Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Rora Mau Mama, Pa!"


__ADS_3

Keadaan Aurora sudah membaik dibanding dengan hari kemarin, anak itu kembali ceria seperti biasanya membuat Ghani merasa tenang karena sudah bisa melihat senyum putrinya lagi. Di sela-sela kegiatannya yang sangat sibuk di rumah sakit, Ghani menyempatkan diri untuk sering menengok sang putri yang saat ini masih dirawat di rumah sakit. Dia merasa lega karena tidak melihat penampakan Queensha di sini. Sempat dirinya resah apabila diam-diam wanita itu menemui Aurora, tapi saat bertanya kepada para perawat yang berjaga, mereka tidak pernah melihat wanita dengan ciri-ciri seperti Queensha datang ke sini.


"Papa, ke mana Mama? Apa urusan Mama belum selesai?" tanya Aurora kepada sang ayah saat Ghani datang untuk menemaninya makan siang. Ghani melirik sang ibu yang sedang mengupas buah jeruk kesukaan Aurora.


"Iya, Mama masih ada pekerjaan," jawab Ghani berbohong. Mana mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada Aurora. Bocah kecil itu belum mengerti masalah orang dewasa.


"Pekerjaan apa? Kenapa Mama kerja? Bukannya Papa punya banyak uang, ya? Kata temenku, kalau punya banyak uang enggak perlu lagi kerja," ucap anak kecil itu sambil menatap sang ayah dengan tatapan polosnya.


Ghani menjadi bingung akan menjawab apa, jelas mungkin dirinya salah mengatakan bahwa Queensha tengah bekerja. 'Kenapa aku enggak bilang aja kalau ada saudara Queensha yang sedang sakit?' batin Ghani menyesali perkataannya waktu kemarin. Sementara itu Arumi melirik Ghani, membiarkan sang putra menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan putrinya. Arumi ingin tahu apa yang akan Ghani katakan.


'Ghani ... Ghani, bunda enggak nyangka kamu tega membohongi cucuku seperti ini. Semoga saja setelah Rora dewasa, dia tidak kecewa karena Papanya telah berbohong kepadanya sedari dia kecil', batin Arumi. Wanita itu bersikap masa bodoh sebab masih kesal akan sikap Ghani yang terkesan egois hingga tak mau memikirkan perasaan orang lain. Jangankan perasaan Aurora, perasaan ibunya sendiri saja Ghani tak peduli. Benar-benar egois!


Ghani mengusap tengkuknya. "Eem ... itu. Karena Mama ingin belikan mainan untuk Rora. Banyak mainan. Mama bilang ingin belikan Rora mainan dengan uang Mama sendiri," ucap Ghani akhirnya saat tercetus sebuah ide. Entah apakah jawaban ini tepat atau tidak, semoga saja Aurora bisa menerima jawabannya itu.


Ghani melirik Aurora yang menatapnya sambil memiringkan kepala, membuat ia menjadi salah tingkah.


"Tapi--"


Baru saja Rora akan berbicara lagi, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat laki-laki masuk ke dalam ruangan itu dan tersenyum saat melihat Ghani yang ada di sana.


"Nona Cantik, waktunya makan siang," ucap perawat pria tersebut mendorong troli berisi makanan milik cucu direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Ghani menghela napasnya lega, di saat menegangkan tadi dia masih diselamatkan oleh Bayu, perawat yang bertugas menjaga Aurora.


Aurora tersenyum senang saat melihat makanan yang enak diberikan kepada ayahnya. Dia memang sudah lapar dan ingin disuapi oleh sang ayah.


"Selamat menikmati hidangan yang tersedia Nona Cantik," kata Bayu. Perawat itu undur diri, Ghani segera menyuapi Aurora makan siang.


Arumi menunggu di sana, menyaksikan Ghani yang tengah mengurusi putrinya. Dering telepon terdengar dengan cukup keras sehingga Arumi menerima panggilan tersebut.


"Tolong titipkan saja pada security yang berjaga di pos jaga, Pak. Nanti saya ambil ke sana. Baik, terima kasih." Kemudian Arumi mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


Arumi memasukan telepon genggan itu ke saku snelli dan bangkit dari kursi. Dengan malas ia berkata, "Bunda mau ke keluar dulu."


Ghani menoleh ke arah sang bunda. "Memangnya Bunda mau ke mana?" tanyanya sambil memandangi punggung wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Tanpa menoleh sedikit pun, Arumi menjawab, "Pos keamanan ngambil paketan."


Ghani menganggukkan kepalanya. Arumi segera pergi ke luar untuk menerima paket yang dikirim dari salah seorang temannya untuk Aurora.


Wajah Aurora tampak murung, Ghani yang melihatnya menjadi bingung, padahal tadi anak itu masih bisa ceria.


"Kenapa?" tanya Ghani mengusap pipi Aurora yang kehilangan isinya. Tampak anak itu lebih tirus semenjak sakit.


"Rora kangen Mama," ucap anak itu mulai basah matanya. "Mama enggak usah kerja aja, Pa. Mama jagain Rora di sini," ucapnya lirih.


Semenjak mengenal Queensha, tak ada sedetik pun Aurora tak menyebut nama wanita itu. Mulai dari matahari terbit hingga terbenam, gadis kecil bermata bulat selalu ingin bersama Queensha. Mereka ibarat perangko, ke mana-mana selalu bersama bahkan Aurora tak bisa tidur bila tidak melihat wajah sang mama. Beruntungnya Ghani menyimpan foto pernikahan mereka.


"Suruh Mama ke sini. Rora mau sama Mama! Suruh Mama pulang!" ujar Rora mulai merengek. Ghani semakin bingung dibuatnya.


"Iya, nanti ya. Nanti malam papa bilang sama Mama biar Mama enggak usah kerja. Sekarang Rora makan dulu, ya? Makan yang banyak biar cepet sembuh dan bisa main lagi sama Kak Allan dan Kak Mayumi," bujuk Ghani.


Aurora mulai menangis, dia merindukan sang ibu yang sedari kemarin tidak bertemu dengannya.


Ghani mengambil Aurora ke dalam pelukan, mengusap kepala anaknya itu dengan perasaan yang tidak karuan.


"Aku mau Mama. Aku mau ketemu Mama!" tangis Rora menyayat hati.


Ghani menepuk punggung Aurora, mencoba membujuk anaknya agar tak menangis lagi. "Iya, nanti kita ketemu Mama, ya? Udah dong, Rora jangan nangis lagi kalau nangis nanti Mama enggak mau ketemu, gimana?"


Akhirnya usaha Ghani tidak sia-sia, Aurora tenang juga dan tangisannya mulai mereda. Sepasang mata indah nan jernih mengerjap, menatap lekat iris coklat milik sang papa.

__ADS_1


"Rora janji enggak akan nangis lagi, Pa, biar ketemu Mama." Sisa air mata mengenang di sudut mata.


Tangan Ghani terulur, mengusut sisa bulir kristal menggunakan punggung jari telunjuk. "Anak pintar. Sekarang bobok dulu, yuk, agar lekas sembuh. Kalau udah sembuh Rora bisa ketemu Mama."


Ghani menggendong Aurora dengan posisi koala, di mana bagian depan si kecil menempel di dadanya yang bidang. Dengan sangat berhati-hati menimang anak itu agar tidak bangun dan tidak merengek lagi.


Tepat pada saat itu Arumi masuk ke dalam ruangannya dan khawatir melihat cucunya yang digendong sang ayah. Di tangannya terdapat kado besar yang kemudian Arumi simpan di atas meja.


"Rora kenapa?" tanya Arumi khawatir.


"Dia rewel," jawab Ghani singkat, punggung Aurora dia tepuk perlahan demi memberikan kenyamanan.


"Lebih baik kamu cari Queensha dan suruh dia pulang ke sini," ujar sang ibu. Ghani tetap keras kepala dan tidak mau melakukan hal itu.


Menghela napas panjang dan berat. "Apa kamu enggak kasihan sama Rora? Lihat dia seperti apa sekarang ini? Dia selalu merengek, meminta bertemu Queensha. Apa susahnya sih tinggal cari Queensha dan pertemukan mereka. Jadi orang tua tuh jangan egois. Kasihan anakmu!" ujar Arumi, saking kesalnya ia bahkan meremas telapak tangan dengan rahang menonjol keluar. Sungguh ia amat sangat jengkel melihat kelakuan Ghani yang egonya tinggi seperti suami tercinta.


"Enggak, Bun. Aku enggak akan hubungi dia apalagi memintanya untuk kembali. Keputusan aku sudah bulat, aku enggak mau hal buruk kembali menghampiri Rora," ujar Ghani keras kepala.


Arumi mendengkus kesal mendengar ucapan sang putra. Tidak tahu lagi harus melakukan apa demi membuat hati putranya itu kembali terbuka.


"Dasar keras kepala!" gerutunya Arumi.


Perlahan Ghani membaringkan Aurora ke kasur, ia menatap sang putri dan mengusap rambutnya yang basah oleh keringat. Betapa kasihannya Aurora yang mengalami kejadian buruk seperti ini. Andai tidak pernah bertemu dengan Queensha, pastilah hal ini tidak akan pernah terjadi.


Ghani memutuskan untuk kembali ke bangsal karena ada jadwal operasi siang ini. Ia menitipkan Aurora pada Arumi yang saat itu bebas tugas karena tak mendapat shift siang maupun malam.


"Pikirkan lagi saran, bunda, Ghani. Jika memang kamu tidak kasihan pada bunda, setidaknya kasihanilah Aurora. Jangan egois, Nak!" ucap Arumi sebelum Ghani pergi. Ghani hanya mendengarkan saja, dia pergi tanpa menjawab ucapan sang ibu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2