Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Buket Bunga untuk Mama


__ADS_3

Malam harinya, sesuai rencana Rayyan dan Arumi akan datang lagi ke rumah sakit dengan membawa Aurora. Gadis kecil itu begitu bahagia mendengar bahwa mamanya tersadar telah bangun dari tidurnya yang panjang.


"Kek, sebelum ke rumah sakit bisa mampir sebentar ke toko bunga? Rora mau beli bunga untuk Mama," ucap Aurora dengan logat khas anak kecil.


Rayyan yang duduk di samping mang Ujang menjawab, "Bisa. Emangnya Rora mau beli bunga apa? Mau kakek bantu pilihin?"


"Ehm, boleh. Tapi Rora cuma punya uang segini. Kira-kira cukup enggak?" Aurora menyodorkan uang lembaran 10 ribu sebanyak lima lembar ke hadapan sang kakek. Uang itu merupakan sisa uang jajannya. Dia segera menyisihkan separuh uang pemberian Ghani untuk dibelikan buket bunga khusus mama tercinta.


Rayyan tersenyum lebar. Diusapnya kepala Aurora dengan penuh cinta.


"Simpan aja uang itu, nanti kakek yang belikan."


Namun, bukannya memasukan kembali lembaran uang tersebut ke dalam dompet kecil yang disampirkan di pundak, Aurora justru menjawab, "Enggak mau, Kek. Kalau pake uang Kakek, itu sama aja Kakek yang beliin. Rora enggak mau beliin sesuatu untuk Mama pake uang orang lain."


"Kenapa begitu? Kakek ini kakek kandungmu, bukan orang lain." Rayyan masih belum mengerti kenapa cucu ketiganya itu enggan menerima tawarannya. Padahal dia berniat baik, tetapi Aurora menolaknya.


Aurora berdecak sebal.


Menyembunyikan lembaran uang di kedua telapak tangan lalu dia melipat tangannya itu di depan dada. "Iih, Kakek enggak ngerti juga ya maksud Rora apa." Aurora membenarkan posisi duduknya sampai ke pinggiran kursi kemudian kembali berkata, "Gini loh, Kek. Rora itu kepingin beliin hadiah untuk Mama, jadi Rora maunya pake uang jajan Rora sendiri. Kalau pake uang Kakek, bukannya itu sama aja Kakek yang beliin."


"Rora itu maunya beli bunga buat Mama, uangnya dari Rora sendiri bukan dari Kakek atau Nenek. Paham?" tandas gadis kecil itu dengan serius.


Aura wajahnya yang tegas mengingatkan Rayyan akan anak pertamanya, Ghani. Saat sedang fokus, sorot matanya terlihat sangat tegas.


"Oh, jadi Rora maunya pake uang Rora sendiri. Begitu?" Arumi mencoba mengutarakan apa keinginan cucunya itu.


"Iya."


"Ya sudah, nanti beli bunganya pake uang Rora aja. Kakek Rayyan cuma temenin kamu, memilih bunga untuk Mama. Sekarang Rora duduk yang manis ya di sebelah nenek."


Aurora mengangguk patuh, menuruti perintah Arumi. Memang hanya Arumi, papa, dan mamanya saja yang dapat membaca isi pikirannya.


***


"Ayo buka mulutmu, Sayang. Aku sengaja minta bagian dapur membuatkan bubur terlezat khusus untukmu." Satu buah sendok makan Ghani sodorkan di depan mulut Queensha.

__ADS_1


Ketika dokter memperbolehkan istrinya makan, Ghani segera meminta bagian dapur untuk membuatkan bubur untuk istri tercinta. Meskipun bubur yang dibuat terasa hambar, tanpa ada tambahan garam apalagi gula, setidaknya Queensha dapat menyantap makanan tersebut dengan nikmat.


"Tapi aku sedang tidak mau makan bubur nasi. Aku ingin makan bubur kacang ijo dicampur mutiara," rengek Queensha. Enggan menyantap makanan di depan mata. Selain malas makan nasi, dia tahu bagaimana rasanya bubur tersebut, pasti rasanya hambar. Oleh karena itu, dia menolak ketika Ghani memintanya membuka mulut lebar.


Ghani tersenyum. Akhir-akhir ini Queensha memang banyak maunya, mungkin bawaan bayi membuat istrinya ingin ini dan itu.


"Iya, aku belikan nanti. Tapi sekarang makan dulu bubur nasi ini, keburu dingin malah tidak enak. Ayo, mana mulutnya. Aaa." Ghani membujuk istrinya agar bersedia membuka mulut.


Melihat bagaimana perjuangan Ghani agar dirinya mau makan, Queensha jadi tidak enak hati. Akhirnya dia luluh dan bersedia menyantap bubur buatan juru masak rumah sakit.


Ghani begitu telaten menyuapinya. Tak hanya menyuapi Queensha makan, tetapi juga membersihkan tubuh si wanita, mengganti pakaian, serta membantunya pergi ke toilet untuk BAB. Setiap gerak gerik Ghani tak luput dari pandangan Queensha.


'Benar kata Mama, kalau Mas Ghani adalah lelaki baik dan perhatian. Kalau tidak perhatian mana mungkin mau susah payah membujukku makan bubur. Dia bisa saja meminta perawat menyuapiku,' batin Queensha. 'Untung saja aku patuh akan perintah Mama, kembali ke dunia ini dan berada di sisi Mas Ghani. Jika tidak, pasti akan banyak wanita mengincar posisiku, menggantikan posisiku sebagai Nyonya Ghani dan ibu bagi Rora.'


Suara pintu terbuka, menarik perhatian Ghani dan Queensha. Keduanya menoleh, mendapati putri pertama mereka melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa buket bunga krisan di kedua tangan.


"Mama!" Gadis kecil dikepang dua berhambur mendekati pembaringan. "Rora seneng Mama udah bangun. Oh ya, Rora bawain bunga buat Mama. Semoga Mama suka."


Aurora menyodorkan buket bunga itu ke hadapan sang mama. Matanya mengerjap-ngerjap disertai senyum kebahagiaan terlukis di wajah.


Ghani meletakkan buket bunga itu di atas nakas samping tempat tidur, kemudian membantu Aurora duduk di sofa. Dia menyalakan televisi, mencari channel khusus anak-anak untuk putrinya.


Rayyan menarik kursi dan mempersialakan istrinya duduk. "Bagaimana keadaanmu, Sha, sudah baikan? Maaf, kami baru sempat datang ke sini."


"Jauh lebih baik dari sebelumnya, Yah. Cuma memang badanku masih lemas, tidak bisa banyak bergerak. Tadi Rara bilang, aku suruh bed rest total selama seminggu sampai dua minggu. Dokter kandunganku pun bilang, kondisi ketiga janin dalam keadaan baik. Mereka kuat setelah diberi obat penguat kandungan."


Terdengar helaan napas lega. "Alhamdulillah, bunda senang mendengarnya. Sementara waktu, kalau kamu mau bisa tinggal di rumah bunda dulu. Di sana ada Tina, Ijah, dan beberapa asisten rumah tangga lainnya yang siaga melayani kamu kalau butuh apa-apa. Kalau tinggal di apartemen, bunda takut kamu malah tidak terurus. Apalagi Budhe Anah tidak tinggal di sana, dia cuma datang lalu pulang lagi kalau pekerjaan selesai dikerjakan. Ada bunda juga yang bisa rawat kamu selama bed rest total."


"Yang dikatakan Bundamu benar, Sha. Kami berkata begini karena mengkhawatirkanmu dan juga dengan kondisi tiga janin dalam perutmu. Kalau terjadi pendarahan lagi, tidak menutup kemungkinan kamu kehilangan mereka untuk selamanya."


Arumi segera menepuk pelan lengan suaminya. Perkataan Rayyan terlalu to the point, tidak sepantasnya berkata begitu di depan Queensha yang baru saja melewati masa kritis.


"Kenapa? Aku hanya berkata apa adanya. Menantu kita banyak kehilangan darah, jika keguguran lagi belum tentu ketiga cucu kita selamat."


Arumi gemas sendiri dengan sikap Rayyan. Suaminya itu terkadang suka ceplas ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain. Beruntungnya Queensha tak memasukan ucapan Rayyan ke dalam hati sebab semua perkataan ayah mertuanya itu ada benarnya juga.

__ADS_1


"Terima kasih atas tawaran Ayah dan Bunda. Jika memang Ayah dan Bunda tidak keberatan maka aku bersedia pindah ke rumah utama sampai kondisiku membaik. Ya, itu pun kalau tidak merepotkan Ayah dan Bunda."


"Merepotkan apa, sih. Kami malah senang jika kamu mau tinggal di rumah utama. Kamu bisa fokus dengan kesehatan, sementara Rora bisa bunda, Ayah yang urus."


"Kalau begitu, setelah kondisi Queensha pulih dan dokter memperbolehkannya pulang, aku akan mengantarkan istriku ke rumah utama." Ghani terlibat dalam percakapan yang melibatkan orang tua dan istrinya tercinta.


"Ide bagus. Nanti ayah mintakan Tina menyiapkan kamar di lantai bawah agar Queensha tidak perlu turun naik tangga jika memang memaksanya berada di lantai satu," kata Rayyan.


Kedua mertua Queensha berpamitan. Mereka pulang ke rumah saat melihat Aurora mulai mengantuk.


"Hati-hati di jalan, Yah, Bun. Minta Mang Ujang untuk tidak ngebut."


"Hmm. Kamu jaga Queensha dengan baik. Kalau ada apa-apa, bisa minta tolong Dokter Hanna merawatnya. Calon adik iparmu itu bisa diandalkan juga." Rayyan menepuk pundak sang anak. "Ya sudah, kalau gitu kami pulang dulu. Assalamu a'laikum."


"Wa'alaikum salam," jawab Queensha dan Ghani bersamaan.


"Dedek bayi, kakak Rora tinggal dulu ya. Sampai jumpa. Muach!" Aurora memberi kiss bye pada ketiga adik bayinya yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki.


Ghani membantu Queensha rebahan lagi di atas ranjang rumah sakit. Menarik selimut sampai ke batas dada. Dia pula menyalakan mesin humifier bertujuan agar tidur Queensha lebih nyenyak.


"Oh ya Mas. Kenapa aku belum melihat Lulu dan juga Mas Leon, apa mereka belum tau kalau aku sudah siuman?" tanya Queensha. Sedikit keheranan mengapa sepasang anak manusia itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Aku larang mereka datang ke sini. Itu ganjaran karena mereka berdua ceroboh, tidak bisa menjalankan amanah dengan baik," jawab Ghani santai.


Sontak mata Queensha terbelalak. "Apa? Kamu melarang mereka datang ke sini. Kenapa, Mas? Bukannya kamu tau kalau kesalahan terletak kepada Andri, bukan Lulu apalagi Mas Leon."


"Sama saja. Andai sahabatmu dan sahabatku yang bodoh itu lebih aware, pasti kejadian ini tidak terjadi. Kamu tidak mengalami pendarahan dan tak perlu dirawat di rumah sakit."


"Tapi tetap saja kamu tidak seharusnya melarang mereka datang ke sini. Aku--"


"Cukup, Sha. Aku tidak mau bertengkar denganmu. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Selamat malam." Tanpa memberi kesempatan pada Queensha, Ghani mematikan lampu utama di ruangan. Kemudian pria itu merebahkan tubuh di kasur yang tak jauh dari ranjang pasien. Malas sekali membahas dua orang itu. Lebih baik tidur sebab tubuhnya terasa letih sekali.


Queensha menggeleng-geleng lemah. "Ck ck ck, keras kepala. Sudah diberitahu bukan salah mereka, tetep saja ngotot."


...***...

__ADS_1


__ADS_2