
“Gila! Ngantuk banget gue." Pria jangkung dengan tinggi sekitar 180 cm mengerjapkan mata beberapa kali dan menggelengkan kepalanya guna menyingkirkan rasa kantuk yang terus melandanya.
Beberapa pria tampan berpakaian rapi terlihat berjalan menuju tempat parkir Kantor Pemadam Kebakaran Prov. DKI Jakarta disusul dengan orang-orang dengan setelan serupa. Mereka baru saja menghadiri seminar penanggulangan kebakaran yang diadakan oleh kantor pusat.
Nyaris lima jam lebih terkurung di dalam aula tanpa rokok benar-benar berhasil membuat hampir sebagian besar peserta seminar mengeluhkan hal yang sama. Kecuali Leon yang terlihat santai saja meski penampilan pria itu tak lagi serapi sewaktu berangkat.
“Asem banget mulut gue,” keluh yang lain. “Bagi rokok, dong, Yon.”
Tanpa pikir panjang, Leon yang memang tak pernah pelit soal apa pun langsung mengeluarkan bungkusan rokok merk ternama dari saku celananya. Menyodorkannya kepada yang lain yang tentu saja diterima senang hati. Ketiga pria dewasa itu bahkan bersorak kegirangan saat menyadari jika bungkus rokok itu masih penuh, baru berkurang satu batang.
Leon menggelengkan kepalanya pelan saat ditawari rokok. “Kalian aja. Gue mah ngerokok kalau pas kalut aja nih otak karena pusing mikirin pasien," katanya. Tak berniat menyesap benda mengandung nikotin itu mengingat saat ini dirinya masih mengenakan jas putih atau snelli yang biasa dikenakan dokter. Apa kata orang kalau sampai mereka melihat ada seorang dokter merokok, padahal mereka bekerja di dunia kesehatan.
Leon memang perokok, tapi hanya sesekali jika ingin ataupun untuk menghilangkan penat. Tidak seperti teman-temannya yang menganggap rokok sebagai separuh jiwanya dan bila tidak menyesap benda tersebut maka akan mati.
“Jangan langsung pulang, Yon. Cari makan dulu. Lapar perut gue dari tadi makan angin doang.”
“Angin apanya? Jatah snack kotak milik gue aja tadi udah lo habisin, masih aja ngomong makan angin,” sahut pria yang berjalan di belakang Leon.
“Ya makanya ini mau gue ganti. Omong-omong, lo semua pada enggak lapar? Udah hampir jam dua nih. Waktunya makan siang.”
“Lo mau traktir kita?”
“Iya! Gampang.”
“Wih, tumben. Ada apa nih tiba-tiba mau traktir makan siang segala?”
“Jangan bilang kamu sedang sakit keras dan kata dokter umurmu tinggal berapa minggu lagi makanya mau banyak-banyak sedekah sama kami?” celetuk pria berkulit sawo matang.
“Sialan lo!” sahut Raffi, yang berjalan di samping Leon dengan jengkel. “Ya sudahlah kalau enggak mau, gue enggak usah pakai acara cari makan segala. Kita langsung pulang aja, udah bad mood gue diledekin mulu dari tadi."
“Eh, enggak bisa gitu, dong. Lo udah ngajakin jadi mesti dilaksanakan. Ayo, kita cabut sekarang. Kebetulan gue ada rekomendasi restoran enak di dekat sini," sahut si pria yang tadi sempat meledek Raffi.
__ADS_1
Leon yang melihat teman-temannya berdebat lewat spion tengah, tersenyum singkat sebelum menuju parkiran mobil, di mana kendaraan roda empat miliknya terparkir.
Pilihan Leon dan teman-temannya jatuh pada sebuah restoran yang letaknya tak begitu jauh dari kantor pusat pemadam kebakaran, tempat diadakannya seminar. Selain terlihat cukup meyakinkan, tak banyak juga kendaraan yang ada di tempat parkir. Petanda jika restoran itu sedang tak ramai sehingga mereka bisa segera mengisi perut lapar tanpa perlu mengantri terlalu lama. Mengingat perut mereka semua sudah keroncongan sejak beberapa waktu lalu.
Namun, baru saja mereka keluar dari tempat parkir, di depan pintu masuk ke empat pria dewasa itu sudah disuguhkan oleh pemandangan yang tak biasa. Dua orang gadis tampak saling melontarkan kalimat-kalimat tajam satu sama lain. Entah apa masalahnya, tapi melihat tatapan tajam kedua gadis itu tampaknya masalah mereka cukup rumit.
“Cukup menarik," gumam Leon tanpa sadar, memuji salah satu gadis yang tengah bertengkar.
Leon yang sedari tanpa sadar memperhatikan dua gadis di hadapan mereka itu menoleh ke arah temannya. Si paling penjahat kelaamin dan suka mematahkan hati wanita saat sudah bosan terlihat begitu tertarik. Terlebih pada gadis yang ada di depan pintu masuk yang sejak tadi tak henti melontarkan kalimat-kalimat tajam.
“Apa?” tanya Leon dengan nada intimidasi. Tahu betul jika saat ini temannya itu tengah memperhatikan salah satu gadis itu dengan tatapan penuh mendamba.
“Kalimat tajamnya bikin gemas pengen cium dia. Boleh enggak, sih?” sahut pria bernama Irawan.
Leon berdecak pelan. Merasa menyesal telah bertanya. "Dasar otak mesum!"
“Ayo taruhan, menurut kalian di antara kedua gadis itu siapa nanti yang akan menang?” Raffi berkata sambil memandangi dua gadis tersebut.
“Gue juga. Tatapan tajamnya kayak mau cekik lawan bicaranya.”
“Kalau gue udah jelas si gadis kuncir kuda,” ujar Irawan masih dengan senyum manis yang tersemat di bibir. “Wajah lugunya berbanding terbalik dengan semua kalimat pedas yang dia lontarkan. Benar-benar bikin penasaran, bagaimana rasanya kalau bibir mungil itu gue cium? Apakah akan sepedas ucapannya, atau justru rasanya akan semanis wajahnya?”
Leon kesal dengan jawaban Irawan lantas memukul pundak teman sejawatnya. "Sembarangan aja lo kalau ngomong. Inget, kita tuh berprofesi sebagai seorang dokter jangan sampai mencemarkan nama baik instansi dan pekerjaan kita."
Namun, Irawan yang sudah kebal dengan semua hinaan para sahabatnya, jelas sama sekali tak mengindahkan. Dia menoleh ke arah Leon dan berkata, “Bawel banget, sih, lo. Iya, gue juga tau. By the way, lo dukung yang mana? Si gadis kuncir kuda atau yang sedang bawa kardus?”
“Au ah, pusing gue. Katanya kalian semua lapar, tapi malah lihat orang berantem,” sahut Leon seraya melanjutkan langkah.
“Kan hiburan, Yon. Kapan lagi lihat tontonan gratis apalagi lakonnya adalah kaum Hawa,” ujar salah satu di antara ketiganya mewakili sambil bergegas mengejar Leon yang sudah berjalan lebih dulu.
“Ingatin gue buat minta nomor telepon si gadis kuncir kuda ya sebelum pergi nanti,” pesan Irawan yang hanya dibalas dengusan oleh para sahabatnya.
__ADS_1
Baru mereka hendak permisi agar bisa masuk, tetapi keempat pria itu dikejutkan dengan gadis yang tadi membawa kardus tiba-tiba mendorong si gadis kuncir kuda.
"Hati-hati, Mbak!" Refleks Leon.
Gadis kuncir kuda bernama Lulu Andirani benar-benar akan jatuh terjungkal ke belakang andai Leon yang tadi kebetulan berada paling dekat dengan gadis itu tak dengan segera menahan tubuhnya. Namun, karena kurang hati-hati, bibir Leon tanpa sengaja justru menabrak bibir gadis yang ditolongnya.
“Aah!"
Tak hanya Lulu yang terkejut, Leon pun juga terkejut. Teman-teman pria itu bahkan menatap keduanya dengan tatapan tak percaya. Belum sempat Leon bisa mencerna apa yang baru saja terjadi, Lulu sudah lebih dulu menamparnya sampai menimbulkan bunyi cukup nyaring.
"Berengsek! Cowok sialan!" hardik Lulu.
“Lo apa-apaan, sih! Sakit tau!" seru Leon tak terima.
"Dasar pria mesum! Berani-beraninya mencari kesempatan dalam kesempitan!” sahut Lulu cepat dengan tatapan galak.
Leon mengangga tak percaya mendengarnya. Apa tadi gadis itu bilang? Dia mesum? Fitnah macam apa ini? Dari tempatnya berdiri Leon bahkan bisa mendengar ketiga temannya terkikik geli.
“Siapa yang mencari kesempatan dalam kesempitan, hah! Gue hanya mau nolongin lo yang mau jatuh. Bukannya berterima kasih malah nampar pipi gue. Dasar cewek sinting!"
“Buat apa berterima kasih? Enggak ada yang minta tolong ke lo!" Lulu menginjak kaki Leon sebelum pergi yang berhasil membuat pria itu mengumpat tertahan. Tapi Lulu sama sekali tak peduli. Gadis itu bahkan kini telah berbalik menghampiri Puji yang baru saja hendak menyingkir dari sana.
“Mau ke mana lo, Mbak? Urusan kita belum selesai." Lulu menarik paksa lengan Puji hingga kardus yang ada dalam genggaman tangannya terjatuh ke lantai.
Leon yang kesal, memilih pergi dari restoran itu tanpa kata. Teman-temannya membuntuti dari belakang. Meski tahu jika suasana hati Leom sedang tidak baik, mereka masih saja sempat-sempatnya menggoda.
“Mentang-mentang udah dapat ciuman jadi batal makan kita. Malang bener nasib gue, mau makan gratis aja, susah."
“Iya, nih, padahal gue udah bersedia mengeluarkan uang untuk traktir kalian semua," sahut Raffi.
“Kita cari tempat lain aja. Makan di sini cuma akan bawa sial!" sahut Leon tanpa mau repot-repot menoleh.
__ADS_1
...***...