
Usai melakukan check up ke rumah sakit, Queensha dan Ghani tak langsung pulang begitu saja. Mereka masih memiliki tugas untuk menjemput Aurora di sekolah. Selama perjalanan menuju ke sekolah Aurora, raut kebahagiaan begitu terpancar dari wajah keduanya.
Seolah semesta tengah berpihak kepada mereka semua, jalan yang biasanya macet, hari itu juga terpantau lengang dan bahkan banyak kejadian menakjubkan yang mereka temui. Seperti pedagang kaki lima yamg ramai pembeli, penjaja koran di siang hari yang entah mendapat angin apa tersenyum bahagia karena koran yang ia jual hanya menyisakan satu koran saja. Tepat saat itu juga, ia lewat di depan mobil Ghani dan hendak menawarkan koran kepada Ghani.
Tanpa ragu, Ghani mengulurkan uang sebesar lima puluh ribu yang membuat penjual koran tersebut terkejut bukan main. "Pak, ini kebanyakan, saya tidak ada uang kembalian. Yang pas aja uangnya." Raut wajah kebingungan karena tidak ada cara untuk menukar uang.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya hargai segitu untuk semua informasi yang ada di dalam koran ini. Sudah, terima saja dan jangan memikirkan uang kembalian. Anggap saja kni rezeki yang Tuhan berikan melalui perantara saya." Sebuah jawaban yang tidak terduga, bahkan Queensha juga tak menyangkanya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak, semoga rezekinya lancar terus, Pak," ucap tukang koran seraya mencium lembaran uang lima puluh ribu dengan penuh suka cita. Jarang sekali mendapat pembeli yang begitu royal, memberi uang lima puluh ribu tanpa berniat meminta uang kembalian. Sungguh merupakan rezeki tak disangka-sangka, bukan?
"Aamiin. Tetep semangat bekerjanya, Mas!" jawab Ghani dengan senyum di wajahnya.
Mang Aceng ikut tersenyum melihat kemurahan hati Ghani. Walaupun sikap anak pertama majikannya dingin dan arogan, tetapi Ghani mempunyai hati baik, mau menolong sesama dan juga tak pelit dalam berbagi dengan orang membutuhkan.
'Benar-benar luar biasa didikan Bu Arumi dan Pak Rayyan. Mereka tak pernah gagal dalam mendidikan keempat anak-anaknya. Salut, euy!' puji Mang Aceng.
Perfect timing! Lampu hijau menyala dan mang Aceng segera menginjak gas.
Queensha merebahkan kepala di dada bidang Ghani. "Bijak sekali kamu, Mas. Aku benar-benar tidak kepikiran dengan jawabanmu barusan." Jemari lentik bergerak, membentuk bundaran kecil.
"Ehm, sebetulnya aku pun tak menyangka akan menjawab begitu, Sayang. Namun, bukankah semua informasi yang dimuat di koran begitu berharga? Kenapa mereka hanya menghargainya kurang dari sepuluh ribu rupiah? Itu tidak sebanding dengan effort yang dilakukan oleh para wartawan dan reporter untuk mendapatkan berita. Belum lagi penulis naskah yang harus merangkai sedemikian rupa sehingga menjadi kesatuan berita yang menarik dan mudah dimengerti."
"Walaupun di tengah tekhnologi serba cangih seperti sekarang ini kita dapat mencari informasi lewat Mbah Google, tetap saja harus menghargai perjuangan keras para wartawan dan reporter yang berjuang demi mendapat berita untuk disebarkan kepada pembaca."
Penjelasan Ghani yang begitu panjang membuat Queensha semakin takjub dengan suaminya tersebut. "Tetap rendah hati dan selalu bersikap baik kepada sesama, ya, Mas. Aku menyukainya," bisik Queensha seraya menggenggam jemari tangan Ghani.
Tanpa sadar, perjalanan mereka sudah sampai di depan sekolah Aurora. Beberapa menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Jadi, mereka akan menunggu.
Tak berselang lama, bel menggema di seluruh penjuru sekolah. Queensha segera turun dari mobil dan mendekat ke gerbang sekolah menunggu Aurora keluar kelas. Ia tidak sendiri, ada banyak orang tua juga yang menjemput anak mereka.
Ghani yang berdiam di mobil tidak betah hanya menunggu. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar sekalian mencari angin segar. Dengan hati-hati dan tanpa sepengetahuan Queenshaa, laki-laki itu berjalan dan sudah berdiri di belakang istrinya. Tentu saja hal itu membuat Queensha terkejut.
"Mas! Kenapa keluar? Tunggu di dalam mobil saja."
"No! Jangan menyuruhku menunggu di mobil! Aku juga mau melihat putriku."
"Tapi, kamu-"
Seolah tahu kekhawatiran Queensha terhadap dirinya, Ghani membalas, "Kakiku? Kakiku baik-baik saja, Sayang. Kamu dengar sendiri tadi gimana diagnosa dokter. Aman, jangan khawatir!"
Queensha tidak bisa berkata-kata lagi. Ia memilih diam daripada berdebat panjang tanpa alasan yang jelas. "Hhm, ya sudah. Aku tak akan memaksamu."
Terlihat dari kejauhan, si gadis cantik bermata bundar bahagia melihat mama dan papanya datang. Meskipun masih di luar kelas, tetapi ia sudah bersorak kegirangan hingga membuat teman-temannya sedikit keheranan dengan sikap Aurora yang begitu heboh.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kok senang banget?" tanya salah seorang temannya.
"Iya. Rora senang banget hari ini. Mama sama Papa jemput aku," jawab Aurora dengan polosnya.
"Di mana? Kok Mama kamu udah datang, tapi Mamaku belum?" Adinda celingukan, berusaha mencari keberadaan mamanya, tapi tak menemukannya. Raut wajah teman sekelas Aurora sedikit kecewa.
"Jangan bersedih, Dinda. Kalau Mamanya kamu belum menjemput, apa kamu mau ikut sama aku aja? Nanti aku antar kamu ke rumah sama Mama dan Papa aku?" Aurora menawarkan diri. Temannya tersenyum cerah.
"Beneran? Boleh?"
Dengan antusias Aurora menjawab, "Boleh, dong. Kamu juga nanti boleh main ke apartemen baruku. Nanti kita main bersama adek bayiku."
"Kamu mau punya adek?"
Aurora mengangguk semangat. "Iya. Rora udah bilang sama Mama dan Papa, mau punya adik kembar. Kalau sudah ada, Rora akan ajak dia ke sini untuk berkenalan dengan kalian semua."
Suara gadis kecil itu begitu lantang di depan banyak orang. Semua orang tersenyum, memaklumi sikap Aurora yg terkesan berlebihan. Yah, namanya juga anak kecil. Queensha dan Ghani yang juga mendengarnya ikut tersenyum.
"Ra, kayaknya aku enggak jadi ikut kamu. Mamaku udah datang, tuh." Adinda menunjuk seseorang yang melambaikan tangan ke arah mereka. Baru saja mamanya datang.
"Mainnya kapan-kapan aja ya kalau adikmu udah keluar. Dadaaah!" sambung Adinda, bergegas menghampiri sang mama.
Begitu indahnya dunia anak kecil.
Setelah menjemput Aurora. Ghani dan Queensha segera menuju ke mobil mereka dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"Tadi Rora disuruh maju sama ibu guru. Terus disuruh jawab soal di papan tulis," ocehnya.
"Lalu kamu bisa jawab enggak?" Ghani bertanya, sementara Queensha merapikan rambut Aurora yang sedikit berantakan.
"Ehehehe … enggak bisa. Kan Rora belum tahu caranya, jadinya enggak bisa jawab." Jawaban gadis itu begitu polos. Ghani dan Queensha hanya terkekeh. Anak itu begitu menggemaskan.
"Lalu, apa kamu dihukum Miss Kirani karena tidak bisa menjawab pertanyaannya?" Kini giliran Queensha yang bertanya.
"Hmm. Aurora dihukum disuruh nyanyi di depan kelas. Tapi, karena Rora suka nyanyi, jadi Rora nyanyi aja. Eeh, teman-teman satu kelas ikut menyanyi juga."
Dunia anak kecil begitu menyenangkan, bahkan hal-hal seperti ini menjadi menyenangkan jika diceritakan.
Saat itu juga Queensha ingat jika mereka belum sempat makan siang sejak dari rumah sakit tadi dan menjemput Aurora.
"Omong-omong, bagaimana kalau kita makan sebentar?" usul Ghani. "Aurora mau makan apa, Nak?"
"Burger, es krim dan kentang goreng. Boleh, 'kan, Pa?" seru Aurora sedikit ragu. Tahu betul jika junk food tidak baik bagi kesehatan maka dari itu ia bertanya terlebih dulu kepada sang papa. Lagi pula, ia sudah lama tidak makan makanan tersebut sekitar satu bulan lalu sebelum mama dan papanya menikah lagi.
__ADS_1
"Boleh. Tapi setelah ini jangan minta makanan tersebut lagi, ya?" Perkataan Ghani dijawab anggukan kepala Aurora. "Kalau gitu, kita mampir ke restoran tempat Mama kerja dulu. Makanannya enak dan Mama bisa sekalian melepas rindu dengan teman-temannya."
Queensha mengulum senyum. Ghani selalu tahu apa yang dia mau.
Tak lama kemudian, mereka sampai di restoran cepat saji yang dulu menjadi tempat kerja Queensha.
Hari ini restoran tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Beberapa orang tengah menikmati burger dan toast yang menjadi menu andalan di sini. Queensha segera mengikuti Aurora yang begitu lincah berlari memasuki restoran. Dia sudah tidak sabar untuk memesan.
Di sana mereka bertemu Puji, atasannya dulu. Ia hendak menyapa, tapi di luar dugaan, wanita itu justru memasang wajah kecut menyambutnya.
"Mbak Puji, apa kabar?" Queensha memulai percakapan, menyapa Puji terlebih dulu.
"Cih, mau apa datang ke sini? Ingin memamerkan bahwa sekarang kamu lebih sukses dariku? Hanya menjual tubuh saja, kok, bangga!" cibir Puji, tak suka jika nasib baik datang menghampiri Queensha.
Queensha menutup telinga Aurora menggunakan kedua telapak tangannya. "Ada anak kecil di sini, jadi tolong jangan sembarangan berbicara. Kasihan anakku kalau mendengar hal tidak baik dari kamu, Mbak."
"Kalau tidak mau anak tirimu mendengarnya, enyah sana dari hadapanku. Aku tak sudi melihat wanita murahan yang rela menjual tubuhnya demi mendapat penghidupan yang baru. Kamu sama saja seperti seorang pela-"
"Stop, Mbak! Jangan menguji kesabaranku!" sergah Queensha dengan napas tersengal. Kini merutuki kebodohannya, kenapa tidak meminta Ghani mengajak Aurora pergi ke toilet bersama suaminya.
"Kenapa? Kamu merasa suci? Semua orang tahu betapa kotornya dirimu itu, jangan sok suci, deh!" ujar Puji sambil menghunus tatapan tajam.
Melihat tatapan tajam bagai sebuah belati, membuat Aurora ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat, wajah mulai memucat. Ia kembali teringat bagaimana dulu Mia dan Lita membentaknya.
"Mama, Rora takut."
Queensha memeluk erat Aurora yang ketakutan oleh ketegangan yang mencekam tersebut. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu akan baik-baik saja." Tak ada pilihan lain selain membawa Aurora menjauhi Puji.
Ghani yang baru keluar dari toilet, dibuat kesal saat mendengar istrinya dipermalukan di depan semua orang. Berjalan setengah berlari mendekati Puji.
Dengan suara lantang Ghani berteriak, "Jangan pernah menghina istriku!" Suara menggelegar itu bagaikan gemuruh petir di siang hari hingga membuat Rama yang berada di dapur bergegas keluar, mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sorot mata tajam bak seekor burung elang yang tengah mengincar mangsanya. "Sekali lagi kamu bicara buruk tentang istriku maka kupastikan pulang dari sini, kamu berjalan pincang dan kedua tanganmu cacat, tak bisa digerakan."
Mata terbebelak mendengar ancaman Ghani. Puji cukup terintimidasi, tetapi tak ingin menunjukan kelemahannya di depan suami Queensha.
Dagu terangkat ke atas, menunjukan seolah ia tak gentar berhadapan dengan Ghani. "Coba saja kalau berani. Kamu!"
"Puji, diam! Sebaiknya kamu meminta maaf kepada pelanggan kita!" Suara bariton itu berhasil membungkam mulut Puji.
Puji menoleh ke samping. Ia semakin dibuat terkejut akan kehadiran Rama di tengah mereka. 'Sejak kapan dia berada di sini? Aah, sial kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat.'
Merasa mereka tengah menjadi pusat perhatian semua orang, Rama segera meminta maaf sebelum nama baik restoran tercoreng akibat ulah Puji.
__ADS_1
Menunduk hormat dan berkata, "Pak Ghani, saya benar-benar minta maaf atas ketidaksopanan Puji. Saya pastikan kejadian ini tak akan terulang lagi. Sekali lagi, tolong maafkan kami." Tanpa banyak berbicara, Rama menarik paksa tangan Puji, menjauhi Ghani.
...***...