
Sebagai seorang ibu, saat sedang berbulan madu bersama Ghani ke Maldives ataupun berada di Jepang, kadang ada saat di mana Queensha tak mampu menahan rasa rindu kepada anak semata wayangnya, Aurora. Seperti sekarang ini, sejak pagi Queensha sudah heboh ingin menghubungi Arumi agar bisa melihat Aurora untuk menuntaskan kerinduannya.
“Ini masih jam enam pagi, Sayang. Kalau kamu menghubungi Bunda sekarang, percuma saja sebab Aurora pasti juga masih tidur karena di Indonesia masih jam empat dini hari."
Queensha merengut. Terlebih ketika wanita itu menyadari jika apa yang baru saja Ghani katakan adalah fakta, bukan sekadar omong kosong belaka. Karena terlalu merindukan putrinya membuat Queensha untuk sesaat lupa jika perbedaan waktu Jepang – Indonesia kurang lebih dua jam.
“Sudah, sini tidur lagi!” bujuk Ghani seraya menepuk-nepuk sisi ranjang kosong yang biasa menjadi tempat istrinya berbaring.
Queensha menurut dan menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas yang ada di samping tempat tidur sebelum kembali berbaring di sisi Ghani. Walaupun ada rasa enggan untuk melanjutkan kembali mimpi indahnya yang sempat terganggu akan bunyi alarm, tetapi ia tetap mematuhi perintah suami tercinta.
Mencoba memejamkan mata, tetapi usahanya sia-sia. Queensha membalikan badan ke sisi kanan dan kiri, mencari tempat ternyaman agar dapat lekas kembali pergi ke alam mimpi. Akan tetapi, ia juga tak kunjung dapat memejamkan matanya yang sipit.
'Duh, kenapa aku kepikiran Rora terus, ya? Semoga tidak terjadi apa-apa kepada putriku.'
Seolah mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh istrinya, Ghani pun membawa Queensha dalam dekapan. Mengusap-usap punggung itu, mencoba memberi sedikit ketenangan kepada sang istri tercinta. “Jangan terlalu mencemaskan Rora. Aku yakin kalau putri kita baik-baik saja di sana," ujar Ghani mencoba meyakinkan. “Bunda atau Ayah pasti akan langsung menghubungi kita kalau memang terjadi sesuatu kepada Rora. Belum lagi Zahira yang ikut membantu menjaga Rora selama kita berbulan madu. Anak kita dikelilingi orang-orang baik yang bersedia melakukan apa pun hanya untuk memastikan dia baik-baik saja, Sayang. Jadi tolong berhentilah mencemaskan keadaan Rora."
Ghani menghela napas panjang sambil terus mendekap Queensha, sedangkan wanita itu memilih bergeming dan tak menanggapi apa yang baru saja dikatakan suaminya. Ghani dibuat kebingungan, tak tahu harus melakukan apa agar suasana hati istrinya yang mendung kembali cerah.
“Bagaimana kalau ternyata keadaan Rora tidak baik-baik saja? Apa kamu bisa menjamin keselamatan putri kita, Mas?"
Ghani menyentuh kedua bahu Queensha, memandangi bola mata coklat nan indah. "Katakan, apa yang membuatmu begitu mencemaskan Rora? Bicaralah dengan jujur, Sha."
"Aku mimpi buruk, Mas. Mimpi kalau Rora sedang dalam keadaan kesusahan. Aku takut terjasi sesuatu kepada Rora. Oleh karena itu, aku begitu mencemaskan keadaan putri kita," aku Queensha. Setelah sekian lama memendam, akhirnya ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ghani terdiam beberapa saat. Sebenarnya tak begitu percaya dengan hal seperti itu. Namun, Queensha begitu percaya sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara logika, bagi Ghani mimpi tak lebih dari sekadar bunga tidur. Bisa jadi kita memimpikan sesuatu karena terlalu memikirkannya hingga membuat hal itu terbawa ke alam bawah sadar.
Alih-alih melontarkan apa yang ada dalam benaknya, Ghani memilih tak berkomentar banyak. Takut salah bicara. Jika itu terjadi, bisa-bisa Queensha yang sedang benar-benar merindukan putri mereka merajuk dan kembali merengek minta pulang lebih awal dari apa yang sudah mereka rencanakan.
“Bisa jadi itu hanya bunga tidur, Sayang. Aku yakin 100% kalau Rora tidak mengalami hal buruk apa pun saat kita tinggalkan."
__ADS_1
Queensha mendongakkan wajah hanya untuk menatap Ghani dengan tatapan sebal. “Mas meragukan firasatku sebagai seorang ibu?”
Diam-diam Ghani hanya bisa mengerang frustrasi dalam hati saat menyadari jika dirinya telah salah bicara. Terkutuklah mulutnya yang enggan diajak bekerja sama.
“Maksud aku bukan begitu, Sayang. Aku-"
Beruntung di saat genting itu ponsel Ghani yang ada di atas nakas berdering. Membuat Ghani bisa sedikit bernapas lega. Untung saja selama berbulan madu pria itu tak pernah membiarkan ponselnya dalam mode silent karena takut terjadi sesuatu di Indonesia selama mereka pergi berbulan madu.
Queensha memicingkan mata curiga saat melihat wajah suaminya yang berubah cerah begitu mendapatkan panggilan telepon. “Siapa?” tanyanya.
“Panggilan video dari Bunda,” sahut Ghani memberitahu.
Sama seperti Ghani, mendengar jika ibu mertuanya menelepon lebih dulu membuat Queensha antusias. “Buruan angkat, Mas!" titah wanita itu sebelum di seberang sana Arumi memutuskan panggilan.
Ghani mengiyakan tanpa suara.
"Bagaimana kabar kalian di sana? Bunda harap Jepang tak membuat anak dan menantuku kapok untuk pergi berbulan madu ke sana."
"Alhamdulillah, kabar kami baik-baik saja, Bun. Tentu saja tidak, Bun. Aku bahkan berencana ingin mengajak serta Rora pada kesempatan selanjutnya. Sudah lagi juga, aku tak mengajak dia berlibur," sahut Ghani.
"Hmm, aturlah sesuka hati kalian. Bunda tak bisa ikut campur dalam urusan pribadimu, Nak. Oh ya, bunda mau kasih tahu kalau hari ini Rora dan teman-teman sekelasnya akan pergi ke kebun binatang. Sejak semalam dia riweh, meminta Tina dan Ijah menyiapkan ini dan itu. Namun, beruntung sekali semuanya dapat teratasi tanpa ada drama apa pun." Di seberang sana Arumi terkekeh mengingat kelakuan Aurora yang terlohat antusias karena ingin jalan-jalan bersama guru serta teman sekelasnya.
“Aurora rewel tidak, Bun?” Kali ini giliran Queensha berbicara.
“Rewel apanya? Putrimu benar-benar anak yang pintar, Sha. Anteng. Alih-alih bertanya kapan kalian pulang, Rora bilang tidak apa-apa kalau Mama dan Papanya pergi lebih lama asal pulang nanti kalian membawakan adik kembar untuknya."
Mengingat permintaan Aurora soal adik kembar, Queensha hanya bisa tersenyum kecil.
“Pokoknya kalian puas-puaskan saja jalan-jalan di sana. Jangan terlalu mencemaskan Aurora karena dia aman bersama kami.”
__ADS_1
Setelah basa-basi sebentar sambungan telepon pun terputus. Melihat istrinya sudah jauh lebih tenang, Ghani meminta Queensha untuk segera bersiap karena mereka akan pergi jalan-jalan, menikmati waktu bulan madu mereka yang tersisa.
***
Karena Ghani jauh lebih mengenal Jepang dibanding istrinya, mengajak Queensha mendatangi Menara Tokyo. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat pergi ke Jepang. Orang-orang sering menyebut tempat itu sebagai Menara Eiffel-nya Jepang karena bentuk bangunannya yang memang sedikit mirip dengan icon kota Paris, Prancis.
Selama perjalanan, sejauh mata Queensha memandang, ia benar-benar disuguhkan oleh pemandangan yang memanjakan mata. "Bagus juga ternyata. Pantas saja menjadi icon negara Jepang," gumamnya lirih.
Puas jalan-jalan di sekitar Menara Tokyo, Ghani lalu mengajak Queensha untuk lanjut berkunjung ke Taman Shiba yang letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka sebelumnya. Ghani dan Queensha bahkan hanya perlu berjalan kaki untuk tiba di sana saking dekat jaraknya.
Karena ini bukan waktu libur, saat mereka sampai di Taman Shiba pengunjung tak begitu ramai, bahkan cenderung lenggang. Queensha lagi-lagi hanya bisa berdecak kagum saat melihat kurang lebih 200 pohon sakura saling bermekaran.
“Sayang, pose di sana dong. Biar aku foto buat kenangan-kenangan," pinta Ghani seraya menunjuk salah satu spot foto yang cukup ikonik di sana.
Queensha menggelengkan kepalanya pelan. “Aku malu, Mas. Kamu saja yang berdiri di sana, biar aku yang foto.”
Mendengarnya Ghani berdecak pelan. Sudah menduga Queensha akan menjawab memberikan jawaban seperti itu. Jadi alih-alih mendebat, Ghani memilih untuk mengajak Queensha berjalan ke spot foto yang tadi dia maksud dan melakukan swafoto berdua di sana. Terus seperti itu sampai ke spot-spot foto yang sangat instagramable selanjutnya.
Awalnya Queensha memang melakukannya dengan sedikit ogah-ogahan, tapi lama-lama wanita itu menikmati juga liburannya bersama Ghani dan untuk sesaat sedikit melupakan kerinduannya pada Aurora. Tak hanya itu saja, saat Ghani mendadak ingin piknik seperti pasangan muda-mudi yang mereka temui di Taman Shiba, Queensha bahkan bersedia menyanggupi tanpa pikir panjang.
Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena tadi pagi wanita itu tahu jika diam-diam suaminya menghubungi Arumi untuk menghubungi balik mereka karena Queensha sudah sangat merindukan Aurora.
“Terima kasih ya, Mas.” Ujar Queensha tiba-tiba yang berhasil membuat Ghani sedikit kebingungan.
"Karena kamu sudah membuktikan kesungguhanmu untuk membahagiaku. Kini aku dapat merasakan betapa kerasnya perjuanganmu untuk bisa membuatku senang," sambung Queensha seolah mengerti arti tatapan kebingungan suaminya.
"Itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai suami, membahagiakanmu dan juga Rora."
...***...
__ADS_1