
"Mas, kamu baru pulang?" Pelupuk mata Queensha terbuka saat merasakan sentuhan lembut tangan seseorang menyentuh permukaan kulitnya. Piyama lengan pendek yang membungkus bagian atas tubuh tersingkap hingga memperlihatkan perut buncit dengan pusar menonjol keluar.
Rasa lelah akibat seharian bekerja perlahan menghilang kala dua pasang mata saling menatap satu sama lain. Ghani tersenyum simpul lalu menjawab, "Maaf ya, aku pulang terlambat. Tadi ada operasi dadakan yang memaksaku untuk terlibat di dalamnya. Dokter penanggung jawab yang menangani si pasien sedang ada urusan keluarga di luar pulau dan saat itu cuma ada aku seorang. Leon sudah pulang sejak siang tadi," tuturnya memberi penjelasan.
Ghani takut Queensha salah paham, menuduhnya ada affair dengan dokter wanita atau perawat wanita di rumah sakit. Dia tidak mau kalau sampai rumah tangganya berantakan karena hal sepele.
"Oh begitu. Pantas saja kamu tak membalas pesan dan menjawab teleponku, rupanya sedang sibuk bekerja." Queensha mencoba bangkit dari posisinya saat ini, tetapi karena perutnya semakin membesar membuat dia kesusahan.
"Rebahan saja, jangan memaksa diri untuk bangun," sergah Ghani melihat betapa kerasnya usaha Queensha untuk dapat duduk di sebelahnya.
"Tapi, Mas, aku mau minta Mbak Ijah menyiapkan makan malam untukmu. Kamu pasti belum makan, 'kan?" kata Queensha.
Ghani menggeleng. "Aku sudah makan sebelum pulang ke rumah. Kamu sebaiknya rebahan saja, aku mau mandi sebentar. Tadi aku tidak sempat mandi di rumah sakit karena pakaian yang tak ada pakaian ganti di sana. Aku lupa membawa lagi pakaian yang sudah disetrika Mbak Ijah."
Queensha patuh kemudian meletakkan punggungnya lagi di kasur sedangkan Ghani melenggang ke kamar mandi usai mengecup singkat kening istrinya.
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, Ghani telah selesai membersihkan diri dan kini saatnya dia menghabiskan waktu berduaan dengan istri tercinta.
"Ada cerita apa hari ini?" Ghani memulai percakapan. Wajah tampannya menatap paras jelita sang istri yang terbaring di sebelahnya. Posisi mereka berhadapan dengan kedua tangan saling melingkar di pinggang masing-masing.
"Nothing special, masih sama seperti kemarin. Menemani Rora menggambar, mewarnai sambil ngobrol dengan Bunda di gazebo belakang rumah. Kalau sudah mendekati waktu ashar, aku kembali ke kamar sementara Rora dibantu Bunda mandi dan bersiap pergi mengaji."
"Omong-omong soal menggambar, maaf ya aku belum bisa mendaftarkanmu ke perguruan tinggi. Aku cuma mau kamu fokus dengan ketiga bayi kita, Sayang. Kalau kamu kuliah dalam keadaan hamil, bukankah itu akan mengganggu aktivitasmu perkuliahanmu. Kamu akan sering absen dan tidak fokus dengan perkuliahan. Jadi kupikir alangkah baiknya kamu fokus dulu dengan kehamilanmu, setelah itu baru memikirkan lagi rencana untuk kuliah."
Queensha memajukan tubuhnya ke depan, meminta Ghani mendekapnya erat. "Iya, tidak masalah. Lagi pula prioritas utamaku saat ini bukan lagi menuntut ilmu ataupun mengejar cita-cita dan gelar di belakang namaku, tapi mencari cara bagaimana menjadi ibu yang baik bagi Rora dan ketiga adik-adiknya kelak. Aku tidak mau dikatakan ibu dan istri egois yang hanya memikirkan kesenanganku pribadi dengan mengorbankan anak dan suamiku."
"Menuntut ilmu memang wajib hukumnya bagi kita, tapi aku tak sampai hati harus mengorbankan buah cinta kita demi kebahagiaanku sendiri. Biarlah cita-cita itu kukubur dalam-dalam asalkan Rora dan anak-anak kita tumbuh menjadi anak sholeh ataupun sholehah, sukses dunia akhirat, dan berguna bagi nusa dan bangsa," sambung Queensha dengan penuh keiklasan. Dia rela mengorbankan cita-citanya demi keluarga kecilnya itu.
Ghani dibuat tersentuh oleh perkataan Queensha. Demi dirinya dan sang buah hati, istrinya rela mengorbankan cita-cita yang didambakan sejak kecil.
Pria yang sebentar lagi dikaruniai bayi kembar tiga semakin mengeratkan pelukan di tubuh istrinya. Dia hujani wajah Queensha dengan ciuman dalam sebagai tanda cintanya kepada wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih sudah rela berkorban demi keluarga kecil kita, Sayang. Aku janji, setelah Triplet sudah bisa ditinggal kamu boleh melanjutkan study-mu ke perguruan tinggi. Kalau perlu, langsung S2 sekaligus biar sekalian jalan. Setelah lulus, akan aku beri modal usaha agar kamu dapat mengembangkan keahlianmu di dunia desain."
Mata indah Queensha mengerjap, bibirnya yang ranum menyunggingkan sebuah senyuman. "Kamu serius, Mas? Tidak sedang bercanda, 'kan?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja tidak. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Anggap saja sebagai hadiah atas kerja kerasmu membesarkan anak-anak kita."
"Koko Ghani, wo ai ni. Aku sangat sangat mencintaimu. Xie xie gege Ghani." Queensha mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Ghani, lalu pria itu membalas pangutan istrinya dengan bersemangat.
"Sayang, tadi Leon mendatangiku di ruangan dan dia memberitahuku bahwa sebentar lagi akan meminang sahabatmu, Lulu. Dia memintaku hadir saat acara lamaran nanti," ujar Ghani memberitahu.
"Oh ya? Kok Lulu tidak memberitahuku. Aah, anak itu selalu saja menyembunyikan kabar baik dariku." Queensha memajukan bibirnya ke depan, terlihat kesal dengan cerita yang disampaikan suaminya. Bukan kesal karena Lulu akan dipinang Leon, tetapi kesal karena Lulu tak memberitahu jika hubungannya dengan sahabat sang suami berlanjut ke jenjang pernikahan.
Ghani hanya tersenyum singkat. Terkadang Queensha seperti anak kecil, merajuk karena tidak dibelikan mainan. Mirip Aurora saat sedang ngambek.
"Mungkin saja Lulu lupa memberitahumu, kamu tau sendiri seseorang akan melupakan orang sekitarnya saat sedang larut dalam euforia apalagi sahabatmu itu baru mengantongi restu dari orang tuanya. Kamu tunggulah dulu satu atau dua hari, mungkin besok atau lusa Lulu baru mengabarimu."
"Baiklah, aku akan menunggu Lulu berbicara langsung kepadaku."
Hari yang dinantikan pun, Lulu telah pulang ke kampung halamannya terlebih dulu diantar Yogi--orang kepercayaan Ghani, sementara Leon baru berangkat ke kampung halaman Lulu dua hari sebelum prosesi lamaran dimulai sebab jadwal pekerjaan Leon yang padat membuat lelaki itu terpaksa melimpahkan tanggung jawabnya kepada satu-satunya orang yang bisa dipercaya melindungi calon istrinya dari segala macam gangguan.
"Mas Leon, titip salam untuk Lulu dan tolong sampaikan permintaan maafku padanya karena tak bisa hadir dalam prosesi lamaran kalian. Aku tidak berani bepergian jauh pasca pendarahan kemarin."
"Aih, jangan kamu pikirkan masalah itu. Lulu dan orang tuanya bisa ngerti kenapa kamu enggak bisa datang. Aku dan Lulu justru merasa bersalah jika kamu memaksa hadir di saat kondisimu yang masih lemah ini." Leon mencoba menenangkan Queensha, agar istri sahabatnya itu tak banyak pikiran. Biarlah dia fokus terhadap kandungannya tanpa memikirkan hal macam-macam.
Walaupun Queensha hanya istri dari sahabatnya, tetapi Leon menganggap wanita itu seperti adik kandungnya sendiri dan dia tak mau Queensha memikul beban karena ketidakhadirannya di prosesi lamaran nanti.
"Kamu dengar sendiri apa kata Leon, 'kan? Sekarang sebaiknya kamu masuk ke dalam, istirahat yang cukup dan jangan berkeliaran ke mana-mana. Aku tidak mau kamu masuk angin karena terlalu lama berada di luar rumah," titah Ghani pada istrinya.
Ghani begitu protective menjaga istrinya itu. Bahkan untuk berada di teras rumah dalam waktu yang cukup lama, tidak dia izinkan mengingat ada tiga janin di perut Queensha membuat dia jadi suami cerewet dan super duper menyebalkan.
Queensha mendesah pelan. Kalau sudah mode protective membuat dirinya tak bisa menolah perintah yang ditujukan kepadanya.
__ADS_1
"Baik, aku masuk sekarang." Lalu Queensha mencium punggung tangan suaminya sebelum Ghani pergi meninggalkan rumah dan menemani Leon selama kurang lebih empat hari lamanya di kampung halaman Lulu. Ghani baru kembali ke Jakarta setelah semua urusan di sana selesai.
"Kamu hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi aku," kata Queensha sebelum berlalu dari hadapan Ghani dan juga Leon.
Mbak Tina mendorong kursi roda Queensha, membawa menantu majikannya masuk ke rumah. Sementara Ijah menemani Aurora yang masih ingin bermanja-manjaan bersama sang papa.
"Papa jangan lama-lama di sana, Rora dan Mama kesepian karena enggak ada Papa."
Ghani mencium rambut panjang Aurora yang menguarkan aroma khas shampo anak-anak. Dengan lemah lembut dan sangat hati-hati dia menjawab, "Insha Allah. Doakan urusan papa cepat selesai di sana agar dapat kembali ke rumah secepat mungkin."
Lalu Ghani mencium punggung tangan kedua orang tuanya. "Ayah, Bunda, aku titip Rora dan juga Queensha. Dalam 4 hari ke depan, aku akan pulang ke rumah."
"Kamu tenang saja, kami akan menjaga istri dan anakmu dengan baik." Arumi memeluk tubuh anak pertamanya itu lalu mencium pipi kanan dan kiri sebagai tanda perpisahan.
"Hati-hati di jalan dan cepatlah pulang."
Kemudian Leon berpamitan pada orang tua Ghani. Setelah itu, kedua lelaki itu melangkah bersama menuju mobil yang terparkir di dekat deretan pot bunga angrek lalu masuk ke dalam mobil. Leon duduk di balik kemudi sedangkan Ghani duduk di sebelahnya sementara bu Ayu dan pak Imran duduk di kursi penumpang.
Bu Ayu melambaikan tangan pada Arumi--teman arisannya saat mobil itu melaju pelan meninggalkan pelataran kediaman Wijaya Kusuma.
"Pelan-pelan saja, Yon, terpenting kita semua selamat sampai tujuan," ucap Bu Ayu mencoba mengingatkan. Jangan sampai Leon menaikkan laju kendaraan karena saking tidak sabarnya ingin bertemu Lulu.
Leon hanya mengangguk patuh sambil melirik sang mama dari kaca spion yang ada di dalam mobil.
"Kalau kamu mulai merasa ngantuk, bilang pada papa, biar kita gantian."
"Baik, Pa."
Lalu kedua orang tua Leon membuka suara, mengajak Ghani berbincang dengan topik random. Sengaja meramaikan mobil yang ditumpanginya agar suasana tidak terkesan sepi, tanpa ada percakapan di antara mereka berempat.
...***...
__ADS_1