Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
167.


__ADS_3

Pada pagi hari di depan kompleks Luxury Grand house, seorang pria sudah membuat keributan dengan penjaga kompleks.


"Aku sudah bilang, aku datang kemari untuk menemui Nona Amira karena ingin mengantarkan barang ini padanya!!!!" Tegas Arifin pada penjaga kompleks yang merasa kesal pada pria itu karena tidak mengizinkannya masuk.


"Maaf Tuan, tapi saya sudah menelpon ke kediamannya dan mereka tidak mengangkatnya. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun masuk jika tidak ada izin dari satu pun penghuni kompleks ini!!!" Tegas petugas yang sudah tiga kali menelpon kediaman amirah namun tidak ada jawaban.


Karena saat itu, semua pelayan sedang dikumpulkan Amira di sebuah ruangan yang ada di rumahnya, mereka sedang membahas tentang persiapan malam pertamanya dengan Fernando yang harus disiapkan dengan sangat baik.


"Kalau begitu, kami akan mulai bekerja sekarang," ucap kepala pelayan setelah dia menerima usungan konsep dari Amira.


"Baiklah, semuanya harus sempurna!!" Ucap Amira langsung di iyakan oleh sang kepala pelayan, lalu semua pelayan bubar dan mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Sementara Amira, perempuan itu kembali duduk di kursinya sambil melihat copyan konsep makan malam, serta desain kamar yang akan menjadi penyambut malam pertamanya dengan suaminya.

__ADS_1


Perempuan itu masih tersenyum memandang buku di depannya ketika tiba-tiba saja seorang pelayan berlari ke arahnya sembari membawa sebuah telepon.


"Nyonya," ucap pelayan itu dengan suara tergesa-gesa.


"Ada apa?" Tanya Amira.


"Ada telepon dari gerbang depan yang mengatakan bahwa ada pria yang mencari nyonya." Ucap pelayan itu langsung membuat Amira mengerutkan keningnya, lalu dia mengambil teleponnya dan mendekatkannya ke arah telinganya.


"Di sini ada seseorang yang mengaku bernama Arifin Borman, katanya dia datang untuk membawa sesuatu pada Nyonya." Ucap sang petugas dari seorang telepon langsung mengingatkan Amira tentang ucapannya pada bos Kasino.


Jadi perempuan itu segera berkata, "biarkan dia masuk."


"Baik Nyonya," jawab sang petugas dari seorang telepon, lalu panggilan itu segera diakhiri dengan Amira yang langsung merapikan buku-buku di atas mejanya lalu perempuan itu keluar untuk menyambut tamunya.

__ADS_1


Dan setelah menunggu beberapa menit akhirnya tamu yang ia tunggu-tunggu kini datang juga memperlihatkan seorang pria yang tampak pucat dan lemah langsung di perintahkan Amira untuk duduk.


Sambil duduk, Arifin menatap Amira, "Tadi malam aku mengalami sesak yang luar biasa dan aku sudah memeriksa ke dokter. Dokter memberiku banyak obat dan mengatakan bahwa setiap hari aku harus melakukan satu kali terapi.


"Pagi ini adalah jadwal terapiku tetapi bahkan ketika aku selesai terapi keadaanku tidak membaik. Masih tetap saja tersiksa meski aku merasa sedikit lebih baik dari sebelum terapi," Kata Arifin dengan nafas yang sangat sesak sambil menatap Amira dengan matanya yang sudah membengkak.


Pria itu ketakutan dengan ucapan Amira, bahwa dia tidak akan bertahan lebih dari satu bulan, dan sekarang gejala menuju kematian sudah benar-benar menghampirinya!!!!


Sangat cepat seperti api yang menyambar tumpahan bensin di lantai!


Amira menghela nafas menatap pria di depannya, semua yang ia pikirkan sudah terjadi bahwa keadaan pria itu akan semakin memburuk dalam satu minggu.


"Akan ku periksa dulu ini," ucap Amira mengambil bahan obat yang dibawa oleh Arifin. Perempuan itu sengaja berlambat-lambat melakukan gerakannya untuk menikmati rasa tersiksa Arifin karena penyakitnya yang sudah mulai menyiksanya.

__ADS_1


__ADS_2