
Setelah mendapatkan kembali barang peninggalan sang mama, Queensha memutuskan pergi dari rumah itu. Walaupun berat terasa, tetapi hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini. Jika suatu hari Tuhan memberi kesempatan kepadanya untuk merembut kembali apa yang menjadi haknya maka ia akan melakukan hal itu. Namun, jika tidak biarlah Tuhan sendiri yang memberi balasan kepada Mia karena sudah merampas milik orang lain.
Akan tetapi, jauh di lubuk hati yang terdalam, Queensha berharap semoga ia dipertemukan kembali dengan Mia agar bisa membalas perlakuan wanita itu kepadanya.
Menatap rumah besar yang ada di hadapannya, rumah mertuanya yang sudah selama dua bulan ini menjadi tempat berteduh dari hujan dan panas. Rumah dengan banyak kenangan indah yang telah dia lewati bersama dengan orang-orang yang ada di dalamnya.
Tatapannya nanar ia edarkan ke sekeliling, helaan napas terdengar dari bawah hidung. Serasa berat sekali kaki untuk melangkah. Namun, tetap dia harus melajukan kaki jenjang itu masuk ke dalam dengan langkah yang gontai. Tak ada raut wajah ceria seperti biasanya, hanya tatapan kosong terlihat di sana tampak seperti raga tanpa jiwa. Tidak ada semangat, bahkan hanya seulas senyum seperti biasanya pun tidak!
"Mbak Queensha sudah pulang?" tanya Tina, Queensha hanya mengangguk seraya memberikan senyuman kecil pada asistennya itu. Dia terus berjalan, enggan menjawab pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh asisten itu lagi.
"Mbak baik-baik aja?" tanya Tina lagi saat melihat wajah Queensha yang tidak bersemangat sama sekali. Tampaknya istri majikannya itu tidak sedang baik-baik saja.
"Iya, saya enggak apa-apa," jawab Queensha singkat. Sungguh berat dengan apa yang menimpanya sehingga dia enggan untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu lebih jauh lagi.
"Mbak Queensha kenapa ya?" tanya Tina kepada Ijah yang ada di sampingnya. Ijah juga melihat jika ada yang tidak beres dengan istri Ghani tersebut.
"Enggak tahu, enggak biasanya gitu. Sudah, kita lanjutkan kerjanya, yuk. Mungkin Mbak Queensha capek, enggak mau diganggu kali," ujar Ijah menyenggol lengan Tina.
__ADS_1
Tina menatap kepergian Queensha yang semakin menjauh. Melihat Queensha yang memutuskan untuk pergi ke kamar Aurora tanpa mengindahkan tatapan dari kedua asistennya tersebut.
Queensha membuka pintu, masuk ke kamar tersebut dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dada terasa sesak, rasanya sulit bernapas mengingat kenangan manis yang terjadi bersama dengan anak sambungnya itu. Sepi sekali tanpa kehadiran Aurora yang biasanya membuat suasana hati menjadi senang dan gembira.
Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Walaupun baru dua bulan tinggal di sana, tetapi telah banyak kenangan indah saat bersama putri tercinta. Ada rasa tak rela bila harus meninggalkan rumah itu, tapi untuk tetap bertahan pun tidak bisa sebab Ghani telah menjatuhkan talak kepadanya.
Queensha duduk di atas tempat tidur Aurora, diusapnya bantal milik putri cantiknya itu dan memeluk selimut tebal yang dipakai oleh Rora, air mata semakin banyak terjatuh. Tidak tahan lagi dan sama sekali tidak bisa dia hentikan. Bayangan akan dirinya pergi dari rumah ini dan meninggalkan Aurora yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Maafin Mama, Rora. Maaf. Sebenarnya Mama enggak mau pergi, tapi ...." Queensha tidak tahan lagi untuk melanjutkan ucapannya. Dia menangis tersedu sambil memeluk selimut tersebut seakan tengah memeluk sang putri. Hatinya terlalu sakit saat ini sehingga dia tidak bisa berbicara banyak meskipun itu dengan selimut Aurora.
Setelah terdiam cukup lama dan puas memindai kamar Aurora, Queensha memutuskan untuk pergi menuju kamarnya. Rasa sesak ia rasakan ketika membuka daun pintu, aroma parfum sang suami menguar ke udara, mengelitik indera penciumannya. Bayangan saat Ghani berpelukan dgn wanita lain terlintas di benak wanita itu. Namun, Queensha segera mengusut bulir air mata yg jatuh membasahi pipi.
Queensha menggelengkan kepalanya. Serasa tak mungkin mengingat apa yang tadi dia lihat itu. Sakit hatinya melihat apa yang tadi dilakukan Ghani bersama dengan wanita lain.
"Jangan menangis, Queensha. Sudah cukup. Jika memang dia sudah tidak mau, lalu kamu mau apa?" gumam Queensha sambil mengusap air mata di wajahnya. Beberapa kali dia menghela napasnya dengan kuat, menarik dan mengembuskannya berharap jika rasa sesak yang ada di dalam hatinya pergi bersamaan dengan helaan napasnya.
Queensha berjalan menuju ke lemari, mengambil koper sedang yang ada di sana kemudian mulai memasukan satu persatu barang serta pakaian miliknya ke dalam koper tersebut. Air mata tak henti membasahi wajah, dia menangis terisak, terkadang berhenti dan meratapi nasib.
__ADS_1
"Kamu bisa, kamu kuat. Tidak perlu menangis."
Bukan hanya Ghani yang dia pikirkan, tapi Aurora yang mungkin akan mencarinya. Bagaimana jika anak itu menangis saat dia tidak ada? Bagaimana jika anak itu tidak mau makan jika dia tidak ada? Bagaimana jika ....
Queensha harus menghentikan pemikirannya. Dia tidak boleh lagi berpikir seperti itu. Aurora adalah putri Ghani, bagaimanapun juga laki-laki itu pasti tahu bagaimana cara mengurus Aurora dengan baik. Apalagi di rumah ini ada nenek dan kakeknya yang bisa memberikan kasih sayang yang tulus pada anak itu. Sudah cukup bukan cinta dari mereka? Sepertinya dengan segala perhatian yang anak itu dapatkan dari keluarga ini sudah cukup untuk Aurora bisa melupakan dirinya dengan cepat.
Berkali-kali Queensha menghentikan laju tangannya. Berat hati untuk pergi, tapi dia harus melakukannya. Pikiran dan hati bertarung, tapi tetap saja dia harus kalah dengan keadaan. Di dalam hati, dia terus mengucapkan maaf kepada Aurora bahwa dia harus pergi dari sini tanpa mengucap salam perpisahan.
Perlahan Queensha menyeret koper itu dan menurunkannya ke lantai bawah. Kedua mertuanya sedang tidak terlihat. Akan lebih baik untuknya jika dia pergi sekarang juga. Langkah kaki yang berat tidak dia hiraukan sama sekali. Dia harus pergi jika memang sudah tidak diinginkan oleh suaminya.
Suara roda beradu dengan tangga membuat Ijah dan Tina mencari arah asal suara dan terkejut melihat Queensha yang turun dengan membawa koper.
"Jah, Mbak Queensha mau ke mana tuh?" tanya Tina kepada teman sesama ART di rumah itu.
Ijah menggendikan bahu. "Enggak tahu, Mbak. Mendingan kita samperin aja sekarang dan tanya langsung ke Mbak Queensha." Lantas kedua wanita itu berlari dari ambang pintu dapur menuju ruang keluarga.
Sementara itu, susah payah Queensha membawa koper tersebut hingga akhirnya dia telah sampai ke lantai bawah. Dia akan berpamitan dengan yang lain. Akan tetapi, baru saja Queensha sampai di tangga yang paling bawah suara lembut seorang wanita terdengar hingga langkah kakinya terhenti.
__ADS_1
"Queensha. Mau kemana kamu?"
...***...