
Resepsi pernikahan telah selesai digelar. Para tamu undangan yang hadir kembali ke rumah masing-masing. Pun begitu dengan orang tua Leon besert Ghani dan keluarganya kembali ke penginapan yang ada di pusat kota, meninggalkan Leon seorang diri di kediaman orang tua Lulu. Untuk malam ini dan selama tiga hari ke depan, Leon tinggal bersama pak Idris serta bu Fatimah sampai mereka ke Jakarta, menggelar resepsi pernikahan yang kedua.
Hari ini adalah hari pertama Lulu menjadi istri Leon. Jujur saja dia deg-degan setengah mati. Selama ini dia hanya tidur sendirian, tetapi kini ada seseorang yang menemani. Tentu saja sebagai laki-laki normal, tak mungkin Leon tak menjamahnya. Itulah yang membuat Lulu panas dingin karena takut suaminya itu meminta haknya sebagai seorang suami.
"Duh, gimana nih kalau Mas Leon minta gue melayaninya di ranjang. Jujur, gue masih takut. Ya, walaupun gue dan Mas Leon pernah hampir ngelakuin itu, tapi pas udah sah, kok, rasanya campur aduk begini, ya? Mana jantung gue dag dig dug kagak jelas begini." Lulu semakin gugup kala membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya sebentar lagi.
Kedua tangan yang ada di atas pangkuan semakin erat mencengkeram. Udara di luar sana masuk melalui celah jendela kamar, membuat tubuh Lulu semakin kedinginan karena dilanda rasa gugup yang menghantamnya.
Di saat Lulu tengah menunggu dengan cemas kedatangan Leon yang sedang mengobrol bersama pak Idris serta bapak-bapak sekitar rumah, tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh iya, tadi Dokter Ghani nitipin kado spesial pemberian Queensha. Katanya suruh buka sebelum gue tidur. Jadi penasaran, apa sih kadonya sampe dikatain spesial. Udah kayak martabak aja spesial." Terkikik sendiri mendengar gurauannya.
Lulu bangkit berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaian. Dia mengeluarkan bungkusan berukuran sedang kemudian menimang kado pemberian Queensha dengan penasaran. "Apa sih isinya? Kok enteng banget."
Membuka bungkusan kado tersebut dengan tidak sabaran. Ketika sudah terbuka semua, betapa terkejutnya Lulu begitu melihat lima potong lingerie seksi di dalam kotak persegi empat.
“What the fucck! Ini seksi banget! Gila aja gue disuruh pake baju beginian untuk malem ini. Bisa masuk angin gue." Kepala Lulu tiba-tiba pening, wajahnya pun memucat, dan tak lama kemudian merinding sendiri saat membayangkan dia mengenakan lingerie ini di depan suaminya.
"Enggak bisa, gue mesti cross check Queensha dulu." Lantas Lulu buru-buru mengambil ponselnya untuk menelepon Queensha.
Tak lama kemudian, Queensha mengangkat telepon Lulu.
“Sha! Lo kasih gue kado apa, hah?” jerit Lulu. Untunglah dia sedang di kamar sendirian, jadi tak ada yang mendengarnya.
Queensha terkekeh mendengar pekikan Lulu. “Kamu udah lihat kado yang kutitipin ke Mas Ghani, ya? Hehe, kado spesial itu buat menyambut malam bersejarahmu bersama suami. Gimana, bagus, 'kan?"
"Aku beli baju perang itu dari butik yang biasa aku datengin setiap kali mau bertempur dengan Kokoku sayang. Di sana koleksinya lengkap banget, loh. Kapan-kapan, aku ajak kamu ke sana biar bisa shooping bareng-bareng. Pasti seru."
“Bagus apaan. Baju kurang bahan begini dibeli. Lo tau enggak, bahannya tuh nerawang banget, Sha. Aset gue bisa kelihatan. Malu ah kalau disuruh pake baju model beginian." Lulu menatap ngeri pada tumpukan gaun malam di atas kasur.
“Kenapa malu? Kamu dan Mas Leon sudah sah jadi suami-istri. Suami adalah pakaian istri. Begitu pula sebaliknya. Jadi tidak usah malu.”
Di seberang sana Queensha duduk perlahan di atas sofa panjang menghadap taman belakang rumah. Di rumah sebesar itu hanya ada Aurora, Zahira, Shaka, serta ketiga keponakan tersayang yang sengaja menginap selama Ghani, Arumi, dan Rayyan pergi ke Ciamis.
"Lu, bukannya kamu pernah bilang sama aku kalau aku harus jagain betul-betul Mas Ghani dari cewek di luaran sana. Aku mesti bisa merawat diri, membahagiakan suami dalam segala bidang termasuk urusan peranjangan. Nah, aku pun mau kamu melakukan hal sama seperti diriku."
"Aku tau kamu punya pengalaman buruk di masa lalu, tapi bukannya traumamu itu sudah menghilang berkat bantuan Mas Leon. Oleh karena itu, tidak ada salahnya menyerahkan tubuhmu pada seseorang yang berhak atas kamu. Ya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah menolongmu terlepas dari trauma masa lalu. Selain itu, kamu pun dapat pahala karena membahagiakan suami," tutur Queensha panjang lebar. Jika dulu Lulu yang menceramahinya, kini giliran Queensha yang menceramahi sahabatnya itu. Bukan mau balas dendam, tetapi hanya ingin memberi sedikit nasihat agar Lulu tidak jadi istri durhaka karena menolak permintaan suami.
__ADS_1
“Iya juga, sih." Lulu termenung, menatap foto pre wedding miliknya. Di foto itu dia dan Leon terlihat begitu bahagia, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
“Mas Leon pasti bakal seneng lihatnya. Kamu ingat, 'kan, kata-kata konsultan pernikahan? Manjakan suami dengan visual istri dan jangan lupa bicara yang manis-manja ke suami supaya dia senang dengernya. Aku sudah mempraktekkannya, sekarang giliranmu."
Queensha melirik jam dinding di kamarnya dan berkata, "Sudah jam 11 malam. Aku mau tidur dulu, ngantuk banget nih. Aku tutup dulu ya, Lu. Selamat bersenang-senang. Muach!" Queensha memberi kecupan singkat untuk sahabatnya tersayang. Kemudian mematikan sambungan telepon.
Lulu mendesah berat. Jujur, dia masih ingin bicara dengan Queensha. Tapi, dia tahu tak boleh mengganggu tidur sahabatnya itu. Apalagi Queensha butuh banyak istirahat karena katanya tubuhnya sering pegal-pegal akhir-akhir ini.
Lulu melirik jam dinding. Sekarang menginjak pukul sebelas malam. Tadi sebelum ke kamar, Lulu melihat Leon masih asyik berbincang dengan ayah serta bapak-bapak di tenda depan rumah. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi sepertinya tampak seru sekali sampai-sampai jam segini Leon belum balik juga ke kamar.
“Apa pun yang terjadi malam ini, gue akan menghadapinya. Semangat!” Lulu menyemangati dirinya sendiri. Dia pakai lingerie seksi yang diberikan Queensha sambil menunggu kedatangan Leon.
***
“Sepertinya sudah malam. Saya tidur dulu ya, Pak,” pamit Leon pada mertuanya serta yang lain.
“Baiklah. Selamat tidur.” Pak Idris tersenyum dengan penuh perhatian. Dia tahu sebagai pengantin baru, pasti Leon ingin terus berduaan dengan Lulu.
Leon menghela napas panjang. Jujur, dia sedikit grogi karena harus melewatkan malam setelah prosesi ijab kabul digelar. Tentu sebagai suami dia berhak untuk menjamah istrinya sendiri. Hanya saja Leon ingat Lulu memiliki trauma terhadap laki-laki. Leon takut kalau traumanya itu masih membekas meski sudah berobat ke psikiater.
“Kalau Lulu nolak, gue mesti nerima dan nunggu sampai dia siap,” ucap Leon lirih lalu membuka pintu kamar Lulu.
Menelan saliva susah payah. 'Shiit! Seksi banget. Bikin si Adik bangun.'
“Halo, Sayang,” sapa Lulu dengan suara manja dan dibuat-buat.
Leon masih melongo tak percaya dengan panggilan Lulu yang amat menggoda itu. Dia benar-benar tak menyangka kalau Lulu akan menyambutnya dengan lingerie seksi, seolah istrinya tak sabar untuk melewatkan malam indah mereka sebagai pasangan suami istri.
“Kok diem aja? Sini dong. Aku udah repot-repot pakai lingerie gini, kamunya malah bengong aja dari tadi.” Gara-gara Leon cuma bengong saja, Lulu jadi sedikit manyun.
“Oh iya. Sorry.” Leon mendekati Lulu. Matanya tak lepas dari pemandangan indah di depan sana. Bagian yang selama ini tersembunyi bisa dia lihat tanpa penghalang sedikit pun. Puncak dada sang istri serta bulu halus di bawah pusar dapat terlihat jelas meski dalam cahaya lampu temaram.
“Omong-omong, kamu beli di mana baju itu?” Leon mengarahkan pandangan ke arah lingerie yang dipakai Lulu.
“Oh, ini bukan aku yang beli, tapi kado dari Queensha. Bagus enggak?” Lulu mendekati Leon yang saat ini duduk di pinggir tempat tidur.
Lagi dan lagi Leon menelan ludahnya. Lingerie yang dikenakan Lulu itu terbuka di bagian dada, sehingga memperlihatkan buah dada Lulu dengan teramat jelas. Belum lagi karena lingerie itu amat pendek, bagian paha Lulu juga kelihatan jelas membuat bagian bawah tubuhnya menjadi tegang.
__ADS_1
“Ba-bagus kok,” jawab Leon dengan terbata-bata.
"Yang bener?" Lulu mengedipkan sebelah matanya. Dia sengaja menggeser tubuhnya sehingga menempel ke tubuh Leon. Lulu sengaja menatap Leon dengan pandangan menggoda. Dia juga mencondongkan wajahnya agar Leon mau menciumnya.
Tak tahan dengan godaan di depan mata, Leon mengerang kecil. Dia pun merengkuh Lulu dalam pelukannya, lalu mencium bibir bibir ranum itu dengan tergesa-gesa. Kini tak perlu khawatir kebablasan sebab mereka telah sah menjadi suami istri.
Berawal dari ciuman bibir, kemudian Leon mencium bagian lain dari tubuh Lulu. Desah keduanya mengiringi percintaan mereka malam itu. Lulu memasrahkan dirinya pada Leon, sementara pria itu berusaha untuk memuaskan istrinya agar bersama-sama mereguk manisnya surga dunia.
***
Sinar matahari masuk melalui kisi-kisi jendela, membuat Leon terbangun. Saat melirik ke samping, dia melihat Lulu tertidur pulas. Lingerie seksi yang dia pakai sebelumnya sudah teronggok di lantai pun dengan pakaiannya sendiri.
Leon tersenyum mengingat percintaannya semalam bersama Lulu. Rasanya sungguh menyenangkan, membuat dia ingin mengulanginya lagi.
“Aku sayang banget sama kamu, Neko chan-ku,” bisik Leon pelan sambil mengecup kening istrinya.
Karena Lulu masih capek, dia hanya menggeliat kecil, lalu kembali tidur. Berhubung mata Leon sudah terbuka sepenuhnya, dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaannya semalam.
Leon bersenandung kecil saat mandi. Begitu keluar, dia berpapasan dengan bu Fatimah dan pak Idris yang baru saja dari dapur.
“Eh, udah bangun, Nak?” sapa Bu Fatimah pada menantunya yang baru saja selesai mandi. Bau sabun segar menguar dari tubuh Leon.
“Eh, iya, Bu. Selamat pagi, Pak, Bu,” sapa Leon pada kedua mertuanya yang rupanya hobi bangun pagi.
“Lulu masih belum bangun?” tanya Pak Idris seraya mencuri pandang pada sang menantu.
“Belum, Pak. Ehm, saya permisi dulu mau ke kamar,” pamit Leon. Rasanya malu sekali pagi-pagi sudah ditanyai oleh mertuanya. Apalagi mereka menatapnya sambil cengar-cengir seolah menggodanya.
"Namanya juga pengantin baru. Biarkan mereka menikmati peran baru sebagai suami-istri,” bisik Bu Fatimah pada Pak Idris.
Leon yang tak sengaja mendengarnya buru-buru ngacir ke kamar. Setelah mengunci pintu, dia kembali berbaring di samping istrinya yang belum juga bangun.
Percintaan mereka semalam cukup heboh bahkan saking hebohnya Leon terpaksa membungkam mulutnya menggunakan bantal ketika Lulu mengambil alih permainan. Jika tidak, mungkin suara erangan kencang dari mulutnya dapat terdengar jelas hingga satu kampung.
“Lulu, pokoknya aku sayang banget sama kamu,” bisik Leon sambil memeluk istrinya dari samping.
Alih-alih menjawab, Lulu sama sekali tak merespon apa-apa. Wanita itu malah asyik mendengkur kecil, membuat Leon tersenyum geli.
__ADS_1
"Kucing imut gue ngegemesin banget, sih." Lantas Leon ikut merebahkan diri di samping istrinya. Lama kelamaan, pelupuk matanya terasa berat, tak lama kemudian dia menyusul Lulu ke alam mimpi.
...***...