Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Meminta Penjelasan Andri


__ADS_3

Pak Hardi dan bu Tania berjalan tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit. Mereka yang saat itu sedang berada di kantin rumah sakit diberitahu bahwa Andri telah siuman dan kini tengah melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan oleh dokter penanggung jawab. Mendengar kabar tersebut, pasangan suami istri yang tak lagi muda itu bergegas meninggalkan kantin, menuju ruang ICU di mana Andri dirawat.


"Ayo, Ma, buruan! Jangan sampai kita tiba di sana sedangkan Dokter Haikal sudah meninggalkan ruangan. Papa jadi tidak punya kesempatan untuk bertanya pada beliau."


Dengan sisa energi yang ada, bu Tania mempercepat langkah, menyimbangkan langkah kakinya dengan sang suami. "Sabar, Pa. Ini mama juga lagi usaha menyeimbangkan langkah kaki Papa."


Ketika suami istri itu tiba di lantai empat, tampak tiga orang polisi bersiaga di depan pintu. Berita tentang sadarnya Andri dari koma rupanya telah sampai di telinga mereka. Untuk itulah pria berseragam polisi semakin memperketat penjagaan, jangan sampai tersangka melarikan diri dari rumah sakit.


"Pa, mereka-"


"Biarkan mereka melakukan tugasnya dengan baik. Jangan pernah mencoba untuk mengusir mereka. Ingat, saat ini status Andri adalah tersangka jadi wajar bila polisi semakin mengetatkan penjagaan," kata Pak Hardi seakan mengerti isi kepala istrinya.


"Sebaiknya kita masuk sekarang!" sambung pria paruh baya itu seraya menaik paksa pergelangan tangan Bu Tania. Tidak mau terjadi keributan yang justru memalukan nama baik Dinata.


"Dokter, bagaimana keadaan putera saya? Apa terjadi komplikasi usai terbangun dari koma?" Pak Hardi segera mencecar sang dokter dengan berbagai pertanyaa. Meskipun dia kecewa dan juga kesal terhadap anaknya, tetapi nalurinya sebagai seorang ayah masih berfungsi baik. Dia mencemaskan anak lelakinya itu.


Pria berambut keperakan yang tubuhnya dibungkus snelli putih memasukan kembali memasukan bulatan logam yang biasa ditempel di dada ke saku jas dokter kemudian berkata, "Kondisi vital pasien dalam keadaan cukup baik dan perkembangan kondisinya juga sangat bagus. Sementara waktu ini, saya tidak menemukan masalah pada kesehatan pasien. Namun, untuk memastikan lebih jelas lagi, saya akan menghubungi pihak radiologi guna melakukan pemeriksaan CT scan dan kalau perlu pemeriksaan MRI juga, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kerugakan otak pada Saudara Andri."


Ada perasaan lega menyelimuti diri ketika mendengar penjelasan dokter. Putera mereka dalam keadaan baik-baik saja pasca mengalami koma selama hampir satu minggu. Bagi pak Hardi dan bu Tania, ini merupakan suatu mukjizat dari Tuhan yang diberikan pada mereka.

__ADS_1


Pak Hardi segera meraih tangan sang dokter, mencium punggung tangan pria ber-snelli putih berkali-kali. Ledakan asa di dada tak lagi dapat dibendung hingga dia mencium tangan dokter pria itu dengan perasaan haru.


"Terima kasih banyak, Dokter. Berkat perawatan dari Anda, putera saya dapat siuman lagi." Pak Hardi terus menciumi tangan dokter itu tanpa henti, sementara bu Tania memeluk Andri sebagai ungkapan bahagia karena Tuhan telah mengembalikan puteranya.


Dokter menarik tangan, tak pantas dirinya mendapat perlakuan begitu dari orang tua pasien sebab semua yang terjadi pada Andri merupakan karunia dari Tuhan.


"Itu memang sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter. Saya akan buatkan janji temu dengan bagian radiologi, setelah itu Saudara Andri bisa melakukan pemeriksaan CT scan atau MRI," kata Dokter berambut perak dan berkacamata silinder. "Baiklah, jika tidak ada yang mau ditanyakan, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang menunggu di ruangan."


Menepuk pundak Andri pelan dan berkata, "Selamat datang lagi di dunia ini, Saudara Andri. Anda beruntung bisa lolos dari maut yang mengantai di belakangmu."


"Beristirahatlah dengan baik. Jika ada bagian dari anggota tubuh terasa sakit, segera hubungi perawat. Mereka siap sedia 24 jam."


"Bagaimana keadaanmu, Ndri? Apa sekujur tubuhmu masih merasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan para perampok itu?" tanya Pak Hardi pada Andri. Dia berpikir penyekapan yang terjadi pada anaknya diakibatkan oleh sekawanan perampok sebab demi menutupi jejak kejahatannya agar tak tercium polisi, Yogi meminta anak buahnya mengambil barang berharga milik Andri. Ponsel, jam tangan, laptop serta lembaran uang cash di dompet raib tak bersisa.


"Badanku masih sakit semua, Pa. I-ini ... semua gara-gara kawanan perampok sialan itu, aku jadi babak belur. Mereka mengeroyokku tanpa ampun. Harusnya aku sudah ada di Amerika, tapi justru berakhir di rumah sakit. Benar-benar sial sekali hidupku." Andri berkata dengan suara serak dan lemah. Meskipun dalam keadaan lemah tak berdaya, rupanya dia masih mampu mengumpat kasar di depan kedua orang tuanya.


Pak Hardi menghela napas berat. "Sepertinya Tuhan memang menginginkan kamu tetap ada di sini untuk mempertanggung jawabkan kesalahanmu."


Kening Ardi mengerut bingung. Ya, sampai sekarang dia belum tahu jika dirinya merupakan tersangka atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap korban bernama Queensha Azura Gunawan.

__ADS_1


"Maksud Papa apa? Bertanggung jawab atas apa, Pa? Emangnya aku melakukan kesalahan apa sampai harus bertanggung jawab segala."


Pak Hardi menyeringai seperti seorang penjahat. Bisa-bisa Andri melupakan apa yang diperbuatnya kepada Queensha. Apa sebagian memori ingatannya hilang saat sekawanan perampok itu menghantam kepalanya menggunakan benda keras?


Alih-alih menjawab pertanyaan Andri, Pak Hardi justru mengajukan pertanyaan. "Kamu betulan lupa atau pura-pura lupa?"


"Aku betulan enggak tau apa yang Papa maksud. Katakan padaku dengan jelas, apa yang ingin Papa sampaikan." Andri hendak duduk dan menempelkan punggung di sandaran, tetapi dia lupa jika dirinya masih dalam keadaan terluka.


"Nak, hari di mana kamu minta izin pada kami untuk pergi ke Amerika, ada dua orang polisi datang ke rumah memberitahu kami kalau kamu mengalami musibah. Selain memberitahu kami tentang keadaanmu yang sangat memprihatinkan, mereka juga mengatakan bahwa kamu mendorong ibu hamil hingga tersungkur ke jalan sampai dia mengalami pendarahan. Apa itu semua benar, Nak?" Bukan pak Hardi yang berbicara melainkan bu Tania.


"Katakan pada mama kalau tuduhan itu tidak benar. Kamu cuma difitnah karena perempuan sialan itu punya dendam tersendiri kepadamu. Iya, 'kan? Jawab pertanyaan mama dengan jujur, Nak," ujar Bu Tania dengan tatapan pengharapan. Rasa sayangnya yang begitu besar membuat dia buta hingga tak dapat melihat dengan jelas kalau anak lelaki mereka telah melakukan suatu kesalahan besar.


Andri menelan saliva susah payah. Tenggorokan semakin terasa kering akibat pertanyaan yang ditujukan sang mama kepadanya.


Dilema. Itulah yang dirasakan Andri saat ini. Dilem apakah dirinya memang harus berkata jujur di depan papa dan mamanya. Jika berkata jujur maka papa dan mamanya akan membenci Andri untuk selamanya.


"Ehm i-itu ... a-aku ... aku ...."


...***...

__ADS_1


__ADS_2