
"Rora!" Ghani berteriak seraya melambaikan tangan ke udara. Ia memanggil anak sulungnya yang baru saja keluar kelas.
Aurora atau yang biasa dipanggil Rora menoleh ke sumber suara. Sebuah senyuman terpatri di wajahnya yang cantik seperti sang mama.
Tangan Aurora ikut terangkat ke udara, membalas lambaian tangan papa tercinta. "Sofie, Rora duluan, ya? Papa Rora udah jemput tuh jadi mesti pulang duluan. Sofie enggak apa-apa kalau Rora tinggal bersama teman yang lain?" tanya anak perempuan itu kepada teman sekelasnya.
"Enggak apa-apa. Sofie juga sebentar lagu dijemput Mama, kok."
Mengedipkan sebelah mata seraya mengangkat ibu jari kanan ke atas. "Oke! Kalau gitu Rora duluan, ya? Sampai berjumpa lagi teman-teman." Aurora melambaikan tangan kepada Sofie serta ketiga teman sekelasnya yang lain.
"Bye, Rora! See you!" ucap mereka hampir bersamaan.
Ghani berdiri di depan ruang kelas Kucing. Melihat putri tersayang berlari ke arahnya, ia mengapit kruk di ketiak kanan lalu merentangkan sebelah tangan kiri demi menyambut tubuh anak kesayangannya itu.
"Hap! Anak papa sepertinya happy sekali. Apa ada hal baik terjadi di kelas hari ini?" Itulah pertanyaan yang selalu Ghani ajukan saat Aurora pulang sekolah. Dengan begitu ia berharap anak seusia Aurora merasa jika dirinya tengah diperhatikan oleh orang tua mereka.
Dengan antusias Aurora menjawab, "Betul sekali, Papa! Di kelas tadi Rora dapat nilai A+ dalam mata pelajaran menggambar, Pa. Kata Miss Shinta, gambar yang Rora buat bagus banget dan dapat pujian darinya."
Lantas Aurora mengeluarkan buku gambar dari dalam tas lalu menunjukan hasil gambarnya ke hadapan Ghani. "Bagaimana, bagus 'kan gambarnya Rora?" Matanya bundar berbinar penuh pengharapan. Dalam keadaan ini, sepasang mata itu seperti seekor anak kucing yang minta dielus oleh pemiliknya. Sungguh sangat menggemaskan.
Ghani mengusap puncak kepala Aurora. Kini mengetahui jika minat anak pertamanya itu memang di dunia seni maka setelah Aurora dewasa nanti Ghani akan mengkuliahkannya di jurusan seni rupa agar kelak menjadi arsitektur, kurator seni, ilustrator, art director dan sebagainya sesuai dengan minat putrinya nanti. Ia memberi kebebasan kepada Aurora untuk menentukan sendiri cita-cita.
Kalaupun memang kelak anak-anaknya tak ada yang berminat di dunia kedokteran, Ghani tak merasa risau sebab ada Allan, putera pertama pasangan Zahira dan Shaka yang tampak begitu tertarik di dunia kesehatan. Ia tidak mau egois dengan memaksakan kehendaknya sendiri sehingga mengubur cita-cita Aurora.
"Tentu saja bagus. Semua gambar yang anak papa buat selalu mengagumkan. Selamat ya, Sayang." Mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kecupan di kedua pipi Aurora yang chubby.
"Tumben sekali Papa menjemput Rora. Memangnya Papa mau mengajak Rora pergi ke suatu tempat, iya? Kok harus Papa yang menjemput Rora, kenapa enggak minta Bik Ijah aja yang jemput? Kaki Papa sedang sakit pasti susah sekali untuk berjalan jadi kenapa enggak bobok aja di rumah, tunggu sampai Rora pulang sekolah."
Itulah rentetan pertanyaan yang ditujukan Aurora kepada sang papa. Bibir mungil itu terus mencecar Ghani sampai membuat kedua pundak pria itu bergerak turun dan naik. Geli sendiri mendapat begitu banyak pertanyaan dari anak kandungnya tersebut.
__ADS_1
"Papa mau mengajakmu bertemu Mama di restoran. Katanya semalam ingin ketemu, kok, udah lupa aja sih sama omongannya sendiri."
Aurora menepuk keningnya dengan pelan. "Oh iya, hampir aja Rora lupa, Pa. Jadi sekarang kita ke tempat kerja Mama, Pa?" Pertanyaan gadis kecil itu dijawab anggukan kepala. Lantas anak perempuan yang sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke-5 meloncat kegirangan di sebelah tubuh Ghani. Tampak bahagia karena sebentar lagi bertemu Queensha.
"Hore, akhirnya Rora bisa ketemu Mama lagi. Papa, nanti sekalian kita ajak Mama makan siang, yuk? Rora ingin sekali ajak Mama makan di restoran Jepang yang biasa kita kunjungi bersama Kakek dan Nenek. Kita, 'kan, belum pernah makan siang di sana bersama. Boleh, 'kan, Pa?"
Lagi dan lagi memasang wajah penuh pengharapan. Tidakkah Aurora tahu ekspresi wajahnya saat ini membuat Ghani gemas setengah mati. Matanya yang indah itu mengingatkan pria kelahiran tiga puluh satu tahun akan sosok wanita yang begitu ia cintai.
Tanpa ragu Ghani menjawab, "Boleh, dong. Setelah urusan Mama selesai, kita ajak ke restoran untuk makan siang." Semakin bahagialah Aurora dibuatnya. Akhirnya ia dapat pergi bersama lagi dengan papa dan mamanya.
***
"Kerja yang semangat, jangan malas! Ingat, kamu baru saja mengambil cuti untuk jangka waktu yang lama jadi seharusnya kerja lebih giat lagi dibanding teman-temanmu yang lain!" kata Puji ketus. Mendengar kabar bahwa Queensha meminta izin libur selama hampir sepuluh hari lamanya membuat ia semakin kesal, rasa benci dalam diri wanita itu semakin bertambah kali lipat. Merasa Rama berlaku tidak adil kepada semua orang.
Puji tahu Rama memang orang kepercayaan pemilik restoran, tetapi ia merasa pria itu lebih condong dan terkesan membela Queensha. Setiap kali ia memarahi Queensha yang tak becus bekerja, Rama selalu menjadi super hero di depan semua orang. Hal itulah membuat ia begitu membenci Queensha.
"Ya memang harus begitu. Jatah liburmu itu lebih dari cukup dibanding yang lain. Aku saja baru mengambil jatah libur sebanyak tiga kali, eh kamu jatah liburnya nyaris diambil semua. Dasar tidak tahu malu!" ucap Puji sinis. Tatapan matanya memancarkan ketidaksukaan pada sosok di sebelahnya.
Namun, Queensha sama sekali tidak terprovokasi. Ia tetap memilih diam, menguatkan diri untuk tidak meladenin Puji yang sedari tadi terus mengoceh tanpa henti.
"Dasar Nenek Sihir! Pantas saja belum laku, lah wong hobinya marah-marah mulu. Yang ada lelaki kabur duluan lihat dia ngomel mulu kayak kereta api," sunggut Lulu lirih. Jika tidak diberi kode lewat tatapan mata Queensha, sudah sejak tadi ia melawan Puji di depan seluruh pekerja restoran.
Sementara itu, Ghani baru saja tiba di parkiran restoran. Mang Aceng membantu Ghani turun dari mobil lalu memberikan kruk kepada putera majikannya itu.
"Perlu mamang antar sampai dalam, Den?" Mang Aceng kasihan melihat Ghani yang sedikit kesusahan. Ia pun khawatir anak majikannya itu kesusahan karena harus mengajak serta Aurora masuk ke dalam restoran. Aurora anak yang aktif sehingga ia takut jika cucu sang majikan berlarian ke sana kemari sementara ruang gerak Ghani terbatas sehingga menimbulkan malasah baru yang justru mencelakakan Aurora.
"Tidak usah, Mang. Mamang tunggu saja di sini, saya akan segera kembali jika urusan di dalam sudah selesai." Lalu Ghani menundukan kepala dan tersenyum pada makhluk kecil yang sedang menatap bangunan dua lantai di depan sana. "Sayang, ayo kita masuk ke dalam. Namun, kamu harus tetap berada di sisi papa. Jangan berjalan terlalu cepat apalagi berlari sampai menabrak orang lain. Mengerti?"
"Mengerti, Papa!"
__ADS_1
Dibantu seorang pelayan restoran, pintu masuk restoran didorong lebar sehingga Ghani dan Aurora dapat masuk ke dalamnya. Suasana restoran saat itu cukup sepi karena puncak jam makan siang sudah berlalu sejak satu jam lalu.
Ghani mengedarkan pandangan ke segala arah demi mencari keberadaan Queensha. Pun demikian dengan si kecil Aurora. Pemilik mata bundar dan penyuka boneka Teddy Bear ikut menyapu seluruh ruangan sama seperti sang papa.
Berbisik lirih kepada Ghani. "Papa, kenapa Mama enggak ada? Apa Mama hari ini enggak bekerja?"
"Mungkin Mama sedang sibuk di dalam. Sudah, sebaiknya kita menunggu di sana. Rora bisa memesan es krim ataupun burger jika memang tak lagi dapat menahan rasa lapar."
Aurora mengangguk patuh dan mengikuti ke mana Ghani melangkah. Keduanya memesan dua buah McFlurry featuring Oreo guna menunggu Queensha yang masih sibuk menyiapkan pesanan di dapur.
Tak berselang lama, orang yang dinanti pun tiba. Queensha muncul di hadapan Ghani dengan membawa pesanan calon suami serta anaknya tercinta.
"Mama lama sekali. Rora bosan menunggu, Ma." Kepala Aurora mendongak ke atas demi melihat wajah mama tersayang. Tangan kecilnya melingkar di paha Queensha.
Queensha meminta tolong Ghani menaruh nampan berisi pesanan ke atas meja sementara ia hendak menenangkan Aurora yang terlihat BT karena terlalu lama menunggu.
"Maafin mama, ya, Sayang. Tadi mama sedang sibuk membantu Aunty Lulu di dapur. Karena mama sudah ada di sini, kamu bisa tenang sambil makan es krim kesukaanmu."
Setelah berhasil menghibur Aurora, barulah Queensha berbicara dengan calon suaminya. Sedikit basa basi menyapa pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
"Aku akan menemui Pak Rama sekarang. Namun, aku tidak sendirian, akan ada Lulu yang menemani." Queensha mengalihkan pandangan ke arah Lulu berada. Lulu yang merasa dirinya tengah ditatap sang sahabat, melambaikan tangan memberi isyarat bahwa ia siap menemani Queensha menyerahkan surat pengunduran diri.
Ghani dapat bernapas lega karena wanita yang sangat ia cintai tidak pergi sendirian. Jadi tak perlu ada drama merajuk segala saat semua urusan telah selesai.
"Baiklah, segera selesaikan urusanmu dengan pria yang bernama Rama itu. Setelah semua urusan selesai segeralah kembali sebab Rora ingin kita makan siang di restoran Jepang."
Senyuman manis terukir di bibir Queensha. "Baik, Mas. Kamu tunggu sebentar di sini, aku segera kembali." Maka Queensha melangkah menghampiri Lulu, kemudian mereka bersama-sama menuju ruangan Rama.
...***...
__ADS_1