Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
H-1 Wedding Day


__ADS_3

Persiapan pernikahan Queensha dan Ghani bisa dikatakan hampir seratus persen. Segala kebutuhan yang diperlukan sudah selesai dikerjakan kini tinggal menunggu hari H-nya tiba. Mulai dari gedung, katering, surat undangan serta dekorasi pelaminan serta segala yang diperlukan dalam proses pernikahan telah diurus Arumi dibantu Rayyan dan Rini.


Menjelang tanggal pernikahan, Arumi meminta Ghani untuk tidak menemui Queensha. Itu semua dilakukan dengan tujuan agar saat pernikahan digelar rasa cinta dalam diri kedua mempelai semakin bertambah dua kali lipat.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Ghani yang saat itu sedang berdiri di balkon kamar menoleh ke sumber suara. "Siapa?" serunya dengan suara lantang.


"Ini Bunda, Nak. Bolehkah bunda masuk ke dalam?" tanya Arumi dari balik pintu.


Mendengar sang bunda yang datang, Ghani bergegas mengambil kruk yang ia senderkan di kursi santai di balkon kamar tidurnya. Perlahan ia berjalan dengan bantuan tongkat yang dikempit di ketiak.


"Masuk, Bun. Maaf, pintunya belum sempat aku buka lagi setelah mandi tadi." Ghani membuka lebar daun pintu tersebut hingga memperlihatkan penampakan kamar tidur berukuran 7×7 meter.


Arumi tertegun sejenak saat pandangan matanya tak sengaja melihat sebuah bingkai foto berukuran besar ditempel di dinding. Foto keluarga yang diambil saat Arumi dan Rayyan merayakan anniversary mereka yang ke-30 tahun. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca saat teringat bagaimana perjalanan hidup rumah tangganya sampai bisa bertahan selama ini. Air mata, tawa dan canda menghiasi pernikahannya bersama sang suami.


Menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Arumi mencoba mengendalikan diri untuk tidak hanyut dalam suasana. Ia tidak mau malam sebelum hari pernikahan Ghani rusak akibat dirinya yang tak mampu mengontrol emosi sehingga merusak suasana bahagia anak tertuanya.


"Nak, apa bunda mengganggu istirahatmu?" tanya Arumi sambil menyusul Ghani yang sedang merapikan pakaian untuk acara ijab kabul besok pagi.

__ADS_1


Pria yang terkenal sangat pelit sekali tersenyum, justru memberi senyuman manisnya kepada sang bunda. Walaupun terkesan dingin, cuek dan arogan, tetapi ia hangat di dalam. Sifatnya tak jauh berbeda dari sang ayah, Rayyan.


"Tidak, kok, Bun. Kebetulan aku sedang tidak melakukan apa pun. Ehm, kalau boleh tahu memangnya Bunda ada keperluan apa datang ke sini? Tumben sekali mendatangiku secara personal, biasanya meminta Mbak Tina atau Ijah ke ruang kerja."


Arumi menjewer telinga Ghani yang dirasa tidak sopan kepadanya. "Dasar anak nakal! Memangnya bunda tidak boleh menemuimu di rumah suamiku sendiri, hem? Mentang-mentang sudah dewasa berani berkata tidak sopan kepada bundanya sendiri."


Ghani pura-pura meringis kesakitan, padahal Arumi tak mengeluarkan tenaga banyak demi menjewer telinganya. "Ish, sakit sekali, Bun. Aku bukan lagi anak kecil yang boleh Bunda jewer seenaknya. Bagaimana kalau ada orang bercerita kepada Queensha bahwa aku baru saja dijewer Bunda? Bisa luntur wibawaku di hadapan calon istriku itu."


Arumi terkekeh pelan mendengarnya. Ia menjadi gemas sendiri melihat Ghani yang tengah merajuk seperti tadi. "Ya tidak apa-apa dong, kalau Queensha mengetahui sisi burukmu. Bunda yakin, Queensha tetap menerimamu apa adanya. Seburuk apa pun kamu, dia pasti bersedia menjadi istri dan ibu bagi anak-anakmu kelak."


"Queensha itu wanita baik, tidak mungkin memutuskan hubungan denganmu begitu saja hanya karena hal sepele," kata Arumi panjang lebar, mengutarakan pendapatnya tentang calon menantunya itu.


"Nak, besok merupakan hari bersejarah bagimu dan Queensha. Untuk kedua kali kalian melangsungkan pernikahan, tetapi pada pernikahanmu kali ini sangat berbeda karena ada cinta di hatimu dan Queensha." Arumi mengusap helaian rambut tebal putera pertamanya itu dengan penuh cinta. "Kamu pasti masih ingat, 'kan, bagaimana perjuangan bunda untuk bisa hidup berumah tangga dengan Ayahmu?"


"Menjadi istri dari seorang Muhammad Rayyan Firdaus tidaklah mudah, ada saja masalah yang memicu pertengkaran di antara kami berdua. Terlebih sikap Ayahmu yang cemburuan terkadang membuat bunda bingung sendiri bagaimana cara untuk membujuknya agar tidak marah lagi. Namun, bunda sama sekali tak berpikir untuk meninggalkan Ayahmu walaupun tahu sifat dia yang tempramental, pecemburu dan over protective. Bunda memilih tetap bertahan karena di balik sifatnya itu ada kelembutan yang ditujukan kepadaku."


"Ayahmu memperlakukan bunda dengan sangat baik. Tak pernah membiarkan bunda kesusahan sedikit pun, dia selalu ada di saat membutuhkannya. Sikapnya itulah yang membuat bunda jatuh cinta untuk kesekian kali."

__ADS_1


Arumi menghentikan kegiatannya mengusap pucuk kepala Ghani. Ia memasang wajah serius di depan anak pertamanya itu. "Melihatmu tumbuh dewasa hingga sekarang, bunda semakin yakin ada banyak sifat Ayah yang diwariskan kepadamu. Posesif, pecemburu dan keras kepala merupakan sifat buruk yang ada dalam dirimu. Oleh karena itu, saat menikah dengan Queensha untuk kedua kali, kendalikan dirimu agar sifat burukmu itu tak merusak hubungan rumah tangga kalian berdua. Bunda tidak mau kalau sampai kalian bercerai lagi, Nak. Ingat, pernikahan bukan untuk main-main karena di dalamnya ada janji yang harus kamu penuhi di hadapan Tuhan."


"Bunda tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Queensha itu perempuan, punya hati dan perasaan jadi kamu tidak bisa semena-mena memperlakukannya. Kamu punya dua adik perempuan, coba bayangkan bagaimana jika Shaka memperlakukan Zahira dengan kasar? Memangnya kamu rela adikmu menderita?"


Dengan cepat Ghani menjawab, "Tentu saja tidak, Bun! Aku tidak rela kalau sampai Rara dan Shakeela disakiti oleh siapa pun. Walaupun itu adalah suaminya sendiri maka aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang. Kupastikan dia tinggal nama karena berani melukasi adik-adikku."


"Nah, kalau begitu janganlah kamu menyakiti perasaan Queensha lagi jika memang tak mau karma berbalik kepada adik perempuanmu. Hukum tabur tuai itu ada, Nak, dan kita tidak bisa menyepelekannya begitu saja." Arumi memberi nasihat bijak sesuai dengan pengalamannya di masa lalu.


Dulu, Arumi mendapat perlakuan tidak adil dari Naila, mantan ibu mertuanya. Seorang ibu yang seharusnya menjadi panutan, memberi nasihat kepada anak-anaknya agar lebih bersabar menghadapi segala ujian yang Tuhan berikan, justru menjadi penyebab rusaknya rumah tangga anak beserta menantunya. Naila tega menjerumuskan Mahesa dalam lubang bernama sebuah pengkhianatan sehingga rumah tangga yang dibina selama lima tahun akhirnya berakhir di pengadilan agama.


Namun, perbuatan kejam yang dilakukan Naila, Kayla serta Mahesa segera mendapat teguran dari Sang Maha Pencipta. Ketiga manusia itu mendapatkan buah atas hasil yang ditanam selama ini. Dengan semua kejadian tersebut, bukankah hukum tabur tuai memang berlaku di dunia ini? Oleh sebab itu, sebaiknya kita sebagai manusia biasa hendaklah memperbanyak amalan kebaikan agar kelak suatu hari nanti kebaikan itu berbalik kepada kita.


Ghani memberanikan diri meletakkan kepala di pangkuan sang bunda. Ia usap kedua pipi Arumi yang mulai berkeriput. Tatkala sedang dirundung kesedihan, memandangi wajah Arumi membuat suasana hatinya jauh lega dan kini saat ia sedang gelisah, menanti detik-detik ijab kabul diucapkan kembali ia pun memandangi wajah itu, wajah yang selalu memberikan kedamaian dan ketenagan bagi jiwa yang bimbang.


"Bunda tenang saja, aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali. Pada pernikahanku kali ini, aku berjanji akan menjaga, melindungi dan menemani Queensha sampai kapan pun. Kalau sampai terjadi, Bunda boleh menghukumku. Apa pun hukumannya, aku terima."


Kecupan penuh cinta Arumi daratkan di kening sang anak tersayang. Dengan suara serak ia berkata, "Sayangi, cintai dan lindungi Queensha dengan baik. Hargai dia sebagai istrimu dan ... jangan pernah lukai lagi hatinya. Sudah cukup dia menderita, kini saatnya menantuku itu hidup bahagia bersama lelaki yang sangat mencintainya."

__ADS_1


...***...


__ADS_2