Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Saat Induk Macan Berbicara


__ADS_3

"Karena sampai detik ini, kamu masih betah menyendiri. Memangnya kamu tidak merasa bosan melakukan apa-apa sendirian? Tidur sendiri, makan sendiri, pokoknya melakukan apa pun sendirian. Ingat, Nak, usiamu sudah tak lagi muda. Tiga puluh dua tahun. Itu merupakan waktu yang sangat sangat sangat matang bagi pria dewasa sepertimu untuk membina rumah tangga," cerocos Bu Ayu tanpa henti. Sejak tadi mula menahan emosi dalam diri untuk tidak meledak-meledak. Namun, tatkala berjumpa dengan si pembuat masalah barulah ia luapkan kekesalannya itu kepada anak bungsunya, Leon.


"Apa kamu tidak malu tiap kali bertemu sanak saudara dari pihak kami, mereka selalu bertanya 'kapan nikah'? Kalau mama malu, Yon, karena sampai detik ini belum juga bisa menjawab pertanyaan mereka. Yang lebih parahnya lagi, saudara dari pihak Kakekmu secara terang-terangan mengatakan bahwa kamu itu bukan lelaki normal. Mau ditaruh di mana muka mama, Nak?"


Bu Ayu tampak frustasi saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia dan suaminya menghadiri resepsi pernikahan Natasha. Saudara jauh dari mendiang ayahnya tanpa rasa canggung sedikit pun telah mengatakan hal buruk tentang anak bungsunya itu di depan banyak orang. Sebagai seorang ibu, bu Ayu tentu saja kesal karena anak yang dibesarkannya dengan susah payah justru dihina habis-habisan oleh saudaranya sendiri.


"Maksud Mama, aku penyuka sesama jenis? Oh ya ampun. Ma, kenapa sih mesti dengerin omongan mereka. Mama tau sendiri kalau aku lelaki normal, pernah pacaran dengan lawan jenis. Namun, karena suatu sebab akhirnya hubungan kami kandas di tengah jalan," sahut Leon tidak terima jika dirinya disebut pria penyuka sesama jenis. Padahal jelas-jelas dia mempunyai ketertarikan terhadap kaum Hawa.


"Makanya, kamu cepetan nikah, dong. Bungkam mulut mereka dengan memberi selembaran surat undangan pernikahan agar sanak saudaramu tidak terus menerus menjelekanmu. Telinga mama sampai panas mendengar sindirian pedas dan bisikan setan bersumber dari mulut mereka. Kalau tidak sadar bahwa kita masih punya ikatan kekeluargaan dengan mereka, sudah mama robek mulut lemes itu menggunakan tangan ini. Enak saja mereka menghina anak kesayanhanku ini." Bu Ayu berkata dengan napas tersengal, saking marahnya karena mereka seenaknya saja menjelek-jelekan Leon hanya karena anak bungsunya itu belum juga menikah sampai detik ini.


Pak Imran yang berada di sebelah istrinya mengusap punggung bu Ayu, mencoba menenangkan istri tercinta. "Sabar, Ma. Jangan turuti kemarahanmu. Ingat pesan dokter, tidak boleh marah-marah nanti tensi darahmu tinggi, loh."


Bukannya kobaran api dalam diri bu Ayu mereda, justru semakin bertambah bahkan nyaris membumi hanguskan segala isi yang ada di sekitarnya. "Papa nih, bukannya bantuin mama bujukin Leon agar mau menikah malah bujukin mama biar sabar. Kurang sabar apa coba mama selama ini, Pa. Sudah dari dua tahun lalu mama bersabar, menunggu Leon meminta kita melamarkan mantan kekasihnya. Anak ini datang ke kita bukannya memberitahu kapan harus datang menemui orang tua si cewek, eh malah memberitahu kalau dia baru saja diputusin."

__ADS_1


"Lalu apa gunanya pacaran selama 2 tahun kalau ujung-ujungnya putus? Tau begitu tidak usah pacaran, langsung menikah saja sama seperti kita dulu. Kenalan 2 bulan, setelah itu langsung menikah dan alhamdulillah pernikahan kita langgeng sampai sekarang. Pacaran lama-lama tidak menjamin berakhir di pelaminan jadi lebih baik disahkan segera biar ngapa-ngapainnya tuh enak, tidak takut digerebek warga apalagi berbuat zina."


Leon memutar bola mata dengan malas. Setiap kali ngomel, mamanya selalu saja menyinggung nama sang mantan kekasih yang tega selingkuh di belakangnya. Padahal mereka berkomitmen untuk membawa hubungan itu ke pelaminan. Namun, siapa sangka wanita yang diharapakan menjadi pelabuhan terakhir justru mendua dengan rekan kerjanya di perusahaan.


"Pengalaman Mama tidak bisa diterapkan kepadaku. Aku bukan penganut nikah tanpa melakukan proses penjajakan terlebih dulu. Mama dan Papa bisa saja langsung menikah karena kedua orang tua kalian saling mengenal, sementara aku dengan dia? Kami tidak saling mengenal sebelumnya jadi wajar, dong, kalau aku dan dia pacaran dulu."


"Tapi tidak sampai bertahun-tahun lamanya, Yon. Dua sampai tiga tahun, kamu pikir sedang mencicil kendaraan, hem?" skak Bu Ayu yang mana membungkam mulut Leon seketika. Kalau sudah mode ngamuk maka Leon, pak Imran ataupun Leony-kakak perempuan Leon tidak bisa membantah lagi. Mulut ketiganya terkunci rapat sebab rasanya percuma mendebat karena sampai kapan pun, bu Ayu akan selalu menang.


Bu Ayu bangkit dari tempat duduknya. Lalu meraih hand bag yang sempat ia taruh di atas meja panjang di ruang tamu. "Mama beri kamu waktu enam bulan untuk menemukan calon istri. Jika tidak, mama terpaksa menjodohkanmu dengan anak dari teman arisanku. Dia masih single, cantik, karirnya pun bagus, sangat serasi dengan kamu."


Mulut Leon terbuka, kemudian mengatup dan terbuka lagi sampai beberapa kali. Akan tetapi, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang tipis.


'Sial!' Hanya satu kalimat umpatan yang berhasil meluncur dari bibirnya.

__ADS_1


Pak Imran bangkit berdiri, hendak menyusul istri kesayangan. Namun, sebelum melangkahkan kaki, pria yang baru saja dikaruniai cucu ketiga menepuk pundak anak lelakinya yang begitu ia banggakan. "Jangan terlalu dimasukan dalam hati ucapan Mamamu, Nak. Semua yang diucapkannya hanya bentuk kekesalannya saja. Fokus saja dengan pekerjaanmu dan jangan sampai masalah ini menjadi beban buatmu. Papa yakin kalau sudah jodoh ke mana pun kita pergi pasti akan datang dengan sendirinya."


Leon menghela napas berat. Untung saja papanya selalu bersikap bijak, tidak pernah memaksa dirinya untuk segera mempunyai pasangan. Walaupun ia tahu sebetulnya sang papa sangat ingin melihat anak bungsunya menikah dengan wanita baik yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Baik, Pa. Terima kasih sudah memberiku kepercayaan."


Sekali lagi Pak Imran menepuk-nepuk pundak Leon pelan. "Sebelum pergi kondangan, Mamamu sudah memasakkan sop ayam kesukaanmu. Makanlah yang banyak karena Papa yakin perutmu belum terisi makanan sama sekali, 'kan?"


Leon mengangguk. "Iya, Pa. Nanti aku akan hangatkan sopnya."


Sepeninggal mama dan papanya, Leon mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah dua lantai bergaya minimalis tampak sepi bagai tak berpenghuni. Pandangannya mengarah pada sebuah pigura foto berukuran besar yang menempel di dinding. Di foto itu terdapat Leon bersama kedua orang tua, kakak perempuan, kakak ipar serta kedua keponakannya. Foto itu diambil satu tahun lalu, sebelum Leony melahirkan anak ketiganya.


Melihat perut Leony yang membesar karena usia kandungan memasuki trimester ketiga, Leon jadi sedikit mengerti kenapa mamanya mendesak ia untuk segera menikah. Terdengar desahaan pelan bersumber dari pria itu. "Maafin aku, Ma, belum bisa memberimu cucu."

__ADS_1


...***...



__ADS_2