Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Akan Ada Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

Queensha berdiri di depan pagar sebuah rumah dua lantai yang dulu pernah ia tinggali bersama mendiang kedua orang tuanya. Ada sedikit keraguan dalam diri mengingat di dalam sana ada dua manusia kejam berhati iblis yang merupakan dalang di balik insiden penculikan Aurora. Kalau bukan karena ingin berbicara secara empat mata dengan Mia, sebetulnya ia enggan sekali bertemu dengan ibu dan adik tirinya itu.


"Udah sampai sini, kamu enggak bisa balik lagi, Sha. Jadi mendingan sekarang kamu masuk dan selesaikan urusanmu dengan Mama Mia secepatnya," ucap Queensha pada dirinya sendiri.


Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Keadaan sekitar rumah masih sama seperti tujuh tahun lalu. Pohon mangga tempat ia dan teman sebayanya mengerjakan PR sehabis pulang sekolah berdiri kokoh hingga sekarang. Walaupun sudah jarang sekali berbuah, rupanya pohon mangga itu masih menjadi salah satu tempat favorit bermain bagi anak-anak.


"Indahnya masa kanak-kanak. Andai saja aku punya mesin waktu maka aku ingin sekali kembali ke masa itu, masa di mana dalam pikiranku hanya bermain, bermain dan bermain saja tanpa memikirkan urusan orang dewasa. Namun sayang, mesin waktu hanya ada dalam kisah Doraemon saja, enggak ada di dunia nyata."


Menghela napas panjang dan berat, membuat beban berat di pundak. Kemudian Queensha mulai melangkah memasuki pelataran rumahnya. Ia sudah membulatkan tekad ingin membeli pelajaran kepada Mia karena wanita tua itu sudah melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama.


Queensha mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat. Akan tetapi, tak ada satu orang pun membukakan daun pintu tersebut.


"Apa mereka jam segini masih tidur?" gumam Queensha.


Tak pantang menyerah, ia kembali mengetuk pintu untuk kesekian kali. "Assalamu a'laikum," ucap wanita itu dengan meninggikan nada suaranya.


Tampaknya usaha Queensha tidak sia-sia. Terdengar langkah seseorang mendekati pintu diikuti kemunculan seorang wanita muda berdiri di depan sana.


"Maaf, Mbaknya siapa? Dan ada keperluan apa datang ke sini?" tanya wanita muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun.


Alis Queensha tertaut petanda bingung. Kehadiran wanita asing di rumah peninggalan kedua orang tuanya membuat pikiran mantan istri Ghani ke mana-mana.


Tidak mau menduga-duga, Queensha kembali membuka suara. "Saya, Queensha. Kedatangan saya ke sini ingin bertemu dengan Mama Mia. Apa dia ada di dalam?"


"Oh, Bu Mia. Dia dan putrinya Lita, sudah pergi dari sini kemarin malam. Saya sih tidak tahu alasannya apa hingga membuat dia buru-buru pindah dari sini. Namun, dari ucapan Bu Mia semalam bisa disimpulkan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini," jawab Karmila, nama wanita itu.

__ADS_1


"Jadi ... Mama Mia tidak akan kembali lagi ke rumah ini, begitu?" Pertanyaan Queensha dijawab anggukan kepala. "Lalu, kenapa Mbak ada di sini kalau memang Mama Mia tidak akan kembali ke rumah ini?"


Dengan santainya Karmila menjawab, "Karena saya penghuni baru rumah ini. Bahkan sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik saya sebab Bu Mia berencana menjualnya kepada saya. Kenapa, apa ada masalah?"


Queensha membeku. Matanya melebar dan rahang pun terbuka sempurna. Berita yang disampaikan Karmila sukses membuat bumi tempat wanita itu berpijak tak lagi berputar pada porosnya. Ia cukup terkejut akan kenyataan bahwa rumah peninggalan mendiang papa dan mamanya sebentar lagi beralih kepemilikan.


Sementara itu, Karmila menatap tajam ke arah Queensha. Ia memindai wanita di hadapannya mulai dari atas rambut hingga ke ujung kaki, tak ada satu bagian pun dari pantauan wanita itu.


"Oh ya, tadi saya dengar kamu panggil Bu Mia dengan sebutan 'Mama'? Emangnya kamu siapanya Bu Mia? Anaknya juga, hem?" tanya wanita itu ketus. Kedua tangannya terlipat di dada. Sorot mata mengisyaratkan ketidaksukaan akan kehadiran Queensha di rumah itu.


"Benar, saya putrinya. Lebih tepatnya lagi putri tiri Bu Mia," sahut Queensha lirih.


Karmila manggut-manggut sambil ber-oh ria. "Terus, mau ngapain lagi Mbaknya di sini. Bukannya tadi sudah jelas ya, kalau Bu Mia sudah pindah dan tidak akan kembali lagi ke sini. Lalu kenapa Mbak masih betah berdiri di depan rumah orang. Apa Mbak tidak tahu kalau kedatangan Mbak di sini sudah mengganggu ketenangan saya beserta keluarga," sunggut wanita itu berapi-api. Menghunus tatapan tajam seperti seekor binatang buas yang hendak menerkam mangsanya.


Entah mendapat keberanian dari mana, perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir ranum bernuansa strawberry. Namun yang pasti, Queensha tidak bisa terima begitu saja jika satu-satunya harta peninggalan mama dan papanya berpindah ke tangan lain. Sekalipun rumah itu dijual oleh Mia, istri kedua sang papa, tetapi Queensha tidak ikhlas bila rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama kedua orang tuanya dijual tanpa sepengetahuannya.


Napas mulai tersengal, terasa sesak. Menghentak tulang-tulang di dada, menjadikannya kembang kempis selama beberapa detik.


Berkacak pinggang dengan mata melotot. "Enak saja ngusir saya dari sini! Heh, saya tidak ada urusan ya sama kamu. Kalau kamu memang ingin kesepakatan antara saya dan Bu Mia batal, temui Ibu Tiri kamu dan minta dia mengembalikan uang DP yang saya berikan kepadanya. Setelah itu baru saja pergi dari sini. Kalau tidak maka jangan minta saya angkat kaki dari sini! Ngerti kamu?" sembur Karmila dengan emosi tidak terkontrol. Ia amat geram mendengar permintaan Queensha yang dianggap konyol.


"Tapi, Mbak-"


Belum selesai Queensha menyelesaikan kalimatnya, Karmila sudah lebih dulu menyela.


"Tidak ada tapi! Kalau kamu memang rumah ini kembali, kembalikan dulu uang saya. Kalau tidak maka jangan harap saya pergi dari rumah ini!" tukas Karmila tanpa mau dibantah.

__ADS_1


Tidak ingin mood-nya semakin berantakan, Karmila segera menutup pintu dengan kencang hingga membuat Queensha tersentak.


Tungkai Queensha lemas, seakan tak mampu menopang tubuhnya. Berjalan perlahan dengan meraba dinding lalu duduk di kursi yang disediakan di teras rumah.


"Ya Tuhan, tega sekali Mama Mia melakukan ini kepadaku. Dia sudah membawa kabur uang tebusan pemberianku, melanggar perjanjian yanh disepakati bersama dan kini wanita Iblis itu berencana menjual rumah warisan kedua orang tuaku. Benar-benar keterlaluan. Aku enggak bisa diam aja. Pokoknya aku harus bertindak."


Tanpa membuang waktu, Queensha mengeluarkan telepon genggam dari sling bag yang tersampir di antara pundak dan ketiak. Ia mencari nomor Mia dan mencoba menghubungi wanita itu.


"Sialan, kenapa nomor teleponnya enggak aktif!" maki Queensha saat mendengar suara operator yang menjawab panggilannya. Namun, ia tak pantang mundur terus melakukan panggilan telepon meski lagi dan lagi hanya suara operator yang terdengar.


"Wanita Iblis! Wanita sialan! Dia ...." Suara Queensha tercekat di tenggorokan. Ingin sekali meluapkan kekesalannya, tetapi sadar emosi bukanlah jalan keluar dari masalah yang menimpa dirinya saat ini.


Menarik napas dalam, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan. Queensha memejamkan mata sejenak, mengatur napas agar emosinya tidak meledak-ledak. Berbagai umpatan, makian dan hinaan yang ditujukan kepada Mia, tidak dapat mengubah segalanya.


"Pa, jadi seperti ini wanita yang Papa nikahi? Wanita yang dulu Papa agung-agungkan karena disangka berhati malaikat, rupanya berhati Iblis, tega menyengsarakan anak tirinya sendiri. Andai Papa tahu, masihkah Papa menikahi Mama Mia?"


Mengusap wajah dengan kasar. "Ya Tuhan, kenapa nasibku malang begini. Ditinggal pergi kedua orang tua, kesucianku dirampas pria tak bertanggung jawab, mengandung selama sembilan bulan, tapi saat melahirkan bayiku justru meninggal dunia. Lalu kini, aku dicerai suami, dijauhkan dari anak sambungku sendiri dan terakhir harta warisan satu-satunya milik Papa dan Mama direbut secara paksa oleh Mama Mia. Oh astaga, kesalahan apa yang kuperbuat di masa lalu hingga kesialan datang bertubi-tubi kepadaku."


Menegadahkan kepala ke atas, menandangi keindahan langit di pagi hari. "Namun aku yakin, akan ada hikmah yang kupetik dari setiap musibah yang Engkau berikan. Berikanlah selalu kesabaran kepadaku, Tuhan."


Setelah itu Queensha bangkit berdiri dan berniat mengetuk kembali daun pintu itu. Kalaupun memang rumah itu tak lagi menjadi miliknya, ya sudahlah mungkin memang bukan rezeki Queensha. Namun, setidaknya barang peninggalan sang mama yang disimpan di gudang aman dan ia ingin mengambil barang-barang itu sebelum Karmila membuangnya ke tempat sampah.


Dengan begitu, hidup Queensha jauh lebih tenang karena kenang-kenangan mama dan papanya sudah berada dalam genggaman tangan. Untuk urusan rumah akan ia pikirkan nanti. Sekarang otaknya terlalu lelah berpikir. Ia butuh istirahat guna menyegarkan kembali pikirannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2