Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
126. Hadiah rumah dari keluarga Rakin


__ADS_3

Pada pagi hari, Fernando dan Amira dibuat kesal karena dering ponsel mereka yang silih berganti terus berdering membunyikan suara yang keras.


"Hah,,"Fernando menghembuskan nafas dengan kasar sambil meraih dua ponsel yang diletakkan di atas nakas.


Pria itu memperhatikan layar ponsel mereka dan melihat bahwa semua panggilan berasal dari kediaman utama.


"Ada apa?" Tanya Amira sembari memperbaiki posisinya dalam pelukan suaminya.


"Nenek yang menelpon," kata Fernando langsung mengangkat panggilan itu dan memasukkannya dalam mode pengeras suara agar Amira juga bisa mendengarnya.


"Kalian dimana?" Tanya Rena dari seberang telepon.


"Ah nenek,, kami ada di hotel karena kemarin malam rumah kami tiba-tiba saja bocor saat hujan deras." Jawab Fernando.


"Apa?! Bocor? Bagaimana bisa? Lalu,, Apakah kalian baik-baik saja?" Tanya Rena dengan nada suara perempuan itu sangat mengkhawatirkan cucu dan cucu menantunya.


"Iya Nek, kami baik-baik saja." Jawab Fernando di barengi hembusan nafas yang terdengar dari seberang telepon.


"Kalau begitu, sekarang juga kalian harus pindah ke kediaman utama keluarga Barata, karena rumah itu sudah tidak layak lagi untuk kalian tempati. Nenek akan menyuruh pelayan Untuk memindahkan barang-barang kalian, jadi sekarang juga cepat tinggalkan hotel dan datang kemari." Ucap Rena langsung membuat Fernando dan Amira saling tatap satu sama lain.


Amira menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia tidak ingin pergi ke kediaman utama keluarga Barata, jadi Fernando menganggukkan kepalanya lalu dia kembali berkata, "Maaf nenek, tapi aku akan membicarakannya dulu dengan istriku, kalau dia setuju maka--"

__ADS_1


"Apa?!!" Sela Rena, "Hal seperti ini Mana bisa dibicarakan lagi?!! Kalau rumah itu sudah rusak, maka kalian tidak bisa tinggal di sana lagi, atau Kalian mau mencari tempat tinggal baru? Apa kalian berpikir bahwa mencari tempat tinggal baru itu mudah?


"Sebaiknya kalian pindah ke rumah Barata sekarang juga, karena ke nenek sudah menyuruh para pelayan untuk membereskan barang-barang kalian di kediaman lama! Mereka akan membawanya ke kediaman utama!!" Tegas Rena dari seberang telepon, lalu secara sepihak mengakhiri panggilan telepon itu.


Tut tut tut...


Amira kembali memejamkan matanya mendengar nada sambungan yang diputus secara sepihak.


'Nyonya Barata ini benar-benar tidak mau melepaskan suamiku, karena dia tahu saat ini keluarga Rakin sedang mendukung kami. Tapi kalau pindah ke sana pun, kami tidak akan akur dengan keluarga pertama dan kedua, sebab mereka pasti sangat iri dan membenci kami atas segala hal yang telah terjadi.' pikir Amira dalam hati sambil menghela nafas panjang.


Sementara Fernando, pria itu memeluk istrinya dengan erat lalu berkata, "Jangan memikirkan ucapan nenek, Kalau kau memang tidak mau pindah ke sana, maka kita bisa mencari kontrakan yang lebih murah. Ada banyak kontrakan yang tersedia meski tempatnya tidak sebagus kediaman keluarga Barata, tapi masih layak untuk ditinggali."


Fernando langsung mengganggukan kepalanya, lalu pria itu segera turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Amira yang ditinggalkan langsung mengambil ponselnya dan memesan pakaian baru untuk suaminya dan juga untuk dirinya sendiri.


Perempuan itu baru selesai memesan pakaian untuk dia dan suaminya ketika ponselnya tiba-tiba bergetar, memperlihatkan sebuah panggilan masuk dari keluarga Rakin.


"Halo,," jawab Amira pada orang di seberang telepon.


"Amira, ini aku, Yura, maaf menghubungimu pagi-pagi sekali seperti ini, tetapi kakekku tidak sabar ingin memberikan sesuatu padamu, jadi dia menyuruhku cepat-cepat menghubungimu." Ucap Yura dari seberang telepon dengan nada suara yang begitu bersemangat membuat Amira mengeryit kan keningnya.

__ADS_1


"Apa yang kau maksud? Sesuatu Apa yang hendak diberikan?" Tanya Amira.


"Iya, jadi pagi-pagi sekali, tadi kakekku pergi ke rumahmu untuk menemui kalian, tapi dia malah menemukan para pelayan keluarga Barata membereskan barang-barang kalian di sana.


"Katanya rumah itu sudah tidak layak lagi ditempati tinggal karena listriknya sudah mati dan juga ada kebocoran di dalam rumah. Oleh sebab itu kakek hendak memberikan kalian sebuah hunian.


"Dan meskipun rumah itu tidak terlalu mewah, tetapi kakek pikir kalian bisa tinggal di sana sementara waktu sampai kalian menemukan tempat tinggal jika kalian tidak nyaman di rumah itu" Ucap Yura langsung membuat Amira tersenyum.


"Kalau begitu aku akan menghubungimu dua jam lagi, karena kami sedang menginap di hotel." Ucap Amira yang sudah mengerti akan maksud keluarga rakim.


"Baiklah, kalau begitu kirim alamat hotelmu supaya nanti aku menjemput kalian." Ucap Yura langsung di iyakan oleh Amira lalu dia menutup panggilan telepon itu.


Setelah menutupnya, Amira tersenyum penuh kemarahan, 'aku sudah menduga kalau keluarga Barata merencanakan semua ini. Mereka sengaja merusak rumah itu agar kami mau pindah ke kediaman mereka, tapi sayang sekali, aku tidak akan pernah membiarkan rencana mereka berjalan dengan lancar!!!' pikir Amira dalam hati.


Bagaimana bisa masih pagi-pagi sekali para pelayan sudah pergi ke kediamannya untuk membereskan barang-barangnya?


Jelas itu menandakan kalau semuanya sudah di rencanakan keluarga Barata hingga pagi-pagi sekali sudah mengirim pelayan untuk membereskan semua barang-barangnya.



__ADS_1


__ADS_2