
Waktu sibuk menyalami tamu yang hadir, Lulu sadar ada sedikit keributan dari arah meja prasmanan. Karena terhalang para tamu, Lulu tak tahu jika ternyata keributan itu disebabkan oleh Queensha yang tak sadar jika darah segar mengalir di antara kedua paha sebab terlalu asyik menyapa mantan teman kerjanya semasa di restoran dulu. Queensha terlalu lelah hingga dirinya mengalami pendarahan.
Zahira berjalan tergesa mendekati pelaminan yang kebetulan saat itu kosong, tanpa ada satu pun tamu yang mengantri untuk bersalaman dengan sang mempelai.
"Lu, aku mau menyampaikan permintaan maaf Queensha kepadamu. Kakak iparku itu harus buru-buru pergi dari sini karena kandungannya bermasalah. Dia mengalami pendarahan karena kelelahan."
"Hah? Ya ampun!" jerit Lulu histeris. "Terus sekarang gimana? Queensha udah dibawa ke rumah sakit?" Lulu langsung cemas, terlihat dari sepasang mata bundar itu bergerak tak fokus pada satu titik.
Zahira mengangguk. "Sudah. Tadi dibantu Kakak Kedua, Kakak Pertama membawa Queensha ke rumah sakit. Mungkin sebentar lagi mereka tiba di rumah sakit."
Lulu menggeleng kepala cepat. Dia terlihat begitu frustrasi mendengar sahabatnya mengalami musibah untuk kedua kali. “Aku harus menemani Queensha. Mas Leon, tolong antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga. Aku mau ada di sisi Queensha, menemaninya sama seperti dulu saat kami masih tinggal satu atap."
Spontan saja mata Leon terbelalak mendengar permintaan istrinya. "Apa kamu udah gila? Sekarang kita sedang punya acara, Lu. Masa pengantinnya malah pergi ninggalin resepsi pernikahan. Apa kata tamu undangan itu, hah? Kamu mau nama naik keluarga kita rusak di manat semua orang?"
Sejujurnya Leon pun mengkhawatirkan Queensha, tetapi dia tak mau acara yang telah direncanakan sedemikian rupa hancur begitu saja. Jika Leon dikatakan egois, tak masalah toh ada kalanya dia harus bersikap egois demi dirinya sendiri. Lagi pula, pada acara kali ini, banyak saudara dari orang tuanya yang hadir, jangan sampai nama mama dan papanya ikutan jelek di mata semua orang.
“Tapi, Queensha dilarikan ke rumah sakit, Mas. Aku enggak mungkin berdiam diri di sini aja. Kamu tahu sendiri kondisi Queensha gimana. Kalau ada apa-apa sama dia, gimana? Aku takut kehilangan sahabat terbaikku." Mata Lulu berkaca-kaca kala membayangkan kenangan manis dan pahit yang pernah mereka lalui bersama.
Leon meraup wajahnya dengan frustrasi. Baru menikah dia dan Lulu adu argumen. Sungguh menyebalkan sekali.
'Sabar, Yon. Lo mesti maklum dengan keadaan bini lo. Lulu dan Queensha udah lama dekat, bahkan hubungan mereka udah kayak saudara. Jadi wajar kalau sekarang Lulu mencemaskan sahabatnya itu.'
Menghirup napas panjang dan dalam lalu mengembuskan perlahan. “Aku ngerti maksud kamu. Namun, apa kamu tega ngecewain orang tua kita? Lihat, ada banyak tamu dari pihak orang tuaku. Gimana kalau mereka menjelek-jelekin Mama dan Papaku yang enggak lain adalah mertuamu, apa kamu tega? Lu, aku enggak pernah minta sesuatu sama kamu selama kita kenal, tapi untuk kali ini tolong turuti permintaanku. Jangan pergi dari sini!"
Leon menjeda sebentar kalimatnya, lalu meyentuh bahu sang istri. "Lagian, aku yakin Queensha enggak kenapa-kenapa. Pasti Ghani dapat meng-handle semuanya. Dia bisa tau apa yang terbaik bagi istri dan calon anak-anaknya."
"Please," lanjut Leon saat melihat keraguan di mata istrinya.
__ADS_1
Lulu menarik napas pendek. Jujur saja, dia amat khawatir dengan keadaan Queensha. Apalagi Queensha sering sekali mengeluh kondisi kesehatannya menurun gara-gara kehamilannya ini. Yah, wajar saja. Ada tiga bayi dalam kandungannya. Mengandung satu bayi saja sudah amat berat, apalagi sampai tiga sekaligus. Pasti butuh perjuangan yang amat besar.
“Begini saja. Kalau resepsinya sudah selesai, mau jam berapa pun itu, aku boleh pergi ke rumah sakit? Kamu ngasih izin ke aku, 'kan, Mas?" tanya Lulu penuh pengharapan.
Leon mengangguk. "Boleh, dong. Asalkan kita tetep di sini sampai acara selesai maka aku bersedia nganterin kamu ke rumah sakit."
Lulu berjinjit lalu mengecup pipi suaminya. "Makasih, Suamiku."
Sepanjang acara resepsi, Lulu sering sekali tidak bisa konsentrasi saat menerima tamu. Pikirannya terus tertuju Queensha. Dia ingin tahu bagaimana kabar sahabatnya itu. Sayangnya, tamu terus mengular, membuat Lulu bahkan tak bisa meraih ponselnya demi menghubungi Ghani.
Jam terus berjalan. Siang berganti sore. Sore berganti malam. Tamu masih saja terus berdatangan. Saat malam hari, tamu malah makin banyak yang datang. Meski capek, Lulu terus menjalankan acara resepsi. Di sela-sela istirahat, dia sempat mengirimkan pesan pada Ghani.
[Dokter Ghan, gimana keadaan Queensha? Apa bayinya sudah lahir?
Sayangnya, sama sekali tak ada respon dari Ghani, membuat Lulu semakin khawatir saja.
“Aku takut terjadi sesuatu sama Queensha, Bun,” ucap Ghani pada ibunya. Arumi diantar Mang Aceng bergegas ke rumah sakit sesaat setelah mendapat telepon dari Zavier yang mengatakan bahwa Queensha dilarikan ke rumah sakit lagi.
Arumi mengelus punggung putranya. Sebagai seorang ibu, dapat memahami kekhawatiran anak pertamanya itu.
“Tenang saja, Nak. Queensha sudah ditangani dokter. Pasti dokter dan tenaga medis lain mengusahakan yang terbaik untuk istri dan ketiga anak-anakmu," kata Arumi mencoba menenangkan.
“Tadi Queensha kelihatan pucat banget, Bun. Apalagi dia terus mengeluh sakit pada bagian perut. Rasa sakit itu muncul ketika kita berada di dalam mobil. Aku merasa seperti orang bodoh, tak bisa berbuat apa-apa. Aku bisa menolong orang lain, tapi kenapa tak bisa menolong istriku sendiri." Ghani tak kuat menahan tangis dan menangis di hadapan Arumi.
Arumi tahu betapa besar cinta Ghani yang ditujukan pada Queensha. Wajar sekali putranya itu amat kelimpungan dan kelihatan sangat stres gara-gara mengkhawatirkan keselamatan istrinya.
“Sst, jangan bicara begitu. Dulu, ayahmu juga sama sepertimu saat bunda dilarikan ke rumah sakit. Terlihat seperti orang tak berguna, padahal dia adalah dokter bedah hebat di rumah sakit ini. Namun, karena keterbatasan kemampuan hingga membuatnya tak dapat melakukan apa-apa. Begitu pun dengan kamu."
__ADS_1
"Nak, di dunia ini tidak ada orang yang sempurna. Mereka pasti punya titik kelemahannya. Pun begitu denganmu. Mungkin kamu bisa dikatakan dokter hebat yang bisa menandingi kemampuan ayahmu, tapi kita mesti ingat tak semua orang menguasai segala bidang dalam waktu bersamaan. Sudahlah, sebaiknya kita tunggu saja di sini. Berdoa bermunajat kepada Tuhan, memohon keselamatan buat istrimu."
Tak lama kemudian, dokter senior keluar ruangan masih dengan pakaian lengkap. Wanita paruh baya itu menurunkan masker yang menutupi hidung dan mulut.
"Dokter Ghani, Dokter Arumi. Kita tak bisa menundu lagi kelahiran tiga bayi dalam kandungan Bu Queensha. Meskipun agenda operasi masih 2 minggu lagi, tapi dengan adanya insiden ini kita mesti segera bertindak sebelum kondisi pasien semakin kritis."
Kepala Ghani menggeleng tak percaya. Istrinya kembali menghadapi masa kritis seperti beberapa bulan lalu.
"Dok, lakukan apa pun yang terbaik untuk menantuku. Jika memang harus melahirkan sekarang maka segera dilakukan. Saya sekeluarga setuju dengan usulanmu." Arumi memberi izin pada mantan rekan sejawatnya itu untuk segera melakukan operasi caesar walau tak sesuai agenda yang disetujui bersama.
“Baiklah jika itu sudah kesepakatan bersama, saya akan mempersiapkan segalanya. Dokter Ghani, Anda bisa ikut bersama Suster untuk menandatangani surat persetujuan operasi sementara saya dan tim segera menyiapkan operasi." Dokter itu pun berlalu usai berpamitan pada anak serta istri dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Sementara itu, Ghani mengikuti perawat wanita menuju meja administrasi yang ada di dekat ruang operasi.
Dokter mempersilakan Ghani masuk ke ruang operasi, menemani Queensha yang sebentar lagi menjalani operasi caesar. Sepanjang jalan, Ghani mengembuskan napasnya secara kasar. Dalam kesunyian, dia dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Entah sudah berapa banyak liter keringat yang telah mengalir membasahi punggung dan kening.
Ghani membeku ketika ekor matanya melihat Queensha tengah terbaring di atas meja operasi. Berbagai peralatan medis berjejer rapi di atas meja kecil yang kelak digunakan untuk mengeluarkan tiga jagoan dari perut ibunya.
"Dokter Ghani, silakan masuk. Operasi akan segera dimulai." Suara lembut seorang perawat mengagetkan Ghani. Seperti orang linglung, dia melangkah masuk ke dalam ruangan. Di sana sudah ada rekan sejawatnya dari poli lain, bersiap melakukan tindakan pada istri dari sang direktur rumah sakit.
"Sebelum memulai operasi kali ini, alangkah baiknya kita berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Semoga apa yang kita lakukan berjalan lancar. Ibu dan bayinya selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya."
Ghani hanya memperhatikan bagaimana kapas alkohol mulai dioleskan ke atas perut Queensha lalu tak lama kemudian alat-alat medis yang telah disterilkan sebelumnya menyentuh permukaan kulit sang pasien.
Akan tetapi, hal tak terduga terjadu. Operasi baru setengah jalan dilakukan, tiba-tiba tubuh Ghani terasa lemas tak bertenaga. Pandangan mata menggelap, tungkai pun tak lagi dirasa mampu menopang tubuh. Wajahnya pucat bagaikan mayat.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi jatuh menyentuh dinginnya lantai ruang operasi disusul suara kencang memekakkan gendang telinga.
...***...
__ADS_1