Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Nasihat Bijak Bu Ayu


__ADS_3

Merasa bersalah, akhirnya Lulu kembali meminta maaf. Sebagai orang tua, sudah pasti bu Ayu merasa tersinggung oleh ucapannya barusan.


"Tidak ada yang kurang pada diri putera Ibu. Mas Leon lelaki baik, perhatian, dan sangat menghormati yang namanya perempuan. Selama kami jalan bareng, dia memperlakukan saya dengan sangat baik. Tidak pernah berbuat macam-macam meski kami berada dalam situasi yang memungkinkan untuk berbuat senonoh, tapi dia tak tergoda sedikit pun dan itu merupakan nilai plus untuk putera Ibu."


"Pokoknya Mas Leon tipe suami idaman semua wanita. Siapa saja yang melihat pasti akan jatuh cinta kepadanya," ucap Lulu jujur. Tidak ada yang direkayasa sedikit pun, semua murni dari lubuk hati yang terdalam.


"Kalau memang anak saya tipe suami idaman, kenapa Nak Lulu tidak menyukainya? Apa ada bagian yang tidak dapat Nak Lulu ceritakan pada saya, apa yang membuatmu tidak suka pada Leon?" Bu Ayu keheranan. Kalau memang anaknya memenuhi semua kriteria kaum wanita, lalu kenapa Lulu tidak punya perasaan sedikit pun pada anak bungsunya itu.


Desahaan berat lolos dari hidup Lulu. "Mas Leon sempurna bahkan bisa dikatakan sangat sempurna untuk saya. Bu Ayu bisa lihat bagaimana pekerjaan saya sekarang. Saya cuma seorang pelayan restoran, sedangkan Mas Leon bekerja di rumah sakit bertaraf internasional sebagai dokter bedah hebat. Lulusan luar negeri, jenjang karir tak bisa diragukan lagi, sementara saya? Saya cuma tamatan SMA, perempuan kampung yang terlahir dari keluarga miskin. Jarak di antara kami terbentang jauh dan sulit untuk dilalui."


"Bagai bumi dan langit, itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan keadaan kami saat ini. Saya takut jika dipaksakan akan berimbah pada hubungan kami. Apalagi ... dengan masa lalu saya. Saya takut Mas Leon ataupun keluarga tidak bisa menerimanya." Kepala Lulu tertunduk. Menahan gempuran ombak menghantam dada. Sudut mata mengembut dan nyaris jatuh membasahi pipi.


Bu Ayu semakin mengerutkan kening sebab orang kepercayaannya tak menyebutkan akan insiden yang terjadi empat tahun lalu.


"Masa lalu? Masa lalu yang bagaimana yang Nak Lulu maksud? Ceritakan pada saya biar saya bisa tahu apa yang membuatmu ragu membawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius lagi." Jiwa kepo Bu Ayu kembali muncul ke permukaan. Entah sampai kapan sifat buruknya itu akan menghilang untuk selamanya.


Mencengkeram telapak tangan yang ada di atas pangkuan. Tak mampu menceritakan masa lalunya kepada orang lain karena itu merupakan aib bagi diri Lulu.


"Maaf, untuk masalah itu saya tidak bisa jelaskan. Namun yang pasti, saya merasa jika diri saya tak pantas untuk bersanding dengan putera Ibu." Bibir Lulu gemetar. Susah payah menahan diri untuk tidak menangis di depan orang lain.

__ADS_1


Memejamkan mata sejenak seraya membuang napas berat. Kesal karena tak dapat mengorek informasi lebih dalam tentang gadis di hadapannya.


"Saya tidak tau masa lalu apa yang Nak Lulu maksud. Namun, pesan saya, jangan jadikan itu sebagai alasanmu untuk menolak keberadaan seseorang di sekitarmu apalagi ditambah dengan alasan-alasanmu yang tak masuk akal. Nak Lulu bilang kalau ada jarak terbentang luas di antara kalian, menurut saya itu omong kosong. Saya maupun suami, tak pernah memandang seseorang dari status dan juga latar belakang keluarganya."


"Kalau memang anak saya suka sama kamu dan mau serius, kenapa saya dan suami mesti menentang. Kalau memang status sosial dan masa lalu yang jadi halangan kalian, saya rasa setiap orang punya masa lalu berbeda-beda. Saya, kamu, anak saya ataupun orang di luaran sana pasti punya masa lalu yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun. Hanya saja kita tidak pernah tau akan masa lalu mereka karena Tuhan dan mereka sendiri menyembunyikannya dari siapa pun."


Bu Ayu menatap Lulu yang masih tertunduk di seberang sana. Hati kecil mengatakan masa lalu gadis itu cukuplah menyakitkan sampai membuat Lulu tak mampu menatap wajahnya.


"Nak Lulu pikir, saya tidak tau bagaimana masa lalu Queensha, sahabat kamu. Saya dan Dokter Arumi cukup dekat sehingga tak ada satu rahasia pun yang kami sembunyikan. Dari dia saya belajar untuk bisa menerima masa lalu seseorang meskipun masa lalu itu menyakitkan, tapi kita mesti menerimanya. Anggap saja sebagai bagian dari kisah hidup kita."


Jantung Lulu rasanya berhenti berdetak. Tak pernah menyangka kalau bu Ayu akan menyikapinya secara bijak. Ia pikir bu Ayu seperti ibu-ibu di sinetron yang sering ia tonton. Membenci calon menantu karena miskin dan punya masa lalu yang cukup kelam.


Tangan bu Ayu terulur ke depan. Ia sentuh punggung tangan Lulu dengan pelan. "Saya tidak mau memaksakan Nak Lulu untuk membuka sedikit hatimu untuk putera saya, Leon, karena semua keputusan ada di tanganmu. Namun, jika memang di hatimu ada setitik perasaan suka pada Leon, jangan ragu untuk mengakuinya. Jangan jadikan status sosial dan masa lalumu menghalangi kebahagiaanmu. Life must be go on!"


Bu Ayu tersenyum lebar. Dua pasang mata saling menatap satu sama lain. Detik berikutnya wanita paruh baya itu menggeleng kepala. "Sama sekali tidak. Mau Leon dekat dengan siapa pun, saya tidak akan menghalanginya. Selagi dia bahagia maka saya akan ikut bahagia. Karena bagi saya, kebahagiaan anak di atas segalanya."


***


Bu Ayu menggenggam tangan Lulu dengan erat. Kedua wanita itu berjalan bersisian menuju pintu keluar restoran. Ibu dua orang anak tampak begitu senang dapat bertemu dengan gadis yang mungkin saja sebentar lagi jadi menantunya.

__ADS_1


"Nak Lulu, kalau saya bosan di rumah, boleh, tidak main ke indekosmu? Saya kadang suka bingung mau pergi ke mana kalau lagi gabut di rumah. Pergi ke mall, cuma ngabisin uang doang."


"Boleh, Bu. Nanti kabari saja kalau mau datang ke rumah, takutnya saya kebagian shift pagi atau siang."


Dua wanita itu berdiri di depan pintu masuk restoran. Sedikit menepi dari banyaknya orang lalu lalang.


"Ibu senang sekali bisa kenalan sama kamu. Walaupun nanti kamu dan Leon tidak berjodoh, ibu harap kita masih bisa dekat seperti ini." Bu Ayu memeluk Lulu dengan erat, seperti tengah memeluk putri kandungnya sendiri.


"Ibu pamit dulu, Nak. Sampai ketemu di lain kesempatan." Bu Ayu melambaikan tangan di hadapan Lulu, yang dibalas hal serupa.


Lulu tersenyum. Hati menghangat mendapat perlakuan baik dari wanita asing yang baru saja dikenalnya. "Ternyata sifat welas asih yang dimiliki Leon, diwariskan dari ibunya. Didikan serta kasih sayang Bu Ayu, menjadikan Leon pria yang sangat baik. Gue udah salah besar, nuduh Leon yang bukan-bukan."


Terkikik geli saat membayangkan awal pertemuannya dengan Leon dulu. Lalu tanpa sadar Lulu menyentuh pipinya yang dulu sempat dicium Leon.


"Gila! Kayaknya gue udah mulai gila karena mikirin itu cowok!" Memukul kepala dengan pelan. Hati deg-dengan merasakan betapa hangatnya bibir Leon saat menyentuh permukaan pipi.


"Sadar, Lu, jangan jadi orang kayak hilang akal gitu, deh. Mending sekarang lo masuk, terus kerja lagi. Ingat skincare, kiriman orang tua, enggak ditanggung BPJS."


Sementara itu, Leon baru saja tiba di tempat kerja Lulu. Ia turun dari mobilnya sambil membawa bungkusan bening di tangan.

__ADS_1


"Moga aja dia suka sama makanan yang gue bawa," kata Leon penuh harap-harap cemas. Ia membawakan nasi Padang lengkap dengan rendang, sambal, dan daun singkong khusus untuk Lulu. Tak lupa, ia juga membelikan vitamin agar tubuh Lulu tidak mudah nge-drop.


...***...


__ADS_2