
Hasil CT scan sudah keluar beberapa hari lalu. Tidak ada masalah dengan kepala Andri akibat bogem mentah yang dilayangkan Yogi kepadanya. Kesehatan pria itu pun perlahan-lahan membaik, lebam serta luka robek di sudut bibir pun berangsur-angsur sembuh dengan sendirinya.
"Alhamdulillah, kondisi kesehatan Saudara Andri sudah membaik tinggal rajin melakukan fisioterapi saja untuk menyembuhkan patah tulang pada tangan dan kaki. Walaupun tak menjamin akan sembuh total, setidaknya kita telah berusaha semaksimal mungkin." Dokter berkata usai memeriksa kondisi vital pasien.
Bu Tania mempererat cengkeraman tangannya di lengan sang suami. Hati bu Tania pilu mendengar kemungkinan terburuk menimpa anak kesayangannya itu. Andri masih muda, masa depannya pun masih panjang, tetapi dia harus cacat seumur hidup.
Pak Hardi menggeleng, seakan ingin menyampaikan kepada sang istri agar mereka kuat menerima kenyataan pahit yang baru saja disampaikan dokter Haikal. Jika mereka lemah, lalu bagaimana dengan Andri bukankah pria bajingan yang kini sudah insaf lebih hancur dari keduanya.
"Baik, Dokter. Saya mewakili keluarga ingin mengucap terima kasih karena selama ini Anda telah memberi pengobatan terbaik bagi kesembuhan putera kami. Ya, walaupun Andri adalah tahanan kepolisian setempat, tapi Anda memperlakukannya dengan baik. Tidak membeda-bedakan pasien satu dengan pasien lainnya hingga kami merasa beruntung dipertemukan Anda. Sekali lagi, terima kasih," ucap Pak Hardi tulus. Pria itu bahkan membungkukkan sedikit punggungnya di hadapan dokter Haikal. Lelaki terhormat yang dikenal gila bekerja (workaholic) bersedia merendahkan diri di hadapan orang lain. Benar-benar luar biasa.
"Tidak perlu berlebihan memuji saya, Pak. Ini memang sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter. Ada sumpah yang saya ucap sebelum mulai mengabdikan diri kepada masyarakat. Tidak membedakan ras, suku, kasta, agama ataupun status sosial seseorang ketika melayani pasien. Semua orang sama di mata Tuhan."
Dokter Haikal menepuk-nepuk pelan pundak Andri yang saat itu duduk di kursi roda. "Saudara Andri, kamu beruntung diberi kesempatan hidup kembali ke dunia ini dan karena itu saya harap kamu dapat menggunakan kesempatan ini untuk terus memperbaiki diri. Jadilah insan yang baik meski nanti berada di balik jeruji besi."
"Terima kasih, Dokter." Andri berkata pelan. Perkataan Dokter Haikal bagai sembilu tajam, yang dilesakkan tepat mengenai jantung . Sangat tepat sasaran.
Tak berselang lama, seorang pria berseragam polisi datang mendekat sementara yang satunya lagi berjaga di depan pintu ruangan.
"Saudara Andri, sudah waktunya pergi. Mari, saya bantu Anda ke mobil." Pria bertubuh jangkung, tegap, dan berwajah menyeramkan itu mendorong kursi roda menyusuri lorong rumah sakit. Orang tua Andri mengekori di belakang sesaat setelah mengucap salam perpisahan kepada dokter Haikal dan perawat yang bertugas pagi hari itu.
Ketika polisi itu mendorong kursi roda masuk ke lift, Andri menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Pak Polisi, sebelum Bapak bawa saya ke kantor polisi, bisa tidak kita mampir sebentar ke rumah korban yang pernah saya celakai sebelumnya? Saya mau minta maaf terlebih dulu pada wanita itu karena hampir membunuhnya."
Bu Tania yang berdiri di belakang sang putera maju satu langkah ke depan, menyentuh pundak Andri dan berkata, "Sayang, buat apa kamu minta maaf sama perempuan itu? Bukannya kamu sudah mempertanggungjawabkan perbuatanmu dengan cara mengakui kesalahanmu pada pihak kepolisian. Jadi, mama rasa tidak perlu menemui perempuan itu lagi hanya sekadar minta maaf kepadanya."
__ADS_1
"Karena Andri bersalah kepadanya. Andri hampir saja membunuh perempuan itu, Ma, masa iya Andri diam saja. Bukannya dulu Mama pernah bilang agar Andri minta maaf kalau melakukan kesalahan dan sekarang Andri ingin minta maaf sama orang yang sudah Andri celakai, apa itu salah? Ma, sebentar lagi Andri tinggal di penjara, kapan lagi punya kesempatan minta maaf secara langsung sama orang yang udah Andri celakai."
Bu Tania menatap tidak percaya pada Andri. Puteranya itu benar-benar sudah berubah. Musibah yang datang kepada Andri telah merubah anak lelakinya menjadi sosok lelaki berbeda dari sebelumnya.
"Tapi, Nak-"
"Papa akan mengantarkanmu menemui wanita itu. Kebetulan, asisten pribadi papa baru saja mengirim alamat tempat tinggal sementara korban sekembalinya dari rumah sakit. Sementara ini dia tinggal di rumah mertuanya di kawasan Jakarta Pusat," kata Pak Hardi menyergah ucapan Bu Tania, sebelum Andri terkena hasutan iblis jahat yang masih bersarang dalam diri anak lelakinya itu.
"Pa, kenapa kamu malah beri dia izin menemui wanita itu? Kenapa-"
Pak Hardi melotot, dia juga memasang wajah tegas di hadapan istrinya. Selama ini terlalu lembek sampai bu Tania terkesan tak menghormatinya sebagai kepala rumah tangga.
Seketika mulut bu Tania terkunci rapat. Perkataan yang hendak disampaikan ditelan kembali olehnya.
Polisi berambut cepak tak langsung meng-iya-kan permintaan pak Hardi, dia justru melirik ke arah temannya. Dalam kebisuan mereka berkomunikasi, mencari jawaban atas permintaan orang tua dari tersangka.
"Baik, saya akan kabulkan permintaan putera Bapak. Namun, kita tidak bisa lama-lama di sana karena saya mesti membawa Saudara Andri ke kantor polisi guna mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Polisi bertubuh jangkung dan berambut cepak itu.
Pak Hardi dan Andri tersenyum lega mendengarnya, sementara bu Tania hanya dapat menatap kesal pada suaminya.
***
"Jadi ini rumah mertuanya wanita itu, Pa? Besar juga, ya? Enggak kalah dari rumah Papa dan Mama," kata Andri seusai polisi bertubuh jangkung membantunya duduk di kursi roda.
"Dari informasi yang didapat sih begitu. Namun, untuk memastikan, papa coba tanya dulu pada wanita di depan sana."
__ADS_1
Setelah memastikan kalau Queensha memang tinggal di rumah orang tua Ghani, Andri ditemani kedua orang tuanya menunggu di ruang tamu sementara Ijah--asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Aurora menemui majikannya yang sedang bersantai di teras halaman belakang rumah.
"Permisi, Bu Rumi, Pak Rayyan, Den Ghani, dan Mbak Queensha. Di depan ada orang ingin bertemu Mbak Queensha." Perkataan Ijah berhasil membuat percakapan di antara anak, menantu serta mertua terhenti seketika. Dua pasang suami istri berikut satu orang gadis kecil menoleh secara bersamaan.
"Bertemu denganku? Siapa?" tanya Queensha dengan alis tertaut. Belum mengetahui berita tentang kedatangan Andri ke kediaman mertuanya.
Ijah menggelengkan kepala. "Maaf, saya juga kurang tau, Mbak. Soalnya tadi pas saya tanya, mereka tidak mau menjawab. Tapi, tadi saya sempat melihat ada dua orang lelaki berseragam polisi bersama mereka."
Dua pasang mata terbelalak. Queensha dan Arumi saling memandang satu sama lain lalu beralih memandangi suami masing-masing. Polisi? Mungkinkah di luar sana adalah lelaki yang nyaris membuat Queensha meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Jika memang benar, mau ada dia ke sini.
Banyak pertanyaan muncul dalam benak Queensha sampai membuat kepalanya pening seketika.
"Tidak baik membuat tamu menunggu terlalu lama. Sebaiknya kamu temui mereka sekarang," kata Rayyan pura-pura tak mengerti arti tatapan yang diberikan Arumi kepadanya. Dia menyembunyikan apa yang diperbuat Ghani kepada Andri beberapa hari lalu.
"Ghani, temani istrimu. Jangan biarkan dia menemui orang asing sendirian. Kalau misalkan mereka berbuat macam-macam, usir saja dari rumah ini!" tandas Rayyan.
Ghani mengangguk patuh. Lantas dia mendekatkan kursi roda ke samping istrinya lalu menggendong Queensha dan mendudukannya di kursi roda.
"Mbak Ijah, siapkan minuman untuk mereka. Ayah Bunda, aku titip Rora sebentar," ujar Ghani sebelum meninggalkan teras rumah. "Rora sayang, papa dan Mama tinggal dulu. Patuhlah selama papa dan Mama tinggal."
Si kecil bermata bundar menjawab, "Oke, Papa. Tapi jangan lama-lama. Rora masih ingin bermain dengan Mama dan adik bayi," pintanya pada sang papa.
"Iya. Setelah urusan mama selesai, mama temani Rora bermain lagi." Queensha berkata lembut disertai senyuman manis di wajahnya.
...***...
__ADS_1