Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Malam Minggu


__ADS_3

Malam Minggu adalah malam yang dinantikan bagi hampir semua insan manusia di belahan bumi mana pun. Pada malam itu, sebagian orang menggunakan waktu yang ada untuk bepergian bersama pasangan ataupun keluarga. Pun begitu dengan Leon, sahabat sejati Ghani sudah menanti malam tersebut untuk bisa pergi dengan Lulu.


Leon sudah berpakaian rapi, hendak menjemput Lulu. Saat ia keluar dari kamar, Pak Imran dan Bu Ayu melihat putranya dari lantai satu. Sang putera tampak berbeda dari biasanya.


Leon terlihat sangat gagah memakai celana jeans, t-shirt casual dilengkapi sepatu sport yang membuat penampilannya semakin memesona. Hal itu tentu saja membuat bu Ayu dan pak Imran curiga kalau Leon akan bertemu dengan seseorang yang istimewa.


Pasangan suami istri itu saling memandang satu sama lain seolah sedang berbicara lewat sorot mata keduanya. Lalu, pak Imran mengendikan bahu petanda bahwa ia tak tahu hendak pergi ke mana putera mereka itu sebab Leon tak bercerita apa pun kepadanya.


Ketika Leon berjalan ke arah dapur guna mengisi botol air minum, bu Ayu bertanya, "Mau ke mana kamu? Tumben malam minggu pergi, biasanya juga di rumah nonton TV bareng mama dan Papa."


Leon menghela napas kasar. 'Enggak pergi salah, pergi juga salah. Gue bingung, maunya Mama apa, sih? Perasaan apa yang gue lakuin selalu salah di matanya.'


Menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan berharap dengan begitu Leon diberi kesabaran banyak untuk menghadapi mamanya. "Mau pergi sama temen, Ma."


“Emang temen kamu itu siapa sampai kamu berpenampilan rapi kayak gini, Yon?” tanya Bu Ayu penasaran. Suara wanita itu meninggi agar Leon yang berada di dapur mendengar ucapannya.


 


Leon yang enggan memberitahu kalau ia sedang dijodohkan dengan Lulu terpaksa meyembunyikan fakta tersebut. Lagi pula, untuk apa ia memberitahu sang mama toh hubungannya dengan Lulu tidaklah mungkin berlanjut ke step selanjutnya.


"Pokoknya sama temen deh, Ma. Mama enggak usah kepo, kayak wartawan yang sedang memburu berita," sahut Leon asal. Kemudian ia memutar botol minum lalu mengisinya dengar air putih dari dispenser.


“Pa, anakmu tuh ditanya malah ngelantur jawabannya. Bikin mama emosi aja. Bukannya jawab malah main rahasia-rahasian segala. Mama, 'kan, jadi penasaran." Bu Ayu mengadukan kelakuan anak bungsunya pada Pak Imran yang sedang duduk manis di sofa.


"Kamu seperti tidak mengenali siapa anakmu, Ma. Dia memang penuh dengan rahasia. Jika kamu terus mendesaknya, yang ada kamu capek sendiri," sahut Pak Imran tanpa menoleh ke arah istrinya.


Bukannya berhenti, Bu Ayu terus mengoceh tanpa henti. "Mama beneran kepo, Pa. Coba tanya siapa tahu kalau sama kamu, dia mau jujur."


"Biarkan saja dia mau pergi dengan siapa pun, itu haknya dia. Namanya juga anak muda, pasti ingin hidup bebas tanpa ingin memberitahu kepada siapa pun dia mau jalan dengan siapa. Seharusnya kamu senang karena Leon sedang dekat dengan seseorang. Papa berani jamin, kali ini Leon pasti berhasil mendapatkan pacar untuk dijadikan calon istrinya," ujar Pak Imran. Entah mendapat keyakinan dari mana ia berkata demikian. Namun, instingnya mengatakan kalau jodoh Leon sudah dekat.


"Wah, kalau benar katamu. Siapa tau memang Leon betulan sedang PDKT dengan seseorang. Namun, kenapa mama jadi deg-degan, ya?" Bu Ayu menyentuh dadanya menggunakan telapak tangan. Jantung wanita itu berdegup sangat kencang.


Melihat Leon melintas di depannya, Bu Ayu berkata, "Leon, coba dong kamu bilang sama mama sebetulnya kamu mau ke mana sih? Kok main rahasiaan segala sama orang tua." Ibu Ayu masih terus mendesak Leon, yang hanya memutar bola matanya dengan malas.


“Mama sama papa kayak enggak pernah muda aja, ah. Ya udah, sekarang aku mau berangkat dulu,” pungkas Leon sambil mengucapkan salam.


"Eh, tunggu dulu. Mama belum selesai ngomong. Kamu langsung melengos begitu saja. Dasar anak nakal!" Bu Ayu mencekal lengan Leon yang baru saja selesai mencium punggung tangannya.


'Gini nih punya nyokap yang sering bergosip sama tetangga. Privasi anaknya pun terus dikorek,' raung Leon dalam hati.


Leon melepaskan tangan mamanya dan berkata dengan amarah yang tertahan. “Mamaku tersayang, pokoknya mama percaya deh, aku enggak akan aneh-aneh. Aku enggak akan ke club malam, menegak miras apalagi main perempuan. Aku cuma mau have fun aja, kok, barenga temenku. Paling kita nongkrong di café dan nonton film di bioskop."

__ADS_1


"Mungkin aku akan pulang malam, jadi kunci rumah jangan digantung di pintu, ya, Ma. Aku enggak mau tidur di teras rumah gara-gara enggak bisa masuk ke rumahku sendiri."


Pak Imran mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban. Ia tahu Leon pria yang bertanggung jawab dan sangat bisa dipercaya sehingga tak khawatir jika puteranya itu pulang larut malam.


"Nikmati masa mudamu, Nak. Papa mendukungmu!" seru Pak Imran memberi semangat.


Pak Imran bukannya tidak sayang kepada Leon, hanya saja ia memberi kepercayaan penuh pada anak lelakinya itu. Leon tidak akan melakukan hal-hal yang negatif. Anak bungsunya itu sudah cukup dewasa, bahkan bisa memilah dan memilih mana yang terbaik untuknya sendiri.


"Apa beneran dia mau ketemu cewek?" gumam Bu Ayu melepas kepergian Leon. Ia menatap gamang pada mobil Leon yang mulai meninggalkan halaman rumah.


Pak Imran mengusap pundak istrinya, mengerti kegelisahan sang istri. "Kalau dicium dari aroma parfumnya itu adalah aroma orang yang jatuh cinta," jawab pria paruh baya itu. Sebagai sesama lelaki, ia bisa tahu hanya dengan melihat gelagatnya saja.


"Ih, Papa sok tahu," sahut Bu Ayu mencibir. Keduanya kembali ke dalam rumah setelah mobil Leon hilang dari pandangan.


 ***


Leon bergegas menjemput Lulu di indekosnya. Rupanya Lulu sudah bersiap, menunggu kedatangan pria yang konon kata sahabat terbaiknya, Leon adalah pria baik yang tak pernah mempermainkan perempuan.


Leon menurunkan jendela mobil dan berkata, “Lo udah siap?”


“Gue udah nungguin lo dari tadi, Gaje! Nih, kaki gue sampe pegel nungguin lo!" ujar Lulu dengan nada sinis. Kalau bukan karena Queensha, ia pasti sudah masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu, menarik selimut, dan memejamkan mata di atas kasurnya yang empuk.


“Iya, biasa, arah ke sini emang jalur padat.” Lulu teringat kalau jalur ke arah indekosnya memang rawan macet. Ia saja bisa sampai tiga puluh menit hingga satu jam hanya untuk tiba di indekos.


“Ya udah masuk. Kita jalan sekarang.”


Ketika Lulu mendekati mobil, Leon terkesima dengan penampilan gadis itu yang malam ini terlihat berbeda. Dengan style casual, Lulu terlihat lebih muda dan berbeda, seperti gadis remaja kelas 3 SMA.


"Eh, malah bengong. Katanya mau jalan, ayo! Keburu kehabisan tiket, nih."


Seruan Lulu berhasil mengembalikan kesadaran Leon. Lantas ia turun dari mobil, membuka pintu dan mempersilakan Lulu masuk. Leon melajukan kendaraannya menuju sebuah mall besar yang ada di Jakarta Barat, tempat nongkrongnya anak-anak muda.


Suasana malam minggu di mall sangat ramai, sepertinya semua orang berlomba menuju ke lantai cinema. Beberapa kali Lulu harus memiringkan tubuh demi menghindari gesekan dengan beberapa pria yang berjalan terburu-buru.


Tak ingin membiarkan Lulu merasa tidak nyaman, Leon segera menggamit tangannya, lalu berjalan berdekatan di sisi kanan Lulu seperti pasangan lainnya. Lulu mengerti niat Leon ingin melindungi dirinya, tetapi jantungnya tak bisa dikendalikan. Berdegup kencang seolah sedang bermain drum band di dalam sana.


'Sadar, Lu. Jangan sampe lo baper!' Lulu mencoba mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terbawa suasana.


“Kita makan sebelum atau setelah nonton?” tanya Leon memecah kesunyian yang tiba-tiba melanda mereka.


“Kalau menurut gue, nanti aja deh, habis nonton pasti kita laper. Yang penting sekarang kita beli snack dulu sama minum.”

__ADS_1


Mereka segera masuk ke area teater dan memesan tiket serta makanan ringan dan minuman. Antrian yang cukup panjang membuat Leon berkali-kali melindungi Lulu dari gesekan sesama pengunjung.


Sekitar dua puluh menit mengantri, akhirnya mereka mendapatkan makanan dan minuman.


“Lo lebih suka film horor, petualangan, atau romance?” tanya Leon saat mereka mengantri di counter ticketing.


“Kalau gue sukanya petualangan sama thriller, agak-agak seru gitu, jadinya enggak bikin ngantuk.”


“Oh, I see. Itu ada thriller dan sci-fi juga. Lo tinggal pilih, gue ngikut aja."


Lulu mendongakan kepala, melihat sebuah layar yang menampilkan jadwal film yang diputar malam ini. "Yang sci-fi aja, Yon. Kayaknya seru, tuh." Jari tangan wanita itu menunjuk layar.


Akhirnya mereka menghabiskan malam minggu bersama-sama. Tak terasa dua jam berlalu, wajah-wajah cerah terlihat keluar dari room cinema.


"Aih seru banget ya. Gue sempet mikir kalau ceweknya lemah. Bahkan gue sampe ilfeel duluan, pas sepuluh menit pertama film diputar. Kirain dia bakalan nyerah, eh ternyata malah jadi superhero," ujar Lulu mengomentari film yang baru saja mereka tonton.


Film yang mereka tonton merupakan sebuah film sci-fi. Mengisahkan tentang seorang gadis yang berubah menjadi robot yang ternyata harus melawan sang pencipta ropot yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Leon mengangguk. "Bener banget, tuh. Film sci-fi itu emang suka di luar nalar, tapi juga cukup menghibur. Gue senang sama akting para pemainnya dan alur ceritanya yang enggak pasaran. Ada sedikit plot twist di akhir yang masih bikin otak sedikit sulit mencerna.” Leon mengatakan yang ia rasakan, menyenangkan ternyata berbagi cerita film setelah mereka menontonnya bersama.


“Yups. Alurnya seru dan banyak kejutan. Gue juga suka kalau lihat film yang endingnya enggak ketebak," sahut Lulu, menyetujui ucapan Leon.


Selama film diputar, Lulu terlihat sangat antusias. Sesekali memasukan popcorn ke dalam mulut. Pandangan mata gadis itu fokus pada layar berukurang sangat besar di depan sana.


“Ya udah, sekarang kita makan. Kita cari makanan seafood aja gimana?” Leon masih mengingat pesan Queensha yang mengatakan Lulu sangat menyukai masakan seafood.


Ajakan Leon itu membuat mata Lulu berbinar indah. Gadis itu tersenyum senang karena seafood memang tidak pernah gagal membuat perutnya kenyang.


Lantas keduanya berjalan keluar gedung bioskop. Kepala Lulu menunduk, merasa debaran aneh yang belum pernah ia rasakan.


“Thanks, lo udah ngajakin gue jalan. Malam ini gue happy banget," kata Lulu lirih. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan ledakan asa yang hampir meledak.


Hal serupa dirasakan Leon. Ia pun merasakan perasaan aneh yang membuat dirinya ingin terus tersenyum lebar. "Sama-sama, Lu. Gue seneng kalau lo juga seneng."


Meskipun terkadang mereka bersikap seperti Tom dan Jerry, yang selalu bertengkar setiap kali bertemu, tetapi ada saatnya di mana keduanya bisa akur. Terbukti sekarang Lulu dan Leon bisa menikmati malam minggu mereka bersama-sama dengan perasaan bahagia.


...***...


 


 

__ADS_1


__ADS_2