
"Aunty Lulu!" Aurora berseru sambil menyembulkan kepalanya di jendela mobil. Tangan gadis itu melambaik di udara disertai senyuman lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Lulu membalas lambaian tangan itu dan berkata, "Hai, Sayang. Gimana, udah siap untuk pentas hari ini? Aunty harap kamu enggak gugup saat naik ke atas panggung nanti."
"Enggak dong. Rora, 'kan, pemberani jadi enggak akan takut apalagi gugup," sahut Aurora antusias.
"Anak pintar. Itu barunya keponakan aunty tersayang." Lantas Lulu menyodorkan buket snack berisikan cokelat, wafer, dan chiki ke hadapan gadis kecil itu. "Hadiah buat kamu biar makin semangat."
Mata bundar Aurora berbinar bahagia. Dia segera meraih buket tersebut dengan suka cita.
Lulu masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping mang Aceng yang sedang mengemudikan mobil mewah keluaran terbaru. "Sha, betulan nih Dokter Ghani enggak masalah gue ikut ke pensi sekolahnya Rora? Gue masih ragu nih, takutnya dalam hati Dokter Ghani kesel karena kehadiran gue gangguin kemesraan kalian berdua."
Queensha memajukan sedikit tubuhnya ke depan agar bisa mengobrol lebih leluasa dengan sahabatnya. "Ish, masih saja bertanya hal yang sama. Sudah kukatakan berulang kali kalau Mas Ghani sama sekali tidak keberatan, apa perlu aku telepon suamiku agar kamu bisa lebih tenang?" Wanita itu bersiap mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas, tetapi segera dicegah Lulu.
"Jangan! Gue enggak mau ngobrol sama suamimu. Merinding disko bulu kudu gue kalau mesti ngobrol secara personal," tolak Lulu sambil menggeleng kepala cepat.
Jemari tangan kembali Queensha turunkan. Dia menaruh kembali hand bag-nya di bawah jok mobil. "Makanya, jangan mengajukan pertanyaan yang sama jika tak mau berbicara dengan suamiku. Mendingan sekarang kamu duduk manis karena menikmati pemandangan indah di luaran sana."
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Queensha, Lulu, dan si kecil Aurora tiba di sekolah. Bangunan kokoh yang dibangun di atas tanah seluas 500 hektar terlihat begitu ramai, para orang tua-wali murid beramai-ramai mengantar putera putri mereka memasuki aula sekolah, tempat diselenggarakannya pentas seni khusus kelas 0 besar.
Lulu membantu Queensha turun dari mobil, sementara mang Aceng membantu princess-nya dokter ganteng, memastikan gadis kecil itu tidak terjatuh dan tubuhnya tersungkur ke tanah beraspal.
"Mang Aceng boleh kembali ke rumah Bunda, nanti aku pulangnya bersama Mas Ghani."
"Baik, Mbak. Tapi kalau Mbak Queensha butuh mamang untuk mengantar ke mana-mana, kirim WhatsApp saja, nanti mamang jemput di sini."
Mang Aceng undur diri dari hadapan Queensha. Karena tugasnya sudah selesai, mengantar menantu sang majikan dengan selamat maka kini saatnya menjalankan tugasnya yang lain.
__ADS_1
"Rora!" Seorang gadis kecil berambut kepang dua berteriak memanggil nama putri pertama pasangan Ghani dan Queensha.
Aurora yang saat itu sedang berjalan bergandengan tangan bersama mama dan aunty tersayang, refleks menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum saat melihat Alenka melambaikan tangan ke arahnya.
"Lenka!" balas Aurora tak kalah kencang. "Mama, itu teman sebangku Rora. Bisa Rora temui dia sebentar?" Pertanyaan gadis kecil itu dijawab anggukan tangan.
Aurora berlari kencang mendekat temannya itu. "Kamu baru sampai juga, Lenka?"
"Iya, tadi aku dan Mama harus ke bandara dulu, mengantarkan Papa ke bandara. Hari ini Papa harus keluar negeri karena ada urusan pekerjaan," jawab Alenka. Ada sorot kekecewaaan dari sepasang mata jernih itu. Di hari bahagiannya, sang papa justru tak bisa melihat aksinya bernyanyi di atas panggung.
Seakan dapat merasakan kesedihan Alenka, Aurora menepuk-nepuk pundak temannya itu dan berkata, "Jangan sedih, 'kan, masih ada Mamanya Lenka di sini yang akan temenin kamu. Rora yakin, Papanya Lenka juga sebetulnya kepingin banget hadir, tapi karena sibuk jadinya enggak bisa datang. Lagian Papanya Lenka kerja untuk cari uang biar bisa beli mainan. Jadi Lenka enggak usah nangis, ya?"
Alenka mengusut butiran kristal yang berhasil lolos kemudian tersenyum lebar karena kini hatinya tak lagi bersedih.
Queensha, Lulu, serta mamanya Alenka terharu melihat pemandangan indah di depan sana. Ibunda Aurora bangga akan sikap anak pertamanya itu. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, Aurora begitu perhatian dan dapat menghibur orang lain. Benar-benar hebat.
"Lo beruntung banget, Sha, dibolehin masuk duluan. Coba kalau enggak, mungkin sekarang kita berdua masih ngantri di sana. Ternyata jadi bumil enak ya, banyak keuntungan bisa didapat. Bisa nyerobot antrian dan duduk di kursi prioritas kalau lagi naik kendaraan umum."
Queensha tersenyum tipis, tak terlalu memasukan omongan Lulu yang sedikit menyinggung perasaannya. Istilah menyerobot diartikan dalam konteks yang tidak baik dan dia kurang nyaman dengan kata-kata tersebut.
"Makanya kalau mau dapat privilage, nikah dulu kemudian hamil. Dijamin kamu dapat merasakan apa artinya keistimewaan itu."
Lulu berdecak kesal. Selalu saja menyinggung soal pernikahan, padahal Queensha tahu jika dirinya masih belum bisa melupakan kejadian masa lalu.
"Gue masih betah hidup sendiri. Kalau udah nikah pasti hidup gue ribet karena ke mana-mana mesti lapor suami. Enggak bisa bebas lagi dong gue," elak Lulu.
Queensha memutar tubuh kemudian menyentuh kedua bahu sang sahabat. "Kata siapa ribet? Hidupku justru semakin santai semenjak menikah dengan Mas Ghani. Dia selalu turun tangan, membantuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kalau butuh bantuan, tinggal bilang aja dan pasti dibantuin. Setiap kali jalan selalu ada yang lindungi. Pokoknya banyak banget manfaat setelah kita menikah."
__ADS_1
"Lu, menikah memang merupakan sunnah, tapi apa kamu tidak mau menyempurnakan sebagian agamamu? Hidup berumah tangga tidak seseram yang kamu bayangkan, ada banyak kebahagiaan tercipta dari sebuah pernikahan. Apalagi kamu dapat melihat wajah seseorang yang kamu cintai setiap hari, rasanya seperti seisi dunia berada dalam genggaman tangan."
"Belum lagi kalau kita dapat melihat langsung tumbuh kembang buah cinta kita sendiri, itu rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata." Queensha menjeda sejenak kalimatnya. Dia menatap lekat paras jelita di hadapannya. "Cobalah untuk membuka hatimu dan belajar melupakan kejadian masa lalu. Aku yakin, di luaran sana akan ada seseorang yang benar-benar tulus menerimamu apa adanya."
"Seorang pria yang baik, tidak mungkin memusingkan masa lalumu sekalipun masa lalu itu dianggap aib bagimu sendiri, kalau dia betulan cinta maka dia akan terus maju dan tak pernah gentar untuk memperjuangkanmu," sambung Queensha. Dia ingin memberi sedikit pencerahan kepada Lulu untuk belajar melupakan kenangan buruk masa lalunya. Siapa tahu ada sedikit kata-katanya yang meresap di relung hatinya yang terdalam.
Percakapan kedua wanita itu terhenti kala terdengar langkah kaki mendekat. Sontak dua wanita cantik menoleh ke belakang. Queensha tersenyum melihat suami tercinta berjalan dengan gagah berani, sementara Lulu terkejut setengah mati saat dua pasang mata saling menatap satu sama lain.
"Lulu?"
"Leon?"
Dua orang dewasa itu berkata hampir bersamaan. Mereka tak menduga akan bertemu di aula sekolah Aurora pada acara yang sama.
Perlahan Lulu melirik ke arah Queensha. Mata melotot seakan meminta penjelasan sahabatnya itu. Akan tetapi, Queensha pura-pura tak mengerti akan lirikan mata tersebut. Dia justru berdiri menyambut kedatangan Ghani yang semakin mendekat.
"Lo dan Lulu duduk di sana, sedangkan gue dan Queensha mau duduk di depan biar Rora lihat kalau bokapnya udah datang. Capek gue kalau mesti ngebujuk dia yang merajuk terus," bisik Ghani. Kemudian berjalan begitu saja menghampiri sang istri. Dia ulurkan tangan, membantu Queensha menuruni anak tangga menuju kursi barusan ketiga dari depan.
Dengan canggung Leon berdiri di sebelah kursi Lulu dan berkata, "Boleh gue duduk di sebelah lo?" Keringat dingin bercucuran di kening pria itu. Jantung berdebar kencang tanpa bisa dihentikan.
Hal serupa menimpa Lulu. Gadis itu merasakan apa yang Leon rasakan saat ini. Debaran kencang menghantam dada bagai deburan ombak kencang yang terus menghantam batu karang.
"B-boleh ... duduk aja, Yon." Lulu berkata canggung seraya menarik kakinya yang menghalangi jalan. Jantung gadis itu semakin cepat memompa saat Leon duduk di sebelahnya.
'Aduh, kenapa gue grogi begini, ya? Padahal ini bukan kali pertama kita duduk bersebalahan,' kata Lulu dalam hati. Dia menyentuh dadanya menggunakan telapak tangan. Detak jantung terus meningkat tanpa pernah tahu kapan akan kembali normal.
'Ghani kampret. Pantes aja dia maksa gue untuk ikut, ternyata ada Lulu di sini. Huu, tau ada Lulu, gue cukur kumis dan bulu-bulu di sekitar rahang dulu biar makin keren. Aah, si Ghani emang sialan! Sahabat enggak punya akhlak!' raung Leon. Rahang mengeras, tetapi berusaha menutupi kekesalannya di depan Lulu.
__ADS_1
...***...