya seperti sang istri. Bagaimana bisa putrinya melakukan kejahatan itu? Penculik Queensha? Ya Tuhan ... yang benar saja.
“Ini fitnah!”
Perhatian Erika dan Antonio langsung teralihkan mendengar teriakan berasal dari dalam ruangan. Mereka berlariendekati sumber suara. Dua pasang mata melotot saat melihat Cassandra tengah dipaksa berjalan oleh dua polisi dengan kedua tangan yang sudah diborgol.
“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak! Ini fitnah! Saya tidak bersalah! Tolong lepaskan saya!” teriak Cassandra tak terima.
“Nanti Anda bisa jelaskan ke kantor polisi ya, Bu.”
Cassandra menggelengkan kepalanya histeris. “Mama ... Papa ... tolong. Aku tidak bersalah."
Tak peduli seberapa keras usaha Cassandra untuk memberontak, tenaganya tak sebanding dengan dua orang polisi yang badannya dua kali lebih besar darinya hingga membuat Cassandra bisa dengan begitu mudah dimasukkan ke dalam mobil tanpa perlawanan berarti.
Erika yang melihat putri kesayangannya benar-benar diseret paksa ke kantor polisi pun tak kalah histeris hingga membuat wanita itu jatuh tak sadarkan diri dalam dekapan sang suami.
"Cassandra, putriku." Lalu kedua mata Erika terpejam detik itu juga.
**
Sementara itu di tempat lain, Ghani sedang memainkan ponsel seraya menunggu Queensha beserta Andre dan Eva saat mendapat telepon dari Yogi.
“Ya?”
“Misi selesai, Dokter. Nona Cassandra sudah ditangkap polisi di rumahnya tanpa melakukan perlawanan berarti.”
Ghani tersenyum mendengarnya. “Kerja bagus,” puji pria itu. Yogi memang selalu bisa diandalkan dalam hal apa pun. Ghani benar-benar merasa beruntung memiliki orang kepercayaan seperti Yogi.
“Tetap di sana. Awasi dan jangan biarkan dia dibebaskan dengan mudah,” perintah Ghani dengan sungguh-sungguh. “Nanti aku akan menyusulmu ke sana setelah selesai mengantar paman dan bibi Queensha ke stasiun.”
“Baik, Pak.”
Setelahnya, tepat saat Ghani memasukan ponsel ke saku celana, Queensha beserta Eva dan Andre tengah berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu tersenyum lebar melihat bidadarinya melangkah dengan anggun dengan menggandeng tangan mungil sang putri. Dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya, menjadi sumber kebahagiaan dan penyemangat baginya perlahan mendekatinya.
__ADS_1
"Ayo, kita ke mobil sekarang. Sopir sudah menunggu kita sejak tadi." Queensha mengangguk lalu mereka semua masuk ke dalam mobil yang telah menunggu di depan pintu masuk hotel.
...***...