
"Apa?" Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Rayyan dan Arumi. Mereka membelalakan mata dengan rahang terbuka sempurna. Begitu pun dengan Zavier, saudara kembar Ghani cukup terkejut akan berita yang baru saja disampaikan Queensha.
'What the fu*k! Bagaimana ini bisa terjadi? Berita yang disampaikan mereka benar-benar membuat kepala gue tambah puyeng.' Zavier memberi pijatan tidak hanya di pangkal hidung, tetapi juga di pelipis.
"Ya Tuhan ...." Arumi menggeleng, masih merasa ini hanya sebuah mimpi.
"Dan ... bukan hanya itu saja. Sebetulnya Aurora adalah anak yang kukandung selama sembilan bulan. Namun, karena ulah Ibu tiri dan Adik tiriku, kami terpisah. Beruntungnya Aurora dibesarkan dan dirawat oleh Ayah kandungnya sendiri sehingga kesedihan yang kualami selama ini sedikit berkurang. Aku ... merasa jauh lebih baik sekarang."
Queensha bangkit berdiri. "Aku mau mengucapkan terima kasih karena Ayah dan Bunda telah turut merawat putriku dengan baik walau kalian tidak mengetahui jati diri Aurora yang sebenarnya. Namun, kalian memberi cinta dan kasih sayang seperti cucu kandung sendiri. Terima kasih, Ayah, Bunda." Lantas wanita itu menundukan kepala, memberi hormat kepada kedua calon mantan mertuanya yang dengan tulus membesarkan Aurora tanpa pernah mengenal siapa bayi yang mereka asuh.
Seketika itu juga tubuh Arumi lemas tak bertulang. Punggung wanita itu bersandar ke sandaran sofa seraya menyentuh pelipis yang terasa berkedut nyeri. Sementara itu, Rayyan tampak mengeraskan rahang hingga menonjol keluar. Terlihat jelas betapa marahnya pria itu saat ini.
Menggebrak meja dengan kencang. Saking kencangnya membuat lukisan serta bingkai foto yang ada di dinding bergoyang dan kaca jendela rumah mewah itu bergetar hebat dibuatnya.
"Rahasia apa lagi yang kalian sembunyikan dari kami? Katakan, apa lagi, hah!" seru Rayyan menaikan dua nada oktaf suaranya.
Tubuh Queensha berjingkat akibat terkejut karena untuk pertama kalinya Rayyan berkata dengan suara lantang. Berhadapan dengan calon mertuanya itu dia harus menyiapkan mental agar tidak sawan di kemudian hari. Baginya sosok Rayyan lebih menakutkan daripada Mia, ibu tirinya yang jahat.
Ghani dengan sigap menangkap tubuh sang calon istri agar tidak terjatuh ke lantai. "Duduklah, biar saya yang menyelesaikan semuanya. Saya tahu apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan Ayah." Pria kelahiran tiga puluh dua tahun lalu memapah Queensha ke sofa.
__ADS_1
Dengan tegas Ghani menjawab, "Tidak ada! Hanya dua rahasia itu saja yang kami sembunyikan dari kalian. Untuk pernyataan yang baru saja Queensha katakan, sebenarnya aku pun baru mengetahui fakta bahwa Rora adalah putri kandungku beberapa waktu lalu. Ketika aku mendapat informasi jika Queensha adalah wanita itu, aku segera menemuinya dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita."
"Tatkala aku mengetahui jika putri kami meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan ke dunia, aku merasa ada yang janggal. Oleh karena itu, aku meminta Queensha mengantarkanku ke Sumedang untuk berziarah ke makam putri kami sekaligus mencaritahu apakah benar jika bayi yang dilahirkan calon istriku telah meninggal dunia."
"Kalaupun memang bayi itu telah meninggal dunia, aku ikhlas menerima kenyataan itu. Namun, jika tidak, tentu saja aku harus mencari kebenarannya. Dan ternyata memang benar kalau putriku dengan Queensha belum meninggal dunia. Ini hanya akal-akalan Mia saja untuk membuat hidup Queensha menderita karena anak sambungnya hamil di luar nikah."
Ghani memandang sendu ke arah sang ayah. Terlihat jelas sorot mata penuh kekecewaan terpancar di sana. Hati Ghani terluka karena ini adalah pertama kalinya ia mengecewakan Rayyan. Sejak dulu Rayyan menaruh harapan besar kepada anak tertuanya itu untuk meneruskan warisan peninggalan Mei Ling, juga meneruskan tugas mulia yaitu menolong pasien yang membutuhkan bantuan.
Namun, hari ini Ghani justru membuat Rayyan kecewa. Ia lukai hati ayah tersayang dengan aib masa lalunya. Sungguh, ia menyesal telah melempar kotoran ke hadapan Rayyan dan Arumi.
"Ayah, Bunda, maafkan aku karena sudah mengecewakan kalian berdua. Namun, sumpah demi Tuhan aku tidak berbohong saat mengatakan diriku telah dijebak seseorang sampai melakukan perbuatan terlarang."
Rayyan menerima dua amplop tersebut, kemudian mengeluarkan lembaran itu dan membaca hasilnya. Detik itu juga suara tercekat di tenggorokan dan pundak bergerak turun naik tak seirama.
"Ya Tuhan, mengapa ini bisa terjadi kepada keluargaku? Anak lelaki yang kubanggakan justru menyakiti hatiku." Rayyan menyugar rambutnya yang mulai keperakan menggunakan telapak tangan. Telihat betapa frustasinya ayah empat orang anak itu.
Dengan tidak sabaran Arumi merebut kertas tersebut dari tangan sang suami. "I-ini ...." Ia tak sanggup berkata-kata. Mulutnya mengatup, kemudian terbuka dan mengatup kembali sampai beberapa kali.
Zavier yang duduk diam di sofa menatap wajah kedua orang tuanya serta kakak dan calon kakak iparnya bergantian. Hati seperti disayat pisau tajam ketika melihat sepasang mata jernih Arumi berkaca-kaca. Dalam hati Zavier berpikir mungkin Arumi merasa bersalah karena tidak bisa mendidik sang kakak dengan baik sehingga malapetaka itu datang menghampiri keluarga mereka.
__ADS_1
'Gue mesti cari cara untuk menghentikan pertikaian ini. Gue enggak bisa tinggal diam menyaksikan perselisihan Ayah dan Kak Ghani berlarut-larut,' batin Zavier.
Menarik napas panjang. Zavier mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menyelesaikan masalah keluarga yang membelenggu mereka semua. Ia tidak mau kejadian ini malah memecah belah keluarganya. Ia ingin semua anggota keluarga rukun dan harmonis seperti sedia kala.
"Ayah, Bunda dan Kak Ghani, izinkan aku berbicara." Zavier membuka suara di depan semua orang. "Aku tahu Ayah dan Bunda kecewa karena Kak Ghani telah melanggar dua aturan yang ditentukan. Kak Ghani memang bersalah karena terlalu lemah sehingga memberi celah kepada setan untuk menggoda imannya."
"Dengan adanya celah kecil itulah setan terus menggoda hingga berhasil menjerumuskan Kak Ghani dalam perbuatan dosa besar. Namun, Kak Ghani menyesali perbuatannya itu dan dia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Tidak bisakkah Ayah dan Bunda memaafkannya? Toh semua ini murni bukan karena kesalahan Kak Ghani."
"Kita semua tahu jika ada seseorang di balik insiden ini. Jadi, kenapa tidak kita akhiri saja perdebatan kali ini. Biarkan Kak Ghani mempertanggung jawabkan perbuatannya. Berikan restu kepada Kak Ghani untuk menikahi Queensha karena telah menghamili calon Kakak Iparku ini sampai keponakanku yang cantik dan menggemaskan itu hadir ke dunia."
"Jika Ayah marah kepada Kak Ghani akan sikapnya yang menjengkelkan, silakan benci dia dan rutuklah perbuatannya. Namun, jangan pernah Ayah membenci Queensha maupun Aurora sebab mereka hanyalah korban di sini."
Zavier berjongkok di depan kedua orang tuanya. Lalu merangkum jemari tangan Rayyan dan Arumi bersamaan.
"Ayah, Bunda, semua kejadian itu telah terjadi lima tahun lalu. Kak Ghani telah menerima hukumannya selama ini. Hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah seumur hidup merupakan sebuah hukuman besar baginya. Kini setelah kebenaran itu terungkap, apa Ayah tetap ingin membiarkan Kakak kembarku hidup menderita? Tentu saja jawabannya tidak, bukan?"
"Ayah dan Bunda mempunyai hati yang baik, rasa welas asih yang tinggi jadi aku yakin kalian tidak mungkin mau menghukum Kak Ghani seumur hidup." Zavier menatap lekat mata Rayyan dan berkata, "Aku tahu Ayah adalah lelaki bijaksana, yang dapat menyikapi segala masalah dengan baik dan kuharap dalam kasus ini Ayah pun bisa mengambil keputusan tepat demi kebaikan bersama," ucap Zavier bijak.
...***...
__ADS_1