
Saat Ghani menyuarakan keinginannya, Arumi tak bisa menerima permintaan putranya itu. “Tapi, kenapa? Rumah peninggalan nenekmu sangat luas dan berbagai fasilitas tersedia di sana. Ada home theater, kolam renang khusus anak-anak, sauna, dan masih banyak lagi, semua itu tersedia di rumah kita. Apa kamu tega membiarkan orang tuamu tinggal sendiri di rumah sebesar itu?” ucap Arumi dengan mata berkaca-kaca.
Rumah yang ditinggali Arumi dan suaminya memang amat besar. Rumah ini adalah rumah peninggalan Mei Ling, mertua Arumi. Arumi berpikir daripada Ghani, Queensha, dan Aurora repot-repot mencari tempat tinggal baru, mereka bisa tinggal di sini. Toh banyak kamar di rumah ini yang masih kosong.
Untuk masalah privasi pun tentunya akan terjaga. Arumi bukan tipe orang tua yang suka ikut campur. Jadi, Ghani dan Queensha bisa membina rumah tangga tanpa harus memikirkan tempat tinggal. Uang mereka bisa ditabung untuk keperluan lainnya, misalnya saja untuk pendidikan Aurora kelak.
Sayangnya, Arumi harus menelan pil kecewa saat Ghani bersikeras tak ingin tinggal serumah dengan orang tuanya.
“Kami ingin mandiri, Bun. Kami bukannya ingin memutus silaturahmi dengan Ayah dan Bunda hanya saja, aku mau mulai hidup mandiri, mengerjakan apa pun tanpa perlu merepotkan orang lain." Ghani mengatakannya dengan lembut agar Arumi tak merasa sakit hati.
“Namun, bunda akan lebih merasa lega kalau bisa melihat Rora setiap hari. Bunda ingin selalu bermain dengan cucuku, apa itu salah?" Arumi masih menunjukkan mimik sedih.
Ghani tersenyum. Dia menepuk pelan lengan Arumi. “Aku paham Bunda sangat menyayangi Aurora. Tenang saja, kami pasti akan sering-sering berkunjung ke rumah sehingga Bunda tidak kesepian lagi. Jadi, apa Bunda mengizinkan kami punya tempat tinggal sendiri?”
Arumi menatap Ghani, Queensha, dan Aurora bergantian. Dia tak menyangka acara makan malam ini harus membuat dirinya memutuskan pilihan yang amat sulit.
Sebagai orang tua, Arumi selalu ingin memberi kemudahan bagi anaknya. Meski Ghani sudah dewasa, tapi di matanya Ghani tetaplah anak kecil. Sudah menjadi insting bagi orang tua untuk berusaha membahagiakan sang anak dan menghindarkan mereka dari kesusahan.
Melihat keraguan dari dalam diri sahabatnya, Rini membuka suara. Bukan ingin ikut campur, tapi hanya ingin memberikan sedikit nasihat untuk Arumi.
“Arumi, lebih baik kamu mengabulkan permintaan Ghani.” Rini selaku sahabat Arumi ikut unjuk suara. Kebetulan wanita itu diundang untuk makan malam bersama.
“Tapi, Rin, aku ...." Arumi hendak protes, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
“Aku tahu maksudmu baik,” sambung Rini. "Namun, Ghani sudah dewasa berhak menentukan sendiri masa depannya bersama istri dan juga anak-anaknya. Selain sebagai anakmu, dia juga kepala keluarga sekarang yang harus dia prioritaskan adalah keluarga kecilnya. Kalau dia ingin punya rumah sendiri, kamu harus menghargai keputusannya.”
Arumi sedikit tertohok mendengar kata-kata Rini itu. Benar juga. Ghani sudah menjadi kepala keluarga. Yang harus dia utamakan adalah kebahagiaan keluarganya bukan hanya orang tuanya.
“Aku setuju dengan kata-kata Rini,” cetus Rayyan. “Toh Ghani bukannya pindah ke planet lain. Dia masih bisa kita temui.” Rayyan setengah bercanda, terdengar garing, tapu berhasil membuat senyuman samar mengambang di bibir sang istri.
Arumi tersenyum kecil mendengar candaan suaminya. “Baiklah. Sepertinya aku kalah suara. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Nak. Kalian boleh pindah rumah, hidup mandiri tanpa perlu merepotkan siapa pun. Bunda dukung keputusan kalian." Akhirnya dia mengalah setelah berpikir dengan matang.
Ghani menghela napas lega. “Terima kasih, Bunda.”
Arumi tersenyum. Ditatapnya Queensha dan Aurora. Asal menantu dan cucunya bahagia, Arumi akan mengalah. Toh ini semua demi kebaikan bersama, bukan dirinya semata.
Akhirnya, makan malam pun kembali dilanjutkan. Perbincangan ringan mengalir di meja makan antara Arumi, Rayyan, Rini, Ghani, Queensha, juga Aurora. Tawa canda beberapa kali terdengar. Terutama saat Aurora bermain tebak-tebakan yang tak bisa ditebak yang lainnya.
__ADS_1
“Jadi, nggak ada yang tahu ikan apa yang bikin kepala meledak?” tantang Aurora di tengah kegiatan mereka menyantap hidangan di atas meja makan.
“Hmm, apa ya? Ikan gabus?” Ghani ikut kebingungan dan menjawab dengan asal pertanyaan Aurora.
“Salah! Masa sih nggak ada yang tahu?”
Semua yang ada di meja makan ikutan bingung menjawab. Akhirnya, mereka pun menyerah.
“Apa sih jawabnya?” Rayyan menggaruk kepalanya, penasaran sekali dengan tebak-tebakan cucunya.
“Jawabannya … FISH-IKA. Kata orang dewasa, pelajaran itu sangat sulit dan bahkan sering membuat kepala mereka seperti berasap karena sulit untuk dipelajari.” Aurora menirukan jawaban yang pernah didengarnya dari kakak tingkatnya, padahal dia sendiri tidak tahu fisika itu adalah pelajar apa.
“Ya ampun, jadi jawabannya fisika, toh.” Tak urung, Queensha tergelak. Dia sadar memang pelajaran itu bikin kepala meledak dan berhubungan dengan ikan (bahasa Ingggris ikan adalah fish).
“Hahaha, boleh, boleh.” Arumi yang dari tadi berwajah datar gara-gara bingung memikirkan jawaban cucunya, langsung tertawa sampai berurai air mata.
Melihat semua yang ada di meja makan tertawa, Aurora cuma menyunggingkan senyum usil. Meski itu cuma tebak-tebakan kecil, tapi dia senang sudah membuat semuanya tertawa.
***
"Mas, aku mau menyusul Bunda. Tolong jaga Rora sebentar, takut dia menangis karena mencariku."
Ghani mengangguk. "Iya, hati-hati jangan sampai terjatuh." Pria itu mencoba memperingatkan karena tahu penglihatan Queensha sedikit bermasalah disebabkan oleh matanya yang minus.
Queensha berjalan, menyusuri jalanan setapak yang terbuat dari kayu menuju sebuah taman yang sengaja disediakan pihak restoran untuk para pelanggannya. Ada arena permainan anak, kursi taman, serta air mancur dengan bagian puncak terdapat miniatur wanita tua berkebaya membawa kendi yang dari kendi tersebut menguarkan air, jatuh ke bawah.
Wanita cantik bermata sipit duduk di kursi kosong sebelah sang bunda. "Apa yang sedang Bunda pikirkan? Apa Bunda masih memikirkan masalah tadi?"
Arumi mengangguk. Tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya di depan sang menantu. "Bunda cuma takut, kalian di luaran sana akan kesusahan walau bunda tahu, Ghani pasti bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya, tetap saja rasa takut itu masih ada dalam diriku. Bagaimana jika Rora sakit, siapa yang akan merawatnya? Apa kamu tidak kerepotan mengurus rumah, suami dan anak dalam waktu bersamaan? Bagaimana jika kamu sakit, sementara Ghani bekerja, siapa yang akan merawat cucuku?" Dia luapkan segala kegundahannya kepada Queensha.
Queensha meraih tangan Arumi, kemudian menaruhnya di atas pangkuan. "Aku bisa mengerti perasaan Bunda, kok. Untuk pertanyaan Bunda, aku dan Mas Ghani sudah mengantisipasinya. Kami berencana mempekerjakan asisten rumah tangga yang mengurus kebutuhan rumah tangga, sedangkan aku akan fokus mengurus Mas Ghani dan Rora. Aku merasa bisa mengurus bayi kecil dan bayi besarku dalam waktu bersamaan."
"Kalau misalkan aku sakit, aku kan punya Bunda, yang dapat membantuku menjaga Rora. Bunda dan Ayah bisa datang ke apartemen untuk menemani Rora selama aku sakit."
Arumi tersenyum mendengar jawaban Queensha. Kegundahan yang sempat dia rasakan, perlahan memudar.
"Sha, sekarang kamu sudah menjadi istri sahnya Ghani. Ghani adalah putra kesayangan bunda. Karena Ghani bersikeras untuk pergi dari rumah ini, bunda minta padamu untuk merawatnya dengan baik. Bunda titipkan putra kesayanganku padamu, Queensha.”
__ADS_1
Queensha terkejut. Matanya melotot dan jantungnya terasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Akan tetapi, dia bisa dapat dengan segera menguasai dirinya lagi.
“Bunda, selamanya Ghani tetap menjadi milik Bunda, kok."
Arumi menggeleng. “Tidak, Queensha. Bunda sadar harus sepenuhnya melepas Ghani. Dia sudah dewasa san berumah tangga. Karena sebentar lagi kalian pinsah, bunda minta padamu untuk membahagiakannya sepenuh hati. Jangan pernah menyakiti dirinya. Apa kamu bersedia?”
“Tentu saja bersedia. Aku akan berusaha membahagiakan Mas Ghani karena dia pula selalu mencoba membahagiakanku, Bun."
“Aku tahu Ghani bukan manusia sempurna. Kalau ada masalah, segera rundingkan. Jangan gengsi untuk meminta maaf, ataupun memaafkan. Hanya itu cara supaya rumah tangga bisa bertahan lama."
Queensha mengangguk mantap. “Iya, Bunda. Terima kasih nasihatnya. Aku akan melakukannya." Queensha memeluk Arumi erat.
Tanpa sepengetahuan Arumi dan Queensha, rupanya sedari tadi Ghani mendengar pembicaraan mereka. Karena Arumi dan Queensha tak kunjung kembali, sementara Aurora merengek ingin bersama mamanya, Ghani berniat menyusul. Saat itulah dia mendengar obrolan Arumi dan Ghani.
Melihat Arumi dan Ghani berpelukan, spontan Ghani mendekat dan memeluk keduanya. Arumi dan Ghani sampai terkejut dengan perbuatan Ghani tersebut.
“Ghani?"
“Mas Ghani?"
Kedua wanita itu berkata hampir bersamaa.
Ghani tersenyum. “Aku sayang kalian berdua. Aku tidak akan mengecewakan Bundaku tersayang dan istriku tercinta,” ucap Ghani dengan bibir gemetar. Malam ini, dia menjadi lebih emosional dari biasanya mungkin karena suasana mendukung sehingga dia jadi sedikit melow.
Queensha dan Arumi tersenyum. Mereka tahu kata-kata Ghani itu sangat tulus.
“Bunda, aku janji akan sering-sering ke rumah untuk menemui Bunda dan Ayah. Aku tidak akan menjauhkan Aurora dari Kakek dan Neneknya. Aku janji, Bunda.”
“Iya, bunda mengerti." Arumi tersenyum. Matanya terpejam. Kini, dia sudah merelakan sepenuhnya Ghani pergi untuk menempuh jalan hidupnya sendiri bersama Queensha, juga Aurora.
Setiap orang tua pasti akan merasakannya. Akan ada masa mereka melepas anak-anak mereka menuju dunianya sendiri.
Sama seperti Ghani. Laki-laki itu kini sudah menjadi dokter dan direktur rumah sakit. Itu adalah jalan hidupnya. Dunianya. Arumi bahagia atas karir yang ditempuh putranya.
Arumi tak perlu takut kehilangan. Ghani selamanya akan jadi putranya, di mana pun dia berada. Meski dia memiliki keluarganya sendiri, dia percaya puteranya akan menepati janji.
...***...
__ADS_1