Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Buah Manis dari Sebuah Kesabaran


__ADS_3

Tatkala Queensha dan Ghani tengah asyik berbulan madu ke Maldives dan Jepang, tampak dua orang wanita sedang sibuk men-stalking akun IG milik nyonya muda keluarga Wijaya Kusuma. Sudah hampir lima menit dua wanita itu membuka satu per satu foto yang diunggah oleh Queensha dan tampaknya mereka tak ada niatan menghentikan kegiatannya tersebut.


"Ck, enak banget sih hidupnya Queensha sekarang, dari orang miskin mendadak menjadi kaya raya. Punya suami duda, tajir melintir plus calon pewaris rumah sakit terkenal di kota Jakarta pasti sekarang dia hidup bergelimang harta kekayaan," cibir salah satu mantan rekan kerja Queensha yang terkenal julid, gemar membicarakan orang lain.


"Iya, bener banget. Pantesan aja sikapnya Queensha jadi songong dan belagu banget, eh enggak taunya bakal nikah sama horang kaya."


"Tapi kalau dipikir-pikir, apa yang membuat dokter Ghani tertarik kepada Queensha? Wajahnya pas-pas-an, penampilan biasa aja, dan pakaian yang dikenakannya pun kalah modis dari kita, tapi kenapa nasibnya beruntung sekali. Apa jangan-jangan dia-"


"Jangan-jangan apa, heh? Kalau ngomong jangan sembarangan, deh, nanti jatuhnya fitnah!" Lulu berkacak pinggang sambil menghunus tatapan tajam. Ia yang baru saja mengantar pesanan ke meja nomor 9 cukup dibuat terkejut akan obrolan kedua rekan kerjanya tersebut. Bisa-bisanya mereka bergosip di saat jam kerja berlangsung.


"Sebetulnya lo berdua di sini mau kerja atau mau menggosipkan orang lain? Kalau mau kerja, bekerjalah dengan baik, layani pelanggan dengan baik pula. Namun, kalau cuma mau bergosip, mendingan sekarang pergi dari sini. Carilah tempat aman untuk bergosip sampai mulut lo berdua berbusa akibat terlalu banyak membicarakan keburukan orang lain," sambung Lulu dengan nada emosi. Betapa tidak, orang yang tengah mereka gosipkan adalah Queensha, sahabatnya sendiri.


Merasa kesal karena diomeli Lulu, salah satu dari pegawai restoran bangkit berdiri dan menantang wanita di hadapannya. "Emangnya kenapa kalau kita ngegosipin sahabat lo? Enggak terima? Heh, Lu, jangan mentang-mentang lo pegawai senior dan cukup dekat dengan Pak Rama bisa seenaknya aja marahin kita. Lo dan gue sama-sama bawahan di sini jadi jangan pernah melarang gue menggosipkan siapa pun!"


Wanita berambut pendek sebahu melipat kedua tangan di depan dada. Mengamati penampilan Lulu dari atas kepala sampai ke ujung kaki. "Gue tuh heran deh sama lo, apa yang membuat lo sampai mau membela Queensha mati-matian? Emangnya lo dikasih apa sampai mau jadi anjing penjaganya selama ini?"


Alih-alih merasa tersinggung karena disebut anjing penjaga, Lulu justru tersenyum smirk dan membalas tatapan rekan kerjanya. "Masih mending jadi anjing penjaga yang terbukti setia kepada majikannya daripada jadi tukang gosip yang dibenci banyak orang."


"Mengenai pertanyaan lo barusan, gue enggak punya kewajiban untuk menjawabnya jadi silakan aja pikir sendiri. Gunakan otak lo yang cuma 1 ons untuk berpikir jeli!" Lantas Lulu berlalu dari hadapan kedua wanita itu. Ia melangkah menuju daun pintu yang akan membawanya ke ruangan khusus bagi staf restoran.


Hanya tersisa dua langkah lagi Lulu menggapai handle pintu, wanita itu membalikan badan menghadap kedua teman kerjanya. Dengan ekspresi wajah serius ia berkata, "Lo enggak pernah tau bagaimana perjuangan Queensha di masa lalu untuk bisa berada di posisinya sekarang. Jadi gue saranin lebih baik berhentilah merasa iri akan kebahagiaan sahabat gue sebab kalau lo tau bagaimana kerasnya kehidupan dia di masa lalu, gue yakin mulut lo berdua akan bungkam selamanya!"


Sepeninggalnya Lulu, kedua wanita itu membeku di tempat. Bibir mereka mengatup, lidah pun kelu tak sanggup berkata. Pikiran keduanya sedang berusaha keras mencerna perkataan yang disampaikan Lulu beberapa waktu lalu.


***


Sementara itu, Queensha terlihat kebingungan mencari keberadaan Ghani dan Rakesh. Ia mencari ke sana kemari, tetapi tak jua menemukan dua sosok pria tersebut.


“Aduh, Mas Ghani ke mana, ya? Seharusnya tadi aku mengekori Mas Ghani, bukan malah berbelok ke arah lain. Bagaimana coba kalau aku tersesat dan Mas Ghani tak bisa menemukan keberadaanku di sini?" Queensha sedikit menyesal, akibat kelalaiannya ia kehilangan jejak sang suami.


“Sha, kamu di mana? Queensha!"


Terdengar suara panggilan berasal dari seseorang. Suara itu begitu familiar membuat Queensha langsung menoleh. Ia melihat Ghani dan Rakesh keluar dari sebuah gedung sambil menatap dirinya dengan raut cemas.


Susah payah Ghani berlari mendekati sang istri. “Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu sendirian di sini? Bukannya tadi kamu mengikutiku di belakang?"


“Maaf, Mas. Tadi ada yang membuatku penasaran makanya aku tidak memperhatikan ke mana kalian melangkah. Saat aku sadar rupanya kalian berdua sudah pergi entah ke mana." Queensha menunduk, merasa bersalah telah membuat suaminya cemas.


Ghani mengusap helaian rambut Queensha. Ia tidak marah, hanya merasa khawatir terhadap kesalamatan Queensha. "Jangan merasa bersalah, toh kesalahan pun terletak kepadaku. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu tadi, tapi karena terlalu asyik mengobrol sampai lupa dengan keberadaanmu di sisiku."

__ADS_1


“Maafkan aku, Mas. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," kata Queensha dengan penuh penyesalan.


"Hmm, tak masalah. Terpenting kamu sudah ketemu dan bisa berkumpul lagi dengan suamimu." Rakesh berkata, mencoba menenangkan Queensha.


Saat ini Ghani dan Queensha baru saja keluar dari gedung kampus sang suami. Ghani sudah puas bernostalgia, mengelilingi kampusnya dengan ditemani Rakesh dan juga Queensha. Hampir satu jam berada di lingkungan kampus dan tibalah waktunya pasangan pengantin baru itu undur diri dari hadapan Rakesh.


"Semoga rumah tanggamu kekal abadi untuk selamanya." Rakesh berkata dengan bersungguh-sungguh.


"Terima kasih. Kudoakan semoga kamu segera menemukan tambatan hati." Lalu kedua pria itu berpelukan sebelum kembali berpisah.


Queensha melirik sebuah kertas yang menyembul dari saku celana milik suaminya. Karena posisinya agak ke dalam, membuat wanita itu kesulitan saat mencaritahu benda apakah yang berada di kantong celana sang suami.


"Mas, di saku celanamu itu, apa? Perasaan saat kita pergi, aku tidak melihatnya sama sekali."


"Oh, ini tiket festival musim panas. Nah, tadi aku sempat berkata ingin mengajakmu ke suatu tempat dan inilah tempat yang akan kita kunjungi selanjutnya. Bagaimana, kamu suka tidak?"


“Wah, aku suka banget, Mas. Biasanya saat ada festival, banyak orang mengenakan yukata. Aku pernah sekali mencobanya dan itu sangat mengasyikan." Queensha mendesaah pelan. "Namun, sepertinya aku tidak bisa mengenakan pakaian tersebut sekarang karena-"


“Tenang saja. Aku akan mengajakmu ke toko di sekitar festival. Nah, nanti kamu bisa mengenakan pakaian tersebut."


“Serius, Mas? Asyik!” Queensha meloncat-loncat seperti anak kecil.


Begitu sampai di area dekat festival, Queensha dan Ghani pergi menuju toko tempat menjual yukata. Yukata adalah baju tradisional di Jepang. Banyak gadis Jepang yang menggunakan yukata saat pergi ke festival.


“Arigatou.” Queensha mengucapkan terima kasih pada pemilik butik yang membantunya memakai yukata.


Begitu keluar dari tempat ganti baju, mata Ghani terperangah melihat Queensha. Gara-gara memakai yukata, membuat Queensha tampak seperti gadis Jepang saja.


“Kamu cantik banget, Sayang. Aku yakin, semua wanita yang hadir dalam festival musim panas akan merasa iri kepadamu. Kepada wanita cantik seperti bidadari," puji Ghani tulus.


Pipi Queensha bersemu merah mendengar pujian Ghani. Dia pun merangkul lengan Ghani dan keluar dari toko tersebut untuk menuju festival musim panas.


Banyak orang yang sudah ada di festival. Tempat itu ramai sekali, jadi Ghani menggenggam tangan Queensha erat-erat agar istrinya itu tidak terlepas darinya. Mengingat kejadian di kampus tadi, Ghani semakin memperhatikan sang istri agar hal itu tak terjadi lagi. Bisa gawat kalau Queensha sampai tersesat di tempat seramai ini.


“Kamu mau makan takoyaki?” tawar Ghani saat mereka lewat di depan kedai kecil yang menjual takoyaki.


“Mau! Mau!” sahut Queensha cepat. Dia suka sekali takoyaki, bahkan saat di Indonesia pun dia suka membeli makanan itu. Sekarang dia punya kesempatan untuk membelinya langsung dari negara asalnya. Jadi, dia tak mau melewatkan kesempatan itu.


Sembari menunggu takoyaki matang, Ghani terlihat memperhatikan Queensha diam-diam. Ada satu tempat lagi yang ingin dia kunjungi bersama Queensha. Masalahnya, dia takut mengutarakan tujuannya itu pada Queensha.

__ADS_1


“Kenapa, Mas? Kok kamu dari tadi lihatin aku?” Queensha yang sadar segera bertanya.


“Ehm, tidak apa-apa. Pesananmu sudah matang. Lekas dimakan selagi masih hangat."


Queensha segera mengambil takoyaki pesanannya dan langsung menyantapnya.


Setelah berkeliling festival, Ghani dan Queensha duduk-duduk di bawah pohon. Ghani terlihat gelisah. Sadar ada yang tidak beres dengan suaminya, Queensha segera bertanya pada Ghani.


“Kayaknya kamu sedang risau. Ada apa sebenarnya, Mas?”


Dengan sedikit ragu, Ghani berkata, “Ehm, aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Tapi, kamu jangan marah sama aku.”


“Memang ke mana?”


“Ke klub tempat pertama kita bertemu.”


Mata Queensha membelalak mendengar kata-kata Ghani.


“Tapi, kenapa, Mas? Mas tahu sendiri tempat itu membuatku trauma.” Mata Queensha sedikit berair. Dia susah payah melupakan masa lalunya, tetapi kenapa Ghani sengaja membuka kembali luka lama yang ada di hatinya.


“Dengarkan aku, Sayang. Aku tahu tindakanku dulu salah akibat ulahku telah membuat masa depanmu hancur. Aku mau kamu melawan traumamu itu. Aku ingin kamu mengubah kenangan buruk itu menjadi kenangan baik maka dari itu aku ingin mengajakmu ke sana.”


Queensha terdiam. Dia sadar memang trauma itu amat membekas, sehingga sampai sekarang saat dirinya menyatu dengan Ghani, masih ada sedikit ketakutan terpancar dari raut wajah wanita itu.


Akhirnya, setelah berpikir masak-masak, Queensha menerima permintaan Ghani itu.


“Baiklah, Mas. Akan kucoba,” jawabnya lemah.


Saat ini Queensha dan Ghani tiba di klub tempat terjadinya malam kelabu yang terjadi enam tahun lalu. Tubuh Queensha langsung panas dingin kala sepatu mereka baru menginjak lantai dari bangunan dua lantai tersebut.


Melihat wajah istrinya yang mulai ketakutan, Ghani segera memeluk istrinya erat-erat. "Rileks, Sayang. Jangan biarkan ketakutan itu menguasai dirimu."


Menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan. Setelah Queensha merasa tenang, mereka pun masuk ke dalam klub dan sengaja memesan Coca Cola guna mengisi tenggorokan yang terasa kering.


Selama duduk, tangan Ghani terus menggenggam tangan Queensha. “Sayang, maafkan aku atas kekhilafanku di masa lalu. Saat itu aku berada di bawah pengaruh obat perangsang yang diberikan Cassandra. Andai saja aku tahu wanita sialan itu berniat jahat kepadaku mana mungkin aku mau tergoda oleh bujukan teman-temanku. ” Ghani mengucapkannya dengan wajah menyesal.


Permintaan maaf itu membuat hati Queensha merasa terharu. “Iya, Mas, aku sudah memafkanmu. Sudah, jangan dibahas lagi, aku sudah melupakannya."


“Terima kasih, Sha, karena kamu sudah mau memaafkan dan memberiku kesempatan kedua. Aku mencintaimu, Queensha Azura Gunawan." Ghani menempelkan bibirnya di bibir sang istri sebagai bentuk ungkapan cintanya kepada Queensha.

__ADS_1


Queensha memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Ghani. Keadaan di sekitar temaram, membuat keduanya larut dalam suasana.


...***...


__ADS_2