
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah senja sedang duduk bersantai di sofa ruang keluarga rumahnya. Malam minggu ini dia habiskan untuk menonton televisi bersama suami tercinta. Dua cangkir minuman hangat serta satu toples kue nastar tersedia di atas meja panjang terbuat dari kaca.
"Ish, seharusnya si tokoh wanita itu pecat saja guru lesnya itu. Sudah ketahuan berbuat lancang, memakai pakaian milik majikannya cuma ditegur doang. Hu, kalau mama jadi dia sudah mama tampar dan usir dari rumah. Enak saja dia pakai pakaianku tanpa izin." Bu Ayu begitu kesal akan sifat si tokoh wanita dalam serias drama Korea yang tengah ia tonton bersama suami tercinta.
Serial drama tersebut cukup menarik, mampu membuat emosi siapa saja yang menontonnya. Salah satu orang yang sukses dibuat kesal setengah mati adalah bu Ayu, ibunda tercinta Leon. Sedari tadi tak henti bibirnya terus komat kamit, memarahi kebodohan para tokoh dalam drama tersebut karena berhasil ditipu oleh si penjahat.
Pak Imran menggeleng kepala dan bergumam. "Sudah tau kesal kenapa masig ditonton, sih. Mentang-mentang punya anak dokter jadi tak masalah kalau darah tingginya kumat karena tau akan ada yang memeriksa kesehatan dan memberinya obat secara cuma-cuma."
Bu Ayu bersikap masa bodoh, tak terpengaruh sedikit pun dengan ocehan suaminya. Ia kembali fokus menonton drama sambil sesekali menyesap teh hangat kesukaannya.
Getar ponsel miliknya membuat bu Ayu mengulurkan tangan ke depan, meraba meja panjang guna mencari keberadaan gawai miliknya. "Siapa sih yang gangguin aku nonton TV," matanya sambil membuka aplikasi WhatsApp.
Saat ia baru saja mengunduh pesan yang dikirim teman arisannya, wanita itu tersentak saat melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Pesan tersebut berupa sebuah foto sang putera dan juga seorang wanita sedang berada di sebuah restoran. Keduanya terlihat sedang makan malam bersama.
"Astaga! Siapa dia!" pekik Bu Ayu sedikit keras. Setelah itu, dia kembali melihat ponsel miliknya dan menatap lekat foto yang ada di depan sana. Masih sedikit tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata. Bu Ayu sampai harus mendekatkan matanya ke layar gawai tersebut guna memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
Cukup lama memandangi foto tersebut, barulah bu Ayu yakin jika potret tersebut memanglah putranya yang entah sedang berduaan dengan siapa. "Ini memang Leon. Namun, siapa perempuan yang bersama dengannya? Aduh, kenapa pula wajah perempuan itu tidak terlihat."
Bu Ayu cukup kesal sebab wajah si wanita tak tertangkap layar ponsel karena posisinya membelakangi kamera. Entah memang kebetulan semata atau memang disengaja, tetapi sukses membuat bu Ayu semakin penasaran.
"Aku harus segera menelepon Leon, memastikan jika dia memang sedang berkencan dengan seseorang."
Tanpa menunggu lama, Bu Ayu segera mencari kontak putranya dan mencoba menelepon Leon. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal tersebut, dia ingin bertanya langsung pada Leon apa benar putranya itu sedang kencan dengan seseorang. Sungguh, dia sangat kaget dan sangat penasaran siapa wanita yang sedang bersama Leon karena seingatnya, Leon tak pernah menjalin kasih setelah ditinggal nikah oleh sang mantan kekasih.
"Ck, kenapa Leon tidak mengangkat teleponku! Ke mana anak itu!" ujar Bu Ayu kesal. Dia kesal karena tidak bisa bertanya langsung kepada Leon perihal foto yang dikirim salah satu teman arisannya. Bu Ayu benar-benar penasaran, wanita macam apa yang berhasil meluluhkan hati puteranya yang keras kepala itu.
__ADS_1
Leon tipikal pria keras kepala dan sulit jatuh cinta. Apalagi dia pernah dikhianati mantan kekasihnya sehingga hatinya tak mudah diketuk oleh wanita mana pun. Jadi saat bu Ayu melihat Leon berduaan dengan seorang perempuan, jiwa keponya meronta dan membuat dia jadi paparazi dadakan.
"Astaga, kenapa tidak bisa dihubungi. Apa dia sengaja mematikan ponselnya karena tidak mau diganggu siapa pun? Jika benar, keterlaluan sekali dia, mematikan telepon di saat genting begini," desis Bu Ayu.
Tidak ingin membuang waktu, Bu Ayu kembali mencoba menelepon putranya. Namun, lagi-lagi hanya suara operator yang dia dengar.
"Ya Tuhan, kenapa di saat seperti ini dia malah sulit dihubungi. Apa tidak bisa sebentar saja menerima panggilan dariku? Benar-benar anak nakal, hobi sekali bikin mamanya emosi!" Wajah Bu Ayu semakin memerah karena belum berhasil menghubungi Leon. Ditelepon, di-SMS, tetapi anaknya belum juga merespon.
Sementara itu, Pak Imran yang duduk di sofa tunggal yang berada tepat di samping sofa yang diduduki Bu Ayu hanya bisa menghela napas pelan seraya mengurut pelipisnya perlahan. Dirinya yang tadi sedang fokus membaca koran menjadi terganggu karena istri tercinta terus saja mengomel.
'Ujian banget punya istri tukang ngomel macam istriku. Sebentar-sebentar komentar, sebentar-sebentar marah. Entah apa lagi yang akan dilakukannya setelah ini,' batin Pak Imran. Beruntungnya dia mempunyai stock kesabaran melimpah ruah sehingga dapat bersikap sabar dengan tabiat istrinya itu.
"Berhentilah menghubungi Leon, biarkan dia menikmati malam ini dengan tenang. Sebaiknya kamu diam dan duduk dengan manis di sana. Aku pusing dengar kamu yang terus mengomel tidak jelas. Telingaku bahkan terasa panas sekarang," tegur Pak Imran yang sudah tidak tahan dengan omelan sang istri. Konsentrasinya terbagi antara koran di tangannya dengan ocehan sang istri.
"Andai bukan karena teman arisanku yang kirim foto ini kepadaku, aku tidak akan pernah tahu kalau Leon sudah punya pacar sekarang," tutur Bu Ayu panjang lebar. "Aku heran, kenapa pula Leon berbohong kepada kita, Pa? Apa dia sengaja menyembunyikan identitas kekasihnya itu dari kamu dan aku?"
Pak Imran kembali menghela napas. Koran yang tadi berada di tangannya kini sudah dirinya letakkan di meja. Setelahnya, menatap lurus ke arah sang istri.
Entahlah, Pak Imran sebenarnya sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran sang istri. Bagaimana tidak, istrinya itu selalu saja mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya sudah tidak terlalu penting. Selalu saja membesarkan masalah yang ada. Dia merasa kepalanya mau pecah sekarang.
"Papa yakin Leon punya alasan tersendiri kenapa tidak cerita kepada kita. Mungkin dia mau privasinya tetap terjaga karena ingin fokus menjajaki hati masing-masing. Setelah mereka yakin, baru mengenalkan kekasihnya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi."
"Lagi pula, Leon itu sudah dewasa, bisa mengatur dirinya sendiri. Dia juga sudah pasti tahu mana yang baik dan yang buruk. Kita sebagai orang tua hanya perlu mengawasi. Jangan terlalu mengekang Leon seperti ini. Nanti dia akan merasa tidak nyaman kalau kamu terus mengganggu kehidupan pribadinya." Pak Imran mencoba menasihati istrinya dengan pelan-pelan.
"Kalau kamu sayang pada Leon, biarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya perlu mendoakan yang terbaik bagi anak-anak." Pak Imran menjeda sebentar kalimatnya. Lalu duduk di ruang kosong sebelah istrinya. "Kalau papa tidak salah ingat, bukannnya kamu ingin sekali Leon cepat menikah? Jadi saat keinginan itu ada di depan mata kenapa tidak biarkan Leon urusi saja urusannya sendiri. Kamu tidak perlu pusing memikirkan masa depan dia lagi." Pak Imran kembali berbicara panjang lebar.
__ADS_1
Laki-laki paruh baya yang merupakan ayah Leon itu sangat berharap jika istrinya akan sadar dan tidak lagi mempermasalahkan hal seperti ini di kemudian hari. Dia benar-benar cukup lelah dengan semua drama yang istrinya lakukan. Menurut pria itu tidak ada salahnya jika Leon memilih menyembunyikan identitas kekasihnya untuk sementara.
Pak Imran bisa memaklumi mengapa Leon tak memberitahu dirinya dan sang istri tentang kedekatannya dengan seorang gadis. Mungkin ada suatu hal yang jadi bahan pertimbangan Leon mengapa tak menceritakan kisah asmaranya kepada dia dan bu Ayu. Dia sama sekali tidak marah karena dianggap tidak dihargai oleh anak bungsunya itu.
Bu Ayu sendiri terdiam mendengar perkataan sang suami. Namun, wajahnya terlihat memerah dengan tangan yang terkepal erat karena masih kesal dengan kelakuan Leon. Ingin berteriak, memarahi Leon, tetapi ia tidak ingin mendengar suaminya terus ceramah.
"Baik, kalau begitu aku tidak akan mencampuri lagi urusan Leon. Aku akan menunggu Leon membawa sendiri kekasihnya itu ke hadapan kita berdua," kata Bu Ayu pasrah. Hanya itu yang dapat dia lakukan sekarang. Cukup lelah kalau harus berdebat dengan suaminya yang terkenal mahir mendebat seseorang.
Pak Imran yang mendengarnya tersenyum tipis sembari mengangguk. Setelah itu suasana ruang keluarga kembali berubah menjadi hening. Di mana Pak Imran kembali fokus pada koran yang sempat diletakkan dia atas meja, sedangkan Bu Ayu kembali berkutat dengan ponselnya.
Meski sudah mengatakan jika dirinya akan berhenti ikut campur urusan Leon, tetapi rupanya bu Ayu tetap melanjutkan aksinya untuk meminta seseorang agar menyelidiki di mana tempat kerja dan alamat indekos wanita yang bersama putranya itu.
Ya, Bu Ayu memang tidak benar-benar dengan ucapannya tadi. Dia mengatakan hal itu hanya agar suaminya tidak lagi berbicara panjang lebar seperti tadi. Kepalanya menjadi pusing karena mendengar perkataan suaminya itu. Jadi, satu-satunya cara agar terlepas dari semua itu adalah mengatakan hal itu.
"Enak saja Bapak bilang untuk tidak ikut campur tentang masalah ini padahal ini sangat penting. Aku gak akan biarin Leon jatuh di tangan wanita yang salah. Karena itu aku harus tahu dari mana asal wanita itu," gumam Bu Ayu lirih.
[Tolong selidiki putera bungsuku--Leon. Sedang dekat dengan siapa dia sekarang. Carikan informasi lengkap mengenai wanita yang tengah dekat dengan anakku ini.]
Bu Ayu tersenyum senang saat pesan yang dia kirimkan pada seseorang yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang wanita yang bersama putranya itu telah membaca pesan darinya. Dia sungguh tidak sabar untuk segera mendapatkan kabar dari orang suruhannya itu.
Bukan apa-apa, hanya saja menurut bu Ayu asal usul seseorang adalah hal yang penting. Karena bagaimana pun sikap seseorang pasti tidak akan jauh berbeda dari lingkungannya di mana dia dibesarkan. Sebagai orang tua, bu Ayu hanya ingin putranya mendapat pendamping terbaik sebagai teman masa tuanya nanti.
Bagi bu Ayu, semua yang dirinya lakukan adalah wajar. Karena itu adalah kekhawatiran seorang Ibu pada putranya. Dia tidak mau masa depan anaknya berantakan karena salah memilih pendamping hidup.
...***...
__ADS_1