Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Resign


__ADS_3

Hanya tersisa waktu dua minggu sebelum pernikahan Leon dan Lulu digelar. Segala persiapan hampir mencapai 100%, menyisakan surat undangan yang dalam beberapa hari akan disebar ke tetangga sekitar rumah calon pengantin, keluarga serta kerabat jauh dari kedua belah pihak. Sengaja dicetak sekaligus agar saat resepsi pernikahan digelar di Jakarta, pihak keluarga Leon tak lagi disibukkan dengan urusan sepele. Mereka bisa fokus dengan resepsi penikahan putera putri tercinta.


"Neko chan, kamu serius mau resign dari tempat kerjamu? Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa, aku enggak mau kamu nyesel di kemudian hari," kata Leon kala dirinya dan calon istrinya tengah berdiskusi tentang masa depan mereka.


Lulu mengempitkan benda pipih itu di antara pundak dan telinga sementara tangannya memasukan barang bawaan ke dalam loker. Hari ini dia masih sibuk bekerja walau dalam waktu 2 minggu ke depan, dirinya dipersunting kekasih tercinta.


"Serius, Mas. Kalau enggak serius mana mungkin aku buatkan surat pengunduran diri. Rencananya hari ini akan kuserahkan pada Mas Rama."


Jawaban Lulu sontak membuat Leon yang sedang mengunyah makanan menghentikan sejenak kegiatannya. Lantas dia menyeruput air putih di sebelahnya hingga habis tak bersisa. "Jadi kamu udah buat surat pengunduran dirinya? Kok enggak bilang aku, sih."


Lulu nyengir kuda ketika calon suaminya bertanya demikian. "Lupa, Mas. Lagian pikiranku enggak fokus, banyak dipikirin menjelang pernikahan kita. Balik lagi ke topik utama, menurutmu apa aku enggak masalah berhenti dari pekerjaanku saat ini?"


"Aku cuma mau fokus ngurusin kamu dan anak-anak kita nanti, Mas. Kalau aku kerja, kamu juga kerja, lalu siapa yang ngurusin anak-anak? Aku enggak enak hati harus nyusahin kedua orang tua kita."


Leon tampak berpikir sejenak. Kalimat yang diucapkan Lulu benar adanya. Jika dia dan kekasih tercinta, lantas siapa yang menjaga buah hati mereka? Tidak mungkin, 'kan, mama papa serta mertuanya yang menjaga anak-anak.


Babysitter? Di zaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang benar-benar dapat dipercaya. Apalagi Leon tipikal orang tak mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya sehingga sulit baginya untuk melimpahkan tanggung jawag merawat anak-anaknya kelak.


"Ya udah, kalau kamu udah mantap, aku setuju aja. Terpenting kamu enjoy maka aku pun ikut senang."


Lulu tersenyum lebar. Leon memang selalu mendukung keputusannya. "Makasih ya, Mas, udah support aku. Alasanku resign dari sini karena aku berpikir pernikahan kita nanti akan sangat membuatku sibuk. Daripada ambil cuti dalam waktu lama dan membuat Mas Rama kecewa, lebih baik aku mengundurkan diri biar Big Boss enggak marahin Mas Rama mulu. Kasihan kalau kena imbasnya."


Leon manggut-manggut. "Ya udah, kamu selesaikan urusanmu hari ini. Besok, aku akan minta Yogi nganterin kamu ke rumah Ibu dan Bapak."


***


Suara ketukan terdengar dari luar, tak lama kemudian sosok Lulu berdiri di depan pintu dengan membawa selembar surat di tangan kanannya.


"Permisi, Mas Rama. Mohon maaf mengganggu pekerjaanmu. Aku datang ke sini karena ingin mengatakan suatu hal penting padamu, kira-kira aku ganggu enggak?" kata Lulu. Dia menggunakan bahasa non formal ketika hanya ada mereka berdua saja.

__ADS_1


Rama meletakkan tumpukan berkas ke atas meja kerja, dan mendongakan kepala. "Duduk dulu, Lu, biar ngobrolnya enak." Lantas Lulu menuruti perintah atasannya itu.


"Ada apa, tumben banget kamu datang ke ruangan saya."


 


"Begini, Mas. Aku mau menyerahkan surat pengunduran diri pada Mas Rama," kata Lulu sambil menyerahkan surat tersebut kepada Rama.


Rama mengambil surat tersebut, kemudia membacanya sekilas. "Kenapa mendadak banget, Lu? Apa calon suamimu keberatan kamu bekerja di sini?"


Lulu menggelengkan kepala cepat. "Enggak, Mas. Calon suamiku malah kasih kebebasan pada saya untuk memilih. Dia kasih izin kalau emang mau tetep bekerja di sini, tapi aku yang enggak mau."


"Mas Rama tau sendiri, sisa 2 minggu lagi aku nikah dan pasti aku bakalan sibuk banget ngurusin ini dan itu. Oleh karena itu, aku putusin untuk resign aja dari sini daripada Mas Rama, Pak Boss, dan temen-temen lain ngerasa iri karena keseringan cuti lebih baik aku ngalah demi kebaikan bersama."


Rama yang tak mau kehilangan satu-satunya pekerja terbaiknya yang tersisa setelah kepergian Queensha, mencoba menahan Lulu agar tidak resign dari restoran. "Kecewa gimana. Aku dan Pak Boss bisa maklum dengan keadaanmu. Kamu tuh jarang banget ambil cuti jadi bisa pergunakan jatah cutimu dengan baik tanpa perlu keluar dari sini. Kamu bisa nyelesaiin semuanya sambil cuti."


"Tadinya aku pikir begitu, Mas. Tapi, rencana pernikahan sampai acara—pasti banyak yang harus dipersiapkan. Kalau aku enggak serius, takut semuanya malah berantakan. Pekerjaan berantakan, acara pun enggak maksimal. Jadi, aku lebih milih fokus salah satu dan keputusanku jatuh pada persiapan pernikahan," papar Lulu.


Rama terlihat sedih karena harus kehilangan karyawan terbaiknya untuk kedua kali. Namun, dia tak mau egois dengan menahan Lulu tetap bekerja di restoran. Walaupun berat melepas Lulu, Rama menerima surat pengunduran diri karyawannya itu dengan lapang dada.


Mengembuskan napas berat lalu menatap Lulu dengan nanar. "Sebenarnya kalau boleh nolak aku akan tolak surat resign kamu, Lu. Bagaimanapun juga kamu karyawan terbaik dan paling lama dibanding yang lain. Kita udah saling kenal cukup lama, dan cuma kamu yang bisa aku percaya setelah Queensha," ucap Rama dengan raut wajah sedih. Luka akibat ditinggal Queensha belum mengering, kini dia kembali terluka.


Dada Lulu terasa seperti dihantam palu berukuran sangat besar. Tak menyangka jika dirinya mendapat tempat istimewa di hati Rama.


"Maafin aku, Mas. Aku terpaksa ngelakuin ini. Suatu hari nanti pasti akan ada karyawan yang lebih baik dan bisa Mas Rama percaya dibanding aku." Lulu meremas telapak tangan yang ada di atas meja kerja.


"Iya. Tapi 'kan enggak mungkin dapat secepat itu. Butuh waktu lama," sahut Rama lesu. Baginya, Lulu bukan hanya seorang karyawan, tetapi juga teman ngobrol yang asyik. Dari gadis itu, dia bisa sedikit demi sedikit melupakan Queensha, dan merelakan wanita itu hidup bahagia dengan pasangannya.


"Dulu sebelum aku jadi karyawan Mas Rama, banyak yang harus dipelajari agar bisa menunjukan kemampuanku seperti sekarang ini. Nah, dalam kasus Mas Rama ini, Mas Rama bisa kasih support pada penggantiku nanti gimana biar dia bisa jadi karyawan terbaik bahkan jauh lebih baik dari aku dan Queensha. Gembleng dia sama seperti saat Mas Rama nge-gembleng aku dan Queensha dulu," jawab Lulu sedikit bergurau.

__ADS_1


Mendengar jawaban Lulu seakan sudah sangat serius untuk resign sehingga Rama pun tidak bisa berbuat apa-apa. Rama berusaha untuk ikhlas menerima pengunduran diri Lulu.


"Ya udah kalau kamu udah yakin, aku bisa apa. Aku enggak tidak bisa egois nahan kamu hanya karena enggak mau kehilangan satu-satunya pegawai terajin dan terbaikku. Aku doakan semoga pernikahanmu lancar. Aku tunggu undangannya," ucap Rama dengan sedikit bergurau.


"Mas Rama tenang aja, undangan khusus untuk Mas Rama seorang. Udah, jangan sedih begitu sih. Aku cuma resign doang loh, Mas, bukan mau pergi selamanya. Kita masih bisa ketemu di lain waktu. Kapan-kapan, aku ajak Mas Leon mampir sini deh biar kita bisa curhat seperti biasa."


Rama terkekeh pelan mendengarnya. Sifat periang inilah yang akan dia rindukan dari sosok gadis barbar pemilik mulut mercon.


"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini. Senang bisa kerja sama denganmu," ucap Rama bersungguh-sungguh. Suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan gadis ulet, pantang menyerah seperti Lulu. "Omong-omong, rencana kamu mulai enggak kerja di sini lagi kapan?" tanya Rama.


"Em boleh enggak kasih aku waktu satu hari. Aku mau kangen-kangenan dulu sama karyawan lain sebelum resign," ucap Lulu.


"Boleh. Nikmati waktu kamu sama yang lain ya," sahut Rama.


"Karena enggak ada lagi yang mau dibahas, aku permisi dulu. Masih ada kerjaan yang menantiku. Sekali lagi, makasih atas pengertian Mas Rama. Tolong sampaikan ucapan makasihku juga untuk Pak Boss."


"Iya, nanti aku sampein."


Lulu membalikan badannya hendak keluar dari ruangan Rama. Namun, baru beberapa langkah, atasan yang sebentar lagi jadi mantan bosnya itu memanggil membuat Lulu menghentikan langkah.


"Lu, tunggu!"


Lulu menatap penuh tanda tanya dengan kedua alis saling tertaut satu sama lain. "Gimana, Mas? Apa Mas Rama butuh sesuatu?"


Tangan Rama melambai-lambai di udara. "Ah enggak jadi. Aku lupa mau ngomong apa."


Bibir Lulu mengerucut ke depan. Memasang wajah masam dan berkata, "Kebiasaan. Masih muda udah pikun."


Rama yang melihat Lulu kesal seakan jadi hiburan terakhirnya sebelum gadis itu resign dan meninggalkan restoran tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Ngenes banget nasib gue. Punya dua karyawan baik, malah resign karena mau nikah. Tapi ya udahlah, gue juga enggak bisa maksain orang untuk bertahan di sini. Terpenting mereka happy, gue juga ikutan happy." Lantas Rama kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


...***...


__ADS_2