Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Memikirkan Dia


__ADS_3

Saat ini Leon sedang berada di ruang meeting rumah sakit bersama rekan sejawatnya. Mereka tengah membicarakan soal persiapan operasi cangkok ginjal pada pasian yang akan dilakukan besok pagi. Ruangan meeting rumah sakit itu tenang, terang, dan dipenuhi aroma kopi. Suasana meeting itu memang santai, diiringi dengan candaan sesekali.


Meskipun tubuhnya berada di ruangan meeting, tetapi pikiran Leon sedang berkelana. Mengetahui masa lalu seseorang bukan hal sengaja yang ia mau. Sekarang setelah tahu apa yang menimpa Lulu di masa lalu, Leon tak bisa berhenti memikirkannya.


'Enggak nyangka kalau dia ternyata punya masa lalu yang cukup kelam. Kisahnya hampir mirip dengan Queensha, tapi untungnya mahkota Lulu enggak sampai dirampas pria berengsek itu. Kalau sampai itu terjadi dan Lulu hamil anak si Berengsek itu, pasti hidupnya akan semakin menderita.'


'Queensha masih mending karena Ghani bersedia bertanggung jawab, sementara si Andri? Gue enggak yakin dia bakal tanggung jawab, mau nikahi Lulu.' Leon bermonolong di saat ia tengah mengikuti rapat. Pikiran pria itu berkelana ke mana-mana, terbang dari tempat yang satu ke tempat lainnya.


Leon menopang pipi kanan menggunakan telapak tangan kanan. Tatapan mata pria itu kosong seakan terjebak pada suatu tempat.


Dokter Ale rekan sesama dokter, mengembuskan napas panjang. ”Operasi cangkok ginjal cukup rumit dan memakan waktu tak sedikit jadi saya harap rekan semua mempersiapkan diri untuk menghadapi operasi besok."


“Saya sudah memeriksa ulang semua persiapan. Semua hasil tes darah dan pemindaian sudah kami siapkan. Bagaimana dengan donornya sendiri? Sudah ada kabar terbaru?” tanya dokter Naomi, dokter yang akan memimpin operasi besok.


Dokter Ale mengangguk, lalu menjawab, “Donor ginjalnya adalah saudara perempuannya. Dia juga sudah menjalani serangkaian pemeriksaan. Sejauh ini semua persiapan berjalan lancar dan baik-baik saja. Dia sangat antusias membantu saudaranya.”


“Baguslah, kita perlu memastikan segala persiapan berjalan dengan baik supaya transplantasi ginjal ini berhasil.” Dokter Naomi kembali bersuara. “Dokter Leon, bukankah ini tugasmu, bagaimana apa kamu sudah siap melakukan tindakan operasi besok?"


Leon yang sedang tidak fokus bahkan tak mendengar pertanyaan dokter Naomi, hingga dokter Ale menegurnya. “Dokter Leon. Hai, kamu masih di sini, 'kan?” Dokter Ale menggerakkan jarinya seperti sedang menyadarkan seseorang yang terkena hipnotis.


Gerakan tersebut berhasil mengembalikan kesadaran Leon. Ia terhenyak dari lamunannya. “Ah, iya, bagaimana? Kalian tanya apa? Maaf Dokter Naomi, bisa diulangi lagi pertanyaannya?” ujarnya sambil mengerjap mata beberapa kali.


“Apa kamu sudah siap melakukan tindakan operasi besok? Apa semuanya aman?” Dokter Naomi mengulangi pertanyaannya. Dahinya berkerut melihat Leon tidak fokus.


Leon adalah dokter professional yang sangat menjunjung tinggi integritas. Ini hal baru bagi dokter Naomi menyaksikan Leon terbengong saat meeting, bukan hanya sekali, Naomi sedari tadi mengamati dari sudut kacamatanya. Pikiran Leon memang sedang tidak berada di ruang meeting ini.


“Oh ya, tentu saja. Dari segi kompatibilitas mereka sudah diperiksa, dan semuanya cocok. Jadi, kita hanya perlu memantau proses persiapan pra-operasi ini berjalan dengan baik. Kita harus menjaga supaya pasien dan donor tetap tenang.” Sebagai dokter bedah, Leon sudah terbiasa dengan standar operating prosedur.


Leon kembali bisa menguasai diri, tetapi hal itu tak luput dari perhatian dokter Ale. 'Tidak biasanya Dokter Leon bersikap aneh seperti sekarang. Selama ini justru dia yang selalu mengingatkan aku dan rekan yang lain agar tetap fokus saat hendak melakukan tindakan operasi. Namun, kenapa sekarang berbeda? Apa ... dia ada masalah keluarga sampai tidak fokus?'


“Baiklah kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi. Dokter Ale, kamu yang harus memberikan briefing kepada tim tentang tugas masing-masing. Kita harus memastikan semua terkoordinasi dengan baik. Dokter Leon apa masih ada lagi yang mau disampaikan di sini? Selagi kita berkumpul jadi kalau ada kendala bisa diskusikan bersama,” kata dokter Naomi lagi.


Hening.


Leon benar-benar tidak mendengar pertanyaan itu hingga dokter Ale mendekatkan kursinya dan berbisik di dekat telinganya. “Kamu kenapa Dokter Leon, kok, dari tadi aku lihat kamu tidak fokus. Kalau ada masalah yang mengganggu pikiran, sampaikan saja kepada kami, siapa tau kami bisa mencarikan jalan keluar untukmu."


Leon kembali tersentak kaget lalu menggelengkan kepalanya. 'Bodoh! Kenapa gue bisa ngelamun di saat seperti ini, sih.'


'Ternyata masalah Lulu bikin gue jadi enggak fokus. Ya mau gimana, gue betulan kasihan sama dia karena harus menanggung masalah besar macam begini.'


Melirik beberapa detik, lalu berkata, "Tidak papa, kamu tenang saja. Aku memang sedang memikirkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Tapi bukan masalah besar, kok. Thanks, sudah mengkhawatirkanku." Leon menjawab seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri.


“Kamu yakin masalahmu itu tidak akan mengganggu pekerjaan kita besok?” tanya dokter Ale ingin memastikan.

__ADS_1


“Tentu saja. Sudah, tenang aja kita hanya perlu melakukan yang terbaik untuk pasien besok. Semoga semuanya berjalan lancar." Leon bangkit berdiri lalu merapikan ujung snellinya agar terlihat rapi. Lalu berkata, "Maaf Dokter Naomi. Dari saya cukup segitu saja. Saya harus pergi. Selamat siang semua."


Leon segera berjalan keluar ruangan. Ia sudah mendengarkan semua penjelasan dokter Naomi dan operasi besok sudah ia persiapkan maksimal. Ia yakin dengan kemampuan yang dimiliki segala sesuatu akan berjalan baik.


Kepergian menyisakan sejuta pertanyaan di kepala semua orang. Mereka menatap cengo akan sosok pria yang dikenal begitu disiplin, tegas, dan bertanggung jawab.


“Ke mana dia? Kita belum selesai meeting dan dia pergi begitu saja. Apa-apan ini?” tanya dokter Naomi sambil meletakkan kacamatanya.


“Kita tahu Dokter Leon adalah dokter professional dan bertanggung jawab, baru kali ini dia bersikap aneh Sepertinya kita harus memberikannya sedikit ruang. Saya pastikan besok semuanya aman, dokter Naomi, jangan khawatir.” Lagi dan lagi dokter Ale membela Leon di depan semua orang. Entahlah mengapa ia selalu saja melindungi rekan sejawatnya itu setiap kali Leon terkena masalah.


“Oke Dokter Ale, kamu memang selalu membela Leon. Di luar masalah pribadinya, saya sendiri percaya sama Leon." Dokter Naomi menarik napas panjang dan dalam, kemudian kembali berucap, "Baiklah, meeting siang ini cukup sampai di sini. Selamat siang semua!"


"Selamat siang!" sahut semua orang hampir bersamaan. Lalu mereka bubar dan kembali ke ruangan masing-masing. Ada pula yang kembali ke bangsal guna melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda beberapa saat.


Sementara itu, Leon memutuskan pergi ke restoran siap saji tempat Lulu bekerja. Pria itu sengaja tidak memberi kabar kepada Lulu terlebih dulu. Kebetulan ia juga sudah tidak ada shift lagi hari ini, jadi bebas mau pergi ke mana saja. Apalagi saat ini tidak ada Ghani, sehingga ia tidak perlu merasa khawatir akan ditegur sahabat sekaligus atasannya itu.


"Moga Lulu ada di dalam. Bahaya kalau ternyata dia enggak ada shift hari ini," gumam Leon.


 


Lulu sedang sibuk bekerja saat Leon datang ke restoran siap saji tempatnya bekerja. Lulu segera mengatasi rasa gugupnya, ia sangat kaget karena tiba-tiba Leon sudah berdiri di depannya.


'Eh, ngapain dia ke sini? Apa mungkin dia ...? Bullshiit! Jangan mikir yang macam-macam, Lu! Bisa aja dia datang ke sini karena mau makan siang.'


“Selamat siang, sudah mengisi pesanannya?” tanya Lulu ramah. Seulas senyum terlukis di bibirnya.


“Sudah, saya sedang menunggu pesanan datang,” jawab Leon sambil tersenyum membuat Lulu pun ikut tersenyum. Setelah beberapa saat Lulu membawa pesanan Leon ke mejanya.


“Silakan, ini pesanan Anda. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Lulu sambil mendekap nampan di dadanya.


Bukannya menjawab pertanyaan Lulu, Leon justru mengajukan pertanyaan lain dan itu melenceng dari pembahasan mereka. Aneh, benar-benar aneh sekali.


“Kamu apa kabar?” tanya Leon dengan nada khawatir.


“Oh, saya baik-baik saja,” jawab Lulu tak menyangka mendapat pertanyaan personal.


“Baguslah kalau kamu tidak kenapa-napa.” Ada perasaan lega tergambar dari kata-kata Leon.


“Kalau tidak ada pesanan lagi saya kembali dulu, silakan dinikmati makanannya.”


Leon mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Melihat Lulu secara langsung begini entah kenapa membuat perasaannya tenang.


'Syukurlah kalau dia baik-baik aja.' Perlahan-lahan Leon menikmati hidangan yang tersaji di depannya.

__ADS_1


 


Lulu kembali ke belakang, beberapa rekan kerjanya melihat Lulu yang akrab dengan pelanggan sontak membuat mereka menggodanya.


 


“Cieh, cieh, didatengin ayang! Kenapa diem-diem bae kalau udah punya cowok?” goda Lina, temannya yang selalu usil.


 


“Wah lumayan ganteng cowok lo. Pantes aja selama ini disembunyiin, takut diembat teman sendiri, ya?” imbuh Lusi. Mereka kemudian tertawa cekikian melihat Lulu yang salting tak karuan.


“Ngaco lo semua! Pacar apaan? Dia cuma teman gue. Ngerti!” balas Lulu dengan nada ketus, tetapi jantungnya malah deg-degan tidak karuan. Sesekali merapikan poni yang menutupi keningnya.


“Teman, tapi demen, 'kan? Hajar Lu, kalau lo nggak mau ya buat gue aja, gue juga udah lumayan lama ngejomblo tahu.” Lina kembali menggodanya. Kerlingan mata nakal ia berikan kepada rekan kerjanya tersebut.


 


“Eeh, malah ngeyel. Udah dikasih tau dia cuma temen malah enggak percaya. Batu lo semua!” Semburat merah masih mewarnai pipi Lulu tanpa ia sadari, dan hal ini membuat teman-temannya semakin bersemangat menggoda.


 


“Ya kalau teman biasa sikap lo juga biasa, dong, enggak usah salting gitu.” Lusi menambahi. Baginya jadi kesenangan tersendiri menggoda Lulu yang selama ini memang anti cowok.


 


Jika ada customer ganteng datang, mereka sibuk berbisik-bisik di belakang, sedangkan Lulu tidak pernah tertarik untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan para kaum wanita.


Ketika hari ini melihat Lulu akrab dengan pria tampan dan good looking, ini menjadi bahan untuk ‘mem-bully’ Lulu yang semakin bingung menghadapi candaan teman-temannya. Lulu merasa mereka berlebihan.


“Udah, ayo lanjut kerja. Jangan mentang-mentang Mbak Puji udah dipecat Pak Rama, kalian malas-malasan," ujar Lulu menghindari pertanyaan-pertanyaa sensitif yang membuatnya tidak nyaman.


Dua gadis yang sejak tadi menggoda Lulu cekikikan melihat sikap Lulu yang berubah salting. Belum lagi rona merah muda di pipi semakin membuat mereka geli karenanya.


"Hu, bilang aja kalau lagi PDKT. Gitu aja enggak mau ngaku," celetuk Lina.


"Namanya juga Lulu, mana mungkin mau berbagi cerita dengan kita. Dia baru mau cerita cuma sama Queensha doang. Dah lah, gue mau lanjut kerja lagi. Gosip time cukup sampai di sini."


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2