Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Semakin Aneh


__ADS_3

Sudah lebih dari 3 jam, Leon hanya berbaring di atas kasur dalam kamar. Membuat pria itu memutuskan untuk berkunjung ke apartemen Ghani guna membuang rasa bosan akibat sendirian di rumah sebab kedua orang tuanya sudah pergi ke Yogyakarta tadi pagi.


"Bete. Mendingan gue main ke apartemen Ghani aja, deh, sekalian cari info tentang Lulu ke Queensha. Siapa tau bini sohib gue itu tau apa yang ngebuat Lulu ketakutan setengah mati," gumam Leon sambil beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan mendekati lemari pakaian lalu mengganti baju rumahan dengan pakaian casual. Tak lupa ia menata rambutnya yang berantakan agar terlihat lebih rapi.


Akhirnya, Leon sampai di depan pintu apartemen Ghani setelah terjebak selama 1 jam dalam kemacetan. Beberapa detik kemudian, mata Leon dibuat terheran-heran ketika melihat penampilan sang sahabat yang membukakan pintu. Di mana Ghani memakai topi plastik berwarna hijau dan celemek juga sarung tangan karet khusus mencuci piring.


“Lagi jadi ART ya, Pak?” Sambil menyunggingkan senyuman miring dan dilanjutkan kekehan mengejek, Leon menyindirnya.


Ghani hanya mendengkus kesal dan membukakan pintu lebih lebar supaya Leon bisa masuk. "Banyak omong. Udah, buruan masuk sebelum gue berubah pikiran dan nyuruh lo balik lagi ke rumah."


Mendapat ancaman dari Ghani, Leon melesak begitu saja. Tujuan pertamanya adalah sofa ruang tamu, mendudukan bokongnya di kursi panjang yang mampu menampung kurang lebih tiga orang. Sementara itu, Ghani menuju ke dapur untuk melepaskan celemek juga sarung tangan sebab dia baru saja akan mencuci piring, tetapi tidak jadi akibat kedatangan Leon. Semua ini Ghani lakukan atas permintaan Queensha yang sangat ingin melihatnya mencuci.


Bik Anah, asisten rumah tangga mendekati Ghani. "Den, sini biar bibik saja yang teruskan. Aden bisa temani tamunya di depan."


"Heem, baiklah. Kalau begitu saya tinggal dulu. Kalau sudah selesai, Bibik bisa lanjut mencuci pakaian lagi. Biar saya yang siapkan makanan untuk sahabat saya."


"Baik, Den." Lantas Bik Anah mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


“Mana Kakak Ipar?” Leon meraih kaleng berisikan keripik kentang. Ia bertanya seperti tidak ada dosa dan sedikit meninggikan suaranya supaya Ghani mendengar di dapur.


“Bentar lagi balik,” kata Ghani sambil membawa dua kaleng soda segar dari lemari pendingin. Setelah memberikannya kepada Leon, dia duduk di hadapannya. “Ngapain lo ke sini?”


Mendapatkan pertanyaan itu membuat Leon mendengkus dan tidak menjawab selain meneguk minumannya hingga tandas. Lantas, kedua tangannya terlentang di punggung sofa sambil menatap Ghani dengan tampang malas. “Gue gabut di rumah. Nyokap dan bokap pergi ke Yogyakarta selama beberapa hari. Daripada kesepian, mending gue main ke sini. Gue yakin, lo pasti kangen gue, 'kan?" ucapnya menaik turunkan kedua alis. Sangat senang sekali menggoda sahabatnya itu.


“Over proud banget sih jadi orang. Nih ya, dengerin dengan baik. Mending gue kesepian di rumah ini daripada kangen sama wajah tengil lo itu,” elak Ghani sembari memutar kedua bola matanya malas. Sudut bibirnya terangkat sebelah dengan sinis saat membalas godaan dari alis Leon yang naik turun.

__ADS_1


“Udah gue tebak, pasti itu jawaban lo. Huu, susah banget sih bilang kalau lo sebetulnya enggak bisa pisah dari gue pake acara nyangkal segala. Hati-hati, hidung lo jadi panjang kalau kebanyakan bohong."


“Bacot. Mending lo kasih tahu gue tentang kemarin. Gimana, lancar? Apa keputusan lo dan Lulu? Apa kalian sepakat untuk bawa hubungan ini ke step selanjutnya?” Ghani bersuara dengan tujuan mengalihkan pembicaraan agar ia tidak dihantui rasa penasaran akan acara makan malam tadi malam.


“Enggak ada yang spesial seperti martabak daging,” jawab Leon malas sembari mengedikkan kedua bahunya dengan acuh.


“Lah, kocak! Lo sama sekali enggak ada perasaan apa pun tentang first date kalian kemarin, gitu? Seperti, lo tertarik dengan caranya bersikap ataupun fisiknya? Really, Leon?” Sejenak, Ghani amat terkejut hingga tanpa sadar mencerocos dalam satu tarikan napas dan diakhiri dengan kedua mata melebar memandangnya.


“Hm, kagak. Biasa saja sih, Bro. Emang napa, hem? Harus kah gue tergila-gila sama Lulu hanya dengan sekali pertemuan? Untuk memunculkan rasa tertarik, harus memiliki banyak komunikasi dulu supaya bisa mencocokkan sifat dan medan magnet di mana saling tertarik.” Sambil mengedikkan kedua bahunya acuh dan melayangkan tatapan bingung, Leon menjawab begitu heran atas pola pikir Ghani yang seakan memaksakanya untuk langsung tertarik kepada Lulu dalam satu kali pertemuan spesial seperti tadi malam.


Ghani mendengkus keras-keras, lantas dia membenarkan duduknya supaya tegak dan berkata, “Lo nih aneh! Gimana mau punya rasa sayang atau cinta kalau lo enggak memiliki sebuah perasaan tertarik mendekati seorang wanita! Jangan-jangan ... lo-"


Mendengar itu membuat Leon melemparkan kaleng soda kosong ke arah Ghani yang langsung ditangkap. Dia melayangkan tatapan tajam lalu menjawab, “Crazy kalau lo menganggap gue gitu, Ghan! Gue pria normal yang masih tertarik terhadap lawan jenis. Adik kecil gue pun akan bereaksi, bangun dari tidur saat bertemu perempuan cantik dan super seksi. Dari sini seharusnya lo sadar kalau gue adalah pria sejati. Sejati!" tandasnya tegas dengan napas tersengal.


Ini kali kedua dirinya dianggap pria tak normal oleh orang terdekatnya. Benar-benar sial! Bagaimana mama dan sahabatnya mengira kalau ia mempunyai kelainan? Padahal jelas-jelas jakunnya akan bergerak turun dan naik setiap kali melihat salah satu keindahan Tuhan dalam wujud perempuan.


Perkataan Ghani berupa candaan, tetapi mengapa di telinga Leon bagaikan suara lebah yang mengelilingi kepalanya saat ini. 'Sahabat enggak ada akhlak! Lama-lama, gue suntik mati juga lo!' gerutunya dalam hati.


Setelah beberapa saat, Ghani berdehem beberapa kali. Lantas, dia pun bertanya, “Gue bercanda. Udah, enggak usah dibahas lagi. Lebih baik lo cerita ke gue, kemarin pas kencan, ada enggak hal yang bikin lo berubah pikiran? Restoran yang lo pilih merupakan salah satu restoran termahal di Jakarta dengan view bagus dan suasana yang mendukung bagi seseorang yang tengah melakukan pendekatan. Masa iya lo enggak ngerasa tertarik sama Lulu."


Leon berpikir sesaat sebelum mengangguk. “Gue enggak tau mesti jawab apa, tapi jujur gue belum ada rasa ketertarikan sama sahabat dari bini lo."


"Namun, ada satu hal yang buat gue susah tidur. Acara nge-date kami awalnya berjalan lancar. Baik gue maupun Lulu ngobrol apa adanya, masih serimg terjadi keributan kecil seperti biasa. Akan tetapi, saat kami mau pulang, berjalan ke parkiran mobil, kita kertemu pria asing. Di sini keanehan dimulai," sambung Leon.


“Keanehan apa, hem? Ada apa emangnya sama Lulu?” Sambil menyandarkan tubuh kembali ke sofa dan mencari posisi nyaman, Ghani pun bertanya dengan ikut penasaran.

__ADS_1


“Dari gestur tubuh yang Lulu pancarkan terlihat amat jelas kalau dia tuh gemetaran, atau tremor gitu. Aneh banget asli, padahal gue udah tanya ke dia, apa dia kenal sama tuh cowok, tapi kata Lulu enggak kenal. Nah pertanyaannya, kalau enggak kenal ... kenapa tubuhnya tiba-tiba gemetaran dan segugup itu saat bertemu dengan orang asing itu?” Rasa penasaran yang ada di dalam diri Leon dan sempat dia pendam pun akhirnya terungkap sudah kepada Ghani.


Ghani ikut berpikir. Namun, belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan lebih dalam antar sesama pria, suara kunci pintu terbuka pun terdengar. Disusul terbukanya benda penghubung tersebut memunculkan sosok Queensha masuk ke dalam.


“Eh, rupanya ada tamu. Bagaimana kabarnya, Mas, sehat? Maaf kalau kedatanganku mengganggu kegiatan kalian berdua," ucap Queensha seraya menaruh dua tas belanjaan sayur ke meja di dapur, Queensha pun bergabung dengan mereka dan duduk di sebelah suaminya, lalu menyandarkan kepala di bahu Ghani. “Mas Leon makan siang saja di sini, ya? Kebetulan aku belanja sayur dan lauk pauk banyak di super market, sayang takut tidak habis kalau hanya aku, Mas Ghani, dan Rora saja yang makan."


Leon tersenyum canggung saat melihat sikap Queensha yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. "Kalau enggak ngerepotin, gue mau makan siang di sini. Kebetulan selama hampir seminggu ini nyokap enggak ada di rumah jadi enggak ada koki handal yang masakin gue makanan lezat."


"Hmm, baguslah. Nanti aku minta Bik Anah siapin makanan lebih." Queensha melingkarkan kedua tangan di lengan Ghani sambil sesekali menatap penuh cinta kepada suaminya itu.


Kedua pria tampan dibuat terheran-heran atas sikap Queensha yang kini bergelayut manja di lengan Ghani sambil menggusel hidungnya di otot kekar sang suami.


“Istri lo kenapa?” Leon bertanya tanpa suara kepada Ghani, yang dijawab gelengan singkat olehnya.


“Koko sayang, sudah mandi apa belum sih? Kok wangi banget.” Sembari kian mendekap tubuh Ghani kian erat, Queensha mendekatkan diri hingga dirinya masuk ke dalam pelukan suami tercinta. Ia bersikap seolah-olah Leon tak ada di antara mereka berdua.


“Aku belum mandi, Sayang.” Ghani sedikit meringis kecil ke arah Leon sebab tidak ingin sahabatnya itu melihat sikap Queensha yang berubah beberapa waktu belakangan ini.


Tanpa menghiraukan perkataan itu, Queensha menarik napas dalam-dalam di potongan leher Ghani guna menghirup wangi pria itu yang begitu memabukkan menurutnya. “Kamu bohong. Kalau belum mandi lalu kenapa tubuhmu wangi sekali. Tubuhmu ini seperti nikotin membuatku kecanduan."


“Sayang ... ada Leon di sini. Tidak enak dilihatnya," tegur Ghani tak enak hati, padahal di dalam hati dia begitu berbunga-bunga mendapatkan gombalan seperti itu.


Tindakan Queensha secara tiba-tiba terhenti, dia melepaskan pelukannya dan menatap Ghani dengan kedua mata berkaca-kaca. “Memangnya kenapa? Kamu malu mesra-mesraan sama aku di depan sahabatmu? Kenapa? Kita ini pasangan suami istri yang sah, loh, kenapa mesti malu segala?” ujarnya emosi dengan gigi gemelutuk menahan amarah.


“Sayang, b-bukan begitu maksudku. Aku-” Ghani amat panik ketika Queensha melipat kedua tangannya lalu berjalan memasuki kamar sambil menghentak-hentakkan kaki. “Lo balik dulu, nanti kita lanjutin obrolan yang tadi. Bisa bahaya kalau Queensha merajuk." Tanpa pikir panjang ia menyusul istrinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2