
Lulu berdiri di depan sebuah cermin, memperhatikan penampilannya sebelum bergegas menuju mall tempat di mana ia dan Queensha janjian. Jika biasanya ia mengenakan seragam kerja, kali ini wanita berusia dua puluh enam tahun mengenakan pakaian casual. Celana jeans warna biru navy dipadu kaos putih serta sepatu kets warna senada menjadi pilihan wanita itu.
"Udah rapi, tinggal pesan ojek online. Gue mesti buru-buru, nih, jangan sampai datang terlambat. Kasihan Queensha dan Aurora kalau kelamaan nungguin gue." Lantas Lulu meraih tas selempang yang sudah ia siapkan sebelumnya di atas pembaringan. Tak lupa ia juga membawa telepon genggan yang telah selesai di-chas.
Suara ketukan sepatu menggema di mana-mana membuat salah seorang teman indekos Lulu menoleh ke sumber suara. Cahaya, nama teman sebelah kamar Lulu mendekat dan memindai temannya itu. Mulai dari atas kepala sampai ujung kaki tak luput dari pandangannya.
"Lu, lo mau ke mana? Tumben banget jam segini udah rapi. Emang lo enggak kerja?" tanya Cahaya. Wanita yang bekerja di salah satu departemen store ternama tanah air mengelilingi tubuh Lulu tanpa melepaskan tatapan matanya. Ia mengendus, mencium aroma parfum yang menguar di udara.
"Gue mau jalan, Ya. Selagi libur kerja mau gue manfaatin untuk me time. Kenapa? Ada masalah?" sahut Lulu.
Cahaya menggeleng. "Enggak ada. Cuma heran aja, kok, tumben banget lo pakai parfum. Lo mau nge-date sama cowok, ya?"
"Ngaco lo! Gue mau hang out bareng Queensha dan anaknya. Udah ah, gue cabut dulu takut terlambat, nih. Bye, Cahaya!" Lulu melambaikan tangan, kemudian bergegas meninggalkan Cahaya tanpa memberi kesempatan kepada teman indekosnya itu berkata. Bukannya tidak sopan karena pergi begitu saja, ia hanya tak mau dianggap ngaret sebab datang tidak sesuai dengan janji.
Saat menunggu ojek pesanannya, Lulu mengirimkan pesan singkat kepada Queensha. [Bu Boss, gue baru aja mau jalan ke tempat tujuan. Kalau semisal datang terlambat, tunggu aja di depan meja pusat informasi. Nanti gue langsung ke sana. Oke?]
Setelah pesan singkat tersebut terkirim, di waktu bersamaan ojek online pesanan Lulu tiba. Dengan cepat ia menyambar helm yang disodorkan oleh driver ojek online.
"Jalan, Bang!" ujar Lulu seraya menepuk pundak pria di depannya.
Sementara itu, Queensha baru saja hendak meninggalkan rumah mertuanya. Ia sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya undur diri dari hadapan sang ibu mertua.
"Bun, aku pamit pulang dulu. Terima kasih sudah mau menjaga Rora selama tinggal di sini. Aku jadi tidak enak hati sama Bunda."
Tangan Arumi melambaik ke udara. "Jangan sungkan, Sha. Rora itu cucu bunda, jadi kamu tidak perlu mengucap terima kasih segala kepada bunda. Bunda malah senang kalau Rora maupun Twins sering-sering nginap di sini jadi rumah ini tidak begitu sepi berkat kehadiran kalian semua."
Queensha menundukan kepala, sementara jemarinya yang lentik mengusap puncak kepala sang putri. "Sayang, salim dulu sama Nenek, ya, setelah itu kita baru jalan ke mall ketemu Aunty Lulu."
Aurora mengangguk patuh, kemudian meraih tangan Arumi. Ia cium punggung tangan ibu dari sang papa dengan penuh hormat. "Nenek, Rora pulang dulu. Nanti Rora ke sini lagi untuk bisa main dengan Nenek dan Kakek Rayyan."
__ADS_1
Arumi membungkukan sedikit tubuhnya demi mensejajarkan tinggi badannya dengan cucu kesayangan. "Iya, Sayang. Rora hati-hati di jalan."
Sebelum meninggalkan rumah mertuanya, Queensha memeluk tubuh Arumi dengan erat. Sebetulnya ia berat sekali harus meninggalkan rumah ibu mertuanya itu, tetapi mau bagaimana lagi ia dan Ghani sudah sepakat untuk hidup mandiri agar dapat menyelesaikan segala urusan rumah tangga tanpa perlu merepotkan Arumi ataupun Rayyan.
***
"Mama, nanti Rora betulan boleh main sepuasnya di arena bermain? Mama enggak akan marahin Rora karena terlalu banyak bermain?" Bibir mungil itu terus saja berkata, mengajukan pertanyaan yang sama, padahal Queensha sudah menjawabnya berkali-kali sampai tenggorokan terasa kering karena terus menjawab pertanyaan sang putri.
"Benar, kok. Masa iya mama bohong. Mama sudah minta izin pada Papa, jadi nanti bisa main sepuasnya. Tapi ingat, enggak boleh nakal selama bermain. Mengerti?"
"Mengerti, Mama. Rora janji akan jadi anak baik saat bermain nanti," ucap Aurora bersungguh-sungguh. Kalau sudah berjanji mana mungkin ia ingkari.
Tidak boleh ingkar janji merupakan satu pantangan yang selalu diajarkan Ghani serta kakek dan nenek Aurora. Mereka mendidik Aurora untuk selalu menepati janji yang pernah diucapkan olehnya. Jadi jangan heran kalau di usianya yang baru menginjak lima tahun si kecil pemilik mata bundar berusaha untuk menunaikan janjinya.
Sepasang ibu dan anak itu melangkah masuk ke dalam mall. Pintu mall terbuka secara otomatis dan dua pasang mata langsung menangkap sosok Lulu yang sedang berdiri di samping meja informasi.
"Mama, itu Aunty Lulu. Yuk kita ke sana," ajak Aurora sambil menarik tangan Queensha. Wajah gadis kecil itu berseri, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan. Tampaknya ia sangat antusias karena dapat bertemu dengan sahabat dari sang mama.
Mengikuti instingnya, Lulu meletakkan kedua lutut di lantai dan membentangkan tangannya ke samping kanan dan kiri. Ia tangkap tubuh mungil Aurora dalam pelukan. "Hohoho ... kamu semakin berat saja. Aunty sampai kewalahan menggendongmu, nih."
Kepala mendongak, kedua tangannya yang mungil masih melingkar di leher Lulu. "Iya, dong. Rora, 'kan, sekarang banyak makan, biar lekas besar. Kalau udah besar bisa jadi arsitektur terus kerja dan dapat uang. Nanti uangnya mau Rora kasih ke Mama dan Nenek Rumi buat beli pangsit rebus."
Sontak Lulu terkikik geli mendengarnya. Masih kecil sudah memikirkan masa depan. Anak sahabatnya itu memang sungguh luar biasa.
Mencubit ujung hidung Aurora dengan pelan. "Iih, gemesin banget, sih. Karena Rora peduli kepada Mama, aunty traktir kamu makan es krim. Mau enggak?"
"Mau! Rora mau dua, ya, Aunty?"
Alis Lulu terangkat, memberi ekspresi terkejut. "Dua? Kok banyak sekali. Nanti dimarahin Mama dan Papa, bagaimana?"
__ADS_1
Aurora melambaikan tangan ke hadapan Lulu, kemudian berbisik, "Yang satu lagi dibungkus aja, Aunty, nanti Rora makannya di rumah agar tidak ketahuan Mama dan Papa." Ia menunjukan tas kecil berbentuk beruang ke hadapan Lulu. "Mama dan Papa enggak akan tau karena mau Rora masukan ke sini."
Lagi dan lagi Lulu terkikik. Tidak hanya pintar berbicara, rupanya Aurora juga licik. Tampaknya sifat licik itu diturunkan dari Ghani, terbukti selama bersahabat dengan Queensha, Lulu tak pernah melihat sang sahabat menyusun rencana licik di belakangnya.
"Untuk sekarang aunty belikan satu dulu, ya? Sisanya aunty kasih kalau kita bertemu lagi. Kalau sekaligus dua, nanti Rora sakit dan enggak bisa sekolah bagaimana? Katanya mau jadi arsitektur kalau kebanyakan bolos sekolah nanti ketinggalan pelajar dan enggak naik kelas, loh. Memangnya Rora mau selamanya sekolah di TK terus?"
Dengan cepat Aurora menjawab, "Enggak mau! Rora ingin sekolah tinggi seperti Papa dan Uncle Zavier."
Lulu merapikan helaian rambut Aurora yang sedikit menutupi matanya yang bundar. "Nah, kalau begitu aunty belikan satu es krim aja, ya?" Aurora mengangguk. "Oke deh, sekarang kita cari stand es krim dulu, yuk? Let's go!"
"Let's go!" seru Aurora. Gadis itu hendak melangkah, tapi teringat akan mamanya yang masih berdiri di belakang.
Perlahan melangkah mendekati Queensha. Aurora genggam tangan mamanya itu dengan erat. "Ayok, Ma, kita makan es krim sama-sama. Setelah itu baru temani Rora main."
Queensha mengulas senyuman senang saat Aurora menuntunnya berjalan. Melihat putrinya tumbuh sehat dan pintar, ia merasa seluruh isi dunia ada dalam genggaman tangan.
"Oke, Sayang." Maka ketiganya berjalan bersisian menuju lantai dua, di mana letak stand es krim berada.
Saat mereka melewati baru saja menginjakkan kaki di lantai dua, tiba-tiba saja Lulu merasa perutnys terasa sakit. Ia menyentuh bagian perut menggunakan sebelah tangan.
"Sha, gue ke toilet sebentar, ya? Kebelet banget, nih. Lo dan Rora tunggu aja di sana, ntar kalau udah selesai, gue susul kalian." Lulu menunjuk kursi tunggu di depan toko perhiasan menggunakan ujung dagu.
"Mau ditemani?"
"Enggak perlu. Gue bisa jalan sendiri." Tanpa membuang waktu, Lulu mengambil langkah seribu. Ia mengikuti petunjuk arah yang menggantung di langit-langit.
Karena hasrat untuk membuang hajat semakin besar, membuat Lulu semakin mempercepat langkah kakinya. Ia berjalan setengah berlari menuju toilet yang berada di sebelah toko pakaian.
Berjalan dan terus berjalan sampai tanpa terasa tibalah Lulu di depan lorong yang akan membawanya pada sebuah rest room yang diperuntukkan bagi pengunjung mall. Lulu berlari karena sudah tidak tahan lagi. Namun, karena terburu-buru ia sampai tak memperhatikan keadaan sekitar hingga tanpa sengaja menyenggol bahu seseorang.
__ADS_1
"Sorry, enggak sengaja."
...***...