Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pertemuan yang Mengharukan


__ADS_3

Turun dari mobil, Ghani dan Queensha sudah disambut hangat oleh Tina, salah satu pelayan setia di kediaman Wijaya Kusuma. Pendar bahagia terpancar jelas di sepasang mata wanita itu saat bertemu dengan mantan istri dari anak majikannya.


"Selamat siang, Mbak Queensha. Senang bisa bertemu denganmu lagi," kata Tina lembut. Sikapnya tak pernah berubah walau status Queensha sudah bukan lagi istri dari seorang Muhammad Ghani Hanan.


Queensha tersenyum lalu berkata, "Siang, Mbak. Aku juga senang bertemu denganmu lagi."


"Apa Rora sudah pulang sekolah?" tanya Ghani sebelum Tina dan Queensha terlibat percakapan serius. Dia tidak mau waktu yang seharusnya dipergunakan untuk keluarga kecil mereka dibagi dengan orang lain. Sungguh, Ghani tidak mau itu semua terjadi. Dia ingin menghabiskan waktu bersama putri dan wanita yang dicintainya tanpa diganggu orang lain.


Tina bergegas menundukan kepala kala mendengar suara dingin berasal dari anak majikannya. Terlalu bahagia sampai lupa menyapa Ghani.


"Neng Rora sudah pulang sejak dua jam lalu. Para guru di sekolah menghadiri rapat bulanan sehingga seluruh murid TK dari kelas nol kecil hingga nol besar diperbolehkan pulang," papar Tina, menjelaskan kenapa jam segini Aurora sudah berada di rumah. Padahal biasanya gadis kecil itu masih berada di sekolah, ikut les tambahan bersama teman sebayanya.


Ghani menggangguk tanda mengerti. "Aku dan Queensha masuk dulu ke dalam. Tolong kamu buatkan teh chamomile dan bawakan juga puding mangga kesukaan Queensha di lemari es. Jangan lupa dipotong kecil-kecil agar istriku lebih mudah saat mengkonsumsinya."


Refleks Tina mendongakan kepala ketika mendengar Ghani memanggil Queensha dengan sebutan 'istriku' sementara semua orang tahu bagaimana sikap pria itu saat mereka masih berstatuskan suami istri. Tak ada panggilan kesayangan layaknya pasangan suami istri di luaran sana, Ghani memanggil Queensha dengan nama wanita itu sedangkan Queensha memanggil Ghani dengan sebutan 'bapak'.


"Pak Ghani! Jangan sembarangan bicara!" tegur Queensha dengan wajah memerah karena malu. Baru kali ini Ghani dengan lugas memanggilnya 'istriku' di depan orang lain.


Alih-alih menutup mulut, Ghani justru berucap, "Kamu harus mulai membiasakan diri mendengar panggilan itu, Sha. Karena saya yakin cepat atau lambat kamu bersedia menjadi istriku lagi."


"Kepedean banget sih jadi orang!" dengkus Queensha sambil berlalu meninggalkan Ghani. Ghani tidak tinggal diam, dia segera menyusul mantan istrinya, menyamakan langkah mereka menuju tempat di mana Aurora berada saat ini.


Tina memandangi punggung keduanya, lalu sedetik kemudian tersenyum simpul melihat bagaimana tingkah dua anak manusia itu.

__ADS_1


"Aah, aku mesti memberitahu Bu Arumi segera. Beliau pasti senang karena sebentar lagi Den Ghani dan Mbak Queensha rujuk," terkikik sendiri membayangkan betapa hebohnya Arumi saat mendengar berita bahagia ini.


***


Ghani berjalan di depan Queensha meminta wanita itu mengekori di belakang. Bukan tanpa sebab melakukan itu, dia berencana memberi kejutan kecil untuk putri tercinta.


"Rora, Sayang. Papa pulang, Nak!" seru Ghani.


Aurora yang saat itu sedang duduk di kursi kecil ditemani Ijah segera menoleh ke belakang. Tersenyum manis melihat papa tersayang tiba di rumah.


"Papa!"


Teriakan bocah kecil itu membuat bibir Ghani mengulas senyum lebar. Dia meletakkan lututnya di lantai kemudian merentangkan kedua tangan, menerima tubuh mungil sang putri yang terlempar kepadanya.


Membenarkan poni yang sedikit berantakan akibat berhambur dalam pelukan. "Papa sengaja pulang ke rumah karena ingin bertemu denganmu. Papa punya kejutan untukmu. Coba tebak apa kejutannya."


Jari telunjuk Aurora diletakkan di dagu. Matanya yang indah menatap langit-langit ruang keluarga, tampaknya dia sedang berpikir keras kejutan apa yang dipersiapkan papa tercinta.


Suara lembut sedikit cadel berkata, "Enggak tahu, Papa. Memangnya kejutan apa yang mau Papa beri untuk Rora. Apa Papa belikan Rora boneka baru lagi?"


"Enggak dong, masa iya papa beliin kamu boneka lagi sih. Di kamarmu sudah banyak boneka jadi kalau papa beliin lagi penuh dong kamarnya. Nanti kalau Kak Mayumi nginep di sini, bobok di mana coba?"


Jemari kecil itu menepuk kening pelan. "Oh iya, nanti Kak Mayumi enggak bisa temenin Rora menggambar dong kalau kamarnya penuh boneka." Terdengar suara kekehan berasal dari Aurora. "Lalu, kejutan apa, Pa? Rora jadi penasaran nih."

__ADS_1


Ghani mengurai pelukannya lalu menyentuh pundak si kecil sambil berkata, "Lihat, siapa yang berdiri di belakang papa."


"Mama ...." Gadis kecil bermata bulat berteriak histeris melihat Queensha berdiri anggun di belakang tubuh sang papa. "Yeah, papa pulang bersama Mama!" Aurora meloncat-loncat kemudian berlari menghampiri Queensha.


Jemari kecil Aurora menyentuh kedua tangannya. Si cantik jelita yang bercita-cita menjadi arsitektur terkenal beradu pandang dengan Queensha. Mata itu mengerjap dan berkaca-kaca.


"Mama, Rora kangen!" Suara itu terdengar gemetar. Baru berpisah dua hari sudah membuat Aurora sangat merindukan Queensha.


"Mama juga kangen banget sama kamu, Nak. Sini, peluk mama!" Tanpa diminta untuk kedua kali, Aurora melingkarkan tangannya yang mungil di pinggang Queensha. Queensha tidak tinggal diam, wanita itu sedikit membungkuk kemudian membalas pelukan itu dengan sangat erat.


"Rora enggak tahu ya, kalau mama tuh kangen banget sama kamu, Sayang. Tiap mama malam menangis karena dilanda kerinduan yang amat dalam. Hidup mama hampa semenjak kamu pergi dari mama." Queensha menangis sesegukan seraya memeluk erat Aurora. Lelehan air mata terus berjatuhan di antara kedua pipi. Bibir gemetar, dada kembang kempis menahan gejolak rasa yang membuncah hebat di dalam sana.


Suasana ruang keluarga mengharu biru. Ghani dan Ijah membeku menyaksikan pemandangan indah di depan sana. Pertemuan Queensha dan Aurora menyesakkan dada bagi siapa saja yang melihatnya, tanpa terkecuali Ghani. Pria itu terus memperhatikan betapa bahagia bercampur haru saat tangannya itu kembali memeluk sosok malaikat kecil yang pernah tinggal selama sembilan bulan lamanya di rahim Queensha.


Ketika Queensha tengah sibuk melepas rindu dengan putri tercinta, tatapan mata Ghani teralihkan pada seorang pria muda yang sedang melangkah dengan langkah panjang menuju tempatnya berdiri saat ini. Raut wajah pria itu tampak serius menandakan ada hal penting yang ingin segera disampaikan kepadanya.


"Ada apa kamu datang ke sini? Bukannya kamu masih sibuk menyelidiki kasus yang kuminta tempo hari."


Yogi maju beberapa langkah ke depan, membisikan sesuatu kepada Ghani. Detik itu juga mata Ghani terbelalak lebar mendengar penuturan orang kepercayaannya itu.


"Baiklah, kamu ikut denganku ke ruang baca sekarang. Kita bicara di sana agar lebih leluasa."


...***...

__ADS_1


__ADS_2