
Pagi ini, Queensha sudah siap dengan penampilannya yang seperti biasa, cantik dan menawan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona dan terpikat akan kecantikan natural yang terpancar dari dalam diri wanita itu.
Hari ini Queensha sengaja mengikat rambutnya dengan model cempol dan menambahkan jepit rambut berbentuk bunga peony yang amat cantik. Dress warna merah jambu di bawah lutut serta polesan make up flawless semakin membuat wanita itu terlihat sangat cantik.
"Semoga penampilanku tidak kampungan dan membuat Mas Ghani malu saat berjalan bersisian denganku," ucap Queensha seraya memperhatikan penampilannya kembali di depan cermin.
Menyandang status nyonya Ghani menimbulkan tekanan tersendiri bagi Queensha. Khawatir jika penampilannya akan disandingkan dengan wanita lain yang jelas-jelas jauh lebih trendi dibandingkan dirinya.
Menatap sejenak pintu kamar mandi yang belum terbuka dan masih terdengar suara shower menyala. Tampaknya Ghani belum selesai mandi dan akhirnya Queensha memutuskan untuk menunggu sang suami di teras rumah sambil membaca buku pemberian Lulu.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Ghani hanya memakai boxer dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Aroma mint menguar dari dalam kamar mandi, berbanding terbalik dengan aroma wangi myst yang lembut di seluruh penjuru kamar.
“Hah, sayang sekali dia tidak ada di sini,” keluh Ghani.
Memangnya apa yang akan dilakukannya jika istrinya ada di sini? Ingin bercinta? Mana bisa sementara kakinya saja masih belum dapat berjalan dengan leluasa.
Cepat-cepat Ghani berpakaian saat menyadari jam sudah hampir menunjukan pukul 10.00 pagi. Hari ini ada jadwal ke rumah sakit guna melakukan terapi untuk yang terakhir kalinya sebelum kruk di kaki benar-benar dilepaskan. Setelah sekian lama, akhirnya benda yang sangat mengganggu itu akan lenyap. Ia sudah cukup tersiksa dengan adanya benda tersebut menempel di kaki, membuatnya tak berdaya.
"Kamu di sini rupanya," kata Ghani saat melihat Queensha tengah duduk di beranda depan rumah. Di tangan wanita itu ada sebuah buku yang tengah ia baca. Entah buku apa, Ghani tak peduli.
Tatapan mata Ghani hanya tertuju pada satu orang yang baru saja membuat dunianya serasa terhenti untuk sepersekian detik. Sosok wanita bak malaikat dan bidadari itu adalah istrinya. Ya! Queensha hari ini amat cantik sampai ia lupa siapa wanita tercantik di dunia menurut survei global. Bagi Ghani, Queensha adalah yang paling cantik mengalahkan Dakota Johnson, artis Hollywood idolanya.
“Sepertinya aku baru saja bermimpi, atau ... jangan-jangan aku sedang berada di surga sekarang?" Tiba-tiba saja Ghani menyeletuk. Sepasang matanya yang sipit tak berkedip sedikit pun.
Queensha yang mendengar ucapan absurd Ghani mengernyitkan kening. Ia menutup bukunya dan meletakkan benda tersebut di meja sebelah tempat duduknya. Matanya menatap Ghani yang seolah akan menelan Queensha saat ini juga.
“Kamu bicara apa, sih, Mas?” tanya Queensha heran. Ada apa dengan Ghani saat ini? Dia terlihat aneh.
“Aku baru menyadari jika istriku hari ini amat sangat cantik, sampai aku berani mengatakannya dengan penuh percaya diri di depan ribuan orang jika istriku begitu cantik. Kamu seperti bidadari bahkan bidadari di surga saja kalah cantiknya denganmu," pujian Ghani kepada Queensha bersungguh-sungguh. Namun, di telinga Queensha terdengar begitu berlebihan karena ia sadar jika dirinya tidaklah cantik seperti yang dikatakan sang suami.
“Omong kosong. Masih banyak wanita cantik di bumi ini dibanding aku, Mas." Queensha memalingkan wajah, tetapi tak dapat menutupi bagaimana bahagianya hati dia saat ini. Dipuji sedemikian rupa oleh suami sendiri melambungkan angannya ke angkasa.
Ghani merangkul pundak Queensha. Selagi tak ada Aurora serta kedua orang tuanya, ia bebas bermesraan tanpa takut kepergok oleh orang lain.
"Yang lebih cantik memang banyak, tapi yang baik dan setulus kamu tidak ada. Kamu itu limited edition, loh." Ghani mencolek ujung hidung Queensha dengan gemas. Andai saja kakinya sedang tidak terluka, sudah pasti saat ini membawa Queensha ke kamar dan mengungkung istrinya sampai menjerit keenakan.
***
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit tepat waktu, beruntung lalu lintas tidak macet hari ini, jadi Ghani bisa melakukan terapinya tanpa hambatan apa pun. Dengan sabar Queensha mendampingi suaminya selama terapi.
Ghani berusaha keras untuk bisa sembuh dari cedera di kaki agar dapat berjalan normal seperti sebelumnya. Meskipun butuh perjuangan keras, tetapi ia rela menjalaninya asalkan dapat sembuh total.
"Selamat pagi, Dokter Ghani." Beberapa perawat menyapa sang direktur rumah sakit saat berpapasan dengan pasangan pengantin baru.
"Hmm, pagi." Hanya kalimat singkat yang terucap dari bibir Ghani. Tak tertarik terlibat banyak percakapan dengan mereka.
"Sayang, ayo naik. Kita harus segera bertemu dengan Pak Nabil."
Ketika tiba di ruangan, mereka disambut hangat oleh Nabil serta seorang petugas fisioterapi yang bertugas memberi terapi kepada Ghani.
"Selamat pagi, Pak Ghani dan Bu Queensha. Bagaimana kabar kalian hari ini?"
"Alhamdulillah, sehat, Dokter."
"Apa ada keluhan selama kita tidak bertemu?" Dokter Nabil mulai basa basi sebelum memberi terapi kepada sang pasien.
"Hanya rasa sakit saja, Dok, dan itu menghilang jika saya beristirahat," jawab Ghani.
Nabil manggut-manggut. "Ya sudah, kita mulai saja fisioterapinya. Mas Panji, tolong bantu saya, ya?"
Queensha begitu setia mendampingi suaminya yang sedang berjuang keras melakukan fisioterapi pasca kecelakaan. Fisioterapi sendiri yakni bentuk perawatan yang menggunakan teknik fisik untuk memperbaiki gerakan, mengurangi rasa sakit dan kaku, serta mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidup. Bentuk perawatan seperti ini umumnya dilakukan bagi seseorang yang mengalami kecacatan, cedera, atau penyakit tertentu, termasuk patah tulang yang dialami Ghani hingga ia harus memakai kruk dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Queenshaa mengamati dari kejauhan ketika Ghani bersama dengan fisioterapis memulai terapi. Mulai dari pemeriksaan kakinya dan melepas gipsnya.
"Kita coba jalan tanpa penyangga ya, Pak," ujar sang fisioterapis yang membantu Ghani untuk berdiri dengan tumpuan kedua kakinya tanpa bantuan kruk.
Ada rasa berdegup saat melihat Ghani mulai berjalan tanpa bantuan alat apapun. Apakah dia bisa? Bagaimana jika dia jatuh? Dan pertanyaan lain yang mengkhawatirkan keadaan Ghani. Tanpa sadar Queenshaa mencengkeram erat gaunnya.
"Tuhan, kumohon bantulah suamiku."
Perlahan, tetapi pasti, Ghani berhasil berdiri tegak tanpa penyangga apa pun untuk beberapa detik meski setelahnya ia tak bisa menopangnya dengan benar. Ini sebuah kemajuan.
"Tidak apa-apa, Anda tidak perlu tergesa-gesa. Kita istirahat sebentar," ujar petugas sambil memberikan kursi untuk Ghani beristirahat. Terlihat dari balik kaca Queensha menatapnya dengan cemas.
Menyadari tengah diperhatika seseorang, Ghani menoleh ke arah sang istri. Dengan bahasa isyarat dia berkata, "Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Kamu bilang baik-baik saja tapi keringatmu begitu banyak, Mas," gumam Queensha masih menatap suaminya dari kejauhan. Ia memeriksa gawai dan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Artinya sudah dua jam Ghani menjalani terapi.
"Pantas saja perutku keroncongan, rupanya sudah lama aku duduk di sini." Queensha bisa saja meninggalkan ruangan tersebut untuk pergi ke kantin, tetapi ia tetap bertahan menunggu sampai sesi terapi suaminya selesai.
Usaha Ghani untuk bisa menyelesaikan terapi dan keluar tanpa bantuan alat apa pun berhasil. Setelah berulang kali ia berlatih dengan sekuat tenaga, kini ia sudah bisa berjalan dengan normal meski ritmenya masih belum stabil. Setidaknya, ia tak lagi terlihat seperti orang pincang.
Queensha yang menyaksikan dengan jelas segala proses yang dilakukan Ghani menangis terharu. Akhirnya, suaminya bisa sembuh.
Ghani keluar dari ruang terapi disambut pelukan hangat Queensha. Istrinya tak bisa menyembunyikan tangis harunya.
"Kenapa kok nangis?" tanya Ghani.
"Aku senang, Mas. Akhirnya kamu bisa jalan lagi."
Ghani terkekeh mendengar ucapam Queensha barusan, "Memangnya aku tidak bisa jalan selama ini?" Pertanyaannya sedikit menggoda.
"Bukan begitu maksudku. Aku ... ah, sudahlah, tidak usah dibahas lagi."
Sambil mengelus puncak kepala Queensha, Ghani berujar, "Ya sudah, kalau begitu aku ganti pakaian dulu habis itu kita pergi menemui Dokter, ya?"
Queensha mengangguk patuh bak anak kecil yang tengah dinasehati oleh orang tuanya. Mereka pergi ke ruang ganti dan tak lama Ghani sudah kembali dengan pakaian yang sebelumnya.
Keduanya memasuki ruangan dokter setelah mengetuk pelan pintu dan mendapat jawaban dari dalam. Keduanya segera masuk.
"Jadi, bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ghani tentang kondisi kakinya.
"Sejauh Pak Ghani menjalani terapi selama ini dan rutin minum obat, kemajuannya cukup mengagumkan. Anda benar-benar bertekad untuk segera sembuh. Itu bagus, Pak. Dan evaluasi hasil terapi terakhir ini sungguh menakjubkan. Anda benar-benar bisa lepas dari alat bantu jalan." Nabil menjelaskan dengan cermat. Ghani dan Queensha yang mendengarnya turut lega.
"Namun, ... Anda harus tetap hati-hati dan jangan melakukan aktivitas yang berat terlebih dahulu sampai kaki Anda pulih total, mengerti?"
"Kalau begitu bagaimana dengan hubungan suami-istri, Dok? Maksud saya apakah dengan kondisi kaki saya yang belum pulih total ini memungkinkan untuk melakukannya? Anda tahu kami baru saja menikah," ujar Ghani yang sukses membuat Queensha malu setengah mati. Haruskah Ghani membahasnya di sini? Diam-diam Queensha mencubit pinggang Ghani.
Dokter menjawab dengan tenang meski setengah mati menahan untuk tidak tersenyum. Bisa dimakan hidup-hidup jika suara tawanya didengar Ghani.
"Tidak masalah asalkan dilakukan secara hati-hati maka tak akan menimbulkan masalah di kemudian hari."
Mendengar jawaban itu membuat Ghani bersorak gembira dalam hati. Usahanya untuk sembuh tidak sia-sia dan ia juga sudah tidak sabar untuk menantikan hari itu tiba.
__ADS_1
'Yes, sebentar lagi gue buka puasa!' Lalu Ghani menoleh ke sebelah pada istrinya yang tengah tertunduk malu. 'Queensha, bersiaplah menerima bibit unggul milikku.'
...***...