
"Queensha. Mau kemana kamu?"
Queensha berhenti dan mengangkat pandangannya, tampak kedua mertuanya baru datang dan menatapnya dengan bingung. Dia segera menundukkan kepala menghindari tatapan dari kedua mertuanya tersebut.
Arumi dan Rayyan terpaku melihat menantu kedua keluarga Wijaya Kusuma membawa koper dan tas ransel yang tampak berat di punggung. Mereka merasa heran dan memandang satu sama lain. Dalam benak mereka bertanya, kenapa Queensha tiba-tiba membawa semua barang-barangnya? Apakah Ghani meminta menantu mereka pindah kamar?
Tak ingin terus menduga-duga, Arumi berjalan mendekati Queensha yang masih menundukkan kepala. Tampak wajahnya yang sembab dengan hidung yang merah seperti sudah menangis. Tiba-tiba saja perasaan Arumi menjadi khawatir dan juga merasa takut.
"Kamu mau kemana?" tanya Arumi sekali lagi sambil memegang pundak Queensha. Ada getar terasa di tubuh menantunya itu. "Nak?" panggil Arumi, barulah Queensha mengangkat kepala dan mencoba untuk menahan air mata yang lagi-lagi akan keluar dari mata cantiknya. Matanya berkaca-kaca dan memilih untuk menundukkan kepalanya lagi, menghindari tatapan tajam dari ibu mertuanya.
"A-aku ... aku akan pergi," ujar Queensha dengan terbata. Hal itu membuat Arumi dan Rayyan terkejut dan menatap satu sama lain semakin bingung, tapi mereka tidak ingin berpikiran buruk sebelum bertanya lebih lanjut.
"Pergi ke mana?" tanya Arumi semakin bingung, semakin tidak senang rasa hatinya dengan perkataan menantunya tersebut.
"Ghani sudah menjatuhkan talak. Maka dari itu ... aku akan pergi," ujar Queensha dengan lirih.
Rayyan dan Arumi terkejut mendengarnya, rasanya tak percaya jika sang putra telah menjatuhkan talak kepada menantunya ini.
"Enggak mungkin!" ujar Arumi tak percaya sembari menggeleng pelan. "Bagaimana bisa Ghani menjatuhkan talak kepadamu, Sayang?" ujar sang ibu mertua. Queensha menunduk lagi, memainkan ujung pakaiannya dengan jemari sehingga kusut. "Kamu bercanda, 'kan?" tanya Arumi. Berharap jika Queensha hanya mempermainkannya saja. Akan tetapi, dia melihat Queensha menggelengkan kepala.
"Itu sungguhan, Bunda. Pak Ghani sudah menceraikanku tadi malam. Dan kami ...." Queensha terdiam, sakit hatinya ketika akan melanjutkan ucapannya tersebut.
"Tapi kenapa? Kenapa dia sampai menceraikan kamu? Bunda kira masalah kalian enggak akan sampai seperti ini!" tanya Arumi tidak terima, amarah seketika datang pada dirinya akan pernyataan menantunya ini. Mereka mengira semalam jika Queensha dan Ghani akan baik-baik saja setelah kepergian mereka.
__ADS_1
"Semalam Pak Ghani menceraikanku dan bilang kalau aku enggak boleh ikut campur ke dalam permasalahan Aurora,” ucap Queensha dengan jujur. Tidak enak hati sebenarnya untuk berbicara seperti itu, tapi Arumi harus tahu apa yang terjadi bukan?
“Astaga! Enggak mungkin … kalian enggak boleh bercerai," ujar Arumi menatap Queensha sekali lagi, tapi wanita itu hanya menatap lantai dan tidak berbicara sama sekali. Seketika dirinya serasa tertampar oleh kilatan petir yang keras di siang hari yang sangat cerah. Arumi menggelengkan kepala dan mundur beberapa langkah kecil ke belakang. Dadanya bergemuruh kencang, napas terasa sesak karena menahan emosi yang diakibatkan ucapan dari sang menantu tersayang.
Tubuh Arumi lemas dengan lutut yang gemetar. Tidak dia sangka jika putranya telah menjatuhkan talak kepada Queensha. Dia pikir rumah tangga mereka akan bertahan hingga maut memisahkan.
“Honey, aku ...." Tubuh Arumi kehilangan keseimbangan. Beruntung Rayyan segera mendekati sang istri dan menangkap tubuh Arumi, mendekapnya dengan erat sehingga dia tidak sampai terjatuh ke lantai. Queensha khawatir, dia ingin menolong, tapi urung dia lakukan.
“Honey, ini enggak mungkin, 'kan? Ghani enggak mungkin menceraikan Queensha, menantu kesayanganku. Katakan padaku, kalau semua ini hanya mimpi buruk. Katakan, Honey,” cecar Arumi kepada sang suami dengan tatapan yang tidak percaya. Rayyan menatap Queensha. Sepertinya menantunya itu tidak berbohong.
“Kita harus tanyakan dulu sama Ghani. Kita tunggu Ghani pulang. Queensha, kamu tunggu Ghani ya. Biar kita bicarakan masalah kalian, jangan sampai kalian hanya berpikir sesaat dan membuat semuanya merugi. Jangan sampai kalian menyesal dengan keputusan ini,” mohon Rayyan mencoba bersikap bijak. Dia tidak mau jika Ghani akan menyesali keputusannya karena menceraikan Queensha hanya karena hal sepele.
Memang sakit jika kehadiran kita tidak dianggap seseorang. Namun, Rayyan tidak mendukung keputusan Ghani yang secara sepihak menceraikan Queensha tanpa berdiskusi dengannya terlebih dulu. Padahal sebelum menikah, putera tertuanya meminta pendapatnya terlebih dulu baru kemudian pernikahan itu digelar secara sederhana tanpa adanya resepsi pernikahan mewah seperti pengantin di luaran sana.
"Terima kasih karena Ayah dan Bunda sudah mau terima aku dengan keadaanku yang hanya wanita biasa. Aku sangat menghargai kalian berdua, aku sangat menyayangi kalian seperti kepada orang tuaku sendiri. Aku harap, Ayah, Bunda, Pak Ghani, dan Rora, bisa sehat selalu dan bahagia. Selamat tinggal, Ayah dan Bunda," ucap Queensha.
Berat rasa hati meninggalkan mereka, tapi apalah daya jika Ghani saja sudah tidak menghendakinya ada di sana lagi.
“Sayang, jangan tinggalin Bunda, kamu harus tinggal di sini. Kita tunggu Ghani ya?" mohon Arumi sambil menahan tangan Queensha. Kekuatannya sudah kembali dan dia tidak ingin kehilangan menantunya yang sangat baik ini. Di mana lagi dia bisa menemukan wanita yang tulus menyayangi cucunya. Di mana lagi dia bisa menemukan wanita yang selalu memberikan perhatian kepadanya.
“Maaf, Bunda. Aku mohon, jangan tahan aku.”
Queensha melepaskan pegangan tangannya dari Arumi dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, juga dengan Rayyan, dia mencium punggung tangan mereka dengan takzim.
__ADS_1
“Jika kami berjodoh, Tuhan pasti akan mudahkan jalan kami untuk tetap bersama. Assalamu a'laikum,” pamit Queensha kemudian mulai berjalan meninggalkan dua orang itu yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya. Queensha mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mata. Langkah kakinya terasa berat, tapi dia harus memaksakan diri untuk terus melangkah pergi dari sana dengan hati penuh keikhlasan.
‘Buat apa aku bertahan lagi?’ batin Queensha pedih.
Udara panas yang sangat terik dilawannya, dia pergi ke tepi jalan untuk menghentikan taksi.
“Ayah, hentikan Queensha. Jangan sampai dia pergi!" mohon Arumi pada suaminya sambil menarik tangan Rayyan meminta untuk kembali menyusul Queensha. Akan tetapi, Rayyan hanya diam saja dan menatap Queensha yang semakin jauh dari pandangannya. “Honey! Hentikan Queensha. Jangan sampai dia pergi. Gimana dengan Rora? Gimana dengan aku jika menantu tersayang pergi dari sini? Mau tinggal di mana dia jika tidak dengan kita?”
Tangis kini terdengar pilu dari mulut Arumi. Jelas sekali kepergian Queensha membuat luka yang dalam untuk mereka berdua. Arumi tidak menyangka jika Ghani ternyata melakukan hal itu pada pernikahannya yang baru saja seumur jagung.
“Gimana dengan cucu kita, Rora, Honey? Gimana dengan Queen ….” Arumi tak tahan, kesedihan yang dia rasakan mengingat kandasnya rumah tangga sang putra membuatnya lemas.
Wajah cantik yang mulai disinggahi keriput memucat, matanya terasa berkunang-kunang. Semakin lama kunang-kunang itu memenuhi pandangan Arumi. Tubuh wanita itu semakin lemas dan akhirnya pingsan di pelukan sang suami.
“Babe, bangun! Arumi, bangun!” seru Rayyan menepuk pipi Arumi. Akan tetapi, sang istri sama sekali tidak merespon apa pun. Kelopak mata indah yang selalu menancarkan keteduhan terpejam dengan sisa buliran kristal di sudut mata.
"Ghani, kamu sudah keterlaluan! Ayah akan membuat perhitungan denganmu."
Ijah dan Tina yang sedari tadi membeku, segera berlari menghampiri sang majikan. Dengan panik mereka membantu Rayyan menggotong Arumi dan memindahkannya ke sofa panjang yang ada di ruang keluarga.
Sementara itu Queensha sudah masuk ke dalam taksi dan pergi dari sana. Tidak bisa dia bendung kesedihan yang ada di hati karena dia harus pergi melepaskan segala yang pernah dia lalui di rumah itu, segala kenangan manis nan indah yang terjadi di sana bersama dengan Aurora, putri tercinta.
...***...
__ADS_1