Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Flash Back


__ADS_3

Lima tahun lalu di sebuah rumah sakit di kota Sumedang tampak seorang wanita muda berusia dua puluh satu tahun sedang memeriksa kandungan. Wanita muda itu duduk seorang diri di depan poli kandungan, sebelah tangan tengah mengusap perutnya yang semakin membesar. Saat ini dia sedang menunggu namanya dipanggil untuk konsultasi dengan dokter kandungan.


"Ibu Queensha Azura Gunawan!" Terdengar panggilan dari seorang perawat yang muncul dari balik pintu.


Queensha menoleh ke sumber suara dan bersiap bangkit dari kursi. Berpegangan erat pada tiang peyangga yang ada di dekatnya kemudian berdiri secara perlahan. Usia kandungan yang telah memasuki minggu ke 38, perut wanita itu semakin membesar hingga membatasi ruang geraknya.


"Selamat pagi, Dokter!" sapa Queensha saat kakinya yang jenjang memasuki ruang pemerikaaan. Di ruangan itu sudah ada dokter senior tengah tersenyum hangat menyambut kedatangan sang pasien.


Queensha segera duduk setelah dipersilakan oleh dokter senior bernama Aminah. "Ada keluhan apa nih, Bu Queensha? Apa masih sering mengalami sakit punggung dan kaki bengkak?" tanya dokter itu ramah.


"Masih, Dok, tapi intensitasnya sudah jarang. Hanya saja saya masih penasaran apakah posisi janin dalam kandungan ini tetap berada di posisi sungsang atau justru telah kembali ke semula. Jujur, saya takut bila harus dioperasi," tutur Queensha menyampaikan kekhawatirannya.


Sangat wajar jika Queensha berkata demikian sebab semenjak hamil dia tak mendapat dukungan dari siapa pun termasuk pihak keluarga sehingga dia takut bila harus masuk ruangan operasi tanpa ada orang yang menemani.


Dokter Aminah tersenyum lebar. "Bu Queensha tidak perlu takut, 'kan ada saya serta tenaga medis lainnya yang menemani. Bu Queensha cukup mempercayakan semuanya kepada kami sambil berdoa kepada Tuhan semoga proses operasi nanti berjalan lancar, ibu dan bayinya selamat."


"Ya sudah, daripada Bu Queensha semakin cemas, sebaiknya kita sekarang USG dulu yuk," sambung Dokter Aminah.


Queensha mengangguk, kemudian berpegangan pada kursi untuk berdiri. Seorang perawat dengan sigap membantu Queensha berjalan menuju ranjang pasien.


Wanita muda yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 21 tahun berbaring di atas ranjang. Perawat menutupi bagian pinggang sampai sebatas kaki dengan selimut tipis.


"Bu Queensha, saya tuangkan gel terlebih dulu ya sebelum kita melakukan pemeriksaan USG." Lalu perawat berseragam merah jambu menyibak selimut dan dress yang menutupi tubuh Queensha hingga sebatas dada memperlihatkan perutnya yang semakin membuncit.

__ADS_1


Queensha terdiam merasakan sensasi dingin saat perawat itu menuangkan gel di atas perutnya. Lalu tak lama kemudian sebuah benda bernama transducer bergerak dengan sangat hati-hati. Tampak dokter Aminah sedang fokus menatap layar monitor yang ada di hadapannya.


"Apabila melihat dari hasil pemeriksaan, posisi janin masih berada di posisi semula. Jika terus menerus seperti ini dengan sangat terpaksa saya harus melakukan tindakan operasi kepada ibu demi keselamatan janin dalam kandungan. Akan sangat berbahaya bila Bu Queensha memaksakan diri untuk melahirkan si kecil melalui persalinan normal."


Queensha menghela napas berat. Ingin menolak, tapi tidak bisa. Bukankah hanya ini cara satu-satunya dapat bertemu permata hatinya yang dinanti selama sembilan bulan?


"Ya sudah, tidak apa jika itu memang jalan terbaik maka saya bersedia menjalaninya." Queensha pasrah, berharap semoga saat operasi nanti tak ada kendala sedikit pun sehingga dia dapat melihat wajah putri kecilnya itu dengan penuh suka cita.


Pemeriksaan selesai. Dokter Aminah mengatakan bahwa detak jantung dan kondisi janin baik-baik saja meski berada di posisi sungsang. Pun begitu dengan si ibu. Berat badan, tekanan darah sang pasien berada di batas normal sehingga tak ada yang perlu Queensha takutkan karena ibu dan bayi dalam keadaan sehat.


***


Hari yang dinantikan pun tiba, di mana Queensha menjalankan operasi caesar. Namun, sebelum tindakan operasi dilakukan, Queensha dibawa terlebih dulu ke ruang rawat inap guna melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah kondisinya dalam keadaan baik-baik saja. Setelah dipastikan tak ada masalah, barulah perawat membawa si pasien menuju ruang tindakan.


Sambil berjalan, dokter Aminah sesekali menoleh ke belakang memastikan tidak ada orang yang tengah mengekori di belakang. Selain karena waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan daerah tersebut telah diguyur hujan, jalanan menuju ruang operasi memang selalu sepi tak banyak orang yang lalu lalang di sekitaran sana sehingga membuat bulu kudu wanita itu merinding dibuatnya.


Ketika dokter Aminah berbelok ke lorong sisi kanan, tiba-tiba saja tangan kekar seorang lelaki membekap mulut lalu menarik tubuhnya secara paksa menuju tempat sepi. Mendapat serangan mendadak, dokter Aminah tentu saja tidak dapat berteriak. Wanita itu hanya dapat mengikuti ke mana langkah kaki si pria itu melangkah.


Pria asing itu mendorong secara paksa hingga tubuh dokter Aminah membentur dinding. "Siapa kalian dan mau apa menemuiku?" tanya Dokter Aminah sambil meringis kesakitan.


"Aku adalah ibu tiri dari pasien yang bernama Queensha Azura Gunawan. Kedatanganku ke sini ingin mengajakmu bekerjasama," ucap Mia dengan nada congkak.


"Kerjasama apa yang ingin kamu tawarkan kepadaku?"

__ADS_1


"Aku mau kamu mengatakan pada Queensha bahwa bayi dalam kandungannya telah meninggal dunia. Carilah alasan yang kuat hingga wanita sialan itu percaya jika anak haram yang dikandungnya telah mati. Jika kamu berhasil maka akan mendapat imbalan besar atas kerja kerasmu ini. Namun,-"


"Maaf, aku tidak tertarik sedikit pun dengan tawaranmu ini. Jadi, sebaiknya kalian pergi dan tinggalkan rumah sakit ini. Kalau tidak aku akan meminta security mengusir kalian berdua!" ancam Dokter Aminah. Dokter Aminah menolak mentah-mentah tawaran Mia karena itu tidak sesuai dengan sumpah yang pernah diambilnya dulu sebelum bekerja di rumah sakit. Lagi pula, dia tak sampai hati kalau harus memisahkan ibu dari anaknya.


Wajah Mia langsung berubah dari menyeringai menjadi dingin dan kejam. Dia menatap setajam elang mengincar musuh di daratan. "Kamu menolak tawaranku begitu saja? Yakin tidak menyesali perkataanmu barusan?"


Dengan yakin dokter Aminah menjawab, "Tentu saja tidak! Aku baru akan menyesal jika menuruti permintaanmu. Memisahkan seorang bayi dari ibu kandungnya sendiri merupakan perbuatan dosa dan aku tidak mau melakukan itu. Sebaiknya kalian pergi karena sudah waktunya aku membantu Bu Queensha melahirkan. Permisi." Lantas dia berlalu begitu saja meninggalkan Mia dan Sarman begitu saja.


Akan tetapi, baru saja kaki dokter Aminah melangkah, pergelangan tangan wanita itu dicekal Sarman dengan erat. Kemudian pria itu membenturkan kembali tubuh dokter Aminah ke dinding. Sarman mengambil pisau lipat dari saku celana lalu mengarahkan benda tajam tersebtu ke leher sang dokter.


"A-apa ... yang kamu ... l-lakukan?" Dokter Aminah tergagap. Seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang berani mengancamnya.


"Sst! Jangan banyak bergerak atau aku bisa salah dan menggores lehermu. Bagaimana kalau ujung pisau ini melukaimu hingga darah segar mengucur dengan deras bukankah itu akan membuatku mati karena kehabisan darah?" ujar Sarman terdengar sadis dan kejam. "Selain itu, aku pun dapat melakukan hal yang sama kepada anak bungsumu."


Dokter Aminah terkejut mendengar ucapan Sarman. "Apa m-maksudmu?"


Mia melakukan panggilan video call dengan Lita. Di sana dokter Aminah melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri jika anak bungsunya tengah disekap ibu tiri Queensha. Sarman mengancam akan melenyapkan nyawa anak dokter Aminah jika dokter senior itu tidak menuruti permintaan Mia.


"Bagaimana, kamu bersedia bekerjasama denganku? Tenang saja, kamu pasti mendapat imbalan besar setelah aku berhasil menyerahkan bayi haram itu kepada pasangan yang ingin membelinya. Uang, keselamatan nyawa anakmu dan kamu sendiri aman jika mau bekerjasama denganku."


Menghela napas kemudian mengembuskan secara perlahan. "Baik, aku bersedia." Dokter Aminah setuju bekerjasama dengan Mia meski bertolak belakang dengan hati nuraninya sebagai seorang dokter.


...***...

__ADS_1


__ADS_2