Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Makan Siang Bersama Orang Tua Lulu


__ADS_3

"Ma, mau sampai kapan kamu menunggu di sini? Ini sudah hampir satu minggu kamu berada di rumah sakit. Tidakkah kamu ingin pulang ke rumah untuk beristirah sejenak guna menghilangkan kantung matamu itu?" Pak Hardi begitu prihatin melihat penampilan istrinya yang kelelahan akibat menemani Andri yang sejak seminggu lalu dilarikan ke rumah sakit akibat dihajar Yogi habis-habisan. Akibat penganiayaan itu membuat kepala Andri cidera berat dan mengalami koma.


Tanpa mengalihkan perhatian dari anak lelakinya, bu Tania menjawab, "Mama tidak peduli dengan kantung mata ini, Pa. Mama cuma mau Andri bangun dari komanya. Mama tidak tega melihat dia menderita."


Menghela napas berat. Memang susah membujuk istrinya yang keras kepala. "Jujur, papa pun sebetulnya tidak tega melihat darah dagingku sendiri diperlakukan dengan cara tidak adik. Namun, ini merupakan balasan atas kejahatan yang dia lakukan terhadap si korban. Apa kamu tidak tau jika si korban nyaris kehilangan bayinya karena didorong kencang oleh putera kita?"


Bangkit berdiri lalu memandang sinis ke arah suaminya. "Kamu yakin kalau anak kita yang bersalah, Pa? Bagaimana jika kenyataannya perempuan sialan itulah yang bersalah? Dia pura-pura jadi korban demi menjebloskan Andri ke penjera."


Pak Hardi menggelengkan kepala. Mata menatap nanar pada sosok istrinya. Sebagai sesama wanita, bu Tania tak sedikit pun punya rasa empati pada sang korban.


"Nyebut, Ma. Mana mungkin perempuan itu mengambil resiko dengan mengorbankan janin dalam kandungannya demi memasukan Andri ke penjara. Sekarang Andri memang sedang tak sadarkan diri, tapi setelah dia sadar, papa akan bertanya langsung kepadanya tentang kebenaran berita ini. Kalau memang benar Andri sengaja melakukan itu maka papa tak akan berbuat apa-apa demi membebaskan anak itu. Biarlah dia menanggung sendiri akibatnya." Putus Pak Hardi. Memang sulit berada di situasi ini, tetapi dia harus mengambil keputusan bijak demi kebaikan semua orang.


Bu Tania maju beberapa langkah ke depan. Sorot mata tajam dengan kedua tangan mengepal di samping badan. Terlihat kilatan emosi dari sorot mata wanita itu. "Mama tidak setuju! Kita harus membebaskan Andri bagaimanapun caranya. Kalau perlu, kita sogok saja para polisi itu untuk tidak membawa anak kita ke dalam sel tahanan. Mama bersedia membayar berapa pun yang mereka minta asalkan Andri tetap bersama kita."


"Jangan bodoh kamu, Ma! Susah payah papa mengumpulkan harta kekayaan ini lalu dengan entengnya kamu bilang ingin memberikan uangku demi membebaskan anak bodoh itu. Cuih, papa tidak sudi! Biarkan saja dia membusuk di penjara karena bermain-main dengan nyawa seseorang."


Rahang bu Tania mengeras. Terdengar bunyi gemelutuk bersumber dari wanita itu. "Terserah. Pokoknya mama akan tetap berjuang meski tanpa mendapat dukungamu!" Lantas wanita itu pergi dari hadapan pak Hardi. Terlalu lama berada di dekat pria itu membuat emosi dalam dirinya semakin menjadi.


"Ibu dan anak sama saja, sama-sama bikin kepalaku mau pecah." Lalu Pak Hardi mengalihkan perhatian pada Andri. Anak lelakinya itu tak bergerak sama sekali. Hanya terdengar bunyi alat-alat medis di ruangan tersebut. "Andri, Andri. makin gede bukannya semakin baik malah semakin badung. Entah berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan dari kami. Semoga setelah kamu siuman, tak banyak rahasia yang terungkap. Kalau sampai itu terjadi, entah harus bagaimana papa menyikapinya."


"Kamu anak lelaki papa. Satu-satunya kebanggaan keluarga dan harapan papa, tapi malah mengecewakan." Pak Hardi mengakhiri kalimatnya dengan mengayunkan kakinya menuju pintu ruangan, meninggalkan sang putera yang masih asyik memejamkan mata.


Ketika pintu ruangan tertutup, sebuah kedutan membuat jemari tangan Andri bergerak pelan. Akan tetapi, matanya masih terus terpejam.


***


"Nak Leon, nambah lagi nasinya. Makanan ini dibuat secara khusus untuk menyambut kedatangan Nak Leon ke sini jadi jangan sungkan untuk menghabisinya." Pak Idris menyodorkan satu bakul nasi ke depan Leon. Di sela kegiatannya menyantap masakan sang istri, dia terus menyuguhkan berbagai hidangan lezat di atas meja.


Bu Fatimah mengolah ikan nila segar yang dibeli suaminya di pasar. Dia juga membuatkan rebusan daun singkong, lalapan, tahu dan tempe goreng serta tak lupa sambal tomat terasi segar sebagai pelengkap hidangannya. Meskipun terkesan sederhana, tetapi mampu membuat selera makan Leon bertambah dua kali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Idris. Tapi perut saya sudah kenyang, sedari tadi nambah terus. Kalau terus terusan nambah, bisa gemuk saya," gelak Leon bergurau. Mencoba mencairkan suasana yang dirasa amat tegang.


"Loh, malah bagus dong. Semakin gemuk malah semakin makmur. Benar begitu, Lu, Bu?" Pak Idris meminta sokongan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Sementara itu, dua wanita tersebut hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.


Jari tangan Lulu terulur ke depan hendak mengambil sepotong tahu goreng tersisa di atas piring. Namun, di waktu bersamaan bu Fatimah pun mengincar tahu tersebut, membuat tangannya menyentuh punggung tangan sang putri. Terjadi kecanggungan di antara keduanya, tetapi Lulu segera dapat mengendalikan situasi tersebut.


Menarik tangannya dari atas piring lalu meletakkannya ke piring yang ada di sebelah. Piring sebelah itu berisikan tempe goreng yang masih tersisa empat potong lagi.


"Ibu ambil saja tahu gorengnya, Lulu makan yang ini saja."


"Kamu saja, Lu. Ibu sudah banyak mengambil potongan tahu goreng sejak tadi. Kamu 'kan baru ambil tiga. Ini, dimakan saja, Nak." Bu Fatimah berkata seraya meletakkan potongan tahu goreng terakhir di atas piring Lulu. Walaupun masih ingin memakan olahan makanan berbahan dasar kacang kedelai, demi anak semata wayangnya dia rela berkorban.


Bukankah sejatinya seorang ibu memang selalu mengalah demi buah cintanya? Setiap ibu di belahan dunia mana pun pasti akan melakukannya, begitu juga dengan bu Fatimah.


Pak Idris dan Leon saling memandang, lalu tak lama kemudian senyum mengembang di sudut bibir masing-masing. Merasa ini adalah awal baik bagi keduanya untuk berbaikan.


Ingin rasanya Lulu mengembalikan potongan tahu tersebut ke atas piring makan ibunya, tetapi nasihat Leon kembali terngiang di telinga.


Memejamkan mata sejenak seraya meraup udara sekitar dengan perlahan. "Makasih, Bu," ucap Lulu tulus.


Usai menyantap makan siang, semua orang berkumpul lagi di ruang tamu. Hari ini bu Fatimah dan pak Idris sengaja meminta cuti kepada pak Haji Kasman untuk tidak bekerja di perkebunan sebab akan ada anak kesayangan pulang ke rumah.


"Nak Leon, malem ini menginap saja di sini. Bapak sudah minta izin pada Pak RT dan RW setempat, mengatakan kalau kamu akan menginap di tempat bapak. Syukurnya Pak RT dan Pak RW mengizinkan kamu tinggal di sini selama beberapa hari, jika tidak, mungkin Nak Leon akan menginap di masjid bersama Pak Soleh, takmir masjid Al Ikhlas. Di sana, Nak Leon pasti disuruh bersih bersih masjid.


"Wah, terima kasih banyak, Pak. Duh, saya jadi merasa merepotkan, nih. Saya janji, selama tinggal di sini akan rajin membantu Bapak dan Ibu bekerja."


Tangan pak Idris melambai di depan wajah. Lalu tersenyum manis kepada Leon. "Jangan bicara begitu, Nak. Bapak malah senang direpotkan oleh calon mantu sendiri. Setelah ini kamu akans sering menginap di sini, jadi bapak mesti terbiasa melayanimu."


Hati Leon menghangat. Perlakuan pak Idris kepadanya sangat baik, pria itu bahkan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. Sungguh di luar ekspektasi Leon.

__ADS_1


"Oh ya, Lu. Bukannya tadi kamu bilang sama aku kalau ada yang mau dibicarakan kepada Ibu. Selagi kita kumpul, kenapa enggak disampaikan aja secara langsung."


Mata Lulu melotot, tetapi saat melihat isyarat dari mata sipit Leon membuat dia tersadar jika sekarang adalah waktu yang tepat meminta maaf kepada ibunya, Fatimah.


Lulu tak langsung berbicara. Dia justru menarik napas dalam, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan demi mengumpulkan keberanian dalam diri. Meyakinkan diri kalau semua akan berjalan mulus seperti harapannya.


"Bu, aku ... aku mau ... minta maaf karena tadi sempat marah-marah sama Ibu. Aku sadar kalau yang kulakukan tadi tidaklah baik. Semarah apa pun aku pada Ibu, tidak sepantasnya memarahi ibu kandungku sendiri. Maafin aku, Bu. Tadi aku hilang kendali sampai tega marahin Ibu." Lulu bersimpuh di depan bu Fatimah. Sungkem seperti saat dirinya minta maaf di hari raya Idul Fitri.


Sontak bu Fatimah terkejut akan gerakan tiba-tiba sang putri. Namun, sikap keterkejutannya itu tak berlangsung lama. Bu Fatimah mengusap punggung putrinya perlahan.


"Ibu juga minta maaf karena sudah jadiin kamu jaminan utang ibu, Lu. Waktu itu ibu kepepet minjem uang ke Juragan Tatang untuk bayar biaya pengobatan Bapakmu. Ibu tidak enak kalau harus minta uang lagi sama kamu, padahal seminggu sebelumnya kamu sudah kirim uang untuk kebutuhan sehari-hari."


"Tinggal di kota besar pasti butuh uang banyak, apalagi di sana apa apa serba mahal. Ibu yakin dengan gajimu yang serba pas pasan akan langsung habis tak bersisa jika ibu memintanya semua. Oleh karena itu, ibu putuskan menemui Juragan Tatang dan pinjam uang ke dia."


"Bu, kenapa kamu merahasiakan ini dari bapak? Kalau bapak tau uang itu dari Juragan Tatang, lebih baik bapak kembali ke rumah, tidak perlu dirawat segala di rumah sakit. Cuma buang-buang uang saja," tegur Pak Idris. Cukup terkejut setelah mengetahui alasan istrinya berutang dan itu semua karena dirinya.


Pak Idris sempat dirawat di rumah sakit karena terkena DBD dan membutuhkan perawatan intensif. Karena khawatir terjadi hal buruk menimpa suaminya, bu Fatimah memutuskan meminjam uang kepada rentenir setempat sebab hanya dengan cara itulah dia mendapat uang secara instan. Jika pinjam ke tetangga, belum tentu diberi pinjaman, yang ada dia kena makian semua orang.


Dengan mata berkaca-kaca bu Fatimah menjawab, "Ibu takut Bapak tidak mau dirawat di rumah sakit kalau tau uang itu bersumber dari Juragan Tatang. Ibu tau Bapak paling anti dengan yang namanya utang karena takut tak mampu bayar. Jadi, ibu terpaksa bohong dan mengatakan bahwa uang itu kiriman dari Lulu. Itu semua ibu lakuin demi Bapak. Maafin ibu, Pak."


Pak Idris menyugar rambutnya dengan frustrasi. Dia memang tak pernah mau berutang pada siapa pun. Selagi mampu maka dia akan berusaha keras untuk mendapatkan uang, sekalipun harus bekerja keras, mengambil pekerjaan sampingan selain menjadi buruh di perkebunan pak Haji Kasman, dia rela asalkan tidak hidup di bawah bayang-bayang utang.


"Ehm, maaf kalau saya terkesan ikut campur, tapi apa tidak sebaiknya kita mulai melupakan semua kejadian yang terjadi hari ini? Anggap saja kejadian ini tidak pernah ada. Lulu melupakan masalahnya dengan Bu Fatimah, dan Bapak pun melupakan kesalahan Ibu yang dianggap telah berbohong. Dengan begini hidup akan terasa damai karena bisa saling maaf memaafkan," ucap Leon mencoba bijak.


Leon mengalihkan pandangan pada calon ibu mertuanya. Ketika ekor mata bu Fatimah bersitatap dengan Leon, seulas senyum tipis terukir di wajah. Wanita itu bangga punya calon menantu baik seperti Leon.


"Bu, ke depannya kalau ada masalah cobalah terbuka pada pasangan karena bagaimanapun, Pak Idris berhak tau apa yang menimpa Ibu. Siapa tau dengan berkata jujur, Ibu dapat menemukan jalan keluar. Dan ... untuk kamu, Lu, lain kali jangan langsung marah pada Ibu karena kita tidak pernah tau apa yang melatarbelakangi Ibumu melakukan itu. Bisa saja Ibumu dalam keadaan terdesak hingga menjadikanmu barang jaminan."


Lulu mengangguk. Perkataan Leon bagai sebuah tititah yang harus dituruti.

__ADS_1


"Pak, Bu. Lain kali, kalau kalian sakit atau membutuhkan apa pun, jangan sungkan menghubungi saya. Saya siap membantu meski saat itu sedang dalam keadaan sibuk. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasih karena kalian telah susah payah membesarkan gadis cantik di depan sana hingga saya akhirnya bertemu dengan Lulu, sosok perempuan idaman untuk dijadikan istri." Leon bangkit berdiri lalu membungkukkan sedikit pungungg dan kembali berkata, "Terima kasih sudah membesarkan Lulu hingga dia tumbuh menjadi wanita kuat, mandiri, dan pekerja keras."


...***...


__ADS_2