
"Sha, udah ditungguin Koko tersayang tuh."
Suara lembut itu mengalihkan perhatian Queensha dari tumpukan nampan di atas meja. Kepala mendongak demi melihat wajah sang sahabat. Saat pandangan mata keduanya beradu, Queensha tersenyum simpul hingga semburat rona merah muda terpancar di antara kedua pipi. Merasa malu karena Lulu mengetahui panggilan kesayangan yang ia berikan kepada calon suaminya, Ghani.
Sontak semua orang yang berada di dapur menoleh hampir bersamaan ke arah Queensha. Kedua alis saling tertaut satu sama lain, memandang penuh tanda tanya kepada wanita itu. Selama Queensha bekerja di restoran cepat saji, mereka tak pernah sekalipun mendengar kabar bahwa rekan kerjanya itu mempunyai seorang kekasih jadi mereka beranggapan bahwa rekan kerjanya itu adalah jomlo sejati. Namun, anggapan itu seakan terbang ditiup angin kala mendengar perkataan Lulu barusan.
"Lo semua kenapa? Kok kayak terkejut begitu saat gue bilang Queensha lagi ditunggui seseorang. Apa kalian berpikir kalau sahabat gue ini perawan tua yang enggak bakalan laku, iya?"
Lulu melipat kedua tangan di depan dada. Menaikkan dagu ke atas dan bersikap arogan sebab ingin menampar rekan kerjanya yang secara terang-terangan menghina Queensha. "Asal kalian tahu, banyak lelaki yang ngantri jadi pacar Queensha. Namun, sahabat gue sangat selektif dalam memilih cowok, enggak sembarangan nerima begitu aja. Jadi siapa pun di antara kalian yang masih bergosip tentang Queensha, mulai sekarang berhenti dan jangan pernah ngurusin kehidupan pribadi sahabat gue."
Queensha melepas tali celemek yang melingkar di pinggang kemudian menggantungnya di dinding. Segera melerai sebelum terjadi keributan di dapur.
"Udah, Lu, jangan marah-marah mulu! Mendingan sekarang lo temenin gue, yuk." Tanpa banyak basa basi Queensha merangkul lengan Lulu dan menggandengnya keluar dapur.
"Kamu kenapa sih, Lu, sejak tadi pagi kuperhatiakan emosimu tidak terkendali. Apa kamu sedang PMS?" tanya Queensha.
Lulu menoleh selama beberapa detik, kemudian menjawab, "Gue cuma kesal aja sama si Tiara dan Dewi. Mereka gemar banget ngatain lo perawan tua. Mentang-mentang selama ini lo enggak dekat dengan siapa pun mereka seenaknya aja menghina orang lain."
Queensha tersenyum lebar. "Oh, jadi karena masalah itu! Udahlah, enggak perlu dibahas lagi toh aku sendiri enggak keberatan dengan ucapan mereka. Mereka mau berkata apa, silakan, aku mencoba untuk tak peduli dengan orang lain. Jadi kamu pun harus demikian, jangan dengarkan apa kata mereka."
Lulu berdecak kesal. Walaupun masih geram akan perbuatan rekan kerjanya itu, tapi kalau Queensha sudah memintanya untuk berhenti maka ia tak dapat berbuat apa-apa selain menurutinya.
"Oke, tapi kalau sampai gue denger mereka ngatain lo perawan tua maka gue harus bertindak!"
__ADS_1
***
Ghani menyambut kehadiran Queensha. Tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ia bawa tubuh sintal itu dalam pelukan. "Saya sangat merindukanmu, Sayang."
Queensha tersenyum geli dibuatnya. "Gombal! Baru tadi pagi video call, masa udah kangen lagi sih. Mas Ghani pandai sekali merayuku."
Pria berwajah oriental terkekeh pelan. "Sekali-kali gombal kepada calon istri sendiri, tidak masalah, 'kan?"
"Tidak sih. Hanya terdengar sedikit weird karena Mas Ghani adalah tipikal pria dingin dan tak banyak tersenyum. Jadi saat merayuku seperti tadi aku jadi geli sendiri."
Sontak sepasang kekasih itu tertawa terbahak. Tubuh mereka bergerak turun dan naik. Akibat suara tawa yang terdengar keras, beberapa orang yang sedang lalu lalang memandang aneh ke arah mereka.
Queensha mengatupkan bibirnya yang ranum ketika menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Merangkul lengan Ghani dan berbisik, "Mas, sebaiknya kita ke mobil. Aku tidak nyaman diperhatikan seintens itu oleh mereka." Sepasang mata sipit menyapu keadaan sekitar.
Sepanjang perjalanan, Queensha menyenderkan kepalanya di bahu Ghani. Sesekali mereka beradu pandang lalu tersenyum simpul seperti anak remaja yang baru mengenal cinta.
"Mas Ghani, perasaan tadi sewaktu kita melakukan video call kemeja yang kamu kenakan berwarna navy lalu kenapa sekarang berwarna coklat. Apa kemejamu terkena bercak darah saat melakukan operasi?"
Setelah sekian lama bersandar di pundak Ghani, Queensha baru menyadari jika pakaian yang dikenakan calon suaminya saat ini berbeda dari yang ia lihat tadi pagi. Karena penasaran Queensha bertanya kepada ayah dari putrinya itu.
Menggaruk kepala yang sebetulnya tidak terasa gatal. Ia dilema antara memberitahu Queensha atau tidak. Apabila tidak ia khawatir Queensha akan salah paham dan membuat hubungan mereka kembali renggang.
Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri. "Bukan terkena bercak darah maupun noda, Sayang, melainkan karena saya tidak sudi terkontaminasi aroma parfum Cassandra."
__ADS_1
Refleks Queensha menjauhkan tubuhnya dari Ghani. Matanya yang sipit melotot ke arah sang calon suami.
"Apa? Jadi tadi kamu menemui wanita itu? Kenapa kamu pergi menemuinya lagi? Apa kamu ingin kembali bersama dia dan mencampakkan aku begitu saja, iya?" cecar Queensha tanpa jeda. Kobaran api cemburu tiba-tiba muncul ke permukaan melahap pertahanan diri Queensha sehingga wanita itu tak lagi dapat mengendalikan diri. Wanita mana sih yang rela bila lelaki yang ia sayangi berhubungan dengan wanita lain di belakangnya.
Ghani menepikan mobil di bahu jalan. Setelah itu mematikan mesin kendaraan demi meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasan saya." Ghani menatap lekat manik coklat milik Queensha. "Saya memang menemui Cassandra barusan, tapi bukan karena ingin berdekatan dengan wanita itu melainkan ingin memperingatkan dia untuk tidak menemui dan mengganggumu lagi. Saya tahu kamu pasti merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Oleh karena itu, saya memintanya datang ke restoran dan sedikit mengancam dia agar berhenti mengusik kehidupanmu."
"Sampai di sini apa kamu dapat menerima alasanku kenapa bertemu lagi dengan Cassandra?" tanya Ghani seraya menyentuh pundak Queensha.
Queensha menganggukan kepala petanda bahwa ia dapat menerima penjelasan Ghani. "Lalu, apa dia bersedia melepaskan aku? Demi Tuhan, aku selalu merasa was-was bila berada di dekatnya. Aura wanita itu sangat menakutkan, Mas."
Ghani mendesaah pelan. "Entahlah, apakah dia bersedia dengan tawaran yang kuberikan atau tidak. Namun, kamu tenang saja, saya tidak akan membiarkan dia menyentuhmu walau seujung kuku pun."
Sepasang mata sipit memicing tajam. "Maksudmu, apa?"
"Saya meminta Yogi mencarikan pengawal untuk menjaga dan melindungimu selama kamu tidak berada di sisiku. Dengan begitu saya harap tak terjadi hal buruk menimpamu. Jujur, saya merasa tidak tenang bila kamu berada jauh dariku, Sha. Saya takut kamu kenapa-kenapa. Oleh karena itu, saya mencarikan bodyguard bayangan yang standby selama 7x24 jam."
Terdengar helaan napas bersumber dari Queensha. "Ya sudah, tidak apa. Walaupun terkesan berlebihan, tapi demi kebaikanku sendiri, aku menerimanya. Terima kasih, Kokoku sayang karena kamu begitu perhatian kepadaku."
Queensha mendekatkan tubuhnya lalu mencium pipi Ghani dengan penuh cinta. "Aku cinta kamu," ucapnya dalam Bahasa Mandarin.
Ghani tersenyum manis di hadapan Queensha. "Aku pun mencintaimu, My Queen."
__ADS_1
...***...