
Leon baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai dokter di rumah sakit ternama di kota Jakarta. Pria kelahiran tiga puluh tiga tahun lalu yang masih betah menyandang status jomblo mengayun langkah tegasnya menuju westafel sebelum menukar pakaian operasi dengan kemeja lengan panjang yang ia taruh di dalam loker.
Mencuci tangan dengan sabun antisepstik kemudian membilasnya di bawah air mengalir. Tepat di saat ia hendak membuka loker, dering ponsel terdengar. Bergegas mengambil gawai tersebut dan melihat nama Cassandra terpampang di layar ponsel.
"Ck, dia lagi. Kenapa sih dia terus menerus menganggu kehidupan gue. Enggak di Jepang, di Jakarta, selalu menanyakan soal Ghani. Jadi cewek kok kayak enggak ada harga dirinya sama sekali. Udah tahu Ghani enggak suka, masih aja dipepet. Dasar muka tembok!" gerutu Leon kesal. Kendati demikian, ia tetap menerima panggilan tersebut. Menggeser tombol hijau dan memulai sambungan telepon.
"Hallo, San, ada apa? Gue baru aja keluar ruang operasi," jawab Leon saat sambungan terhubung.
"Yon, setelah tindakan operasi, lo ada acara enggak?" ujar Cassandra di seberang sana.
'Nah 'kan benar dugaan gue. Dia pasti mau ngajakin ketemuan dan membahas soal Ghani,' batin Leon setelah menangkap sinyal berbahaya datang menghadang.
"Leon, kok lo diam aja. Gimana, lo ada acara enggak setelah ini?" Cassandra kembali bertanya saat Leon tak memberi respon apa pun.
Menghela napas panjang dan berat. "Enggak ada. Rencananya gue mau langsung pulang ke rumah setelah ini. Kebetulan malam ini gue cuma bantuin Ghani operasi, sedangkan shift kerja gue udah berlalu tadi pagi. Emangnya ada apa, San?"
"Great. Gue mau kita ketemuan di café Senja satu jam dari sekarang. Lo bisa 'kan?" tandas Cassandra memastikan kembali.
"Hmm, bisa. Nanti gue kabarin lo kalau udah sampai lokasi," sahut Leon. Dengan berat hati menerima ajakan Cassandra. Lagi pula ia penasaran hal apa yang ingin dibicarakan Cassandra hingga wanita itu meminta mereka ketemuan secara empat mata.
"Oke. Jangan sampai telat, ya!"
Sambungan telepon pun berakhir. Leon memasukkan benda pipih tersebut ke saku celana.
Ketika pria jangkung itu melangkah keluar ruang ganti pakaian, ia berpapasan dengan Ghani. Namun, ia tak ada niatan sedikit pun menegur sahabatnya itu. Ada perasaan kesal dan kecewa menyelimuti diri Leon dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Ghani sadar bahwa saat ini sahabatnya sedang marah, memutuskan menegurnya terlebih dulu. "Lo mau langsung balik, Yon? Enggak nongkrong dulu bareng teman yang lain? Gue denger katanya Pak Hermawan dan Mas Agus mau ngopi di cafe dekat rumah sakit."
"Iya, gue mau cabut aja dari sini. Terlalu lama lihat muka lo yang sok kegantengan, membuat gue semakin muak. Seandainya aja lo bukan sahabat gue, udah melayang nih kepalan tangan gue di muka lo. Kesal gue lihat lelaki berengsek macam lo!" sahut Leon datar. Lantas ia memutar handle pintu dan melangkah meninggalkan Ghani yang masih bergeming di tempatnya.
***
Leon mendatangi café Senja guna memenuhi janjinya kepada Cassandra, adik tingkatnya saat masih kuliah di Jepang dulu. Meskipun kaki terasa berat melangkah, ia memaksakan diri untuk terus melangkah hingga tiba di depan pintu masuk café tersebut.
"Selamat malam, Pak. Silakan, masuk. Di dalam masih banyak tempat kosong." Seorang pelayan menyambut ramah kedatangan Leon.
Leon tersenyum ramah, membalas sapaan tersebut. "Malam juga, Mas. Saya butuh satu meja untuk dua orang tamu."
"Mari, ikuti saya." Lantas, pelayan pria berseragam hitam dan putih mengarahkan jalan menuju salah satu meja kosong di sudut ruangan.
Leon menerima buku menu yang disodorkan pelayan tersebut sesaat setelah bokongnya mendarat sempurna di atas kursi. Memilih menu apa yang pantas menemaninya untuk mendengar curahan hati Cassandra yang terkadang membuat kepala terasa mau pecah.
Pelayan itu bergegas mencatat semua pesanan Leon tanpa ada satu menu yang terlewatkan. Kemudian ia berjalan cepat, menyerahkan list pesanan kepada rekan kerjanya.
Untuk mengusir rasa bosan, Leon meletakkan benda pipih berukuran 10 inci ke atas meja, membaca berita terkini melalui kolom pencarian. Tak lama berselang, terdengar derap langkah seseorang mendekati mejanya.
Kursi berderit saat gadis itu memundurkannya, lantas duduk di seberang kursi Leon. Jemari tangan lentik itu meletakkan hand bag miliknya di ruang kosong di sebelahnya.
"Sorry, kalau udah membuat lo menunggu lama. Soalnya tadi gue habis manicure, pedicure dan perawatan tubuh dulu di salon. Maklum, namanya juga cewek ingin tetap terlihat cantik di depan semua orang. Apalagi gue jomblo mesti menjaga penampilan agar cowok yang gue taksir semakin mencintai gue." Terkekeh pelan dengan menutup mulut menggunakan telapak tangan. "Siapa tahu setelah melakukan perawatan, cowok itu jatuh cinta sama gue."
Mencibir dan memutar bola mata malas. 'Kepedean banget sih hidup lo, San. Mana mungkin Ghani suka sama lo. Dari atas kepala hingga ke ujung kaki, enggak ada satu anggota tubuh lo yang menarik perhatian sohib gue.'
__ADS_1
Leon menyerahkan buku menu ke hadapan Cassandra. "Gue udah pesan, tinggal lo doang yang belum. Pilih menu apa saja yang disuka, nanti gue yang bayar."
Menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya pesanan Leon dan Cassandra telah siap diantarkan. Pelayan yang tadi melayani kursi nomor sembilan kembali menjalankan tugasnya dengan baik. Dia membawa nampan berisi satu piring red velvet, satu piring cake rasa matcha dan dua gelas ice matcha berwarna hijau.
"Semua hidangan telah lengkap. Selamat menikmati, Ibu dan Bapak," ucap pelayan pria seraya menundukan kepala lalu undur diri dari hadapan mereka.
"Tumben lo ngajak ketemuan, emangnya ada masalah apa hingga meminta gue datang ke sini." Leon memulai percakapan mereka, tidak suka basa basi. Semakin cepat urusan selesai maka ia semakin dapat pulang ke rumah dan beristirahat setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam, melakukan tindakan operasi. Untung saja operasi tersebut masuk dalam kategori operasi kecil sehingga tak membutuhkan waktu lama saat mengerjakannya.
Cassandra tersenyum, ia meraih pisau dan garpu, bersiap menyantap cake kesukaan yang ada di depan mata. Cake warna hijau terlihat menggoda hingga membuatnya tidak sabar ingin segera mencicipi. Lezat! Itu satu kata yang ingin diucapkan Cassandra saat lelehan matcha lumer di mulutnya.
"Dari dulu hingga sekarang, lo enggak pernah berubah, selalu tergesa-gesa dalam bertindak. Namun, gue suka tipekal cowok modelan lo." Cassandra meraih gelas dan mencicipi ice matcha. "Sebetulnya tujuan gue ngajakin lo ketemu ingin menanyakan soal Ghani. Gue mau tanya, perempuan yang disebut 'Mama' oleh anak angkatnya Ghani, sebetulnya siapa? Kenapa Rora begitu dekat sekali dengan wanita itu. Sebenarnya ada hubungan apa antara Ghani dan wanita itu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Cassandra, Leon justru menarik sudut bibirnya ke atas. "Kenapa? Kepo? Gue yakin gara-gara masalah ini, tidur lo terganggu. Makan, minum bahkan saat lo di toilet terus memikirkan masalah ini. Benar bukan tebakan gue?" Tersirat sindiran halus saat mengucap kalimat tersebut. Entahlah, ia jengkel sekali terhadap wanita tidak tahu malu seperti Cassandra.
Cassandra melihat tatapan mengejek dan dadanya kembang kempis. "Gue cuma butuh jawaban, bukan cemarah enggak jelas seperti tadi! Cepat katakan, apa hubungannya wanita itu dengan Ghani!" desisnya dengan menghunus tatapan tajam.
Leon tertawa ringan sambil terus menyuapkan potongan red velvet ke dalam mulut. "Lo betulan ingin tahu jawabannya? Yakin setelah ini jantung lo akan baik-baik aja, hem?" Menaik turunkan kedua alis, merasa bahagia sebab sukses menjaili Cassandra. Kapan lagi mempunyai kesempatan untuk mengerjai adik tingkatnya itu.
Bedecak kesal. "Enggak usah bertele-tele deh. Buruan, bilang sama gue. Apa pun jawaban lo, gue yakin bisa menerimanya." Memberi tatapan penuh keyakinan pada sosok pria tampan di hadapannya.
"Karena tak mau membuang waktu terlalu lama, gue akan memberi tahu siapa wanita itu. Dia bernama Queensha Azura, mantan baby sitter Ghani. Dua bulan lalu, cowok yang lo taksir memutuskan menikahi wanita itu. Pernikahan mereka berlangsung secara sederhana, hanya dihadiri sanak keluarga, saudara dan beberapa tamu undangan penting. Meskipun begitu, tetapi pernikahan mereka dinyatakan sah oleh hukum dan agama."
"Akan tetapi, karena terjadi kesalahpahaman di antara mereka, Ghani, menceraikan Queensha dan meminta wanita itu agar pergi menjauh dari kehidupan Aurora dan Ghani."
Sontak, iris coklat melebar sempurna dan mulutnya membentuk hufur O. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ghani menikahi mantan baby sitter Aurora, bagaimana bisa? Jika melihat dari segi mana pun wanita jelek itu tak memenuhi kriteria sebagai nyonya muda keluarga Wijaya Kusuma. Dirinyalah yang pantas mendampingi seorang Muhammad Ghani Hanan, bukan Queensha Azura Gunawan, perempuan miskin, kampungan dan jelek seperti wanita itu.
__ADS_1
...***...