
Malam akhir pun tiba. Matahari telah kembali ke peraduan dan cahaya mentari tergantikan oleh sinar rembulan dan kemerlap bintang di atas sana.
Terlaku fokus mengurusi Lulu, Leon sampai tidak sadar kalau ternyata dia belum makan sama sekali. Perutnya sampai keroncongan. Leon sadar dia tak boleh menganggap remeh perihal nutrisi yang masuk ke dalam tubuh manusia. Apalagi Leon adalah seorang dokter. Dokter harusnya lebih bisa menjaga kesehatan, salah satunya adalah dengan makan tepat waktu.
“Lebih baik gue makan roti ini aja. Lumayan buat ganjel perut daripada enggak makan sama sekali. Enggak lucu kalau gue tepar di saat lagi jagain orang sakit. Bisa diketawain Ghani tujuh hari tujuh malem, ngelihat sohibnya drop gara-gara kelaparan." Entah kenapa di saat seperti ini nama Ghani terus melintas di benaknya. sebegitu berartinyakah Ghani dalam hidup Leon sampai nama itu tak pernah menghilang di ingatannya.
Leon mengambil roti yang tadi dia belikan untuk Lulu, lalu mengunyahnya.
Sembari mengunyah, Leon terus memperhatikan wajah Lulu. Keringat dingin membasahi pelipis gadis itu. Leon menyeka perlahan menggunakan jarinya dan saat itulah dia sadar demam Lulu masih belum turun juga.
“Enggak bisa dibiarin gitu aja. Gue mesti beliin Lulu obat, kalau enggak, bisa demam terus dia. Bahaya kalau sampai kejang dan masuk rumah sakit." Leon akhirnya meraih ponselnya. Dia memesan obat penurun demam secara online supaya bisa diminum secepat mungkin.
Sesaat setelah memesan obat secara online, tiba-tiba ponsel Leon berbunyi nyaring, tanda ada telepon masuk. Rupanya Queensha yang menelepon. Segera saja dia mengangkat telepon Queensha.
“Halo?” sapa Leon lembut. Dia selalu berkata lemah lembut dengan wanita itu sebab tahu kalau hati Queensha amatlah lembut, tak bisa dikasari.
"Halo, Mas. Maaf aku mengganggumu. Aku cuma mau tanya, bagaimana keadaaan Lulu sekarang? Apa dia sudah sadar?" tanya Queensha. Dia masih mencemaskan keadaan sahabatnya itu. Jika dulu dia bisa dengan leluasa merawat Lulu yang sedang sakit, saat dia telah menikah, dia mempunyai batasan sebab kini ada Ghani yang harus lebih didahulukan dibanding apa pun.
Terdengar helaan napas berat dari Leon. “Lulu masih belum sadar juga. Sekarang ... dia malah demam, Sha. Namun, kamu tak perlu cemas sebab aku sudah membeli obat lewat online mungkin sebentar lagi sampai."
“Apa? Jadi sekarang Lulu malah demam, Mas? Ya Tuhan, bagaimana ini? Perlukah kita antar dia ke rumah sakit? Atau ... perlu beli sesuatu untuk menurunkan suhu tubuhnya yang sedang demam."
Di seberang sana Ghani mengelus pundak istrinya, mencoba menenangkan Queensha yang terlihat panik dari sebelumnya.
"Tenang, Sayang. Ingat, kamu sedang hamil." Ghani mengingatkan Queensha kalau kini dia tak lagi sendiri. Kalau Queensha sampai terkejut maka ketiga janin dalam perut ikut terkejut pula.
Menarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan. Queensha kembali berkata melalui sambungan teleponnya. “Mas Leon, apa ini imbas gara-gara dia mengalami syok akibat bertemu pria bajingan macam si Andri itu? Seharusnya kamu habisi dia saja sampai tidak bisa berdiri lagi, biar kapok sekalian. Gara-gara dia, sahabatku jadi menderita."
Leon menjauhkan gawai miliknya dari telinga. Suara lengkingan Queensha memekakkan gendang telinga. 'Gila nih cewek, sebelas dua belas sama kayak nyokap kalau lagi marah, seisi rumah ikutan bergoyang. Hampir jantung gue mau copot karena teriakan dia.'
Mendekatkan kembali gawainya ke telinga, kemudian berkata, "I don't know. Mungkin saja. Yang jelas, karena Lulu belum sadar, aku belum bisa memberikan dia obat. Sudah, jangan terlalu mencemaskan keadaan Lulu. She will be fine, trust me!" Janjinya kepada Queensha. Kalau hanya demam biasa, dia bisa mengatasinya. Dia berpengalaman menghadapi pasien dengan penyakit ringan macam begini.
“Andai aku bisa menjaga Lulu sekarang.” Dari nada suaranya, kelihatan sekali Queensha sedikit menyesal karena tak bisa menjaga sahabatnya saat sakit.
Leon kagum akan kesetiakawanan Queensha. Persahabatan antara Queensha dan Lulu tak bisa diragukan lagi. Dalam suka dan duka, mereka arungi bersama.
“Aku tahu kamu cemas, tapi ingatlah, kamu sudah punya keluarga, Sha. Keluargamu adalah prioritas nomor satu sekarang, bukan lagi Lulu ataupun orang lain. Jangan sampai karena hal sepele, kamu dan Ghani bertengkar. Kasihan Aurora dan ketiga calon anakmu. Mereka akan jadi korban broken home jika kalian berpisah lagi."
Refleks Queensha mengusap perutnya, teringat kini telah bersemayam tiga janin buah cintanya dengan Ghani.
__ADS_1
Dengan lirih Queensha berucap, “Bagiku Lulu juga keluargaku. Dia sahabatku, Mas. Dia orang pertama yang membantuku saat diriku sedang kesusahan."
“Iya, aku paham. Kan ada aku di sini. Aku akan terus menjaga Lulu sampai teman kosnya pulang. Kalau temannya pulang, baru aku bisa pergi meninggalkan Lulu.”
“Kamu tidak mau menginap di sana? Kalau kamu bilang pada pemilik kos dan menceritakan bagaimana keadaan Lulu sekarang, Bu Asiah pasti kasih izin, kok. Karena keadaan urgent begini, beliau bisa maklum."
Leon menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Ehm, gimana ya? Di sini kebanyakan perempuan. Kalau ada aku rasanya tidak pantas saja. Apalagi aku bukan keluarga apalagi kerabat Lulu. Canggung, Sha."
“Yah, siapa tahu suatu hari nanti kamu bisa beneran jadi kerabat Lulu,” goda Queensha yang mengisyaratkan akan hubungan yang sekiranya bisa terjalin antara Leon dan Lulu.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Queensha berharap ini merupakan awal baik bagi Lulu dan Leon. Benih-benih cinta tumbuh karena keduanya sering bertemu. Dia rela dan mendukung 100% jika seandainya sahabat sejatinya itu menikahi sahabat suaminya.
Mendengarnya, Leon langsung batuk-batuk kecil gara-gara malu. “Jangan bicara omong kosong, Sha! Tidak lucu." Ada perasaan yang menggelitik membayangkan dirinya dan Lulu berpacaran.
"Sha, aku tutup dulu, ya, teleponnya. Aku mau ke kamar mandi dulu.” Leon buru-buru menutup telepon sebelum Queensha mulai menggodanya lagi.
Jujur saja, Leon sedikit kepikiran kata-kata Queensha. Menjadi kerabat Lulu berarti mengindikasikan hubungan mereka yang dieratkan oleh status pernikahan. Seketika saja Leon menatap Lulu.
Jujur, ada perasaan aneh yang hinggap di dada Leon tiap dia melihat Lulu. Rasanya dia ingin selalu di dekat gadis itu dan selalu menjaganya dari lelaki berengsek seperti Andri.
“Biarin aja semuanya ngalir apa adanya,” ucap Leon sambil terus memandagi paras Lulu tanpa berkedip. Menurutnya ini masih terlalu cepat. Kalaupun memang takdir mempersatukan mereka, dia bersedia menerima Lulu dengan tangan terbuka. Tak peduli dengan masa lalu Lulu, toh semua orang pasti memiliki masa lalu.
***
Gadis barbar yang selalu tegas dan tak mengenal takut terbaring tak sadarkan diri di atas peraduannya. Hati Ratna teriris melihat kondisi salah satu teman sebelah kamarnya itu.
“Lho, Lulu kenapa?” tanya Ratna pada Leon sambil mendekati Lulu.
“Lulu demam, Mbak. Suhu tubuhnya mencapai 39°C, tapi untung tidak sampai kejang."
Ratna menyentuh kening Lulu menggunakan punggung tangan. Memang terasa panas dibanding suhu tubuhnya sekarang.
"Panas banget. Gue yakin kalau naruh telur di keningnya Lulu bakal matang dalam waktu satu menit."
Leon melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah semakin larut dan dia harus segera pulang ke rumah.
"Sebenarnya tadi aku bersama Queensha, tapi karena dia ada urusan makanya aku yang jagain Lulu dari tadi. Oh ya, omong-omong, namaku Leon.” Leon mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri pada Ratna.
“Ratna. Thanks udah jagain Lulu. Tumben sih Lulu sampai tumbang gini. Biasanya dia yang paling fit di antara teman-teman di sini.”
__ADS_1
Leon nyengir saja. Dia tak bisa memberi tahu alasan kenapa Lulu bisa sampai tumbang segala.
“Ehm, karena kamu udah ada di sini, aku pulang dulu ya. Masih ada kerjaan besok, jadi tidak bisa nungguin Lulu,” pamit Leon pada Ratna.
“Oke deh. Biar aku bantu jagain Lulu.”
“Oh ya, kalau Lulu udah bangun, jangan lupa suruh minum obat. Demamnya belum turun soalnya dan minta dia untuk tidak bekerja dulu. Tunggu sampai benar-benar sembuh baru boleh bekerja."
Ratna mengacungkan jempolnya. “Siip!"
***
Pikiran Leon masih tersita oleh Lulu. Sepanjang perjalanan dari kosan Lulu sampai rumahnya, Leon dilanda perasaan untuk kembali menjenguk Lulu. Namun, keinginan itu dia urungkan. Tak mungkin dia kembali ke kosan Lulu. Apalagi sebelumnya dia sudah berpamitan pada Ratna.
“Duh, kenapa gue berat banget ninggalin Lulu sendirian, ya?" kata Leon sambil mengelus dadanya. Sungguh, andai dia tak harus bekerja besok, dia bisa saja menginap di kosan Lulu.
"Aah, lo kenapa jadi gini, Yon. Tumben banget care sama cewek yang baru lo kenal. Lagi pula, ngapain gue cemas, bukannya temannya Lulu udah ada dan dia janji bakal jagain Lulu dengan baik. Jadi, seharusnya gue enggak terlalu mikirin Lulu." Tak mau terlalu memikirkan Lulu, Leon menyalakan musik guna mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis yang tengah terbaring lemah.
Kepala menggeleng ke kanan dan kiri. Tangan sesekali mengetuk stir mobil, menikmati irama musik yang mengalun merdu. Dia tak sadar bahwa bencana besar menanti kedatangannya.
Di sebuah rumah minimalis, seorang wanita paruh baya tengah duduk gelisah menanti kepulangan anak bungsunya. Rasa kesal masih bersemayam di dada setiap kali mengingat kejadian tadi siang. Dengan tak berperikemanusiaan, anak yang dia lahirkan ke dunia meninggalkannya sendirian di mall selama berjam-jam lamanya. Andai dia tak menghubungi sang putera, mungkin jam segini masih menunggu dengan setia kedatangan anak tersayang.
"Awas kamu, Yon. Kalau kamu pulang, mama omelin habis-habisan. Enak saja ninggalin mama sendirian di mall, tanpa memberitahu terlebih dulu!" Bu Ayu benar-benar geram akan kelakuan Leon. Baru kali ini dia diperlakukan demikian oleh seseorang. Bersama suami tercinta, Imran tak pernah sampai lupa jika pria itu datang ke mall dengan istrinya.
Wajah bu Ayu langsung semringah saat mendengar deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Dari tempatnya saat ini, dia bisa mengetahui jika orang di luar sana adalah Leon, orang yang sedari tadi sedang dia tunggu.
Berjalan cepat dengan sorot mata tajam seperti banteng. Kedua tangan berada di pinggang menandakan betapa emosinya dia saat ini.
"Dari mana kamu, jam segini baru pulang!" sentak Bu Ayu dengan berapi-api. Dia bisa leluasa memarahi Leon karena pak Imran sedang ada kegiatan di masjid bersama bapak-bapak sekitar rumah.
Leon yang baru saja hendak mengulurkan tangan, mengambil ponsel serta tas miliknya di kursi penumpang sebelah kemudi terantuk bagian atas pintu karena saking kagetnya mendengar suara sang mama yang berteriak kencang kepadanya.
"Sial!" Perkataan bernada umpatan meluncur begitu saja tanpa pernah Leon niatkan.
Bu Ayu yang berdiri tepat di dekat Leon sontak melotot, mendengar ucapan dokter tampan itu. Dia pikir Leon mengumpat kepadanya.
Dengan tergesa-gesa bu Ayu menuruni anak tangga, kemudian berdiri di sebelah Leon. "Apa katamu? Kamu sebut mama sial! Keterlaluan kamu, mengumpat kasar kepada mamamu sendiri!"
Pikiran Leon blank mendapati ekspresi wajah bu Ayu yang sangat menyeramkan. Entah mengapa hanya melihat wajah itu membuat bulu kudunya merinding seketika.
__ADS_1
'Mampus! Gue lupa kalau habis bangunin macan betina,' kata Leon dalam hati. Kini merutuki keputusannya untuk pulang ke rumah.
...***...