
Kicau burung menjadi penyapa di pagi hari. Desau angin yang sejuk menelusup lewat sela-sela jendela kamar, deburan ombak pantai bagai musik instrumental membuat seseorang yang masih bergumul di balik selimut kusut itu menggeliat kecil.
Mengeratkan kembali selimutnya untuk mencari kehangatan di sana. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi waktu setempat dan langit juga masih gelap, bahkan cahaya matahari pun belum menampakkan pesonanya.
Ghani melirik sejenak ke arah Queensha yang masih terlelap, ia tersenyum dan berucap lirih, "Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Aku berjanji akan selalu menjagamu," bisik Ghani sebelum kembali memejamkan matanya yang sipit. Ia rengkuh tubuh sintal tanpa helai kain pun dalam pelukan, mendekap erat seakan ingin memberitahu kalau ia begitu sangat mencintai wanita itu.
Terdengar bunyi alarm bersumber dari ponsel Queensha. Tangan wanita itu meraba nakas samping tempat tidur, mencoba mematikan alarm telepon genggam miliknya.
Niat hati ingin melanjutkan tidur, tetapi sinar matahari telah menampakkan pesonanya pada makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Queensha perlahan bangkit, kemudian duduk di sandaran tempat tidur.
"Aduh, badanku sakit semua. Rasanya seperti diinjak gajah raksasa," gumam Queensha seraya menyentuh leher serta anggota tubuh yang dirasa pegal.
Suhu ruangan yang dingin menyentuh permukaan kulit. Queensha merasakan tubuhnya kedinginan, kemudian tersadar tatkala pandangan matanya turun ke bawah, di mana saat ini tak ada helai pakaian yang membungkus tubuhnya.
"Aah! Apa yang terjadi kepadaku? K-kenapa tubuhku polos begini?" pekik tertahan Queensha. Lalu kepingan kejadian tadi malam ketika Ghani terus menggempurnya hingga pukul tiga dini hari melintas di benak Queensha.
Benar-benar gila. Bagaimana bisa laki-laki macam Ghani memiliki energi sebesar itu hingga Queensha tak ada kesempatan sedikit pun untuk beristirahat hingga membuat wanita itu kelelahan karena melayani suaminya yang seperti orang baru buka puasa setelah bertahun-tahun tidak makan.
"Mas Ghani benar-benar seperti binatang buas yang sangat menakutkan. Dia menuntaskan semua hasratnya dalam satu waktu."
Merasa sekujur tubuh terasa lengket akibat peluh dan sisa percintaan semalam, Queensha memutuskan pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri dari kotoran yang menempel di badan.
Saat ini Queensha tengah berendam di bath tub yang diisi air hangat serta ditambah beberapa tetesan aroma terapi di atasnya. Ingatan tentang kejadian semalam kembali terlintas di kepalanya. Apa yang terjadi semalam tergambar begitu jelas di depan mata, tak sedetik pun terlewatkan.
"Semalam Mas Ghani menyentuhku dengan sangat lembut. Dia menempati janjinya untuk tidak bermain kasar saat kami sedang bercinta." Lalu semburat rona merah muda muncul di wajah Queensha. Ia benar-benar malu bila mengingat kejadian tadi malam di mana ia mendesaah keenakan di bawah kungkungan sang suami. Apalagi saat Ghani memasukinya dari arah belakang membuat debaran halus di dada wanita itu.
Menutup wajah menggunakan telapak tangan. "Aah, Queensha, kenapa kamu jadi mesum begini, sih. Come on, jangan sampai pikiranmu yang suci terkontaminasi!"
Sementara itu, Ghani sudah bangun lebih dulu dan saat ini tengah berolahraga ringan di balkon kamar hotel. Ia melakukan gerakan ringan guna melatih kakinya yang baru saja sembuh dari cidera. Selain ingin berolahraga, ia punya tujuan lain yaitu menghindari pertemuannya dengan Queensha pasca penyatuan mereka semalam.
Bukan karena Ghani tak sudi memandang wajah Queensha, tetapi karena ia ingin memberi ruang kepada sang istri agar wanitanya tidak merasa malu jika bangun terlambat. Ghani berpikir, Queensha pasti malu karena semalam istrinya mendesaah keenakan, bahkan meminta dirinya memasuki tubuh sintal itu dari arah belakang.
__ADS_1
"Hari ini olahraganya sampai di sini saja dan kini saatnya gue istirahat." Ghani meraih handuk kecil yang disampirkan di sandaran kursi santai lalu mengelap peluh yang bercucuran membasahi kening dan leher.
Saat masuk ke dalam kamar, aroma harum lavender menyeruak ke penjuru ruangan. Sepertinya Queensha baru saja mandi.
Berjalan perlahan memasuki ruangan, kemudian Ghani tersenyum singkat saat mendapati Queensha tengah mengeringkan rambut dalam balutan jubah mandi warna putih.
"Selamat pagi, Sayang. Pagi ini kamu terlihat cantik sekali," kata Ghani. Ghani mendekati istrinya dan memeluk wanita itu dari belakang. Menyesap dalam-dalam segar tubuh Queensha yang justru membuat wanita itu geli sendiri.
"Mas, geli." Bulu kudu Queensha berdiri saat merasakan embusan napas Ghani menyentuh bagian lehernya yang tak lain merupakan titik sensitif bagi sang wanita.
Alih-alih menghentikan kegiatannya, Ghani justru semakin bersemangat menggoda sang istri. Apalagi melihat Queensha menunduk malu, membuat pria itu semakin gemas dibuatnya.
"Sayang, pagi-pagi begini kamu sudah harum. Apa kamu sengaja ingin menggodaku? Kamu ... mau melakukannya lagi pagi ini? Katanya kalo berhubungan intim di pagi hari jauh lebih nikmat," goda Ghani. Sontak wajah Queensha kembali memanas.
"Mas Ghani!" tegur Queensha. Ghani justru terkekeh. Pria itu puas bisa menggoda istrinya seperti ini.
"Iya … iya … aku hanya bercanda, Sayang. Mana mungkin aku meminta jatah lagi setelah semalaman begadang kini saatnya kamu istirahat." Ghani membenarkan posisi kanduknya yang sedikit bergeser lalu kembali berkata, "Aku mau mandi dulu. Hari ini aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat." Ghani setelah mengecup pelan puncak kepala Queensha.
"Kemana, Mas?"
***
Sebuah kejutan tak terduga. Queensha tak menyangka jika hari ini mereka akan melakukan snorkeling di Banana and Turtle Reef. Laut jernih dengan terumbu karang dan kehidupan laut yang bisa dinikmati bersama pasangan atau sendiri. Sebuah surga dunia yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Ghani mengajak Queensha ke sini merupakan sebuah kebahagaiaan bagi wanita itu yang tidak bisa terdefinisikan oleh apa pun.
Keduanya terlihat begitu bahagia.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Ghani. Bukankah sudah jelas ekspresi Queensha menjawab pertanyaannya?
"Tentu saja! Aku sangat menyukainya. Ini adalah impian aku dari dulu, bisa melihat keindahan bawah laut yang masih terjaga keasriannya. Apalagi aku baca di internet kalau terumbu karang di sini masih terjaga, begitu juga dengan ikan-ikannya yang beragam. Bagaimana bisa kamu terpikirkan hal ini, Mas?"
"Dih, kepo. Rahasia, dong. Terpenting kamu senang maka aku pun ikutan senang."
__ADS_1
Lalu Ghani mengajak Queensha untuk segera berganti baju selam dan mengenakan semua perlengkapan menyelam mereka. Keduanya sudah tak sabar untuk menjelajah laut di hari yang cerah ini.
Keduanya mulai menceburkan diri setelah semua persiapan dilakukan. Bersama dengan pemandu dan petugas yang berjaga di atas booth, Ghani meyakinkan mereka jika ia akan menyelam berdua saja dengan istrinya.
"Oke, tetap hati-hati dan jangan merusak ekosistem ya?" himbau salah satu pemandu selam.
Ghani mengangguk paham. Mereka mulai masuk ke dalam air dan seketika pemandangan berganti dengan lanskap bawah laut yang menakjubkan. Seperti dalam dunia animasi yang pernah Queensha tonton, koral dan terumbu karang yang sangat indah.
Ikan-ikan kecil seperti yang ada di film nemo membuatnya serasa masuk ke dalam film itu sendiri. Ikan Dory yang lincah persis seperti yang ia lihat dalam film. Lalu, penyu-penyu kecil yang berenenng dengan menggemaskan. Tak hanya itu, mereka juga menjumpai penyu berukuran besar yang sedang berenang di antara terumbu karang. Keduanya tak henti memandang takjub dengan pemandangan cantik nan luar biasa ini.
Selesai berselencar, Ghani mengajak Queensha piknik di salah satu pantai berpasir putih yang ada di kepulauan Maldives. Tempat itu sangat cocok bagi para pengunjung yang ingin menikmati sunset atau matahari terbenam.
"Makasih, Mas, sudah mengajakku ke sini. Aku benar-benar bahagia," ujar Queensha. Keduanya tengah menikmati waktu sore bersantai menyusuri sepanjang bibir pantai tanpa alas kaki. Merasakan betapa lembutnya pasir pantai dan aroma laut yang pekat. Angin laut yang hangat membuat Queensha tak perlu membawa jaket tebal saat ini, cukup dengan pelukan Ghani.
"Aku akan melakukan apa pun untuk membahagiakanmu. Jadi, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti," ujar Ghani.
"Ada kejutan lagi?" tanya Queensha.
"Tentu. Aku selalu ada kejutan untukmu. Jadi, kamu harus tetap bersamaku untuk selamanya. Aku mencintaimu, Queensha." Ghani mengecup pipi Queensha.
Laki-laki ini benar-benar tidak bisa ditebak. Queensha tak pernah tahu apa yang ada di dalam kepala suaminya. Terbukti perjalanan hari ini sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
Dalam hati berkata, 'Pantas saja banyak wanita yang mengincar Mas Ghani. Dia mempunyai pesona tersembunyi sebagai seorang lelaki dan aku beruntung bisa memilikinya sekarang.'
"Kamu sudah merasa kedinginan? Mau kembali sekarang?" tanya Ghani saat melihat kedua tangan Queensha menyentuh pundaknya.
Queensha menggeleng. "Aku masih mau menikmati suasana di sini. Bagaimana kalau kita menggelar karpet di sini? Aku mulai merasa lapar lagi." Terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
Ghani ikut terkekeh, tak bisa menolak permintaan wanita ini. "Oke, tunggu sebentar, aku akan memesan makanan dan membawa tikar ke sini. Jangan kemana-mana! Oke?"
Queensha mengangguk patuh. Lagi pula pemandangan sunset saat ini begitu luar biasa. Ia tak ingin melewatkannya, jadi ia mengabadikan momen ini dalam sebuah foto. Tak lupa juga ia memotret Ghani yang tengah berjalan memunggunginya.
__ADS_1
"Dari belakang kamu sudah terlihat keren, Mas, apalagi dilihat dari depan. Pantas Rora terlahir begitu cantik, lah wong Bapaknya saja guanteng e' poool." Queensha memuji Ghani yang terlihat begitu tampan.
...***...