Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Tetap Cantik dan Menarik Meski Terlihat Gendut


__ADS_3

Queensha memenuhi janjinya. Selama berada di rumah sakit, tak pernah sekalipun ia mengganggu suaminya yang tengah disibukkan dengan segudang pekerjaan yang tak pernah ada hentinya. Duduk di sofa sambil memandangi Ghani dengan menopang dagu di pangkuan. Sepasang mata indah itu terus menatap sosok pria yang begitu ia cintai.


"Beruntung sekali aku dinikahi pria seperti Mas Ghani. Ganteng, baik, dan juga pintar. Tak terbayang bagaimana paras ketiga anakku jika mereka semua berjenis kelamin laki-laki. Mereka ... pasti sama gantengnya seperti papanya," gumam Queensha. Tanpa sadar ia mengelus pelan perutnya, membayang wajah ketiga bayinya saat lahir ke dunia. Ia jadi tidak sabar ingin segera melihat ketiga anak-anaknya itu.


Gerakan kecil itu tertangkap oleh ekor mata Ghani. Melihat sudut bibir istrinya terangkat membuat ia penasaran apa yang membuat Queensha senyum-senyum sendiri.


"Sayang, kamu kenapa tersenyum? Apa ada hal lucu yang kamu tertawakan?" Ghani benar-benar kepo tingkat dewa.


Lama terdiam saat dua pasang netra saling bersitatap. Senyuman itu semakin lebar saat pantulan sinar matahari menerpa pipi sebelah kiri Ghani. Wajah pria itu benar-benar tampan sampai membuat Queensha meneguk saliva dengan susah payah.


'Ngidam apa, ya, Bunda Rumi dulu sampai punya anak setampan Mas Ghani. Mas Ghani memang dingin, mirip lemari es dua belas pintu. Namun, sikapnya itulah yang membuatku mabuk kepayang. Pantas saja Cassandra sampai rela memerintah orang untuk melarutkan obat perangs*ng ke dalam minuman Mas Ghani.' Queensha bermonolog dalam hati.


"Aku hanya sedang membayangkan bagaimana paras ketiga anak-anak kita nanti. Kalau bayi kita lahir dengan jenis kelamin laki-laki, mereka pasti tampan seperti kamu." Queensha memuji Ghani bersungguh-sungguh. Pujian itu bukan hanya gombalan semata, tetapi berasal dari sanubarinya yang terdalam.


Ghani meletakkan kacamata di atas meja kerja. Ia tertawa geli mendengar pujian istrinya. "Kalau mereka lahir dengan jenis kelamin perempuan, pasti cantik seperti kamu dan Rora."


Queensha tersipu malu. Kedua pipi berwarna merah muda mendapat pujian suami tercinta. "Kamu terlalu memujiku, Mas. Aku tidak cantik dan juga menarik. Lihat, nothing special in my self," ujarnya seraya memutar-mutar tubuhnya di depan Ghani.


"Katakan padaku, siapa yang bilang kalau kamu tak cantik dan juga menarik, biar aku hajar dia karena sudah berani menghina istriku. Spek Bidadari begini, kok, dikatai tidak menarik. Tampaknya orang itu buta sampai tidak bisa melihat wanita cantik seperti kamu."


Ghani mendekat dan menuntun Queensha mendekati cermin cermin berukuran setengah badan. Ia berdiri di depan cermin itu sambil menyentuh pundak istrinya. "Coba perhatikan, bagian mana yang kamu bilang tidak menarik, hem? Wajah, hidung, bibir, dua aset berharga untuk anak-anak kita, semuanya menarik bagiku. Tak ada satu bagian tubuhmu yang tidak menarik di mataku, semuanya sangat indah. Apalagi semenjak hamil, bentuk tubuhmu terlihat begitu seksi hingga membuatku ingin terus menjamahmu."


Queensha memalingkan pandangannya, tak berani melihat wajahnya dari pantulan cermin. Ia jadi insecure dengan bentuk tubuhnya sekarang. Lebih berisi dengan pipi chubby dan perut membuncit.


"Gombal! Belajar dari mana cara merayuku?"

__ADS_1


Ghani tertawa lepas mendengar perkataan istrinya. Bagaimana Queensha bisa menuduhnya sedang menggombal, ia saja tidak pandai merayu seseorang.


Memutar tubuh Queensha hingga posisi saling berhadapan. "Gombali bagaimana? Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, kalau kamu cantik luar dalam apalagi ... saat mengenakan lingerie hitam dan merah terang. Kedua warna itu sangat kontrak dengan kulitmu yang putih. Kamu-"


"Sst, diam! Jangan diteruskan lagi! Aku malu." Queensha meletakkan jari telunjuk di depan bibir Ghani. Namun, Ghani yang terlanjur gemas dengan sikap Queensha justru membuka mulutnya, kemudian menjilati jemari lentik itu seperti sedang memakan es krim.


Bulu kudu merinding, merasakan hangatnya lidah Ghani menyentuh permukaan kulit. "Mas Ghani ... k-kamu ...."


"Aku tak peduli dengan fisikmu, Sayang. Mau kamu menarik ataupun tidak, aku tetap mencintaimu. Di masa sekarang, mendatang maupun masa depan, kamu tetaplah yang tercantik di mataku. I love you, Queensha Azura Gunawan."


Ghani menyentuh ujung dagu Queensha, tanpa basa basi menyatukan kedua bibir mereka. Pria itu menggerakkan lidahnya membuka gigi sang istri dengan lidah, menyapu seluruh rongga mulut tanpa ada yang terlewatkan.


Ciuman itu membuat Queensha terbuai. Mata terpejam dan refleks melingkarkan kedua tangan di leher sang suami. Ia mengikuti iraman permainan Ghani yang lama kelamaan semakin menuntut.


Pangutan Ghani kian menuntut. Ia menggigit bibir bawah Queensha dengan lembut, sangat pelan, dan melepas begitu saja. Erangan tertahan Queensha membuat Ghani semakin gelap mata. Ia benar-benar tak lagi dapat menahan diru untuk tidak menjamah istrinya.


'Shiit! Bisa hancur lebur kepala gue kalau Ayah tau gue dan Queensha bercinta di ruangan ini.' Membayangkan wajah dingin itu, hasrat yang mencapai ubun-ubun perlahan meredup. Ghani tak lagi mencium Queensha dengan bernapsu.


Ghani menghentikan permainan mereka. Mengusap sudut bibir Queensha yang menyisakan salivanya menggunakan ibu jari. "Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja di ranjangku yang ada di sebelah. Sprei dan sarung bantalnya sudah diganti dengan yang baru. Aku masih ada kerjaan yang mesti diselesaikan."


Queensha tercengang, tetapi kemudian sadar mengapa Ghani tak melanjutkan permainan panas mereka.


Kecewa? Tentu saja. Perempuan mana yang tidak kecewa saat sedang bergairah, suami tercinta memadamkan kembali kobaran api tersebut. Ingin berteriak, memakin dan memarahi Ghani, tetapi tak bisa sebab saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyalurkan rasa sayang pada diri masing-masing.


Akhirnya Queensha hanya bisa parah, mencoba mengerti keadaan Ghani.

__ADS_1


"Aku belum mengantuk, Mas. Ehm, aku sedang ingin dibelikan rujak di depan rumah sakit, apakah kamu bisa minta tolong OB untuk membelikannya? Aku mau mangga muda yang super kecut."


"Baik, aku akan minta salah satu OB membelikan pesananmu. Sambil menunggu, kamu duduk dulu di sofa agar tidak pegal."


Membimbing Queensha agar duduk kembali. Setelah itu barulah mendekati meja kerja dan menghubungi bagian pantry, meminta OB membawakan pesanan istri tercinta.


***


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan apa yang saya minta?" tanya seorang wanita pada orang suruhannya.


Pria misterius dengan pakaian serba hitam serta topi hitam mengangguk. "Di dalam map ini terdapat identitas dari wanita yang Anda minta. Semuanya terangkum dalam satu kertas." Ia menyodorkan berkas ke hadapan si wanita.


Tanpa membuang waktu, wanita itu meraih map tersebut lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Menatap lekat pada selembar foto berukuran 5R yang menampakkan wajah seorang gadis tengah tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih.


"Oh, jadi ini orangnya." Kemudian wanita itu beralih pada kertas HVS berisi semua informasi mengenai gadis tersebut. Ia membacanya dengan teliti tanpa ada satu kalimat pun yang terlewatkan.


"Oke, semuanya lengkap. Saya puas dengan pekerjaanmu. Untuk imbalannya, akan saya transfer ke rekeningmu."


Meraih gawai yang diletakkan di atas meja, membuka aplikasi m-banking kemudian mengirim sejumlah uang kepada rekening orang suruhannya.


"Selalu siap sedia kalau saya butuhkan bantuan kamu."


"Baik, Bu. Ponsel saya selalu standy 24 jam. Kapan pun Anda membutuhkan bantuan maka saya siap membantu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2