Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Tokyo, Jepang


__ADS_3

Tak terasa sudah empat hari Queensha dan Ghani menikmati liburan mereka di Maldives. Meski tempat ini amat indah, tapi mereka harus mengucap say good bye dan melanjutkan acara bulan madu keduanya ke negara selanjutnya yaitu ... Jepang.


“Aku akan merindukan tempat ini, Mas.” Mata Queensha menatap sendu hamparan laut hijau nan jernih di depan sana.


“Aku juga, Sayang. Kalau ada waktu lagi, kita akan berlibur lagi bersama Rora dan calon adik-adiknya kelak. Bagaimana, setuju tidak?"


Queensha tersenyum simpul mendengar kata 'calon adik-adiknya' Aurora. “Aku setuju, Mas. Tempat ini sudah membuatku jatuh cinta seperti aku yang telah jatuh cinta kepadamu."


Ghani tersenyum. Ia rangkul pundak Queensha, kemudian keduanya menatap hamparan laut untuk terakhir kali. "Ya sudah, kita sebaiknya ke kamar sekarang, mengemasi barang bawaan. Kita harus ke bandara segera agar tidak ketinggalan pesawat."


Queensha mengangguk patuh, menuruti perkataan suaminya. Lantas mereka berjalan bergandengan tangan, menyusuri lorong sepi menuju kamar hotel yang selama empat hari menjadi tempat beristirahat keduanya.


Agenda bulan madu mereka di Maldives memang sudah diakhiri, tetapi masih ada destinasi lain yang menanti kehadiran pasangan pengantin baru tersebut. Tempat wisata selanjutnya adalah ... Jepang.


Ya, Jepang. Sebuah negara yang dikenal oleh istilah matahari terbit (Nippon) akan menjadi tujuan selanjutnya bagi Queensha dan Ghani berbulan madu.


Saat ini, Queensha sedang duduk di tepian ranjang, menunggu Ghani yang tengah mengemasi pakaian serta barang-barang milik mereka ke dalam koper. Gerakan yang dilakukan sang suami tak luput dari pandangannya.


"Perlu aku bantu?" tawar Queensha saat melihat Ghani agak kesulitan memasukan kemeja abu miliknya.


Ghani yang sudah tak tahu lagi harus menaruh di mana pakaian terakhir miliknya mengangguk, mempersilakan sang istri turut membantunya. "Perasaanku saat kita kemari, satu koper berukuran besar ini cukup menampung semua pakaian dan barang-barang kita, tapi kenapa sekarang tidak cukup. Apa aku salah menatanya, ya?"


"Bukan karena kamu yang salah, Mas, tapi karena kita yang terlalu banyak membeli barang saat tiba di sini. Kamu tidak ingat apa yang dibeli kemarin siang? Kita membeli pakaian Rora serta kedua keponakan kembarmu, masing-masing empat setel sehingga koper ini terlihat penuh dan sesak."


Ghani manggut-manggut mendengar penjelasan Queensha. "Ehm, benar juga, sih. Tak apalah kalau memang tidak cukup, tinggalkan saja kemejaku itu. Nanti aku bisa membelinya lagi. Asalkan pakaian untuk putri kita dan kedua keponakan kesayanganku terbawa."


"Tidak perlu ditinggal. Lihat, sudah beres, bukan?" Queensha menunjuk ke arah koper yang telah tertutup rapat. "Kamu hanya perlu melipat kemejamu mengikuti tutorial dari internet maka benda tersebut bisa muat di dalam koper."


Setelah selesai membantu Ghani mengemasi pakaian, Queensha bangkit berdiri. Lalu dia teringat akan sesuatu hal yang sudah lama direncanakan.


“Mas, sebelum pulang nanti ada sesuatu yang ingin kubeli,” kata Queensha kepada Ghani.


“Kamu mau beli apa?”


“Aku mau beli gelang keselamatan. Kemarin aku melihat ada yang jualan gelang itu dekat pantai. Katanya kalau beli gelang itu, nanti kita bisa kembali ke Maldives.”


“Itu sih akal-akalan penjualnya saja. Memang kamu percaya gelang bikin kita bisa balik ke Maldives?”


Queensha menggeleng. “Memang sih kesannya takhayul banget. Namun, aku menyukai model gelang tersebut. Boleh, ya, Mas?" Wanita itu mulai merengek seperti Aurora yang tengah minta dibelikan boneka Barbie.


Bagaimana Ghani dapat menolak permintaan Queensha, jika istrinya menunjukan ekspresi wajah yang begitu menggemaskan. “Boleh. Sehabis kita check out akan mampir sebentar. Belikan cinderamata lainnya juga untuk Rora, Mayumi, serta kedua adik perempuanku juga, Sayang."


Ibu jari dan jari telunjuk Queensha diangkat ke udara membentuk huruf O. "Oke, Bos!"


Setelah memastikan tidak ada barang tertinggal, Queensha dan Ghani pun check out dari hotel. Mereka berjalan sebentar ke depan hotel, mencari penjual gelang keselamatan yang diinginkan Queensha.

__ADS_1


"Itu penjualnya, Mas. Ayo, kita ke sana!" seru Queensha sambil menggandeng lengan Ghani yang tengah mendorong dua buah koper di tangan kanan dan kirinya.


“Ini gelang pesanan Anda, Nona. Terima kasih atas kunjungan kalian. Semoga kita dapat bertemu kembali," ucap penjual aksesoris tersebut menggunakan bahasa Inggris.


Penjual gelang itu memberikan dua gelang pasangan untuk Queensha dan Ghani. Gelang itu hanya gelang biasa yang terbuat dari tali dan manik-manik. Konon kabarnya siapa pun yang membelinya suatu hari akan kembali ke Maldives.


Queensha mengangguk saja. "Terima kasih." Dia memakai gelang itu sambil berdoa semoga suatu hari nanti dia dan Ghani benar-benar bisa kembali ke Maldives.


Selang beberapa menit kemudian, taksi yang ditumpangi Queensha dan Ghani sudah sampai di bandara. Jam keberangkatan pesawat mereka ke Jepang kira-kira satu jam lagi. Sambil menunggu, mereka memutuskan untuk makan siang di restoran dekat bandara.


"Apa kamu capek, Sayang?" tanya Ghani perhatian.


Queensha menggeleng. “Sama sekali tidak, Mas. Aku malah semangat karena sebentar lagi kita mau ke Jepang.”


Ghani menyuapkan makanan ke dalam mulut, mengungah makanan tersebut sampai lumaat. “Tiba di Jepang, banyak yang ingin kutunjukan kepadamu salah satunya adalah kampus tempatku kuliah dulu. Kamu pasti menyukainya."


Wajah Queensha berseri bahagia. “Sungguh? Wah, aku jadi tidak sabar ingin segera tiba di sana."


Ghani tersenyum. Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang ingin Ghani kunjungi bersama Queensha nanti. Akan tetapi, untuk satu tempat itu biarkanlah dia tidak mengatakanya secara langsung kepada Queensha sebab tempat tersebut berkaitan erat dengan masa lalu yang kelam bagi mereka berdua.


***


Sama seperti Maldives, matahari amat bersinar terik begitu mereka sampai di Jepang. Sekarang ini Jepang memang memasuki musim panas, makanya panasnya tak kira-kira.


“Ternyata di sini juga panas, ya, Mas?” Queensha memakai topi guna menutupi kepala dari sinar matahari.


“Kita harus secepatnya ke hotel. Kalau terus-terusa di luar begini, bisa gosong aku,” kelakar Ghani.


“Memangnya kamu tidak pakai sunscreen?” tanya Queensha kepada suaminya.


Ghani menyeringai di hadapan sang istri. "Karena terburu-buru, aku lupa tidak memakainya."


Queensha menghentikan pergerakan tangannya, lalu menatap tajam kepada Ghani. "Jangan meremehkan kekuatan sinar UV, Mas. Bahaya, tau. Aku sudah mewanti-wanti kamu saat masih di Maldives, tapi kamu malah ngeyel. Percuma saja, dong, aku belikan satu tube sunscreen kalau tidak dipakai."


“Iya, maaf. Lagi pula, Maldives dan Jepang berbeda, Sayang. Di Maldives dekat dengan pantai, sementara di sini walau sinar mataharinya terik, tetapi tak membuat kita berkeringat."


“Tapi tetap saja kamu haru pakai sunscreen, Mas. Jangan sepelekan!” Queensha berkata dengan nada serius.


Ghani tertawa melihat tampang Queensha yang terlihat lebih serius dari biasanya. Mau manyun maupun memasang wajah serius, istrinya itu amat menggemaskan apalagi saat tengah khawatir kepadanya.


Itulah fitrah seorang istri, pasti selalu peduli pada suaminya. Selalu menginginkan yang terbaik bagi sang suami. Ghani amat bersyukur memiliki istri seperti Queensha yang amat peduli pada kesehatannya.


“Oke. Oke. Nanti aku akan pakai sunscreen kalau kita sampai di hotel. Jangan marah lagi.” Ghani mencubit gemas pipi Queensha.


“Janji?"

__ADS_1


“Iya, janji.”


Queensha tersenyum. Dia menggandeng lengan Ghani saat taksi mereka akhirnya datang untuk mengantarkan keduanya menuju penginapan.


Setelah melihat perkiraan cuaca akhirnya Queensha dan Ghani memutuskan untuk tinggal di hotel. Rencananya, mereka akan keluar saat sore hari untuk menghindari teriknya sinar matahari sekaligus mengumpulkan energi usai menempuh perjalanan yang cukup panjang dan sangat melelahkan.


Kira-kira pukul empat sore, Queensha diajak Ghani untuk mengunjungi kampus tempatnya berkuliah dulu. “Aku punya teman yang sudah jadi dosen di sana. Aku mau mengunjunginya juga. Apa kamu keberatan?”


Queensha menggeleng. “Aku mau lihat seperti apa kampusmu, Mas.”


“Oke deh. Yuk, kita berangkat sekarang!"


Queensha dan Ghani menunggu bus yang mengantarkan mereka menuju kampusnya dulu. Sepanjang perjalanan, Ghani bercerita apa saja yang pernah terjadi di masa lalu selama dia berkuliah di Jepang.


“Dulu aku punya teman dari India. Dia bisa kuliah di sini berkat beasiswa. Lucunya, dia suka homesick alias kangen rumah. Hampir tiap hari dia akan menelepon keluarganya di India gara-gara ingin makan masakan sang ibu.” Ghani tertawa mengingat masa lalunya.


Queensha ikut tertawa mendengarnya. "Apa temanmu itu anak Mami?”


Ghani menggendikan bahu. "Entahlah. Saat kutanya, dia tidak mau mengaku kalau anak Mami. Namun, melihat tingkah lakunya aku dapat menilai jika dia memang anak Mami."


“Apa temanmu ini yang mau kamu kunjungi di kampus?”


Ghani mengangguk. “Betul sekali. Namanya Rakesh. Namun, sekarang dia bukan anak Mami lagi semenjak orang tuanya sering bolak-balik Jepang-India."


Tawa Queensha langsung meledak mendengar kata-kata Ghani. Dia jadi penasaran dengan sosok bernama Rakesh itu.


Akhirnya, Queensha dan Ghani sampai juga di kampus. Dari kejauhan, Queensha melihat sosok khas orang India yang sedang celingukan di gerbang kampus. Melihat Ghani, sosok itu segera melambaikan tangan padanya. Queensha bisa menebak pasti itu Rakesh, teman Ghani.


“Selamat datang lagi di Jepang, Kawan!” seru Rakesh pada Ghani sambil berjabat tangan.


“Hai, Rakesh. Sesuai janjiku, kita bertemu lagi di sini." Ghani menyambut uluran tangan Rakesh akrab. “Omong-omong, ini istriku, Queensha.”


“Senang berkenalan denganmu, Nona." Rakesh menyapa hangat.


Queensha mengangguk kecil. “Senang berkenalan denganmu juga, Tuan." Keduanya saling menyapa menggunakan bahasa Inggris.


Setelah berkenalan, Ghani dan Rakesh terlihat berbincang akrab. Karena tak mau mengganggu acara nostalgia dua kawan akrab itu, Queensha melihat sekeliling kampus Ghani.


“Oh, jadi di sini Mas Ghani berkuliah dulu? Gedungnya besar juga,” pikir Queensha sambil manggut-manggut. Mengedarkan pandangan ke sekitar, pemandangan di sana sangat bagus dan terlihat menyenangkan. "Ehm, andai aku bisa kuliah, pasti mengasyikan karena dapat berinteraksi dengan banyak orang. Tapi sayang, aku harus puas dengan pendidikan SMA-ku karena ...."


"Tidak boleh memikirkan masa lalu. Sekarang aku sudah bahagia jadi jangan merusak kebahagiaan yang tengah kamu rasakan, Sha." Queensha memasang senyum lebar dan mengingatkan dirinya untuk tidak lagi menengok ke belakang.


Gara-gara tak menghiraukan Ghani dan Rakesh, Queensha berjalan ke arah lain. Beberapa menit kemudian, barulah dia sadar tak melihat Ghani dan Rakesh.


“Lho, di mana Mas Ghani?” ujar Queensha sambil celingukan seperti anak ayam kehilangan induknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2