Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
54.


__ADS_3

"Terima kasih telah memenuhi undangan ku untuk makan malam di sini. Sebuah kehormatan bagi keluarga kami bisa mengenal kalian," ucap Rahmat merasa begitu senang, apa lagi ketika dia mengingat cucu laki-laki nya yang telah diselamatkan oleh Amira.


"Tuan tidak perlu sungkan--"


"Kehormatan apanya bisa mengenal mereka hah?!!" Sela Yura yang tiba-tiba datang, "Mereka ini berasal dari keluarga tak berguna, tak pernah sebanding dengan keluarga kita yang terpandang!!!" Kesal Yura melototi dua orang di depannya lalu berbalik menatap Rahmat, "Kakek, jangan percaya mereka, apa pun yang mereka lakukan itu adalah kejijikan!!!" Ucap Yura pada Rahmat.


Rahmat merasa sangat malu atas sikap cucunya, jadi dia berkata, "Tutup mulutmu!! Kau pikir kita masih memiliki adik tunggal mu seandainya Amira tidak ada membantu kita? Kalau saja di restoran itu tidak ada dia, maka saat ini kita sudah berkabung untuk kematian adikmu!! Sekarang juga, cepat minta maaf!!!"


Yura sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya, memangnya hal apa yang telah dilakukan Amira hingga menyelamatkan adik tunggalnya?


"Kakek, apa pun itu, sebelum kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, kau tidak boleh mempercayainya, apa lagi jika keluarga ini yang terlibat!!!" Kesal Yura menunjuk Fernando dan Amira.


Ucapan Yura membuat Rahmat menjadi kesal, jelas dengan kedua bola matanya dia melihat bagaimana Amira menolong satu-satunya cucu lelakinya, jadi mana mungkin dia di tipu?


Jadi pria tua itu menatap marah pada cucu pertamanya, "Diam!! Sekali lagi kau berbicara, kakek akan memangil pelayan untuk mengurungmu di kamar!!!" Kesal Rahmat pada cucunya.


"Kakek,,, kau,,," Yura merasa sakit di hatinya, ia meneteskan air matanya sambil melirik dua orang yang telah mempengaruhi kakeknya hingga menghukumnya.


"Kalian,,, aku tidak akan pernah memaafkan kalian!!!" Geram Yura lalu berlari pergi sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Rahmat yang melihat sikap kekanakan cucunya hanya bisa menghela nafas lalu menatap Amira dan Fernando dengan raut wajah menyesal, "Aku minta maaf atas nama cucuku, dia sangat kekanakan," ucap Rahmat.


Amira tersenyum, "jangan khawatir, lagi pula dia jadi membenciku karena tempo hari kami pernah bertemu lalu tak sengaja bertabrakan. Dia hanya salah paham saja," ucap Amira mengingat Yura ketika dia menabraknya saat buru-buru ke panti asuhan.


"Ya ampun,, cucuku benar-benar membuat masalah," ucap Rahmat merasa bersalah.


"Ayah, makan malam sudah siap," tiba-tiba seorang perempuan menghampiri ketiga orang itu.


"Ah, ya,," Rahmat mengangguk pada menantu perempuannya lalu berbalik menatap Amira dan Fernando, "ayo, kalian pasti sudah lapar," ucapnya segera berdiri.


Mereka dengan cepat menuju ruang makan dan duduk bersama di sebuah meja makan panjang.


Pria kecil itu langsung tersenyum menatap Amira, "Aku dengar Bibi yang sudah menyelamatkanku, terima kasih atas kebaikan Bibi," kata anak kecil bernama Dani.


Amira segera tersenyum, "Kau anak kecil manis dan baik, Bibi sangat senang membantumu," ucap Amira.


"Terima kasih Bibi, aku tidak pernah melupakan pertolongan Bibi," ucap Dani dengan suara bersemangat.


Rahmat tersenyum melihat tingkah cucu lelakinya, pria tua itu langsung berkata, "Sebenarnya dokter belum mengijinkannya kembali dari rumah sakit, tapi kami tidak sengaja membuatnya mendengar kalau kami mengundangmu makan malam. Jadi dia bersikukuh untuk kembali agar bisa makan malam bersama kalian.

__ADS_1


Amira mengangguk, "Tuan Muda masih sangat lemah, tidak perlu melakukan ini, tuan muda harus lebih banyak istirahat supaya nafsu makan tuan muda lebih cepat pulih, dengan begitu tubuh Tuan muda tidak akan terasa lemas," ucap Amira mengejutkan semua orang.


Hesa langsung menatap Amira, "Bagaimana kau tahu kalau putraku tidak nafsu makan? Dia juga sangat lemas, hingga terkadang tak bisa membuka matanya." Ucap Hesa.


Amira tersenyum, "aku hanya menebaknya saja, tapi kalau kalian punya pil heksa, itu akan membantunya mempercepat pemulihannya.


"Pil heksa? Bagaimana kau tahu pil langkah itu?" Tanya Rahmat tak percaya.


Pil heksa adalah sala satu pil legendaris yang sangat langkah di negara mereka, bahkan dari tempat asalnya dari negara C, sangat sulit mendapatkannya.


Ini pun hanya rahasia di antara bangsawan kelas atas, orang biasa tidak akan mengerti dengan hal seperti itu.


"Aku hanya mendengarnya dari guruku," ucap Amira.


"Begitu ya,, lalu mungkinkah gurumu tahu dimana pil itu? Aku akan membelinya dengan harga berapa pun, asal cucuku bisa sembuh." Ucap Rahmat menatap cucunya yang tampak tak berdaya di kursi rodanya.


Dani adalah pewaris satu-satunya untuk keluarga mereka, jadi anak kecil itu harus tetap sehat dan tumbuh menjadi pria yang menyokong keluarga mereka.


'Aku tidak membiarkan Dani bernasib sama seperti kakak-kakaknya, meninggal di usia muda karena penyakit." Ucap Rahmat dalam hati mengingat dua cucu lelakinya yang sudah meninggal di belasan tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2