
"Dokter Ghani, kami duluan. Mari." Dua orang wanita berseragam putih menunduk hormat seraya berlalu dari hadapan Ghani. Pagi itu dua wanita tersebut menghadiri rapat yang dipimpin langsung oleh Ghani, selaku direktur rumah sakit tempatnya mengais rezeki.
Dengan wajah tanpa ekspresi Ghani menjawab, "Hmm, silakan."
Ghani segera merapikan lembaran kertas yang berserakan di atas meja, menjadikannya satu dengan berkas lain. Kemudian dia bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah meninggalkan ruang rapat.
"Capek, ngantuk lagi. Apa ini efek gue terlalu banyak begadang jadi badan rasanya enggak enak karuan begini." Ghani mengapit barang bawaannya di ketiak lalu memijat pundak secara perlahan dengan harapan rasa pegal pada area sekitar dapat berkurang.
Ketika melewati meja resepsionis, tanpa sengaja bertemu salah satu office boy yang melintas di depannya. Sontak Ghani memanggil pemuda berusia sekitar 18 tahun itu.
"Mas Arifin. Tolong buatin saya kopi. Gulanya setengah saja dan antarkan ke ruang kerja saya," titah Ghani pada bawahannya.
Arifin mengangguk kemudian pamit undur diri dari hadapan Ghani. Pemuda itu bergegas menjalankan tugasnya, membuatkan kopi untuk sang direktur rumah sakit.
"Permisi, ini kopi pesanan Dokter Ghani." Arifin berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan terbuat dari kayu. Belum beranjak dari tempatnya sebelum diizinkan sang empunya ruangan untuk melangkah maju ke depan.
"Oh kamu ternyata. Masuk, Mas. Kopinya tolong ditaruh saja di atas meja, nanti saya minum setelah semua urusan pekerjaan ini selesai."
"Baik, Dok." Lalu Arifin meletakkan secangkir kopi hitam ke atas meja kerja Ghani, kemudian meninggalkan ruangan tersebut setelah menjalankan tugasnya dengan baik. Dia kembali menyibukkan diri, mengerjakan pekerjaan lain yang menantinya sedari tadi.
Mata terpejam, menghirup aroma khas semerbak kopi nikmat yang memanjakan penciuman. "Eum, sepertinya nikmat. Udah enggak sabar kepingin cepet-cepet nyeruputnya." Perlahan, tetapi pasti, cairan kental hitam itu sedikit demi sedikit masuk melewati tenggorokan.
Setelah merasa tubuh lebih segar, Ghani kembali melanjutkan kegiatannya, memeriksa laporan pekerjaan dari seluruh dokter yang ada di rumah sakit warisan mendiang nenek tercinta. Namun rupanya, efek kopi yang dikonsumsi Ghani hanya bertahan sekitar 2 jam saja sebab akhir-akhir ini dia memang banyak begadang, melakukan tindakan operasi serta menyusun laporan pekerjaan untuk diserahkan kepada Rayyan, sang ayah.
"Sial. Kenapa gue masih ngerasa ngantuk, padahal udah habis kopi secangkir. Kayaknya efek begadang bikin tubuh gue resisten terhadap kafein," gerutu Ghani sambil terus menguap. Mata terpejam, kepala menggeleng pelan guna menyingkirkan rasa kantuk yang terus datang menghadang.
Tak tahan menahan rasa kantuk, akhirnya Ghani memutuskan untuk pindah tempat dari kursi kebanggannya ke sofa panjang yang ada di ruang kerjanya.
"Sebaiknya gue tidur sebentar. Bahaya kalau sampe terus-terusan ngantuk, kerjaan bisa berantakan karena gue engak bisa fokus bekerja." Lalu dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Perlahan, sepasang mata sipit itu terpejam dan tak lama kemudian bunyi dengkuran halus terdengar, menandakan bahwa ayah satu orang anak telah berlayar ke pulau kapuk.
Embusan angin menerpa wajah membuat kelopak mata Ghani bergerak dan bulu-bulu mata lentik pria itu ikut bergerak pula. Padahal dia merasa baru beberapa detik tertidur pulas di atas sofa ruangannya.
__ADS_1
Mengerjap perlahan lalu menegakkan tubuhnya. "Lah, kok gue ada di sini. Bukannya tadi gue ada di ruangan, ya?" Ghani mengucek matanya beberapa kali kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat ini Ghani berada di sebuah danau asing yang belum pernah dia datangi sebelumnya.
"Aneh, kenapa gue di sini. Apa ada seseorang yang gotong tubuh gue ke sini? Kalau iya, siapa? Apa dia udah bosen hidup sampe berani berurusan dengan gue?" gumam Ghani, bertanya pada dirinya sendiri mengapa terbangun di tempat asing seperti ini.
Ghani bangkit dari duduknya dan hendak melangkah, tetapi kepulan asap putih mengalihkan perhatiannya. Refleks dia menoleh ke arah di mana kepulan itu muncul.
"Queensha? Sayang, sedang apa kamu di sini? Kamu ke sini sama siapa? Lalu, tiga anak kecil yang sedang kamu gandeng itu siapa?" cecar Ghani kala melihat istrinya muncul sesaat setelah kepulan asal putih itu menghilang dari pandangan mata.
Queensha tersenyum manis, menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. "Mereka adalah anak-anak kita, Mas. Aku sengaja datang ke sini untuk mengajak ketiga anak kita bertemu dengan Papanya. Katanya ... mereka sangat merindukanmu."
Lalu Queensha menunduk ke arah ketiga anak-anaknya. "Sayang, ayo sapa Papa kalian. Katanya tadi ingin ketemu dengan Papa."
Lantas ketiga anak-anak Queensha menyapa papa mereka. Suara cadel khas anak kecil terdengar di telinga Ghani membuat sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Cahaya putih menutupi wajah ketiga anak-anak Ghani hingga pria itu tak dapat melihat seperti apa wajah buah cintanya itu.
"Mas, aku dan ketiga anak-anak kita pamit dulu. Kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai telat makan. Dan ... aku juga titip Rora, jaga dia dan rawat putri kita dengan baik."
Ketiga anak kecil dalam gandengan tangan Queensha melambaikan tangan ke hadapan Ghani. "Dadah Papa! Kami senang bertemu denganmu," ucap mereka hampir bersamaan.
Sontak Ghani terkejut saat melihat tubuh Queensha beserta ketiga anak-anaknya berjalan menjauhi dirinya. Dia berlari kencang, mencoba mengejar mereka. "Queensha, kembali! Apa maksud perkataanmu itu? Memangnya kamu mau ke mana, kenapa pamit segala kepadaku?" berteriak kencang, meminta penjelasan istrinya.
"Queensha Azura Gunawan, aku peringatkan kamu untuk kembali ke sini! Aku tidak izikan kamu pergi membawa ketiga anak-anak kita!" Ghani masih berteriak, tetapi Queensha seolah-olah tuli, tak mendengar suara lantang bersumber dari suaminya.
Semakin lama sosok Queensha semakin mengecil dari pandangan. Lalu tubuh sintal itu dan ketiga buah cintanya bersama Ghani menghilang bersamaan dengan cahaya kilat dan suara petir menggelegar kencang, berhenti tepat di depan Ghani.
"Queensha!"
Ghani terbangun dari tidurnya dalam keadaan tubuh dibanjiri peluh. Napas tersengal hebat dan detak jantung pun terasa tak beraturan.
"Rupanya gue cuma mimpi," kata Ghani saat menyadari jika saat ini dirinya berada di ruang kerjanya, bukan di pinggir danau sepi tak berpenghuni.
"Tapi kenapa rasanya seperti sungguhan. Apa mungkin ini sebuah firasat, akan terjadi hal buruk menimpa istri gue?" Menggeleng kepala cepat, menyingkirkan pikiran negatif yang mengganggu kepala. "Enggak, bini gue baik-baik aja. Dia aman di apartemen."
__ADS_1
Muncul dorongan besar untuk Ghani mengaktifkan ponsel yang sedari tadi dia matikan. Membuka puluhan pesan masuk lewat aplikasi WhatsApp. Satu dari sekian banyak pesan masuk berhasil mencuri perhatiannya.
"Fucck! Pesan ini dikirim sepuluh menit yang lalu. Itu artinya saat gue masih tidur." Tanpa pikir panjang Ghani segera menekan nomor sang istri, menghubungi istrinya. Namun, Queensha tak mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Sial! Pergi ke mana dia? Apa mungkin dia dalam perjalanan dan ponsel mode silent sampe dia enggak denger telepon dari gue?" Ghani mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Kepingan kejadian tadi menari indah di benaknya.
Di saat sedang kalut, pikiran pun buntu, Tuhan seakan memberi jalan keluar bagi Ghani. Leon, sahabat sejatinya datang ke ruangan dengan membawa berkas laporan pekerjaan.
"Yon, sopirin gue. Gue mau susul Queensha. Ayo, jalan sekarang!" Ghani membuka laci meja kerja, mengambil kunci mobil beserta dompet dan memasukannya ke saku celana.
Leon terlihat kebingungan. "Ini sebenernya ada apa, Ghan? Kenapa lo kelihatan panik banget."
"Ceritanya panjang. Pokoknya sekarang kita mesti susul Queensha. Dia lagi ketemuan sama Lulu di warung bakso langganaaan mereka."
Mendengar nama sang kekasih disebut, Leon segera berlari menyusul Ghani yang telah lebih dulu melangkah keluar ruangan. Kedua pria itu menunggu di depan pintu lift yang akan membawa mereka ke lobby rumah sakit.
Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, seorang wanita ber-snelli putih berkata, "Dokter Ghani, kebetulan sekali bertemu Anda di sini. Ada pasien gawat darurat dan membutuhkan pertolongan segera. Operasi ini hanya dapat dilakukan Dokter seorang."
Sontak dua pria berwajah Asia saling perpandangan. Kenapa di saat genting begini ada hambatan datang menghadang.
"Lo tindakan aja, biar gue yang susul Queensha."
Ghani tampak ragu, apakah keputusannya memberi tanggung jawab untuk menjemput Queensha kepada Leon apakah tepat.
"Gue pasti jagain bini lo dengan baik. Gue janji."
Ghani mengangguk setuju saat melihat sorot mata kesungguhan terpancar di sepasang mata sang sahabat. Menepuk pelan bahu Leon. "Gue pegang ucapan lo. Apa pun yang terjadi, jaga Queensha dan anterin dia ke hadapan gue dengan selamat."
"Pasti!"
...***...
__ADS_1