Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
51.


__ADS_3

Amira dan suaminya akhirnya tiba di kediaman keluarga Rakin.


Fernando tak memasukkan mobil ke pekarangan keluarga Rakin dan hanya memarkirnya di depan gerbang.


Sebab pikirnya, bahwa mobilnya mungkin akan mengambil tempat di sana.


"Kau yakin ini rumahnya?" Tanya Fernando begitu mereka berdiri di depan gebang mewah yang menyembunyikan kemewahan di balik gerbang itu.


"Lihat, GPS-nya mengarah ke dalam," ucap Amira memperlihatkan layar ponselnya pada suaminya.


"Kau benar, " ucap Fernando mempererat genggaman nya pada tangan istrinya.


Dia takut bila masuk ke sana dan menemukan keluarga Rakin hanya ingin mempermalukan mereka.


Bagaiman pun, keluarga mereka tak pernah sebanding dengan keluarga Rakin, jadi meski pun Amira telah melakukan kebaikan untuk keluarga itu, tapi mereka juga telah menerima mobil sebagai balas budi dari keluarga Rakin.


"Ayo," ucap Amira menarik tangan suaminya agar mereka segera masuk ke dalam rumah keluarga Rakin.


Ding dong!


Ding dong!


Fernando menekan bel di samping pagar lalu menunggu dengan perasan gugup.


'Keluarga Rakin adalah keluarga yang proyeknya ingin di menangkan oleh perusahaan, tadi kakak sepupu sudah bertemu mereka dan belum ada kabar apakah kakak sepupu berhasil memenangkan proyeknya atau tidak. Kalau kakak sepupu saja tidak bisa, mana mungkin aku bisa?' pikir Fernando dalam hati sambil melirik Amira yang berdiri santai memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Sayang, coba lihat ini," Amira tiba-tiba menyodorkan ponselnya pada Fernando.


"Kau berteman dengan Kakak sepupu?" Tanya Fernando melihat foto cucu pertama keluarga Barata yang tampak ceria di depan kantor grup Rakin.


"Hm,, sepertinya ini foto tadi siang ketika dia pergi membicarakan kontrak dengan grup Rakin." Ucap Amira.


"Ahh," jawab Fernando dengan singkat sambil memperhatikan senyum pria yang ada di foto.


"Aku yakin dia tidak mendapatkan proyeknya!" Ucap Amira langsung mematikan ponselnya agar suaminya tidak memikirkannya.


Perempuan itu lalu menoleh pada tombol bel, "tekan lagi bel nya." Katanya saat Amira sudah bosan menunggu.


"Oh," Fernando mengulurkan tangannya menekan tombol bel.


Ding dong!


Ding dong!


Drrttt... Drrtt....


"Dengan pos depan komplek--"


"Kalian sudah bosan hidup ya?!! Membiarkan orang miskin gelandangan datang ke depan rumahku menekan bel sesuka hati?!! Cepat usir mereka jika masih ingin hidup!!" Teriak Yura ke seberang telpon.


"Maaf Nona, tapi rumah nomor berapa yang--"

__ADS_1


"Rumah keluarga Rakin!!" Teriak Yura ke seberang telpon lalu mematikan panggilan itu dengan kesal.


"Ada apa teriak-teriak?" tiba-tiba sebuah suara dari belakang Yura mengagetkan perempuan itu.


Yura langsung berbalik menatap orang yang datang.


"Ah,, kakek, ini, ada orang yang menekan sembarang bel rumah kita." Kesal Yura mendekati pria tua itu.


"Siapa yang berani?!!" Ucap Rahmat mendekati monitor lalu menatap dua orang yang sedang tersenyum bercakap-cakap di depan rumah mereka.


Rahmat langsung mengenali Amira, dan pria itu juga bisa menebak kalau pria tampan yang bersamanya adalah suami Amira yang diceritakan perempuan itu.


Hati pria tersebut langsung menjadi hangat melihat suami istri yang tampak bahagia, jadi dia menekan tombol pada layar lalu berkata, "bukakan pintu untuk tamu kehormatan keluarga Rakin." Ucap Rahmat mengejutkan Yura.


Tamu kehormatan?!!


Tamu kehormatan dari Hongkong?!!


"Apa yang kakek maksud dengan mereka sebagai tamu kehormatan? Mereka hanya orang miskin yang di sisihkan di keluarga Barata!" Ucap Yura kesal.


"Jangan bicara begitu!!! Pokoknya kalau mereka masuk, kau harus bersikap sopan pada mereka!" Ucap Rahmat memperingatkan cucunya.


"Tapi Kek--"


"Tidak ada tapi-tapian!" Tegas Rahmat berbalik menuju ruang utama untuk menyambut Amira dan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2