
Amira, Yura dan juga Fernando akhirnya tiba di kediaman keluarga Rakin, lalu ketiga orang itu memasuki rumah.
Di ruang tamu, semua orang sedang berkumpul, bercerita-cerita dengan Tuan Zahirka yang ikut duduk di sana bersama keluarga Rakin.
Begitu Amira memasuki ruangan, Dani yang merupakan anak kecil yang telah disembuhkan oleh Amira langsung berlari ke arah amirah dan dengan sopan pria kecil itu membungkuk pada Amira.
"Aku berterima kasih kepada Kak Amira yang telah menolongku. Semoga Dewa dan leluhur keluarga Rakin memberkati Kak Amira yang telah berbuat kebaikan bagi keluarga Rakin" kata pria kecil itu dengan suara yang lembut membuat Amira tersenyum hangat.
"Kau pria kecil yang pandai, Dewa pasti memberkatimu hingga dia menyembuhkanmu seperti saat ini." Kata Amira mengulurkan tangannya mengusap rambut pria kecil itu membuat Dani langsung mengangkat wajahnya.
Pria kecil itu dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman menatap Amira, "semua berkat Kak Amira yang datang di saat yang tepat." Ucap Dani.
__ADS_1
Rahmat yang melihat sikap cucunya kini berdiri dan berjalan ke belakang cucunya sembari menatap Amira dan berkata, "Amira, Dani adalah anak yang jenius sejak kecil. Dia juga sangat periang, tetapi semenjak sakit, dia sering menjadi pemurung, untunglah sekarang dia sudah sehat berkat pertolonganmu."
"Saya mengerti, semoga kedepannya keluarga Rakin terus diberkati dan tidak lagi mendapat musibah seperti sebelumnya." Kata Amira sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan suaminya.
"Aku harap begitu," ucap Rahmat sembari mengangguk lalu pria itu menatap Yura, "Ayo bawa tamu kita untuk duduk bersama. Makan malamnya akan siap sebentar lagi."
Yura mengangguk lalu perempuan itu menatap Fernando dan Amira, "Ayo kita duduk dulu sembari menunggu makan malamnya siap." Kata Yura langsung diangguki Amira dan Fernando, lalu semua orang kemudian duduk di ruang tamu.
"Amira, aku minta maaf atas kejadian terakhir kali di kediamanku." Ucap Ardan memulai pembicaraan langsung membuat semua orang menatap ke arah pria itu.
Amira tersenyum tipis lalu dia berkata, "bukan masalah yang besar. Lagi pula Tuan Zahirka telah memberikan kami bahan obat yang akhirnya bisa menyembuhkan seluruh keluarga Rakin. Guruku juga sangat senang karena dia akhirnya bisa menggunakan pil Heksa untuk mengobati penyakitnya yang sudah lama ia derita."
__ADS_1
Ardan langsung mengangguk, "baguslah kalau begitu, tapi Hari ini aku sangat penasaran untuk melihat pil heksa yang dibuat oleh gurumu. Aku dengar orang-orang mengatakan bahwa pil itu memiliki corak yang sangat indah pada permukaannya, jadi aku sangat penasaran untuk melihatnya," ucap Ardan langsung membuat Amira mengerutkan keningnya.
'Sepertinya orang tua ini ingin memastikan bahwa pil itu benar-benar pil Heksa, dia sepertinya belum terlalu yakin padaku. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu, lagi pula dia tidak bisa mengambil kembali bahan obatnya.' pikir Amira dalam hati.
Amira lalu menatap Rahmat, "pil yang dimiliki guruku sudah tidak bisa lagi diperlihatkan pada Tuan Zahirka karena sudah dimakan oleh guruku. Jadi mungkin keluarga Rakin bisa memperlihatkan sisa setengah pil yang dimakan oleh Dani," ucap Amira langsung membuat Rahmat menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja," kata pria itu lalu melihat putranya, "Hesa, ambillah pil yang masih tersisa setengah itu, lalu perlihatkan pada Tuan Zahirka." Perintah Rahmat pada putranya langsung diangguki oleh Hesa.
Hesa langsung meninggalkan tempat itu untuk naik ke lantai 2 mendapatkan pilih yang dimaksud sementara semua orang masih duduk menunggu pria itu.
Sementara Ardan yang duduk menunggu, pria itu berpikir dalam hatinya, 'Dani yang sakit keras memang berhasil sembuh, tapi bukan berarti dia disembuhkan oleh Amira. Mungkin saja ada faktor lain yang tiba-tiba membuat pria kecil ini sembuh, tapi aku harus memastikan lebih dulu tentang pil yang sudah dikonsumsi oleh pria kecil ini.
__ADS_1
'Kalau itu memang pil heksa yang asli, maka aku akan mempertaruhkan nyawa cucuku pada Amira. Tapi kalau bukan,, maka aku akan meminta kembali bahan obat yang telah kuberikan pada mereka,' pikir pria itu dalam hati nya.