Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
169.


__ADS_3

"Kalau kau tidak senang denganku, maka bawa saja bosmu itu pergi ke rumah sakit." Ucap Amira dengan wajah yang acuh menatap ke arah dua orang yang duduk di ruang tamu.


Ucapan Amira yang begitu sombong dan seenaknya langsung membuat Sidom merasa sangat marah dan menggertakan giginya menatap Amira.


"Kau pikir kau siapa? Bukankah kau hanya perempuan sampah dari--"


Buk!!!


Sidom menghentikan kata-katanya saat sebuah pukulan melayang dari Arifin.


Pria itu sama sekali tidak merasakan sakit karena pukulan Arifin yang lemah, dan Arifin yang melayangkan pukulan langsung terjatuh ke lantai dan pria itu merebahkan kepalanya di atas meja sambil menahan rasa sakitnya.


"Tu,, tuan!!" Ucap Sidom kini merasa panik mendekati bosnya untuk membantu pria itu.


Tetapi Arifin berkata, "kalau kau memperdulikan aku, maka tutup mulutmu dan diamlah di tempatmu!"


Mendengar itu, maka Sidom menggertakkan giginya karena dia sangat marah melihat bosnya yang bersikap lemah di depan seorang perempuan yang terkenal sebagai sampah dari keluarga Barata.

__ADS_1


Tetapi dia tidak bisa membantah dan hanya bisa mengepal erat tangannya sambil berjalan ke arah samping dan berdiri diam menggertakkan giginya menatap bosnya yang kini tak berdaya di depan Amira.


Amira yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum lalu dia memanggil pelayan untuk menyuguhkan teh padanya.


Setelah teh berada di depan Amira, perempuan itu menikmati tehnya sambil memainkan ponselnya, Hal itu membuat Sidom semakin marah.


'Perempuan ini benar-benar, dia sudah melihat bagaimana tuanku begitu kesakitan, dan sekarang tak berdaya, tapi dia malah memilih meminum teh sambil bermain ponsel!!!! Apakah dia benar-benar bisa membantu tuanku ataukah dia hanya melakukan hal ini untuk menyiksa Tuanku?' pikir Sidom dalam hati kini dalam berada dalam situasi yang dilema.


Kalau dia membantah ucapan Arifin maka bisa jadi pria itu akan memarahinya ketika pria itu sembuh, tetapi kalau dia terus membiarkannya maka tuannya mungkin akan mati sebelum Amira bergerak untuk membuat obat.


Tetapi melihat Tuan nya yang sama sekali tidak melakukan apa-apa dan hanya diam menahan rasa sakitnya, maka Sidom hanya bisa menahan rasa marahnya dalam hati.


Ucapan Amira langsung membuat Sidom melototkan matanya karena tak percaya dengan ucapan perempuan itu.


Artinya bahwa Tuannya yang sudah sekarat masih harus menahan rasa sakitnya selama 30 menit lagi!!!


"Ba,, baik,, terima kasih, aku akan menunggu," ucap Arifin langsung membuat Amira tersenyum mengejek lalu perempuan itu mengambil bahan obat yang ada di atas meja dan kembali naik ke lantai 2.

__ADS_1


Begitu Amira pergi Sidom langsung mendekati tuannya dan membantu pria itu kembali duduk di sofa.


"Apakah Tuan melihat wajahnya tadi? Dia menatap Tuan dengan senyum sinisnya sambil berjalan ke lantai dua. Sekarang aku semakin yakin bahwa dia tidak berniat untuk membantu Tuan, tetapi dia berniat untuk membunuh Tuan secara perlahan-lahan.


"Jadi tolong, tolong beri saya perintah dan saya akan menyuruh orang-orang kita untuk mengepung tempat ini sekarang juga!!!" Tegas Sidom menatap Arifin.


Tetapi Arifin langsung membuka matanya dan memberinya tatapan tajam yang dingin, "lakukan itu kalau kau ingin melihatku mati!!! Sekarang juga pergi ke dinding dan berlutut menghadap dinding sampai aku menyuruhmu beehenti!!" Tegas Arifin pada Sidom menggunakan seluruh kekuatan yang masih ia punya.


Jika dia tidak memberi peringatan pada pria itu, maka bisa jadi pria itu akan membuatnya mati sebelum waktunya!!!


Sementara Sidom yang mendengar ucapan Tuannya, pria itu benar-benar tidak bisa menerima perintah dari tuannya, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah tuannya.


Maka pria itu segera pergi ke dinding dan lutut ke arah dinding sambil menahan rasa garamnya marahnya dan kecewanya pada tuannya.


'Tuan akan menyesal, pokoknya Tuan akan menyesal sudah mempercayai perempuan itu!!!' geram Sidom dalam hati.


Pelayan yang lalu lalang di tempat itu memperhatikan dua pria yang ada di ruang tamu, namun mereka tidak berani menyapa ataupun mendekati mereka dan hanya mengerjakan pekerjaan mereka sambil berbisik-bisik menggosip kedua orang itu.

__ADS_1


Gosipan para pelayan itu semakin membuat Sidom menjadi sangat marah tetapi dia tidak bisa bergerak sedikitpun sebab takutnya hal itu akan membangkitkan amarah tuannya.


__ADS_2