
Setelah menutup telepon dengan neneknya, Fernando diam berpikir di tempatnya untuk menghubungi keluarga Rakin atau hanya mengabaikannya saja.
Bagaimanapun, dia jelas tahu bahwa datangnya keluarga Rakin ataupun tidak, tidak akan mempengaruhi keputusan neneknya untuk mengangkat seorang direktur baru untuk perusahaan mereka.
"Apa yang harus kulakukan?" Ucap pria itu sembari memijat keningnya.
"Kak Fernando, Apa yang membuat Kak Fernando terlihat begitu cemas?" Tiba-tiba suara seorang perempuan yang bertanya langsung membuat Fernando Minato perempuan cantik yang datang menghadapnya.
"Ahh, ini hanya masalah keluarga saja." Jawab Fernando sembari tersenyum.
"Begitu ya, kalau begitu aku akan membuatkan kopi buat Kak Fernando supaya Kak Fernando bisa berpikir dengan jernih." Kata indah langsung berjalan untuk membuat kopi ketika Fernando menghentikannya.
"Kau tidak perlu membuatkannya, aku bisa membuatnya sendiri nanti." Ucap Fernando yang jelas tahu bahwa perempuan itu sudah beberapa kali berusaha mendekatinya, tetapi karena dia tidak memberi peluang pada perempuan itu maka indah menjadi semakin agresif mendekatinya.
Indah yang mendengar ucapan Fernando dan langsung tersenyum ke arah pria itu sembari berkata, "Ahh, Kak Fernando tidak perlu khawatir, Pokoknya Kak Fernando cukup duduk manis menunggu dan aku akan membuatkan kopi terenak yang per--"
__ADS_1
"Aku mengatakan ini karena aku tidak suka minum kopi dari perempuan lain selain istriku. Jadi kau tidak perlu repot-repot dan kerjakan saja pekerjaanmu yang belum selesai." Tegas Fernando lalu pria itu kembali tertunduk untuk kembali fokus pada pekerjaannya.
Sementara indah yang mendengar ucapan pria itu, dia terdiam di tempatnya dan merasa sangat malu karena semua orang di kantor itu telah mendengar apa yang dikatakan Fernando padanya.
'Hah,, dasar Fernando, tidak bisa kah dia mengatakannya pelan-pelan saja dan tidak membuatku malu? Kalau dia bukan calon direktur perusahaan ini, Mana mungkin aku mau mendekatinya?!!!' geram indah dalam hati lalu dengan kesal dia kembali ke mejanya untuk melampiaskan amarahnya dengan cara bermain game di komputer.
Sementara di tempat lain, Amira yang telah meninggalkan keluarga racun langsung berangkat ke kantor Fernando karena masih ada beberapa jam lagi sebelum janjinya dengan Halina.
Dia diam-diam pergi ke sana karena dia ingin memberi kejutan pada suaminya, tetapi ketika dia berjalan di lorong dia tiba-tiba mendengar dari sebuah sudut beberapa karyawan sedang bergosip.
"Ha ha ha... Dia itu memang perempuan gatal, mentang-mentang cantik Dia malah mau menggoda Fernando hanya karena dia mengetahui Fernando akan diangkat menjadi direktur. Tapi sayang sekali, kak Fernando menolaknya mentah-mentah bahkan mempermalukannya di depan semua orang.
"Ha ha ha iya, tadi aku sangat puas melihat wajahnya ketika dia mematung di tempatnya dan tidak tahu harus berbuat apa setelah Fernando berkata bahwa Fernando tidak bisa minum kopi buatan orang lain selain kopi buatan istrinya."
"Ha ha ha...."
__ADS_1
"Ha ha ha..."
Amira terdiam di tempatnya lalu perempuan itu tersenyum setelah mendengar gosipan dari karyawan di kantor itu.
Jadi dia tidak mengganggu orang-orang bergosip itu dan hanya masuk ke ruang kerja suaminya dan menemukan pria itu sedang sibuk di mejanya.
Jadi Amira melangkah diam-diam ke arah Fernando untuk memberikan kejutan pada pria itu.
Cup!
"Ah,, sayang?" Fernando yang terkejut langsung tersenyum dan menarik kursi untuk istrinya agar perempuan itu bisa duduk di sampingnya.
"Kau tiba-tiba datang begini membuatku sangat terkejut dan terlalu senang," kata Fernando tanpa memelankan suaranya membuat semua orang bisa mendengar ucapan pria itu terhadap istrinya.
"Hm,,, Aku sangat merindukan suamiku jadi aku datang ke sini untuk menempel pada suamiku." Ucap Amira dengan suara yang tak kalah kerasnya membuat semua orang terdiam bahkan indah yang baru saja berusaha untuk mendapatkan hati Fernando kini mematung di tempatnya karena dia tidak menyangka bahwa kedua orang itu akan bersikap seperti itu di kantor.
__ADS_1