Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Permintaan Queensha


__ADS_3

Selang beberapa hari, kondisi Ghani mulai membaik dan dokter sudah memperbolehkan pria itu pulang ke rumah. Luka tusuk di punggung tangan telah mengering, beberapa lebam di wajah serta kakinya yang sempat terkena tendangan Sarman berangsur-angsur pulih meski belum sepenuhnya dapat berjalan, tetapi dibantu kruk pria itu dapat melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain.


"Ingat selalu untuk melakukan fisioterapi saat tiba di Jakarta. Dan ... semua pantangan yang sempat saya katakan barusan tolong diingat baik-baik, jangan sampai Dokter Ghani melanggarnya."


"Saya tahu menolong orang lain merupakan tugas mulai, tetapi Anda harus sadar jika saat ini kondisimu belum stabil. Daripada menyusahkan diri sendiri dan orang di sekitar, sebaiknya Anda istirahat dulu di rumah sampai benar-benar sembuh. Segala tugas dan tanggung jawab rumah sakit bisa diserahkan kepada orang kepercayaan Anda," sambung dokter senior berambut keperakan. Ia berkata demikian selaku dokter penanggung jawab sekaligus rekan sejawat yang tengah memberi sedikit nasihat kepada juniornya.


Ghani mengangguk patuh. Meskipun dalam hati teramat kesal karena pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun terus memberi wejangan sejak lima menit yang lalu. "Baik, Dokter Andi. Saya pasti mengingat semua nasihat yang Anda sampaikan tadi. Terima kasih sudah merawat saya selama berada di sini."


Dokter senior yang masih terlihat gagah walau berusia lima puluh tahun menepuk pelan pundak sang pasien. "Tidak perlu sungkan. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter. Semoga setelah sembuh Dokter Ghani dapat kembali membantu pasien yang membutuhkan."


"Baiklah, kalau tidak ada lagi yang mau disampaikan, saya permisi dulu. Mari semua, selamat siang." Dokter Andi undur diri dari hadapan semua orang.


"Nah Ghani, kamu dengar sendiri, 'kan, apa yang dikatakan Dokter Andi barusan. Kamu masih perlu istirahat sampai kakimu benar-benar sembuh. Jangan memaksakan diri pergi ke rumah sakit dengan kondisi kakimu yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik." Arumi kembali mengingatkan Ghani akan setiap kalimat yang disampaikan Dokter Andi kepada sang putera tertua. Jangan sampai si sulung mengendap-endap pergi ke rumah sakit dan melakukan tindakan operasi tanpa sepengetahuannya.


"Bunda tenang saja, Mas Ghani tidak akan mungkin pergi ke rumah sakit dalam kondisi seperti ini. Dia pasti mematuhi setiap pesan yang disampaikan Dokter Andi beberapa saat lalu. Benar begitu, Mas?" Tersenyum menakutkan kepada Ghani. Saat ini Queensha dalam mode mengancam, tetapi ancamannya tersebut secara tersirat bukan tersurat.


Melihat mata melotot dan senyuman menakutkan membuat Ghani menelan saliva susah payah. Ini kedua kalinya ia melihat sisi berbeda dari seorang Queensha Azura Gunawan. Saat sedang marah ataupun dalam mode mengancam rupanya wanita itu berubah menjadi sosok yang menakutkan.


"Benar, Bun. Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu. Aku pasti mematuhi semua petuah yang disampaikan Dokter Andi," sahut Ghani. Terpaksa mengalah daripada menimbulkan masalah yang justru berimbas pada kandasnya jalinan cinta antara dirinya dengan Queensha. Biarlah ia mengalah asalkan dapat memiliki Queensha selamanya.

__ADS_1


"Sehabis ashar kita berangkat ke bandara. Yogi sudah memesan tiket pesawat untuk kita kembali ke Jakarta. Ayah telah meminta pihak maskapai penerbangan menyiapkan kursi roda guna membantumu masuk ke dalam pesawat," ujar Rayyan memberitahu istri, anak serta calon menantunya. Ia memutuskan kembali ke Jakarta setelah hampir sepuluh hari tinggal di Makassar.


Queensha mematung, tetapi sepersekian detik kemudian ia mampu menggerakan kembali semua anggota tubuhnya seperti semula.


'Aku harus menemui Mama Mia sebelum meninggalkan kota ini. Hidupku belum tenang bila belum melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana penderitaan Mama Mia dan Sarman selama berada di dalam penjaran. Bagaimanapun caranya, aku harus menemui mereka. Harus!' batin Queensha dalam hati.


Arumi ditemani Rayyan kembali ke hotel guna merapikan barang bawaannya, sedangkan Queensha masih setia mendampingi Ghani yang saat ini sedang duduk bersandar seraya menonton berita di televisi.


Menarik kursi lalu duduk di samping pembaringan tempat Ghani beristirahat. Otak berpikir keras bagaimana caranya meminta izin kepada calon suaminya itu.


'Come on, Sha, kamu tidak bisa berdiam diri begini saja dan membiarkan waktu terus berputar dengan cepat. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini sebab tak tahu kapan kamu bisa menemui wanita iblis yang tega memisahkanmu dengan Aurora.'


Meletakkan kepala di dada bidang Ghani. Dada bidang itu kini menjadi satu-satunya tempat ternyaman bagi sang wanita. Dalam posisi ini ia dapat mendengar jelas detak jantung calon suaminya yang berdegup seirama dengan detak jantung miliknya.


"Sha, bicaralah. Jangan membuatku penasaran." Ghani mengusap puncak kepala Queensha, menduga ada sesuatu yang mengganggu pikiran wanitanya.


"Mas, seandainya aku ingin menemui Mama Mia, apakah kamu memberikan izin kepadaku? Aku mau melihat bagaimana kedua manusia iblis itu menderita, hidup di balik jeruji besi," tutur Queensha. Ia mengusap dada bidang itu, mencoba menenangkan seandainya ucapannya memancing kemarahan sang calon suami.


"Kamu bersungguh-sungguh ingin menemui mereka?" Ghani menanggapi permintaan Queensha.

__ADS_1


Mengangguk cepat. Ia mendongakan wajah hingga kedua netra saling bertatapan. "Iya, Mas. Aku ingin menyampaikan unek-unekku kepada Mama Mia sekaligus mengucap salam perpisahan karena mulai detik ini kami tak lagi dapat bertemu."


"Kalau maumu begitu, pergilah, temui kedua orang jahat itu. Namun, kamu perlu berhati-hati karena bisa saja mereka menaruh dendam kepadamu."


"Ehm, tapi kamu tidak perlu cemas. Aku akan meminta Yogi menemanimu selama menemui Mia di penjara. Aku jauh lebih tenang jika ada orang kepercayaanku menjagamu selama tak berada di sisiku."


"Serius? Kamu ... memberikan izin kepadaku, Mas?" tanya Queensha dengan mata berkaca-kaca. Tidak percaya jika Ghani mengabulkan permohonannya.


Ghani mengecup kening Queensha, membelai rambut hitam panjang tergerai dengan tatapan penuh cinta. Hanya permintaan kecil mana mungkin ia menolaknya. Lagi pula ia telah berjanji akan membahagiakan Queensha, apa pun yang diminta pasti akan diberi.


"Serius, lah. Mana mungkin aku bergurau. Kamu bisa pergi menemui Mia di penjara. Tapi ingat kamu mesti berhati-hati, jangan sampai lengah dan kesempatan itu dimanfaatkan dua keparat untuk melukaimu. Paham?"


Queensha menatap mata sipit Ghani, pria yang telah menitipkan benih hingga lahirlah seorang bayi berjenis kelamin perempuan yang begitu cantik dan menggemaskan. Amat bersyukur karena Ghani tidak mempersulitnya untuk bertemu dengan ibu tirinya itu.


"Paham. Aku pasti mengingat semua perkataanmu." Queensha melepaskan diri dari dekapan Ghani. Ia mengarahkan bibirnya ke bibir pria itu lalu mengecupnya singkat. "Terima kasih, Koko Ghani. Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui. I love you, Mas Ghani."


Ghani mengusap pipi Queensha. "Love you too, My Queen."


...***...

__ADS_1


__ADS_2